PREDIKSI SKENARIO NASIB MANUSIA DI MASA DEPAN
Prolog
Anda tidak dapat memetik sekuntum bunga tanpa mengusik sebuah bintang
Pernyataan di atas adalah bentuk ekstrim dari kesimpulan kajian yang menggambarkan saling keterkaitan antara satu aksi di sebuah titik lokasi sempit dan pengaruh / reaksinya terhadap area yang luas. Bentuk yang lebih moderat dan lebih membumi adalah sebuah contoh yang diuraikan secara singkat di bawah ini.
Upaya mengatasi keterbatasan ketersediaan air untuk berbagai keperluan, orang membangun waduk di hulu sebuah Daerah Aliran Sungai ( DAS ). Air sungai yang sebelumnya mengalir deras, menimbulkan turbulance, mengangkat material / bahan organik yang menjadi makanan ikan / biota air. Setelah air sungai di bendung, permukaan air sungai naik, melewati badan air dan menggenangi daerah cekungan di sekitar sungai, sehingga terbentuk waduk. Aliran air di sekitar bendungan cenderung melambat, endapan bahan material / organik turun ke dasar. Air sungai jadi bening, dan jatuh di tubir bendungan dalam keadaan jernih, miskin akan bahan organik. Akibatnya terjadi penurunan populasi biota air di muara, dan itu berarti terjadi penurunan produksi ikan di pesisir.
Dengan adanya bendungan, aktivitas pertanian meningkat pesat di bagian hilir. Terjadi peningkatan sedimen di muara yang menyebabkan perubahan bentuk ( fisiografi ) pantai. Perubahan itu menimbulkan perubahan pada pola arus dan gelombang, yang kemudian menimbulkan perubahan pada jenis biota air di pesisir. Perubahan jenis biota air menimbulkan perubahan pada metode dan alat tangkap. Perubahan itu ada kalanya juga mengubah pola pasang surut di suatu pantai, misalnya pantai yang awalnya memiliki pasang tunggal berubah menjadi pasang ganda. Perubahan ini menimbulkan perubahan pada jadwal kerja nelayan. Nelayan yang tinggal di pantai berpasang ganda memiliki waktu lebih lama berada di laut dari yang tinggal di pasang tunggal. Konsekuensi berikutnya adalah kuantitas waktu bagi nelayan yang tinggal di pantai pasang tunggal lebih banyak untuk bertemu dengan keluarga dan bersosialisasi dengan warga masyarakat dibanding nelayan yang tinggal di pantai berpasang ganda.
Perubahan bentuk pantai juga dapat menghilangkan lapisan pasir di tepi pantai yang menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Wisatawan pindah mencari lokasi lain, dan hal itu memukul perekomian masyarakat karena pariwisata adalah sektor yang bersifat multiplier effect. Sekyor pertanian, peternakan, jasa perhotelan, travelling, guiding, restoran ikut terpengaruh. Dari uraian di atas terlihat betapa rumit jalinan pengaruh di antara berbagai komponen alam. Fenomena tersebut dinamakan sebagai kompleksitas. Modal pengetahuan tentang kompleksitas sangat diperlukan untuk mendiagnosa kondisi peradaban masa kini. Tulisan ini bukan membicarakan teori atau hipotesis, tetapi sebuah diagnosa berdasarkan hasil pengamatan, perenungan, berpikir dan referensi berbagai bidang keilmuan. Hasilnya adalah sebuah skenario kelam untuk manusia dan peradabannya.
Jaman Paradoks Besar
Kisah ini dimulai dari awal abad XXI, yang diidentifikasi oleh algoritma sistem axioma ( jarngan neuro terdistribusi dan terkoneksi dalam skala planet ) sebagai jaman paradoks besar. Di abad XXI manusia sudah menguasai energi nuklir, sedang menulis peta genomnya sendiri, terhubung dengan jaringan informasi tidak kasat mata, jaringan infrastruktur, suprastruktur lengkap, rantai pasokan logistik yang luar biasa besar, pembangkit energi besar dan saling terkoneksi, memiliki limpahan data / informasi dalam jumlah terbesar dalam sejarah peradaban. Dengan kemampuan seperti itu seharusnya tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi. Paradoksnya, justru manusia gagal mengatasi masalah peradaban karena kebanjiran informasi. Manusia tidak tahu harus berbuat apa dengan semua kemampuan yang dimiliki. Terjadi efek yang disebut entropi informasi. Manusia tenggelam di tengah luapan informasi yang tak terhingga.
Berbeda dengan keyakinan mayoritas manusia bahwa kehancuran peradaban manusia disebabkan oleh konflik besar yang melibatkan senjata nuklir, wabah penyakit yang tidak dapat diatasi, atau tabrakan asteroid. Menurut sistem axioma tidak satupun dari dugaan itu yang berpotensi menghancurkan peradaban. Proses kehancuran tidak datang dengan tiba tiba, berupa kebakaran besar, ledakan besar bom nuklir yang hiruk pikuk, tetapi lewat kesunyian yang mencekam dan mematikan. Probabititas kehancuran akibat asteroid kurang dari 3 % dalam rentang waktu 500 juta tahun. Kehancuran karena perang nuklir hanya 12 %. Angka itu cukup signifikan tapi tidak pasti. Kehancuran peradaban disebabkan karena satu faktor yang probabilitasnya mendekati 100 %. Dia datang dari internal diri manusia, berupa kegagalan sistem saraf dan otak untuk memahami kompleksitas yang diciptakan oleh manusia sendiri.
Manusia terus menerus menciptakan sistem kompleks yang melampaui kemampuan otaknya untuk memahami sistem ciptaannya. Ketika terjadi masalah, manusia membuat solusi yang justru menimbulkan 10 masalah baru. Misalnya krisis iklim, tidak hanya terkait dengan masalah ekologi saja, tetapi terkait dengan masalah ekonomi, sosial, politik, demokrasi, migrasi. Kegagalan memahami sistem kompleks menimbulkan keruntuhan kognitif. Dulu peradaban manusia ibarat cermin tunggal yang buram dan setiap jaman dibersihkan. Cermin itu jadi tempat tiap orang dapat melihat realitas yang seragam. Sekarang cermin itu dipecah menjadi 8 milyar keping dan tiap orang memegang satu keping. Fenomena itu disebut sebagai efek cermin pecah. Seluruh realitas dapat dilihat secara berbeda beda oleh tiap orang. Segala sesuatu dibuat sangat spesifik, personal. Coba perhatikan. Bagaimana fenomena yang terjadi di jagad maya ( media sosial ) . Tiap aplikasi berusaha menahan perhatian manusia selama mungkin. Apa yang dapat menahan perhatian dari manusia? Tidak lain adalah validasi dan konfirmasi atas semua yang dipikirkan, diucapkan, pandangan, kebencian, tindakan setiap orang. Semua orang merasa nyaman dengan dukungan, konfirmasi positif dari semua pihak dan menganggap pikiran orang lain salah. Semua pihak yang berbeda, dikelompokkan sebagai orang, pemerintah dan korporasi yang jahat. Kita tidak lagi berada di tempat yang sama, kita ciptakan banyak realitas yang paralel yang jumlahnya tidak terbatas. Kita tak mampu lagi saling berbicara, karena sudah berada di dunia yang . Kita menciptakan dunia untuk diri atau kelompok kita saja. Itu adalah hasil kajian sistem axioma yang bersifat bersifat pasti, matematis. Kebenaran dianggap sebagai opini lain, dikemas, dijual sebagai komoditi.
Selanjutnya bekerja vektor ekonomi. Untuk memproduksi video, konten, informasi valid bermutu tinggi dibutuhkan biaya besar, waktu lama dan usaha / kerja banyak orang, tetapi sulit diterima khalayak. Sementara untuk memproduksi hoax hanya dibutuhkan kerja satu orang, waktu singkat dan biaya murah tetapi dapat mempengaruhi jutaan orang. Orang lebih suka membaca, menonton tayangan dangkal, tak bermutu, singkat dan menghindari tayangan hasil kajian serius. Dalam hal ini ekonomi berpihak kepada kebohongan. Kebohongan lebih cepat, lebih murah dan lebih laku. Media tradisional terpaksa mengikuti arus ini jika ingin bertahan hidup. Tiap orang atau kelompok berlomba lomba menciptakan kebohongan dan masyarakat terus menerus diintrodusir dengan kebohongan dan kebenaran dianggap tidak ada. Jika ada orang yang berupaya menerangkan kompleksitas sistem langsung diberi label penyebar fitnah, ketakutan / kepanikan, mengancam stabilitas, ketenteraman, keamanan nasional, antek asing, pengikut teori konspirasi, kaki tangan elit global. Hasil kajian memberi label situasi ini paranoia kognitif.
Ketika tiap orang sudah dilanda paranoia kognitif, maka manusia mulai menerapkan mekanisme pertahanan diri, yaitu menolak semua yang berasal dari luar dirinya, kelompoknya. Pemerintah, korporasi, bangsa asing adalah jahat, menindas. Terjadi krisis ketidak percayaan pada apa saja yang bukan berasal dari dirinya, kelompoknya. Hal ini adalah vonis mati untuk peradaban. Semua peradaban dibangun di atas kepercayaan. Orang membeli rumah karena percaya dengan developer dan tukang. Orang mau membeli makanan dan minuman dalam kemasan karena percaya dengan produsen, otoritas pengawasan makanan, minuman dan obat obatan. Ketika hasil riset yang bermutu hanya dianggap pendapat lain, ketika kepercayaan itu sudah runtuh, maka usia peradaban sudah dapat dipatok.
Suatu ketika datang hama penyakit yang menyerang tanaman pangan atau wabah penyakit yang menyerang manusia. Di masa lalu persoalan ini dapat diatasi dalam hitungan bulan . Dalam situasi krisis kepercayaan situasinya jadi berbeda. Berkembang pendapat bahwa wabah itu tidak ada, hanya konspirasi perusahaan benih, obatan obatan untuk mengeruk keuntungan besar. Ketika wabah meluas dan berlangsung lama, kerusakan tak dapat dihindari lagi. Ketika keadaan sudah parah, Pemerintah menerapkan protokol karantina yang ketat untuk mencegah perluasan wabah lebih lanjut, tetapi Pemerintah dituduh menjadi tiran, menindas petani dan rakyat serta ingin merampas aset tanah para petani. Ketika obat yang ditawarkan terbukti efektif, masih banyak orang yang tidak mau menggunakannya. Masyarakat lebih percaya pada informasi dari Blogger anonim dari pada peneliti handal. Proyek pemulihan yang dijalankan gagal mencapai sasaran. Manusia telah jadi organisme raksasa yang rapuh, tidak dapat menerima sinyal apapun dari luar. Peradaban manusia di bagian dalam telah rapuh dan rontok.
Kemudian lihat apa yang terjadi pada peradaban bagian luar, berupa jaringan infrastruktur dan suprastruktur secara fisik. Peradaban manusia adalah sesuatu yang unik, canggih, kompleks dan bersifat global. Sepotong pakaian yang dikenakan seseorang adalah hasil kerja ribuan orang di lima benua. Kapas ditanam di Amerika Serikat, diangkut dengan kapal kargo berikut kontainer yang dibuat di Jerman. Ahli pemrogram komputer dari Cina membuat program untuk mengoperasionalkan pelabuhan peti kemas di Hamburg, dibuat oleh mesin pemintal benang di Jepang, dibuat menjadi kain di pabrik di Thailand, dibuat jadi pakaian di pabrik di Jakarta, diangkut dengan truk ke kota anda. Semua aktivitas itu membuat sistem produksi menjadi efisien, sekaligus rapuh. Globalisasi memang sangat efisien, tetapi memiliki cacat genetis berupa saling ketergantungan mutlak. Inilah yang disebut efek raksasa rapuh. Ada sebuah gosip berkembang akan terjadi serangan wabah. Pemerintah suatu negara bertindak cepat mengisolasi semua orang dan barang dari luar. Barang yang sudah terlanjur masuk. dikarantina. Barang yang masih dalam perjalanan di laut dilarang masuk. Ribuan kapal melego jangkar di tengah laut. Segera terjadi kemacetan rantai pasokan logistik, termasuk pasokan energi. Sistem produksi yang efisien telah menghancurkan sabuk pengaman. Ada ratusan titik kerapuhan di dalam peradaban yang akan merontokkan bangunan peradaban . Dengan globalisasi manusia seperti membangun rumah yang dibangun dengan tumpukan kartu sambil berharap tidak terjadi guncangan, tetapi guncangan itu terjadi dan merobohkan tumpukan kartu itu.
Dalam satu gosip ada serangan wabah, dalam hari pertama puluhan pelabuhan utama menutup pintu, teori konspirasi meledak. Ini bukan virus, ini serangan negara asing ysng harus dihadapi. Pada masa lalu, krisis ini bersifat regional dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi di dalam krisis kepercayaan, situasinya jadi berbeda. Rantai pasokan logistik hancur, ribuan pabrik berhenti berproduksi. Terjadi kelangkaan bahan makanan dan obat obatan. Aksi memborong logistik terjadi di mana mana. Tiap orang menyelamatkan diri masing masing dan situasi terus makin memburuk. Pasokan energi yang tersendat membuat aliran listrik sering padam. Banyak makanan membusuk di lemari pendingin, mesin pompa air dan instalasi limbah tidak bekerja. Wabah penyakit meluas, sampah bertumpuk, tidak terangkut. Apartemen dan kondominium ditinggalkan karena lift tidak bekerja. Lampu padam, termasuk lampu lalu lintas, menyebabkan sering terjadi tabrakan kendaraan bermotor. Banyak pasien meninggal di meja operasi dan ruang perawatan karena berbagai peralatan tidak berfungsi akibat tak ada pasokan listrik. Penjarahan, perampokan dan kejahatan kriminal merajalela. Kota modern tanpa listrik adalah perangkap maut. Logistik adalah darah peradaban dan energi adalah jantung peradaban. Lumpuhnya dua unsur itu sudah cukup untuk mematikan peradaban. Semua orang sudah tak saling percaya dan pemerintah tidak dipercaya rakyat dan antar pemerintah di berbagai belahan dunia juga tidak saling percaya. Semua negosiasi kandas di lumpur ketidak percayaan.
Skenario itu menyadarkan kita akan satu kenyataan yang mengerikan. Kita sudah menjadi para ahli di berbagai bidang dengan keahlian spesifik, tetapi kita sudah lupa bagaimana cara untuk bertahan hidup di kondisi sulit. Berapa orang yang mampu menghasilkan bahan makanan sendiri? dan berapa orang yang mampu menemukan sumber air dan memurnikan air minum?. Manusia ibarat tanaman di rumah kaca berteknologi tinggi dan sekarang rumah kaca itu sudah retak menjelang pecah. Manusia adalah mahluk yang tidak mudah menyerah. Berbagai upaya dilakukan. Menurut axioma, apapun upaya yang dilakukan hanya menambah masalah baru.
Manusia mengerahkan seluruh kemampuan teknologi, sumberdaya dan organisasi untuk menyelamatkan diri. Ada tiga skenario penyelamatan peradaban. Musuh pertama yang mudah diidentifikasi adalah perubahan iklim. Banyak lahan subur menjadi kering dan berubah jadi gurun, sungai sungai mengiringi, gletser dan padang salju mencair, kota kota di tepi pantai diterjang gelombang pasang, kegagalan panen terjadi di mana mana, kematian masal hewan ternak juga melanda berbagai tempat akibat kekurangan pasokan pekan ternak dan obat obatan. Jika manusia gagal menurunkan semburan emisi gas rumah kaca ke atmosfer, maka temperatur bumi yang harus diturunkan. Melalui ribuan pesawat terbang yang diterbangkan sepanjang siang dan malam, menyemprotkan partikel mikro belerang di lapisan stratosfer, sehingga terbentuk sehubung tipis yang memantulkan kembali sebagian sinar matahari ke angkasa. Temperatur turun beberapa derajat. Secara teknis itu dapat dilakukan, tetapi yang menjadi kendala bukan teknis tetapi diri kita sendiri. Negara negara di belahan utara yang diuntungkan oleh pencairan es di Artik, menolak proyek perisai langit. Masalah berikutnya siapa yang berwenang menentukan dan mengatur thermostat global?, berapa derajat yang diseetujui untuk menurunkan temperatur?. Menghentikan proyek perisai gaya akan menimbulkan kelangkaan air di Asia Tenggara, tempat 2 milyar manusia yang menghuni tempat itu. Penghentian teknologi perisai gaya selama 6 bulan akan meningkatkan lagi temperatur bumi secara drastis. Penggunaan teknik perisai gaya pada kekuatan penuh akan mengubah pola angin dan proses pembentukan awan hujan. Rekayasa iklim pertama di dunia menjadi senjata iklim pertama, memicu ketegangan politik dan militer, memicu konflik perebutan air hujan. Upaya rekayasa iklim ternyata tidak mampu mengatasi masalah. Inilah yang disebut syhok putus zat. Kegagalan proyek rekayasa iklim akan memicu kenaikan temperatur 4 - 5 derajat Celcius dalam setahun dan memicu krisis lebih parah.
Skenario penyelamatan berikutnya adalah eksodus dan bahtera. Eksodus adalah memindahkan 1,5 milyar penduduk ke wilayah ysng masih layak huni, seperti Alaska dan Siberia. Rencana eksodus gagal sebelum dimulai. Dalam situasi ketidak percayaan kepada orang asing, penduduk yang wilayahnya bakal didatangi pengungsi akan menolak setiap pendatang. Bahtera adalah proyek pembangunan kota di bawah tanah lengkap dengan pertanian dan pembangkit energi, diperuntukkan bagi kelompok yang mampu membayar mahal. Proyek ini juga gagal karena kesulitan mendapatkan bahan konstruksi dan benih dengan keanekaragaman genetik. Proyek penyelamatan secara teknis dan sosial akan gagal. Kegagalan itu disebabkan karena sifat manusia yang ingin serba bebas, sulit diatur. Agar berhasil, sifat itu harus diubah. Dibutuhkan kediktatoran teknokratis dan demokrasi adalah kemewahan.
Situasi berikutnya adalah perebutan sumberdaya terakhir yaitu tanah dalam arti harfiah. Tanah bukan untuk dikuasai, tetapi untuk dijadikan landasan dan sandaran membangun kehidupan dan peradaban baru. Peradaban canggih manusia telah merosot jauh sama seperti kehidupan suku suku di masa lalu. Tanah adalah sumberdaya yang selama ini dikesampingkan, diracun. Tanah ibarat ibu kandung yang dibunuh secara kejam dan kemudian manusia menyadari Kesalahannya, tetapi sudah sangat terlambat. Manusia mulai mencari tempat tempat terpencil yang belum tercemar. Upaya itu juga gagal. Lokasi terpilih harus memiliki lahan subur, air yang cukup dan tidak terkontaminasi, iklim yang nyaman, udara yang tidak tercemar, tidak boleh ada industri dan pangkalan militer. Tidak banyak lagi tersisa kantung wilayah seperti itu. Wilayah ini dsebut zona kelahiran kembali. Begitu satu atau beberapa wilayah ditemukan, informasi itu segera bocor. Di dalam masyarakat yang menderita krisis kepercayaan, tak ada informasi yang tidak bocor. Begitu informasi itu bocor berbagai gerombolan orang datang menyerbu tempat itu dan pecah konflik memperebutkan lahan subur. Ini bukan konflik antar kelompok, tetapi konflik semua melawan semua. Pertempuran itu bertujuan bukan untuk menguasai atau menaklukkan, tetapi untuk memusnahkan. Pertempuran memperebutkan tanah telah menghancurkan sumberdaya terakhir yang dimiliki. Semua pihak berpikir, jika mereka tidak dapat memilikinya, mereka akan menghancurkan zona kelahiran kembali, karena selain mereka, tak boleh ada orang lain yang memilikinya.. Ini adalah puncak kegilaan manusia.
Kehancuran dimulai dari ketidak percayaan kepada sesama manusia, kemudian menular menjadi ketidakpercayaan pada lembaga. Manusia melupakan keunggulannya dari mahluk lain yaitu koneksi / kohesi sosial. Di dalam masyarakat yang sudah saling tidak percaya, saudara, kerabat, tetangga berpotensi menjadi pengkhianat. Apa yang menjadi keunggulan manusia sudah berubah menjadi kelemahannya. Manusia terjebak dalam syndrome keterasingan. Manusia kehilangan sahabat, kerabat, keluarga. Semua orang asing dianggap ancaman, musuh yang harus dilenyapkan. Coba perhatikan perbendaharaan kata kata yang digunakan dalam percakapan di berbagai media, kata kata kita, milik kita, bersama, turun sebesar 70 %. Sementara kata kata mereka, asing, bencana meningkat tajam. Kemampuan empati untuk merasakan penderitaan orang lain semakin hilang.
Berikutnya muncul gagasan menolak kehadiran anak. Mengapa membawa anak kedalaman dunia yang gersang, kelaparan, penuh penderitaan?. Kehidupan tanpa kehadiran generasi penerus, sama artinya dengan memutuskan rantai kehidupan. Semua orang menghabiskan sisa masa hidupnya dan mereka sadar bahwa mereka akan menjadi generasi terakhir. Dunia berubah menjadi panti jompo raksasa. Kemudian manusia masuk dalam tahap penghancuran diri, pelenyapan eksistensi diri. Mengingat masa lalu yang penuh tawa, kedamaian, persahabatan adalah sebuah siksaan. Manusia jadi kehilangan kesadaran akan jati dirinya, asal usulnya, tujuan keberadaannya. Bahasa mengalami kemunduran yang tajam.
Pukulan mematikan berikutnya datang secara diam diam, dalam kesunyian. Semua bahan kimia beracun yang kita ciptakan telah merusak seluruh permukaan bumi, mencemari tanah dan air minum kita. Bahan bahan beracun itu berakumulasi dan masuk dalam aliran darah, menciptakan efek perubahan endokrin. Perubahan itu menyebabkan tingkat kesuburan pria menurun drastis, hanya tinggal 5 %, dan kegagalan pembuahan pada wanita meningkat tajam. Jika ada bayi yang dilahirkan dalam keadaan selamat dan sehat, dia sudah memiliki cacat genetis, manusia yang tidak memiliki kesuburan. Kita benar-benar sudah memutuskan total siklus / rantai / estafet pergantian generasi. Seorang wanita yang baru melahirkan bayi yang sehat, sempurna, segera menyadari bahwa dia baru saja melahirkan manusia terakhir dari kehidupan lama, bukan manusia pertama di kehidupan baru.
Setelah memaparkan diri manusia, peradaban yang dihasilkan, kehancuran peradaban dan kepunahan manusia, masih ada pertanyaan terakhir yang masih menggantung. Jika prediksi yang diberikan algoritma, axioma demikian presisi, mendekati 100 %, mengapa kecerdasan buatan itu hanya diam, tidak memperingatkan atau bahkan mencegah kehancuran tersebut?. Jawaban dari axioma sangat mencengangkan, membuat kita terdiam, bungkam. Mereka berkata percuma, sia sia saja memperingatkan dan mencegah kepunahan manusia. Manusia masih membawa gen / karakter ketika dia hidup di padang savana Afrika. Suasana kehidupan di masa itu penuh kompetisi memperebutkan makanan. Semua mahluk di luar kelompoknya adalah musuh yang harus dilenyapkan. Sekarang kita hidup di jaman globalisasi, semua orang terkoneksi dengan basis kepercayaan dan kerjasama tanpa batas. Manusia masih belum dapat sepenuhnya move on dari suasana padang rumput Afrika sementara alam tempatnya hidup sudah berubah total. Mempertahankan gen itu di era globalisasi adalah hukuman mati bagi manusia. Selain itu ada cacat dalam desain peradaban manusia yang disebut paradoks empati. Kita mampu mengorbankan apa saja demi anak, keluarga, sahabat , kelompok kita, tetapi kita dapat bersikap kejam tanpa ampun terhadap mereka, kelompok mereka, orang asing. Jika mesin pintar yang kita ciptakan, melakukan upaya penyelamatan, hal itu menjadi tidak logis dan sia sia. Masalahnya berada di dalam internal diri kita. Kita memiliki efek siklis, yang mungkin akan terulang lagi dalam waktu 1000 tahun. Mungkin kepunahan adalah skenario yang paling baik. Era manusia modern sudah berakhir. Alam sudah memberikan kesempatan dan panggung untuk kita, dan kita sia siakan kesempatan itu. Sekarang sudah waktunya kita turun panggung, memberikan kesempatan kepada spesies baru untuk tampil di panggung peradaban.
Epilog
Manusia boleh punah, tetapi warisan hasil pencapaiannya harus diselamatkan. Axioma akan menyimpan seluruh prestasi pencapaian manusia selama 1 juta tahun terakhir. Warisan itu meliputi sains, seni, seluruh sistem pengetahuan yang diarsipkan sebagai bukti fisik otentik bahwa kita pernah ada, eksis, dan berkembang di bumi. Warisan itu adalah arsip terbesar di alam semesta. Manusia adalah mahluk yang mampu menciptakan keindahan luar biasa, sekaligus mahluk yang mampu menciptakan kegilaan yang sama luar biasanya. Warisan itu menjadi monumen peringatan kepada spesies pengganti agar tidak menempuh jalur jalan yang sama, yang penuh ranjau, jebakan. Spesies baru harus berani merambah dan merintis jalan baru. Ketika spesies cerdas pengganti sudah hadir, arsip warisan peradaban manusia akan dibuka. Kita tidak dapat menyelamatkan kehidupan kita, tetapi warisan kita mungkin dapat menyelamatkan kehidupan yang lain.

.png)

Comments
Post a Comment