JEJAK DAN SPIRIT N. J. KROM
Sumber : Google
Nicholaas Johannes Krom adalah ahli Ketimuran, Epigrafi, Arkeologi berkebangsaan Belanda. Dia lahir tanggal 5 September 1883 di Hortogenbosch dan wafat tanggal 8 Maret 1945. Setelah lulus sekolah menengah Gymsaium, Krom belajar sastra Latin di Universitas Leiden. Setelah mengikuti kuliah dari Prof Dr Hendrik Kern , dia tertarik mendalami bahasa bahasa Indo Aria, diantaranya bahasa Sanskerta. Dari mempelajari bahasa tersebut, Krom menekuni Budhisme dan Hinduisme. Sementara itu di Hindia Belanda pada tahun 1901 dibentuk Commisie In Nederlsndsche Indie van Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera yang dipimpin oleh Jan Laurent Andreas Brandes, seorang pakar filologi dan arkeologi terkemuka. Anggota Commisie adalah J J de Vink, Leydie Melville, J Knebel. Commisie ini bertugas mengumpulkan data kepurbakalaan, melakukan dokumentasi ( melakukan pemetaan, penggambaran, pemotretan ), melakukan analisis, membuat monografi, publikasi berkala, buku, pemeliharaan, pemugaran situs kepurbakalaan. Tahun 1905 Brandes wafat dan Anggota Commisie bekerja tanpa arahan dari seorang ketua. Tahun 1910 NJ Krom didatangkan ke Hindia Belanda untuk memimpin Commisie.
Visi Krom
NJ Krom adalah seorang visioner brillian. Baru sejenak menjabat sebagai Ketua Commisie, dia menyadari betapa besar hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh Commisie. Pekerjaan dan tanggung jawabnya menyentuh banyak aspek, sosial, politik, ekonomi. Sementara Commisie hanya terdiri dari 4 orang termasuk dirinya, minim kewenangan, minim anggaran, minim peralatan, minim tenaga terampil. Wilayah kerja yang dicover sangat luas, kondisi situs banyak yang rusak, belum ada dasar hukum dalam melakukan pekerjaannya, sulit melakukan koordinasi di antara berbagai instansi pemerintah. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, NJ Krom membuat proposal perjalanan dinas ke Burma ( Myanmar sekarang ), India, untuk mempelajari bagaimana dua negara itu mengelola situs kepurbakalaannya. Hasil kunjungannya dituangkan dalam laporan lengkap, terperinci, dan juga dalam bentuk summary executive, untuk Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederick Idenburg ( 1909 - 1916 ). Krom menulis bahwa tugas tugas yang dibebankan kepadanya tidak dapat dilakukan oleh sebuah institusi setingkat Commisie yang sifatnya sementara. Tugas itu harus dilakukan oleh Sebuah institusi permanen setingkat badan / dinas ( dienst ). Pemerintah harus membentuk badan khusus dengan kewenangan besar, anggaran besar, bersifat permanen, memiliki dasar hukum yang menjadi landasan kerja, memiliki perangkat keras dan lunak yang memadai. Dia mengusulkan segera dibentuk organisasi yang diberinya nama Oudheidkundige Dienst, disingkat OD. Usulan itu ditanggapi dengan dingin. Waktu itu para pejabat di Hindia Belanda tidak memiliki visi tentang dunia kepurbakalaan. Krom tidak menyerah dengan kondisi itu. Dia aktif melakukan lobby dengan para pengambilan keputusan di Batavia dan Buitenzorg ( Bogor ) yang waktu itu menjadi pusat pengendalian pemerintahan. Krom berulang kali berkunjung ke istana Buitenzorg berdiskusi dengan Gubernur Jenderal Idenburg dan para pejabat di Algemmene Secretarie ( Sekretariat Negara ). Krom aktif menerbitkan tulisan ilmiah, ilmiah populer tentang pentingnya mengelola situs kepurbakalaan. Beberapa sahabatnya semasa masih kuliah di Universitas Leiden yang sudah menjadi para pejabat penting, juga membantu Krom untuk menyakinkan para petinggi pembuat kebijakan. Di antaranya adalah Dr Godefridus Antonius Johannes Hazeu yang menjabat sebagai Advisoor voor Inlandsche Zaken( Penasehat Pemerintah Untuk Urusan Bumiputera dan Timur Asing ). Upaya gencar yang dilakukan oleh Krom dan kawan kawan, baru memberikan hasil setelah berjuang selama 3 tahun. Pada tanggal 14 Juni tahun 1913 Pemerintah menerbitkan Staatblad No 13 tanggal 14 Juni 1913 tentang Pembentukan Oudheidkundige Dienst dengan menunjuk Dr NJ Krom sebagai Kepala. Tahun 1914 Pemerintah mendatangkan Dr Frederick David Kan Bosch yang menjadi juniornya di Leiden, Nederland untuk menduduki posisi Ajunct ( Deputi ) Ahli Purbakala. Tahun 1915 Krom mengambil cuti panjang pulang ke Nederland. Di masa cuti itu Krom mulai menuliskan bahan bahan yang sudah dikumpulkannya selama bekerja di Hindia Belanda. Aktivitas itu membuat Universitas Leiden tertarik merekrutnya menjadi Profesor Arkeolgi di Departemen Arkeologi yang baru dibentuk. Akibatnya Krom tidak kembali ke Hindia Belanda. Dr FDK Bosch ditunjuk menjadi Kepala OD ( 1916 - 1936 ) menggantikan Krom. NJ Krom telah membangun fondasi kokoh bagi OD untuk diteruskan oleh para penerusnya. Tahun 1924 OD merekrut Dr Willem Frederick Stutterheim sebagai Staf paruh waktu yang memiliki pekerjaan utama sebagai guru sekolah Prins Hendrik. Kelak Stutterheim menjadi Kepala OD menggantikan FDK Bosch ( 1936 - 1942 ) yang cuti panjang di Nederland dan tidak kembali ke Hindia Belanda. Tahun 1926 Stutterheim diangkat menjadi Kepala Sekolah AMS( Algemmene Middelbare School ) setara SMA di Surakarta. Sekolah ini terkenal banyak menghasilkan alumni yang hebat seperti Amir Hamzah, Armeijn Pane, Sanusi Panel, Achdiat Kartamihardja. Hal itu dicapai berkat hasil bimbingan Stutterheim yang sangat kompeten. Di tangan Stutterheim, OD menjelma menjadi lembaga ilmiah yang sangat bermutu. Ratusan publikasi diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah bergengsi, sebagian besar karya Stutterheim. Tahun 1953 untuk pertama kali OD dipimpin oleh bangsa Indonesia Dr R Soekmono, kader didikan Prof Dr August Johan Bernet Kempers yang pernah menjabat Kepala OD. Setelah Indonesia merdeka OD diubah menjadi Djawatan Purbakala.
Jejak Spirit N J Krom
Sejak menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada ( UGM ), penulis sudah mengagumi figur NJ Krom. Warisan Krom yang sangat membekas di benak penulis adalah kedisiplinan, ketekunan, keteguhan prinsip, kesungguhan melakukan sesuatu hingga tuntas. Tiga tahun berjuang tanpa kenal lelah dan tidak putus asa, meyakinkan atasan untuk mewujudkan gagasannya. Krom berjuang keras selama tiga tahun untuk mewujudkan proposalnya. Christoporus Colombus berjuang selama 7 tahun untuk meyakinkan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol agar mau menerima proposalnya untuk menemukan jalan baru menuju Hindia. Colombus telah mengnspirasi Krom untuk memperjuangkan proposalnya.
Penulis terinspirasi dari dua tokoh di atas ketika membuat beberapa proposal selama bertugas sebagai pejabat tinggi di Sabang. Terakhir, bulan Februari tahun 2023, penulis mengajukan proposal pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatera Utara kepada Gubernur Sumatra Utara. Selama hampir dua tahun tidak terhitung jumlah kunjungan ke kantor, rumah jabatan, rumah pribadi Gubernur pada pukul 04.00 WIB, sampai pukul 07.00. Pada momen menjelang shalat subuh hingga sarapan pagi, penulis berdiskusi meyakinkan Gubernur akan pentingnya Dewan Kebudayaan bagi Sumatra Utara. Dalam perjalanan dari rumah ke kediaman Gubernur, penulis membayangkan perjalanan NJ Krom dari Batavia ke Buitenzorg menemui Gubernur Jenderal. Begitu juga ketika melakukan kunjungan ke Bali dan yogyakarta, penulis membayangkan perjalanan Krom ke India dan Burma. Lobby yang sama dilakukan juga terhadap Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hingga dua pejabat di atas longsor dari jabatannya upaya penulis belum berhasil. Pada malam hari, sering penulis merenung dan berpikir, apakah proposal ini harus terkubur tanpa sempat terwujud?. Bayangan wajah Colombus dan Krom terus melekat di benak penulis, seolah olah berbisik memberi semangat agar tidak berputus asa, menyerah pada keadaan. Penulis teringat pada momen sekali berziarah mengunjungi makam Colombus di Kathedral Sevilla Spanyol dan beberapa kali ke makam NJ Krom di Leiden.
Akhirnya usaha tak kenal lelah membuahkan hasil konkrit. Alam semesta mempertemukan penulis dengan seorang politisi yang baik hati dari partai Gerindra bernama Thomas Dachi lewat perantara dan jasa baik Bapak Romanus Wau dan Ibu Ria Nofida Telaumbanua. Dengan bantuan Bapak Thomas Dachi terjadi percepatan luar biasa dalam upaya pembuatan dasar hukum yang menjadi dasar pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara ( Peraturan Daerah Pemajuan Kebudayaan ). Dalam waktu empat bulan, kemajuan yang diperoleh jauh lebih besar dari hasil yang berproses selama tiga tahun. Proses lahirnya Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara tinggal selangkah lagi, yaitu diterbitkannya Peraturan Gubernur tentang Pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah. Percepatan itu merupakan momentum penting yang menimbulkan efek berantai berupa dukungan dari Gubernur yang sedang menjabat Bapak Muhammad Bobby Afif Nasution SE, MM dan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatra Utara, Bapak Sulaiman Harahap, MSP. Dukungan berikut datang dari Rektor Universitas Sumatra Utara Bapak Prof Dr Muryanto Amin, M.Si. Dukungan moral dan materi juga diperoleh dari kelompok kelompok Akademisi, Birokrat, Pengusaha, Profesional, Budayawan / Seniman.
Visi Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara
Penulis merumuskan visi tentang kebudayaan dan Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara sebagai berikut : Kebudayaan adalah pedoman tentang bagaimana cara mengartikulasikan apa saja yang ada di dalam pikiran melalui ucapan dan tindakan. Kebudayaan menyatukan, menselaraskan, mengharmonisasi relasi antara dunia immateri dengan dunia materi dan meminimalisir pengaruh negatif hubungan tersebut terhadap lingkungan.
Tidak ada satupun aspek kehidupan yang tidak berkaitan dengan kebudayaan. Mengingat kompleksitas jaringan / relasi di antara kehidupan berbagai spesies di alam semesta, kebudayaan sebagai manual operasional kehidupan perlu dikembangkan, dipelihara dan diwariskan antar generasi. Untuk melaksanakan tugas di atas, dibutuhkan organisasi yang solid untuk memobilisasi sumberdaya, dibutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang hanya dapat dilakukan dengan dukungan penuh Pemerintah. Hanya Pemerintah yang memiliki sumberdaya yang dibutuhkan, kewenangan membuat regulasi dan menjalankannya. Sementara itu Aparat Pemerintah memiliki karakter kaku, birokratis, terikat pada code of conduct, aturan protokoler, uniform berikut aksesori ( seragam, lencana, tanda jabatan . Semua ciri atribut tersebut membuat jarak imajiner dengan masyarakat umum. Di lain pihak sebagian besar masyarakat tidak memiliki kemampuan memformulasikan gagasan / keinginan dalam bentuk artikulasi yang mudah dipahami oleh Aparat Pemerintah. Di sinilah letak pentingnya posisi, peran Dewan Kebudayaan sebagai juru hubung di antara ke dua entitas tersebut. Anggota Dewan Kebudayaan mampu menerjemahkan kebijakan pemerintah hingga dipahami masyarakat umum. Sebaliknya Anggota Dewan Kebudayaan mampu mengabstraksikan aspirasi masyarakat ke dalam bahasa normatif yang mudah dipahami oleh pejabat pemerintah. Anggota Dewan Kebudayaan bergerak leluasa tanpa terikat aturan protokoler, tanpa seragam, lencana jabatan tanpa diiringi rombongan besar. Dengan demikian Anggota Dewan Kebudayaan lebih mudah menyerap aspirasi masyarakat. Kombinasi kompetensi, fleksibilitas dan kekuatan organisasi berikut dukungan sumberdaya yang besar, tugas mengembangkan, memelihara dan pewarisan Kebudayaan dapat tercapai. Kebudayaan yang maju akan memperkuat daya cipta, daya saing, daya tahan bangsa.
Misi Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara
Untuk mencapai visi tersebut, perlu dirumuskan misi Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara, sebagai berikut :
- Memperluas basis keterlibatan masyarakat dalam upaya perlindungan, perawatan, pemeliharaan, penyelamatan, pengembangan dan pemanfaatan Kebudayaan.
- Menjadikan kebudayaan sebagai faktor utama dalam penyusunan studi kelayakan setiap rencana pembangunan, di ssmping faktor faktor teknis, ekonomis dan lingkungan.
Nilai yang diusung oleh Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara adalah :
Kejujuran
Keadilan
Komitmen
Konsisten
Kompetensi
Kerjasama
Motto Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara
Tekun Berkarya, Hidup Sejahtera, Mulia Berbudaya.
Peta Jalan Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara
Penulis sudah mempersiapkan peta jalan Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatera Utara, dapat di lihat di bawah ini. Program kerja Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara untuk masa lima tahun ke depan juga sudah dibuat dan tidak ditampilkan di sini.
Akhirnya penulis menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih kepada para Saudara, Kerabat, Sahabat. Mitra, Kolega, Guru yang tidak dapat penulis sebut satu per satu semuanya, yang telah memberikan kontribusi positif dalam perjuangan melahirkan Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara. Sekarang Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi Sumatra Utara masih kecil, tetapi DIA ADA, NYATA, BERMAKNA, PENTING DAN BERMANFAAT bagi Kemanusiaan.



Comments
Post a Comment