MEMBACA SUMATRA


Sumatra adalah pulau terbesar ketiga di Republik dan tergolong unik. Untuk membaca "kitab" Sumatra, wajib dipenuhi syarat mutlak, yaitu memahami ilmu ilmu kebumian, seperti geologi, geomorfologi, petrografi, pedologi, hidrologi. Sarana untuk membaca Sumatra, antara lain citra satelit, citra radar, foto udara, baik jenis pankromatik hitam - putih, maupun thermal infra red. Berdasarkan citra dan foto, dibuat berbagai peta tematik, seperti peta topografi / rupa bumi, peta geomorfologi, peta geologi, peta bathimetri. Setelah peta peta tersebut tersedia, maka perku dilakukan interpretasi  terhadap berbagai gejala yang tampak pada lembaran peta. Pada tahap ini pengetahuan ilmu ilmu kebumian sangat membantu kegiatan interpretasi, dengan demikian maka pulau Sumatra dapat dibaca. Gambar 1 di bawah ini adalah peta rupa bumi Sumatra.


                                             


Gambar 1 : Peta Rupa Bumi Pulau Sumatra 

Sumber : Google

Dari peta dapat lihat pulau Sumatra membentang dari arah barat laut dimulai dari Provinsi Aceh di utara hingga Provinsi Lampung di selatan ke arah tenggara. Warna hijau adalah dataran rendah, Warna kuning dan coklat adalah dataran tinggi dan gunung / pegunungan. Dari tampilan gambar tampak Pegunungan Bukit Barisan memanjang nyaris sepanjang pulau dari utara ke selatan dan posisi letaknya condong ke arah barat, tidak tepat di tengah. Pegunungan adalah indikasi bahwa daerah itu berusia lebih muda dari dataran rendah, yang telah mengalami pengikisan dan pelapukan tingkat lanjut. Daerah muda kondisinya lebih labil, masih sering terjadi gempa baik tektonik maupun vulkanik dan longsor akibat bekerjanya gaya endogen. Topografinya berbukit, disertai ngarai terjal / curam dan lembah. Oleh karena pelapukan bantuannya belum mencapai tingkat lanjut, belum terbentuk lapisan solum tanah yang tebal. Di bawah lapisan tipis tanah, terdapat lapisan batuan keras. Akibatnya air hujan yang jatuh, hanya sebagian kecil yang dapat diserap ke dalam tanah. Sebagian besar air akan melimpas di permukaan tanah membentuk aliran liar, bercabang cabang. Lama kelamaan bekas lintasan air itu akan terkikis membentuk cekungan yang dialiri air pada saat hujan turun, terbentuk aliran sungai kecil, sempit dan tidak dalam. Kondisi ini disebabkan karena air butuh waktu lama untuk mengikis lapisan batuan yang keras. Aliran air yang bercabang cabang itu membentuk pola dendritic ( cabang dan ranting pohon ) . Gradien  ( beda tinggi ) antara satu titik kordinat dengan titik lain relatif besar, membuat sudut lebih besar dan hal itu menyebabkan aliran air lebih deras. Dasar sungai tersusun dari landasan batuan keras disertai tumpukan batu koral dan sedikit pasir,  tidak terdapat endapan lumpur. Batu batu berukuran besar yang terdapat di sungai membuat aliran air membentur batu batu, membentuk semburan aerasi, menimbulkan suara gemuruh. Itu sebabnya sungai di pegunungan beraliran deras, berbatu batu, airnya jernih, dimensi ukuran horizontal ( lebar ) vertikal ( kedalaman ), sempit dan dangkal,  kecuali pada tikungan sungai. Pada tikungan  sungai, terbentuk pusaran air karena berbenturan dengan tebing sungai. Pusaran air menggerus bagian dasar sungai, sehingga terbentuk cekungan di dasar sungai yang disebut lubuk.  

Kemampuan daerah pegunungan untuk meloloskan air ke dalam tanah yang rendah, membuat cadangan air tanah jumlahnya terbatas. Solum tanah yang tipis membuat tanah di pegunungan kurang subur. Lahan subur terdapat di bagian lembah, karena menerima akumulasi bahan mineral hanyutan dari lereng. Oleh karena lembah menerima hanyutan air dan lapisan tanah serta mineral,  kawasan itu lebih subur dan ideal untuk dijadikan lahan pertanian dan pemukiman. 

Pegunungan Bukit Barisan yang condong ke arah barat, membuat lahan datar di bagian barat sempit. Dari kaki pegunungan hingga pesisir pantai lebarnya hanya belasan Km, bahkan ada yang hanya beberapa ratus meter. Akibatnya perbedaan ketinggian satu titik ke titik di bawahnya dalam jarak 100 meter, cukup besar, maka aliran sungai di bagian barat deras, berbatu batu, dan berukuran pendek, sempit. Lahan datar dengan solum tanah tebal sangat terbatas. Lahannya didominasi dengan pegunungan, perbukitan, ngarai curam dan lembah sempit. Wilayah barat pegunungan Bukit Barisan tidak ideal untuk dijadikan lahan pertanian berskala besar. Kondisi ini tidak menarik minat orang untuk bermukim di sana.  Itu sebabnya kawasan barat Pegunungan Bukit Barisan tidak banyak mengalami domestikasi, sebagian besar arealnya masih ditutupi hutan hujan tropis, sampai tiga dekade yang lalu. Dalam era Reformasi,  terjadi pembalakan hutan secara masiv, sehingga sekarang sudah memanen bencana banjir bandang dan tanah longsor. 

Kondisi di bagian timur Pegunungan Bukit Barisan sangat kontras dalam segala aspek. Wilayah timur terbentuk lebih dulu dari daerah barat, sudah mengalami pelapukan tingkat lanjut, sehingga solum tanahnya lebih tebal. Jarak antara kaki Pegunungan Bukit Barisan hingga ke pesisir pantai mencapai puluhan Km, bahkan ada yang mencapai ratusan Km. Dengan demikian gradien topografinya kecil, datarannya lebih lantai. Kecepatan aliran sungainya lambat. Tebing di kiri, kanan  sungai terdiri dari tanah, mudah tergerus dan mengalami abrasi.  Akibatnya dimensi ukuran lebar sungai lebih besar. Lapisan dasar sungai lunak, berpasir dan berlumpur. Itu sebabnya aliran sungai di bagian timur lebih panjang, lebih lebar, alirannya lebih lambat dan berair keruh. Dataran di sebelah timur mengandung air tanah lebih banyak, solum tanah tebal, akibatnya tanahnya subur, sesuai untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan. Kondisi ini menarik orang untuk  mendirikan pusat pemukiman. Hal ini yang menyebabkan penduduk Sumatra terkonsentrasi di bagian timur. Ibarat kapal yang sarat penumpang, kapalnya oleng ke sisi timur. Dapat dikatakan wilayah pantai timur lebih diuntungkan oleh alam. Titik start ke dua wilayah tidak sama. Alam memberikan limpahan energi. materi,  informasi lebih banyak ke wilayah timur. Kehadiran manusia semakin memperbesar ketimpangan itu. Hal ini sesuai dengan dalil, bahwa manusia akan memilih upaya minimal untuk mendapatkan hasil maksimal. Mendomestikasi bagian barat membutuhkan input dan usaha lebih besar dari bagian timur. 

Pada gambar peta di atas,  tampak luas wilayah pegunungan di Provinsi Aceh lebih besar dari provinsi lain. Kemudian menyusul Provinsi Sumatra Utara.  Untuk wilayah Aceh karena usianya relatif masih muda. Untuk Provinsi Sumatera Utara karena adanya Tumor Batak, yang memicu tumbuhnya super volcano gunung api purba ( gunung Toba ). Istilah Tumor Batak berasal dari ahli geologi Belanda R W van Bemmelen dalam bukunya yang berjudul The Geology of Indonesia, Vol. I A, 1949. ( lihat keterangan no 1 pada peta di atas). Gunung Toba meletus beberapa kali dalam interval waktu 400.000 tahun. Letusan pertama terjadi 800.000 tahun lalu menghasilkan kawah Haranggaol. Letusan ke dua pada 400.000 tahun lalu menghasilkan pembentukan kawah Porsea. Letusan ke tiga adalah yang terbesar terjadi pada 74.000 tahun lalu menghasilkan bentukan danau besar, menggabungkan dua kawah yang sudah terbentuk sebelumnya. Pada Letusan ketiga gunung itu melontarkan debu material  sebesar 28.000 Km3. Abu vulkaniknya diterbangkan angin hingga ke kutub utara dan kutub selatan. Sebagian debu vulkanik itu diterbangkan angin ke wilayah rawa rawa di bagian barat danau, membentuk koridor tanah keras di tengah rawa rawa yang sekarang disebut Bengkung Singkil ( lihat keterangan no 2 pada peta di atas ). Koridor ini memudahkan hewan mamalia besar untuk melintas dari arah selatan - utara dan sebaliknya. Bengkung Singkil sampai sekarang menjadi jalur migrasi hewan hewan itu. Pada peta di atas Bengkung Singkil terletak antara kawasan Toba dengan Aceh,  berwarna hijau, di dekat pesisir pantai barat








Gambar 2 : Peta Sesar Besar Sumatra 

Sumber : Google



Pada gambar peta No 2 terlihat patahan / sesar ( graben / fault ) besar Sumatra yang disebut juga sesar Semangko. Jika peta di atas di zoom, akan kelihatan ada 9 sesar yang membentang sepanjang 1900 Km dari Aceh hingga Lampung. Sesar adalah rekahan atau zona rekahan pada batuan di kerak bumi. Rekahan terjadi karena adanya tegangan tektonik yang menyebabkan batuan bergerak relatif satu sama lain. Pergerakan itu biasanya berupa pergeseran horizontal, vertikal atau kombinasi keduanya. Menurut perhitungan. J A Katili dalam tulisannya berjudul The Great Sumatran Fault ( 1979 ), sesar besar Sumatra terbentuk pada jaman Miosen Tengah, 13 juta tahun lalu. Sesar ini terbentuk akibat pergerakan antara lempeng Indo - Australia dengan lempeng Sunda. Ada beberapa jenis sesar berdasarkan proses pembentukannya, sesar tektonik, sesar vulkanik dan sesar gravitasi. Dampak keberadaan sesar adalah gempa bumi, perubahan morfologi permukaan bumi, tanah longsor dan singkapan sumberdaya mineral. Itu sebabnya kawasan barat pulau Sumatra sering diguncang gempa dan banyak terdapat deposit bahan tambang. Tambang emas membentang mulai dari pesisir barat Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu. 
Keberadaan sesar besar Sumatra juga telah berulangkali merusakkan ruas jalan raya ( amblas, longsor ) di beberapa kabupaten seperti Dairi, Pak Pak Bharat, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal.. Mengingat daerah barat Sumatra terdapat sesar besar yang aktif, banyak hasil pembangunan infrastruktur yang rusak dan harus dibangun ulang. 

Akibat adanya sesar besar yang aktif, setiap pembangunan harus memperhitungkan keberadaannya. Jangan sampai membangun pusat pemukiman, pusat aktivitas ekonomi yang memotong sesar, harus dibuat sejajar dengan lintasan sesar. Peristiwa gempa besar di kota San Francisco, Amerika Serikat pada tahun 1906 harus dijadikan pelajaran berharga. 







Gambar 3 : Peta Jajaran Gunung di Pegunungan Bukit Barisan,  berikut tarikan gaya aksi dan reaksi


Sumber : Google



Pada gambar peta di atas ada fenomena yang menarik. Di sepanjang sesar besar Sumatra bekerja gaya aksi dan reaksi. Satu gaya menarik ke arah barat laut, dan satu gaya lagi menarik ke arah tenggara ( lihat tanda panah warna hitam ). Akibat bekerjanya dua gaya ini memberi implikasi pada perubahan bentuk danau Toba. Semakin lama  danau Toba akan terlihat lebih Lonjong.  









Gambar 4 : Peta Jajaran Gunung di sepanjang                                 Pegunungan Bukit Barisan. 




Pada gambar peta di atas tampak jelas ada puluhan gunung baik yang masih aktif maupun sudah tidak aktif. Gunung Toba belum mati total, masih tertidur pulas,  dan suatu saat akan bangkit kembali ( aktif ). Indikasinya adalah adanya mata air panas yang mengandung belerang di geosite Aek Rangat di Kabupaten Samosir. Di sepanjang jajaran pegunungan Bukit Barisan terdapat total 58 gunung, baik yang masih aktif maupun sudah tidak aktif. 



Implikasi Terhadap Kebijakan Pemerintah

Hasil pembacaan terhadap peta peta tematik di atas memberi petunjuk tentang bagaimana cara mengelola pulau Sumatra.  Beberapa kebijakan pembangunan mungkin harus dikaji ulang / diubah,  antara lain : 

1 Setiap perencanaan pembangunan harus memperhitungkan karakteristik wilayah. Kawasan barat Pegunungan Bukit Barisan tidak ideal  dijadikan pusat pembangunan produksi makanan, karena hasilnya tidak efektif. Kebijakan pembangunan food estate di Kabupaten Humbang Hasudutan perlu dikoreksi. Kawasan barat lebih sesuai untuk mengelola hasil hutan secara berkelanjutan seperti rotan, getah damar, kamper. Areal untuk produksi pangan termasuk perkebunan berskala luas lebih efektif dilakukan di kawasan timur Pegunungan Bukit Barisan.  Kawasan timur juga sangat sesuai untuk dijadikan kawasan industri karena ketersediaan lahan datar dan air yang banyak. 

2 Topografi di kawasan barat yang kontur tanahnya berfluktuasi, khususnya di pesisir pantai menyajikan panorama alam yang indah. Kawasan ini sangat sesuai dijadikan kawasan resort pariwisata. 

3 Anggaran pembangunan infrastruktur dan bangunan fasilitas umum harus dialokasikan  lebih besar sekitar 60 -  75 % dari proyek yang skalanya relatif sama di kawasan timur. Hal ini disebabkan karena bangunan di kawasan barat menuntut persyaratan spesifikasi teknis yang lebih tinggi. Institusi perencanaan pembangunan ( BAPPENAS / BAPPEDA ), harus mencermati hal itu. Lembaga anti korupsi ( KPK ), Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK ), Inspektorat Pemerintah Provinsi, Kabupaten / Kota juga harus memahami hal ini. Jangan hanya melihat besaran anggarannya lalu diduga ada mark up anggaran proyek. 

4 Melihat peta topografi pantai dan peta bathimetri dasar Samudera Hindia, sektor perikanan tangkap sangat layak dikembangkan di perairan sebelah barat Sumatra, karena potensinya cukup besar. Kekurangan selama ini adalah pada jumlah armada kapal penangkap ikan yang memiliki fasilitas alat pancing long line untuk menangkap ikan pelagis besar ( tuna ), dan dilengkapi cold storage di kapal serta cold storage berukuran besar di pelabuhan home base perikanan. Kawasan utara pantai barat Sumatra adalah salah satu tempat yang sering terjadi fenonena up welling, yang menjadi tempat konsentrasi berkumpulnya biota air dengan kepadatan tinggi. Sabang, Meulaboh, Sibolga, Padang dan Bengkulu dapat dijadikan kandidat home base perikanan di kawasan Indonesia Barat. Di Sabang penulis pernah mengusulkan agar sektor perikanan Sabang bekerja sama dengan LAPAN ( Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ) yang setiap dua hari sekali memasok data kondisi cuaca dan kemungkinan titik kordinat lokasi yang sedang terjadi up welling. Berdasarkan data itu, kapal kapal bergerak ke titik lokasi. Satu kali terjadi up welling, efeknya dapat berlangsung selama 10 hari - dua minggu. Sekarang LAPAN sudah dilebur ke dalam BRIN - ORPA ( Badan Riset Inovasi Nasional - Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa ). 

5 Kebijakan penanggulangan bencana antara kawasan timur tidak boleh sama dengan kawasan barat, khususnya tentang durasi waktu tahap tanggap darurat. Kawasan barat membutuhkan waktu lebih lama dari waktu standard, 2 minggu atau 2 bulan, tergantung skala dan bobot bencana.  Peristiwa erupsi gunung Sinabung harus dijadikan pelajaran berharga. Erupsi gunung Sinabung berlangsung selama beberapa tahun. Ketika masa tanggap darurat sudah dianggap selesai, dilanjutkan dengan tahap rekonstruksi. Penduduk sudah direlokasi di tempat baru. Kemudian terjadi lagi erupsi gunung Sinabung. Pemukiman baru terdampak oleh erupsi berikutnya, sementara periode tanggap darurat sudah selesai. Hal ini merembet pada upaya rekonstruksi lagi. Para penyusun regulasi harus memahami bahwa perilaku gunung api tidak sama satu sama lain. Bukan perilaku komponen alam ( gunung ) yang harus menyesuaikan diri dengan regulasi, tetapi sebaliknya. Kalau regulasi menuntut adanya keseragaman, harus dibuat klausul pengecualian untuk mengakomodasi keunikan tiap komponen alam. 

Hasil kajian ilmu ilmu kebumian telah membantu upaya " membaca " pulau Sumatra. Tulisan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan minat untuk membaca pulau pulau lain yang bertebaran di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  



Comments

Popular Posts