RELIEF CANDI DI JAWA TENGAH SEBAGAI SUMBER DATA ETNO BOTANI DAN ETNO FOOD
Prolog
Candi adalah bangunan suci agama Hindu dan Budha, terbuat dari susunan batu andesit ( di Jawa Tengah ) atau batu bata ( di Jawa Timur ). Pada bagian dinding candi biasanya dipahat relief yang menggambarkan berbagai adegan, benda yang diinspirasi dari isi kitab suci ke dua agama tersebut. Candi candi yang terdapat di Jawa Tengah dibangun pada periode puncak ( klasik ) seni / teknik bangunan ( arsitektur ) pada abad VIII - XI Masehi. Sebagian candi di Jawa Tengah berdiri dalam satu kesatuan kompleks percandian yang luas, seperti candi candi Prambanan ( Loro Jongrang ), Plaosan, Sari, Sambisari, Kalasan, Dieng, Gedong Songo, dan kesatuan percandian dalam satu bentang alam yaitu Borobudur, Mendut, Pawon. Suatu monumen / candi berikut hiasan / ornamen dan relief adalah karya teknik bangunan / arsitektur manusia masa lampau, yang sarat dengan pengetahuan. Candi adalah media penghubung antara generasi masa lalu dengan generasi masa kini. Pada candi terdapat jejak fisik otentik manusia masa lalu berupa bekas kelenjar keringat, sidik jari, gambaran peta kognitif pembuatnya.
Teknik pembuatan candi dihimpun dalam kitab Cilpasastra. Candi dibangun dengan persiapan yang matang, perencanaan teliti, teknik pengerjaan yang tinggi, penuh perhitungan presisi tinggi. Sebuah arca manusia misalnya dibuat dengan dasar pengetahuan anatomi, perbandingan proporsional dalam dimensi ukuran, dihitung dalam satuan ukuran yang disebut tala. Misalnya perbandingan proporsional yang diukur dari puncak ubun ubun sampai bawah dagu, dengan ukuran lebar antara tepi pipi kanan dan pipi kiri. Atau ukuran lingkar lengan bagian atas dengan panjang lengan bagian atas. Lokasi tapak bangunan dipilih berdasarkan bentang alam tertentu, tingkat kesuburan tanah yang tinggi yang diketahui dari hasil eksperimen beberapa kali siklus musim tanam dan panen, ketersediaan air permukaan dan air tanah dangkal. Adegan dan bentuk relief dibuat berdasarkan gambaran realita alam sekitar.
Proses Kreatif Pembuatan Relief
Proses kreatif yang berlangsung dalam pembuatan relief candi dapat diringkas sebagai berikut. Retina mata manusia menangkap bayangan objek, yang dipantulkan oleh cahaya sinar matahari. Gambar wujud benda yang ditangkap, dibayangkan dalam peta kognitif di otak. Gambar itu diwujudkan pada medium yang dipilih ( kertas, kulit, kayu, kain, batu ). Pada tahap ini dibutuhkan pengetahuan tentang sifat sifat fisik material berbagai benda. Kemudian dipilih peralatan yang sesuai untuk pengerjaannya. Untuk kasus relief candi yang bahan dasarnya terbuat dari batu, peralatannya adalah palu dan pahat. Seniman / pengrajin harus memiliki skill / teknik keterampilan yang mumpuni. Mampu mengukur secara presisi tinggi antara kekuatan energi yang disalurkan ke palu dan pahat dengan tingkat kekerasan material, kekompakan komposit material penyusunnya, agar didapatkan hasil yang diharapkan. Dibutuhkan ketelitian dan kesabaran tinngkat tinggi untuk mengerjakan bentuk relief yang rumit. Oleh karena relief dibuat berdasarkan gambaran realita objek di sekitarnya, maka itu dapat dijadikan petunjuk tentang realita objek yang dipahatkan. Misalnya aneka ragam gambar tumbuhan dan hewan yang dipahatkan pada relief suatu candi dapat dijadikan sumber data tentang jenis / spesies botani dan zoologi yang ada di sekitar masyarakat masa lampau. Pengetahuan tentang aneka jenis tanaman di suatu daerah / masyarakat tertentu disebut etno botani dan etno food. Pengetahuan itu berguna untuk mengetahui pola makanan dan diet manusia masa lampau. Pengetahuan itu dapat memberikan pemahaman perbandingan komposisi jenis bahan makanan antara karbohidrat, protein, lemak, serat. Pengetahuan itu dapat memberikan gambaran tentang pola penyakit yang diiderita, usia harapan hidup, upaya pengobatan.
Upaya Identifikasi Jenis Tanaman
Upaya identifikasi tanaman yang digambarkan pada relief, dilakukan dengan metode observasi dan penafsiran. Adakalanya sulit memastikan jenis tanaman yang digambarkan pada panel relief, karena kesamaan bentuk. Untuk meningkatkan akurasi hasil obsevasi dilakukan penafsiran berdasarkan konteks gambar dengan gambar lain. Ada jenis tanaman yang buahnya berukuran kecil, misalnya tanaman yang tergolong rempah rempah, tidak dapat diidentifikasi semata mata dari gambar relief saja. Untuk kasus demikian digunakan prasasti sebagai media bantu. Prasasti adalah sumber sejarah yang otentik, karena dibuat pada masa yang sama dengan pembangunan candi, berangka tahun, bulan dan hari. Dengan menggunakan prasasti sebagai sumber primer, data yang didapat lebih kaya dan valid. Selain prasasti juga digunakan pengetahuan arkeo botani, ikonografi relief. Adapun jenis jenis tanaman yang digambarkan pada relief candi dapat dikelompokkan berdasarkan fakta pada relief, hasil penafsiran, kajian prasasti, ikonografi relief.
Fokus perhatian dipusatkan pada candi Borobudur, dan lebih difokuskan pada relif di bagian kaki candi, yang dikenal sebagai bagian kamadhatu. Kelompok relief pada bagian ini disebut karmawibaangga, artinya relief yang menggambarkan bekerjanya karma, hubungan sebab akibat dari satu atau beberapa perbuatan dalam kehidupan sehari hari. Panel relief pada bagian ini berjumlah 160 panel. Pemilihan ini didasarkan pada ketersediaan foto / dokumentasi dan kondisi relief yang masih relatif utuh, karena selama ribuan tahun tertutup tumpukan batu, sehingga hanya sedikit terkena pengaruh air hujan dan terik sinar matahari. Dokumentasi panil bagian karmawibangga pertama kali dilakukan oleh Ijzerman, kemudian oleh I Groeneman dan Kasian Cephas. Yang disebut terakhir adalah fotografer pertama bangsa Indonesia dan menjadi fotografer Kraton Kesultanan Yogyakarta.
Di dalam kelompok relief karmawibangga terdapat 32 panel berisi penggambaran buah mangga, 7 panel penggambaran buah jambu air, 3 panel penggambaran buah pisang. Ada 80 spesies flora yang diidentifikasi, termasuk tanaman yang dibudidaya seperti nangka ( artocarpus heterophyllus ), Pinang ( areca catechu ) , jagung ( zea mays ) sukun ( artocarpus altilis ), pisang ( musa sp ), durian ( durio zibethinus ), kelapa ( cocos nucifera ) mangga ( mangifera indica ), aren ( arenga pinnata ), tebu ( saccarum officinarum ) dan tanaman hutan. Selain tanaman organik yang dibudidayakan, juga ada tanaman bunga seperti asana, asoka, menur, cempaka, tanjung, andul, warugu. Tanaman simbolik juga digambarkan oalah relief seperti pohon kalpataru, beringin ( ficus benjamina ). Temuan relief karmawibangga telah mematahkan pendapat yang mengatakan bahwa tanaman tebu baru dikenal di Jawa pada abad XIX.
Relief karmawibangga sudah tentu ada menampilkan tanaman padi ( oryza sativa ). Ada tampilan padi sawah ( lahan basah) dan padi ladang ( lahan kering ). Padi sudah dibudidayakan di Asia Tenggara sejak 5000 - 4000 tahun lalu. Penelitian yang dilakukan oleh Chester F Gorman dan gurunya W G Solheim II di situs Ban Chiang dan Non Nok Tha, ( Thailand Timur Laut ) membuktikan hal itu. Tebu sudah dibudidayakan di Papua Niugini ,sejak 10.000 tahun lalu. Penelitian N C van Setten van der Meer, membuktikan bahwa budidaya padi dengan irigasi teknis sudah dikenal luas di Jawa sejak awal abad Masehi. Hasil penelitiannya diterbitkan dalam buku berjudul Sawah Culuvation in Ancient Java Aspect of Development During The Indo Javanesse Period 5 th - 15 th Century. Selain padi, terdapat tanaman jelai ( jawawut ). Informasi tentang rempah rempah didapat dari prasasti. Jenis rempah rempah yang disebut antara lain jahe ( zingiber officinale ), kunyit ( curcuma longa ), lengkuas ( alpina galanga ), kemiri ( aleurites mollucanus ). Rempah rempah lain, berdasarkan interpretasi diduga kuat telah digunakan, seperti pala ( myristica fragrans ), lada ( piper nigrum ), cengkeh ( syzgium aromaticum ), gambir ( uncaria gambir ). Dugaan ini didasarkan pada informasi dari catatan perjalanan para musafir dan pedagang tentang ramainya perdagangan rempah rempah di kawasan Nusantara. Kisah ini didukung oleh hasil ekskavasi di situs Bongal, Tapanuli Tengah. Bongal adalah bandar internasional sejak abad VII / VIII Masehi. Di Bongal ditemukan sisa rempah rempah yang masih dapat diidentifikasi, diantaranya pala, cengkeh, lada, gambir.
Makanan yang ditampilkan di dalam relief adalah nasi sebagai sumber karbo hidrat. Makanan alternatif yang mengandung karbohidrat adalah sukun. Bahan campuran yang mengandung lemak didapat dari kelapa dan kacang kacangan. Makanan yang mengandung serat didapat dari sayur sayuran, buah buahan. Makanan yang mengandung protein didapat dari daging merah ( sapi, kambing, babi ), daging putih ( ayam, itik, ikan ) dan telur, di samping itu protein juga dapat diperoleh dari dari nabati. Bahan campuran untuk memberikan rasa lezat, penyedap, aroma khas dan sensasi tertentu didapat dari rempah rempah dan garam. Bahan yang digolongkan sebagai bahan penikmat adalah gula aren, air nira segar dan fermentasi air nira. Menurut informasi yang didapat dari prasasti, gula adalah salah satu komoditi yang dikenakan pajak. Menutut berita Cina yabg ditulis oleh pengembara terkenal I Tsing, yang diteliti oleh Willem Pieter Groeneveldt dan diterbitkan dalam buku berjudul Historical Notes on Indonesia & Malay Compiled From Chinese Sources , disebutkan bahwa penduduk kerajaan Holing ( Kalingga ) yang berpusat dekat Jepara, suka meminum air yang disadap dari tandan pohon kelapa. Pulau pulau di Nusantara, menghasilkan bahan bahan yang menimbulkan anekara rasa alami seperti manis, asam, asin, pahit.
Leluhur suku suku bangsa yang mendiami pulau pulau di Nusantara sudah mengenal teknik memperpanjang usia makanan. Dalam jangka waktu tertentu, makanan dapat rusak, basi, berjamur. Indikasi makanan sudah rusak terlihat dari bentuk dan tampilannya, rasa dan aromanya. Kerusakan makanan itu disebabkan karena bakteri yang terdapat di udara. Teknik memperpanjang usia makanan yang paling tua adalah pemanasan. Teknik lain yang digunakan adalah penggaraman, pemanisan, pengasaman, pengasapan. Dari berbagai sumber sejarah diketahui bahwa leluhur suku suku bangsa di Nusantara sudah sejak ribuan tahun memiliki sumber pangan yang beraneka ragam, memiliki kekayaan nutrisi dan memperhatikan aspek keamanan pangan, kedaulatan pangan dan ketahanan pangan.
Aneka Ragam Fungsi Makanan
Keanakaragaman fungsi makanan pada suatu masyarakat dapat dijadikan salah satu indikator tingkat peradabannya. Makin sederhana fungsi makanan maka makin sederhana pula tingkat peradabannya. Fungsi makanan yang tertua adalah sekadar untuk mempertahankan kehidupan. Komposisi makanan pada level ini sebagian besar adalah karbohidrat dan sebagian kecil protein serta sedikit lemak serta serat. Pada masyarakat yang lebih kompleks tingkat peradabannya, fungsi makanan bertambah, munculnya fungsi makanan sebagai bagian dari proses ritual, religi, dalam bentuk persembahan. Pada relief candi ada gambaran bentuk makanan nasi . Tradisi makan nasi tumpeng selalu berkaitan dengan ritual / religi. Nasi tumpeng dibuat dengan mengutamakan unsur estetika. Makanan juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun relasi yang baik, harmonis dengan para teman, sahabat, rekan kerja, rekan bisnis dalam bentuk perjamuan resmi ataupun non formal. Pada masyarakat yang kompleks, makanan berfungsi sebagai bagian dari proses membangun hubungan diplomatik. Acara jamuan makan untuk menyambut dan menghormati utusan / duta dan delegasi dari negara tetangga / sahabat. Pada masyarakat yang kompleks, makanan adalah sarana untuk menciptakan karya seni yang memiliki nilai estetika. Berbagai komponen bahan makanan yang diolah dalam proses pemasakan, dibentuk, dihiasi, diolah dengan beragam bahan campuran berkualitas tinggi. Dalam waktu waktu tertentu diselenggarakan kompetisi memasak makanan, festival kuliner. Aspek yang dinilai adalah, kualitas bahan, bentuk tampilan, cita rasa yang semuanya membutuhkan skill tingkat tinggi. Profesi ahli mengolah masakan mendapat penghargaan yang tinggi.
Pendekatan Analisis dan Interpretasi Relief
Relief pada candi candi di Jawa Tengah bersifat naturalis, menggambarkan realita sepresisi mungkin. Sementara relief pada candi candi di Jawa Timur, khudunya pada akhir periode klasik, penggambaran relief bersifat dekoratif/ simbolik. Para ahli mengembangkan dua jenis pendekatan. Para ahli arkeologi di awal abad XX seperti Nicholaas Johannes Krom, Frederick David Kan Bosch. August Johan Bernet Kempers melakukan pendekatan anthroposentris, dalam membuat analisis relief. Manusia ditempatkan pada titik sentral. Flora dan fauna posisinya dianggap sebagai pendukung eksistensi manusia. Relasi yang dikembangkan tidak seimbang dan tidak setara. Manusia berada di level tersendiri. Pendekatan ini diisebut juga pendekatan yang bersifat biner, asimetris, seperti adanya konsep maskulin sebagai lawan dari feminim, baik sebagai lawan buruk, nirwana sebagai lawan neraka. Penonjolan dominasi laki laki lebih jelas. Arkeolog masa kini seperti para peneliti di Badan Riset Inovasi Nasional ( BRIN ) Melakukan pendekatan Queer Ekologis yang bersifat inklusivitas ( kecairan ) yang menonjolkan kesetaraan. Pendekatan ini disebut juga pendekatan post human. Pendekatan ini dalam penerapannya bersifat interdisipliner, melibatkan banyak ahli dari berbagai bidang keilmuan. Penerapan pendekatan ini dilakukan ketika membuat analisis dan interpretasi terhadap panel no 105 relief karmawibangga ( lihat gambar di bawah ini )
Gambar 8 : Pada relief terlihat pohon dan buah sukun serta pohon dan buah mangga.
Sumber : Google
Gambar 9 : Pada relief terlihat pohon kalpataru ( pohon kehidupan menurut mitologi agama Budha dan Hindu.
Sumber : Google









.jpeg)

.png)

Comments
Post a Comment