DRAMA DI PAPAN CATUR
Prolog
Sejak puluhan tahun lalu penulis sudah mencermati sejarah terbentuknya alam semesta sampai munculnya peradaban pertama hingga masa kini. Pengetahuan yang didapat dirasakan belum memuaskan, belum dapat menjawab banyak pertanyaan mendasar. Misalnya bagaimana peran manusia di dalam realitas makrokosmos dan mikrokosmos, dalam penentuan arah perkembangan peradaban?. Apakah manusia berperan sebagai aktor utama dalam berbagai arus perubahan, atau dia sekadar pion di papan catur yang digerakkan oleh entitas lain?. Mengapa suatu bangsa mengalami kejayaan, kemudian runtuh dan kejayaan itu berpindah ke bangsa lain?. Jika dia hanya sebagai pion, lalu siapa atau apa yang berperan menggerakkan seluruh permainan dari balik tirai?. Banyak orang mencari jawaban jalan pintas yang bersifat teleologis, bahwa itu semua dikendalikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa. Jawaban itu terlalu menyederhanakan realitas yang rumit. Sains modern sudah memberikan jawaban altetnatif yang lebih memuaskan, dengan indikator : penjelasannya bersifat koheren dan konsisten serta dapat dikonfirmasi dengan fakta empiris.
Alternatif jawaban dari sains modern, membuat penulis harus membaca ulang seluruh rangkaian sejarah terbentuknya alam semesta dan sejarah perkembangan peradaban, dengan menggunakan sudut pandang baru dan memperhatikan semua sistem pengetahuan sebagai sarana analisis. Pertanyaan utama yang diajukan adalah apakah manusia yang menentukan takdir / nasib dirinya sendiri secara otonom atau ada kekuatan lain yang mengendalikannya?. Sebenarnya pertanyaan itu sudah menjadi pertanyaan klasik dalam perdebatan filsafat islam antara mazhab Qadariyah dengan mazhab Mu'tazilah. Perdebatan itu hanya sebatas di area abstrak. Kajian ini memperluas area pembahasan hingga ke tataran empirik. Langkah awal kajian adalah melakukan riset kepustakaan dari masa ribuan tahun lalu yang memaparkan alam pikiran Hinduisme, Grecko - Romano, Islam, filsafat modern dan kontemporer, sains modern ( biologi, fisika kuantum, llmu lingkungan, genetika, mikrobiologi, behavior evolution, neurosains, geosains serta kecerdasan buatan sebagai sarana pengolahan data dengan tujuan untuk menemukan pola pola perubahan yang terjadi.
Penjelajahan ini meliputi rentang dimensi waktu yang panjang dan mencakup dimensi ruang yang luas. Akhir dari pengembangan ini adalah melihat posisi manusia di era terkini, di persimpangan jalan yang membuat dia harus memilih takdirnya.
Hinduisme Menafsirkan Realitas Dunia
Dunia berkembang dalam empat tahap yang digerakkan oleh entitas berbeda. Perkembangan paling awal disebut jaman Kertayuga. Jaman ini semua komponen kehidupan berjalan mengikuti tatanan yang sudah ditentukan. Tidak ada bentuk kejahatan, 100% kehidupan berjalan baik. Arsitek yang membangun tatanan dunia disebut Dewa Brahma. Setelah selesai menjalankan misinya sebagai pencipta, muncul Dewa Wisnu sebagai pemelihara dunia. Berikutnya dunia memasuki jaman Dwaparayuga. Pada jaman ini kebaikan sudah berkurang, tinggal 75% . Walaupun kejahatan mulai muncul, tetapi kebaikan masih dominan. Kinerja Dewa Wisnu dinilai masih cukup baik. Kemudian dunia memasuki jaman Tetrayuga. Bobot kebaikan pada jaman ini tinggal 50%, berimbang dengan bobot kejahatan. Kemudian dunia memasuki jaman Kaliyuga. Di jaman ini kebaikan tinggal 25%, kejahatan mendominasi di dunia dengan bobot 75%. Para dewa membiarkan kejahatan merajalela, sehingga tercipta alasan untuk memusnahkan dunia. Jaman kaliyuga ditutup dengan peristiwa pralaya ( kiamat ). Setelah pralaya muncul seorang pahlawan ( dalam tradisi lain disebut Mesias, Imam Mahdi ) yang memimpin awal munculnya jaman baru. Ibarat upaya pembersihan lahan untuk memberi jalan bagi terbentuknya tatanan dunia baru, kembali memasuki jaman kertayuga. Dalam kegiatan penghancuran, Dewa Siwa menjalankan perannya sebagai buldozer. Hinduisme memandang kehidupan dunia sebagai siklus. Kekuatan yang bekerja dalam proses siklus itu tidak dimonopoli oleh satu entitas kekuatan, ada tiga kekuatan yang bekerja secara terpisah menurut fungsi dan peran masing masing.
Sains Modern Menafsirkan Realitas Dunia
Ilmu biologi memandang perkembangan kehidupan menurut Kurva normal yang bentuknya mirip lonceng / genta. Model dan mekanisme perkembangan apa saja terjadi bertahap dimulai dari kelahiran, masa pertumbuhan, masa puncak, masa penurunan. Pertumbuhan dan perkembangan tiap jenis kehidupan berbeda satu sama lain. Ada yang pertumbuhannya melalui mekanisme fotosintesis, metabolisme, dekomposisi dan duplikasi.
Ilmu fisika klasik dan modern memandang realitas alam dipengaruhi oleh empat kekuatan / gaya. Kekuatan pertama adalah gaya gravitasi yang bekerja menurut hukum Newton. Gaya berikutnya adalah gaya magnet yang bekerja menurut hukum Coulomb. Gaya berikutnya adalah gaya listrik yang dirumuskan oleh Michael Faraday. Kemudian James Clark Maxwell menggabungkan kedua hukum itu dalam empat persamaan matematis yang sederhana, indah dan harmoni, menjadi hukum Maxwell tentang gelombang elektromagnetik . Di paruh ke dua abad XX, ilmuwan fisika partikel menemukan dua gaya lain yang memengaruhi alam yaitu gaya nuklir kuat dan gaya nuklir lemah. Para ahli berupaya menggabungkan ke empat gaya itu dalam satu hukum yang terintegrasi. Para ahli tersebut sudah berhasil menggabungkan tiga dari empat gaya yaitu gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat dan gaya nuklir lemah. Sekarang masih berlangsung upaya menyatukannya dengan gaya gravitasi. Para ahli sains modern berhasil mengidentifikasi entitas kekuatan yang mempengaruhi pembentukan realitas alam semesta.
Dalam ilmu biologi evolusioner dan paleontologi petistiwa kepunahan masal atau kepunahan satu atau beberapa spesies berarti membuka jalan bagi munculnya spesies baru, menggantikan spesies yang punah. Tanpa ada kepunahan, tidak ada kesempatan terjadi peristiwa suksesi antar spesies. Dalam sudut pandang ke tiga pengetahuan tersebut, kekacauan diperlukan, sebagai syarat bagi munculnya tatanan baru.
Ilmu Lingkungan modern memberikan tafsiran atas realitas, bahwa di alam bekerja empat kekuatan yang mendasar. Tema dasar alam semesta adalah perubahan. Di alam tidak ada yang tidak berubah. Kekuatan perubahan mendorong munculnya kekuatan kedua yang disebut variasi dan kompleksitas. Pada awalnya variasi di alam sedikit. Seiring dengan berjalannya waktu, variasi makin bertambah dan semakin banyak variasi maka pasti diikuti dengan meningkatnya kompleksitas. Kompleksitas akan memicu munculnya kekuatan ketiga yaitu ketidakpastian. Berbagai fenonena di alam semakin sulit diprediksi. Dalam situasi ketidakpastian, orang merasa cemas akan masa depan. Apa yang didapat pada hari ini, tidak ada jaminan bahwa esok akan memperoleh hal yang sama. Dalam situasi ketidakpastian orang akan menimbun sumberdaya sebanyak banyaknya. Dalam hal kemampuan orang menimbun sumberdaya tidaklah sama. Yang kuat akan mendapat bagian yang lebih besar, sementara orang lain mendapat lebih sedikit, bahkan ada yang tidak mendapat bagian sama sekali. Dalam situasi ketimpangan kepemilikan sumberdaya, maka hal itu pasti memicu munculnya kekuatan keempat yang disebut konflik. Konflik tidak dapat dihilangkan, karena dia inherent di dalam kekuatan pertama, perubahan. Jika ingin menghilangkan konflik, sama dengan menghentikan perubahan, dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan, karena perubahan adalah tema dasar pembentukan alam semesta. Konflik hanya dapat dikelola agar efek destruktifnya dapat dikendalikan.
Mencari Faktor Pembentuk Realitas Peradaban
Sekelompok peneliti dengan bantuan mesin kecerdasan buatan yang diberi nama axioma, berupaya mencari pola tertentu yang diduga terdapat di dalam berbagai perubahan / perkembangan peradaban. Mereka memasukkan data berbagai peradaban di masa lalu. Axioma tidak hanya sekadar mengolah data tetapi melihat pola struktur yang dapat dikenali. Mereka menemukan anomali yang secara statistik besaran nya kecil ( 0,03 % ). Awalnya hal itu dianggap sebagai penyimpangan tunggal disebabkan oleh keterbatasan sistem yang di dalam fisika kuantum dikenal sebagai faktor ketidakpastian yang umum terdapat dalam proses pengukuran. Setelah dilakukan uji berulang kali, anomali itu tetap muncul. Akhirnya para peneliti menganggap bahwa anomali itu sebagai kode / tanda yang berperan penting dalam proses pencarian pola.
Penelusuran berikutnya memberi petunjuk ada tiga jalur anomali yang terdapat pada titik titik tertentu dalam perkembangan peradaban. Anomali pertama disebut sinkronisitas antara kehancuran dengan penciptaan baru. Setiap peradaban di suatu tempat yang perkembangannya sudah melewati puncak, cenderung turun terus menerus tanpa dapat dicegah, secara bersamaan diikuti dengan perkembangan peradaban baru di tempat yang berbeda. Kejadian ini bukan terjadi secara kebetulan, tetapi diarahkan dan dikendalikan oleh kekuatan yang masih belum dapat diidentifikasi. Dicontohkan peristiwa kejatuhan kota Konstantinopel yang sudah berkembang selama seribu tahun, diikuti dengan kelahiran masa Renaisance di Itali , kemunculan mesin cetak di Jerman dan dimulainya era penjelajahan samudera oleh bangsa Portugis, Spanyol.
Jalur anomali ke dua disebut paradoks para katalisator. Pada setiap peradaban yang perkembangannya sudah mandek, selalu muncul tokoh pembaharu seperti nabi, filsuf besar yang memberikan suntikan darah dan energi baru. Dicintohkan pada kemunculan para nabi agama agama Abrahamik ( Abraham / Ibrahim, Moses / Musa, Daniel, Yesaya, Yohannes, Yesus / Isa Al Masih, Muhammad, Zoroaster, Sidharta Gautama, Kong Fu Tse ). Kemunculan para tokoh tersebut seperti sudah dipersiapkan untuk menjalankan misinya.
Jalur anomali ketiga disebut dorongan penghancuran / disrupsi. Penghancuran diartikan sebagai pembuka jalan bagi kemunculan tatanan baru, sistem baru. Grafik pertumbuhan peradaban tidak selalu membentuk lintasan melengkung kontinuitas, adakalanya membentuk lintasan geometrik / garis vertikal. Semua anomali itu terjadi tidak secara kebetulan, tetapi terncana, diarahkan oleh kekuatan di luar manusia. Sejarah peradaban bukan milik manusia. Sejarah sedang di tulis ulang. Ketika tiga anomali itu digabungkan, mulai terbentuk gambaran besar yang lebih jelas. Kekuatan yang menggerakkan perubahan itu berada di dalam kode / tanda yang mengeluarkan sinyal sinyal tertentu.
Perhatian difokuskan pada sinyal sinyal tersebut, dan ditemukan ada empat jenis sinyal yang terdeteksi. Kekuatan sinyal pertama diarahkan kepada pembuatan / pembangunan sistem yang dingin, jauh dari emosi, bersifat objektif, netral, kejam pada yang tidak patuh pada kaidah alam. Sinyal kekuatan pertama cenderung terus menerus mencari bentuk keseimbangan yang stabil. Sistem segera membuang elemen elemen yang berpotensi menimbulkan kondisi tidak stabil. Sinyal pertama ini disebut Arsitek ( Perencana ) Agung. Jejak arsitek agung dapat diamati dengan jelas yaitu pada :
1 Hukum, adalah karya monumental dari kemampuan abstraksi pikiran manusia. Timbul kesadaran pada manusia bahwa sesuatu yang abstrak dapat menata kehidupan manusia. Hukum dapat menempati posisi tertinggi, bahkan lebih tinggi dari kedudukan raja / kaisar. Hukum tidak muncul secara tiba tiba, tetapi hadir di saat manusia sudah memiliki kemampuan kesadaran kognitif. Hukum adalah penerapan dari logika matematika yang dapat memberikan nilai bobot pada konsep abstrak seperti keadilan.
2 Uang, adalah sarana transaksi pertukaran yang paling akurat, adil, terstandardisasi, efektif dan efisien. Melalui uang, potensi terjadi pertengkaran karena perbedaan persepsi tentang nilai suatu barang / jasa seperti upah seseorang dalam satuan jam kerja dapat dihilangkan. Uang telah berperan penting dalam penumpukan kapital yang mendorong lahirnya paham kapitalisme dan kapitalisme pada giliran berikutnya memicu munculnya paham paham lain liberalisme, humanisme, demokrasi.
3 Birokrasi dan hierarki, adalah sarana yang digunakan untuk kelancaran urusan administrasi pengelolaan sumberdaya dalam jumlah besar yang sangat efektif dan efisien. Prinsip kerja birokrasi yang berbasis kategori dan taksonomi bertolak belakang dengan cara kerja otak manusia yang berbasis asosiasi dan holistik. Untuk menjalankan birokrasi dibutuhkan orang orang yang terdidik, terampil di bidang itu. Sifat birokrasi yang partikular melahirkan spesialisasi dan hierarki berjenjang. Hierarki berjenjang tidak mungkin melahirkan kondisi kesetaraan. Jadi kesetaraan adalah ilusi yang jauh dari realita. Ketiga jejak kekuatan sinyal kekuatan arsitek di atas adalah sarana untuk menjaga / memelihara kestabilan.
Melihat sifat kekuatan sinyal pertama, harusnya ada sinyal kekuatan yang menjadi anti tesis dari sinyal pertama, yang memikirkan sifat sifat yang diametral dengan sifat sinyal pertama. Kekuatan sinyal ke dua disebut Penenun / Perajut. Sinyal kekuatan yang pertama adalah pembangun, pencipta sistem yang handal dalam peradaban. Sinyal kekuatan ke dua berfungsi sebagai pemelihara peradaban. Sebagian besar durasi masa hidup suatu peradaban berada di tahap ini. Sifat kekuatan sinyal kedua penuh emosi, bersifat subjektif, hangat. Kekuatan sinyal kedua sanggup membuat orang rela mengorbankan nyawanya demi keyakinannya. Kekuatan sinyal pertama memberikan bangunan konstruksi yang kokoh, sementara kekuatan sinyal ke dua memberikan ruh pada bangunan itu. Jejak kekuatan sinyal kedua terlihat jelas pada :
1 Agama, sistem kepercayaan yang memberikan tafsiran dan makna tentang dunia. Suatu agama biasanya terbentuk pada saat terjadi kemandekan, kebuntuan pada peradaban. Kekuatan agama memberi daya dobrak terhadap kebuntuan. Tokoh tokoh pelopor agama menawarkan kisah, legenda, mitos baru, menggusur yang lama. Agama menjadi sendi peradaban baru. Pada titik titik simpul peradaban tinggi lahir tokoh tokoh pelopor agama dan filsafat. Sidharta Gautama di India, Zarathustra di Persia, Yesus di Yudea, Muhammad di jazirah Arabia, Kong Fu Tse , Lao Tse di Cina, Socrates, Plato, Aristoteles di Yunani.
2 Ideologi, sistem pemikiran tentang dunia yang komphrehensif. Agama menempatkan tokoh Dewa, Tuhan sebagai figur sentral. Ketika agama mulai kehilangan pamor pada abad XIX, muncul ideologi untuk menggantikannya. Filsafat dan ideologi menempatkan manusia pada posisi figur sentral ( filsafat humanisme dan eksistensialisme ), nasionalisme, komunisme, liberalisme. Agama menuntut kepatuhan mutlak dari penganutnya dan ideologi bahkan menuntut kepatuhan lebih besar.
3 Budaya, sistem nilai yang memberi pedoman pada manusia tentang bagaimana cara berpikir, berbicara, berinteraksi dan bertindak. Budaya adalah sarana yang paling halus, efektif untuk menanamkan pengaruh kepada manusia. Agama dan ideologi membutuhkan budaya untuk mengimplementasikan doktrin doktrinnya.
Arsitek memberikan struktur, Penenun memberikan makna dan semua itu dapat dihancurkan oleh kekuatan sinyal ketiga yang disebut Kimera. Kekuatan sinyal ketiga ini sangat kejam, jahat, membakar apa saja. Dia menanamkan virus kejam di alam pikiran manusia untuk saling memusuhi, saling bantai, saling bunuh dan saling menghancurkan. Jejak jejak kekuatan sinyal ketiga ini terlihat jelas pada :
1 Peperangan absurd, perang yang dilakukan tanpa alasan logis dan rasional. Perang dilakukan demi perang itu sendiri, tanpa tujuan, tanpa target, kecuali nafsu untuk saling memusnahkan. Sebagai contoh adalah perang agama selama 30 tahun di Eropa antara penganut Katolik dengan penganut Protestan. Lebih separuh populasi Eropa mati sia sia.
2 Paradoks penciptaan yang merusak, adalah keberhasilan manusia mendapatkan api Dewa ( energi berskala raksasa ). Ironisnya untuk mendapatkan api Dewa itu harus melalui penggunaan senjata pemusnah masal ( bom atom ). Pertengahan abad XX manusia membuka peluang memanfaatkan energi nuklir, tetapi melalui uji penggunaan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.
3 Pemujaan tokoh luar biasa, dibutuhkan untuk menimbulkan kebakaran dan pemusnahan masal. Napoleon dipuja oleh jutaan pengikutnya karena berhasil menggusur masyarakat feodal yang sudah berumur ribuan tahun. Adolf Hitler dipuja oleh para pengikutnya karena berhasil membangkitkan rasa sentimen kebanggaan akan keunggulan / superioritas ras Arya. Ke dua tokoh itu telah berhasil membakar apa yang telah dibangun oleh arsitek dan dipelihara oleh penenun.
Ketiga kekuatan sinyal di atas dapat diabstraksi kan sebagai berikut :
- Arsitek membangun sistem yang teratur, logis, efisien, tidak mentoleransi sistem yang tidak efisien.
- Penenun / Perajut menmmberikan makna, memelihara sistem tetap berjalan sesuai cetak biru yang dibuat.
- Penghancur, menciptakan kekacauan, memusnahkan apa saja.
Mesin axioma berhasil mengidentifikasi kekuatan sinyal keempat yang disebut Pengamat. Sinyal keempat adalah yang paling lemah, tetapi bersifat konstan, terdapat dimana mana, pasif, tidak membangun, tidak memelihara, tidak pula membakar, hanya menonton seluruh drama yang terjadi. Ibarat permainan catur, ada empat pemain utama yang berperan penting dan menentukan pergerakan buah catur. Manusia adalah bidak catur. Pengamat adalah pihak yang membuat aturan main. Kehadiran Pengamat begitu besar pengaruhnya, dapat mencegah, membuat stagnan rangkaian kejadian yang sudah diprediksi. Para peneliti membuat simulasi pada mesin axioma, seandainya tidak ada kehadiran Pengamat, bagaimana nasib peradaban manusia?. Manusia akan saling memusnahkan dalam waktu 1000 tahun. Dicontohkan pada kasus insiden Teluk Babi di Kuba pada tahun 1962. Berdasarkan kajian strategis dan taktis militer, geo politik, peluang terjadi perang nuklir antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet 100%, tetapi perang tidak terjadi. Kedua pihak saling menahan diri dan perang tidak terjadi. Hal itu terjadi karena kehadiran Pengamat. Kehadiran tanpa bertindak apapun dari Pengamat, sudah cukup untuk secara probabilitas mengubah lintasan jalan peradaban. Dengan mengamati saja, pengamat dapat mengubah realitas. Seperti di dalam fisika kuantum, kita tidak dapat memastikan realitas itu berwujud materi atau gelombang, sebelum dilakukan pengamatan dengan peralatan instrumentasi. Jika instrumen yang digunakan peka terhadap sifat sifat materi, maka yang tampak adalah materi. Sebaliknya jika digunakan instrumen yang peka terhadap sifat sifat gelombang, maka yang tampak adalah gelombang. Jejak kekuatan sinyal keempat dapat dilihat pada hal hal yang tidak terjadi, tetapi seharusnya terjadi.
Siapakah sebenarnya Sang Pengamat?. Ada empat hipotesis yang dapat diajukan:
1 Pengamat ilmuwan, manusia adalah objek eksperimennya di laboratorium kosmik.
2 Pengamat Tukang Kebun, manusia adalah tanamannya dan dia menunggu buahnya masak
3 Pengamat Sipir Penjara, bumi adalah sebuah penjara, arsitek, Penenun dan Penghancur adalah tahanannya, sementara manusia adalah lanskap dari penjara
4 Pengamat Sebagai Ayah, manusia adalah anak yang diawasi dari jauh agar tidak menghancurkan dirinya sendiri.
Keempat kekuatan sudah diidentifikasi, yaitu Arsitek adalah Dewa Keteraturan, Penenun adalah Dewa Makna, Kimera adalah Dewa Penghancur, Pengamat adalah Dewa Aturan, Pencipta Konstanta.
Sekarang sudah waktunya kita melihat keempatnya secara utuh, tidak parsial dan mari kita lihat dengan teknik overlay ( tumpang susun ) dan diterapkan pada peristiwa sejarah.
Kehancuran Romawi dan Munculnya Jaman Modern Sebagai Studi Kasus
Kekaisaran Romawi adalah karya masterpice dari Sang Arsitek. Romawi tumbuh berkembang sangat efisien, stabil, memiliki pasukan bersenjata yang kuat, terampil, berdisiplin, birokrasinya efisien, rantai pasok logistiknya menjamin kestabilan ketersediaan barang dan jasa. Sistem Romawi terus membesar, menelan dan menyerap sistem lain di sekitarnya yang lebih kecil dan lebih sederhana. Seiring dengan membesarnya sistem kekaisaran Romawi, geraknya makin lambat, tidak efisien. Informasi mengalir dari pelosok ke pusat jadi tersendat. Sistem pengolahan informasi di pusat jadi lambat merespon perkembangan yang terjadi di berbagai pelosok wilayah yang berada di bawah kendalinya. Agaknya sistem yang terbangun sudah melewati batas yang dapat dikendalikan. Sang Arsitek tidak dapat mentolerir ketidak efisienan sistem yang diciptakannya. Dia tak segan segan membunuh coptaannya sendiri, tetapi dia membutuhkan tangan tangan lain untuk memuluskan rencananya.
Di tahap ini Sang Penenun / Perajut, melihat terjadi kemandekan, degradasi nilai moral para pemimpin Romawi. Jutaan warga negara Romawi mengalami kekosongan nilai spiritual. Orang bosan dengan narasi dari para dewa paganisme yang selalu berpihak pada kepentingan elit Romawi. Jalinan benang yang dipintal mulai terburai. Dalam situasi demikian Sang Penenun melihat ada mitos alternatif yang masih segar. Kisah Dewa yang menderita, mengorbankan dirinya demi keselamatan manusia selamanya jauh lebih menarik dari kisah para Dewa Pagan. Agama Kristen segera diadopsi dan kemudian mengalami perkembangan pesat, menenggelamkan mitos lama. Agama baru yang menolak narasi kaisar segera menggerus kekuasaan kekaisaran. Di tahap ini Sang Kimera mulai bertindak dengan melepaskan pukulan pamungkas melalui tangan tangan suku suku bangsa Barbar seperti Bangsa,Hun, Goth Barat, Goth Timur, Vandal dan suku suku Germanik.
Sang Pengamat hanya menatap ringan, membiarkan dan merestui semua itu terjadi. Artinya misi Romawi di dunia sudah selesai. Di akhir abad pertengahan Sang Penghancur, mengirimkan pukulan mematikan berupa wabah hitam ( wabah pest ), yang memusnahkan separuh populasi Eropa. Hal ini memberi jalan bagi Sang Arsitek menciptakan tatanan baru. Bersamaan dengan masa itu terjadi kehancuran Imperium Byzantium yang ditandai dengan jatuhnya kota Konstantinopel ke tangan Kekaisaran Ottoman. Banyak kitab kitab ilmu ilmu kebijaksanaan kuno dibawa ke Eropa, memicu perkembangan tatanan dunia baru yang disebut renaisance.
Dimotori oleh para budayawan, seniman dan ilmuwan seperti Donatello, Giotto, Michael Angelo, Raphael, Leonardo Da Vinchi, bentuk peradaban baru berkembang. Di kota kota di Italia Utara Florence, Milan, tumbuh institusi perbankan yang memicu perkembangan paham kapitalisme. Tidak lama kemudian terjadi ekskalasi pertumbuhan dan penyebaran informasi dengan ditemukannya mesin cetak di Jerman. Ilmu pengetahuan dan kekuatan riset berkembang pesat dan muncul universitas universitas di berbagai kota di Eropa melahirkan jaman pencerahan ( Aufklarung ). Para Ilmuwan dan filsuf besar bermunculan seperti Isaac Newton, Torricelli, Robert Boyle, Gaaus, Huygens, Coulomb, Michael Faraday, dan ditutup oleh James Clark Maxwell sebagai ganda terakhir fisikawan klasik. Di bidang filsafat dan ideologi lahir berbagai paham yang mengambil sebagian peran agama, seperti liberalisme, humanisme dan nasionalisme. Fokus bergeser dari para dewa ke manusia.
Fondasi yang sudah dibangun oleh Sang Arsitek dan dipelihara oleh Sang Penenun, mulai digerogoti oleh Sang Penghancur. Max Planck adalah pembuka kotak pandora api dewa. Langkah Planck diikuti oleh jajaran ilmuwan lain seperti Albert Einstein, Mike Rutherford, Neils Bohr, Erwin Schroedinger, Wolfgang Picauli, Oppenheimer turut memberikan andil untuk melahirkan pemanfaatan energi nuklir, tetapi harus melalui penciptaan dan penggunaan senjata pemusnah masal ( bom atom dan bom hidrogen ). Werner von Braun memberikan sentuhan akhir dengan menciptakan wahana peluncur senjata pemusnah masal berupa roket.
Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa suatu peristiwa sejarah tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai peristiwa di tempat lain dan terjadi tidak secara kebetulan semata. Rangkaian peristiwa itu digerakkan oleh empat kekuatan yang telah diidentifikasi. Pertanyaan berikutnya adalah di mana dan bagaimana peran manusia?. Sekarang kita memusatkan perhatian kepada sosok manusia.
Perjalanan, Posisi, Pilihan Takdir Manusia
Apa maksud dan tujuan dari para Kekuatan pembentuk realitas dalam perjalanan ribuan tahun yang telah mengombang ambingkan nasib manusia. Di mana posisi dan peran manusia?. Manusia berdiri di dimensi ruang - waktu yang senyap dan langkahnya seperti tersekat oleh filter / membran yang menghalanginya mencapai posisi puncak. Ada tiga hipotesis yang menjelaskan posisi dan peran manusia. Hipotesis pertama mengatakan bahwa bumi adalah penjara yang dihuni oleh Sang Arsitek , Sang Penenun, Sang Penghancur dan Sang Pengamat bertindak selaku Sipir penjara. Manusia adalah lanskap tempat para kekuatan berinteraksi. Hipotesis ke dua adalah hipotesis hasil panen. Manusia adalah tanaman yang ditanam oleh Arsitek, dirawat oleh penenun, dipanen oleh Penghancur dan Pengamat adalah pemilik lahan yang menetapkan segala aturan main. Hipotesis ketiga yang paling memberi harapan adalah hipotesis buaian. Bumi bukan penjara dan bukan lahan pertanian, melainkan sekolah. Para pemilik kekuatan adalah para guru yang efektif, efisien dan manusia adalah para murid. Sang Arsitek mengajarkan logika dan ilmu pengetahuan, Sang Penenun nrngajarkan empati, kerjasama, Sang Penghancur mengajarkan cara meningkatkan daya tahan agar dapat bertahan hidup. Sang Pengamat adalah pembuat kurikulum dan pemilik sekolah yang menjaga sekolah agar tidak hancur sebelum program kelulusan terlaksana. Sang Pengamat mensisntesiskan ketiga kekuatan dan kekuatannya sendiri ke dalam diri manusia. Manusia menjelma menjadi entitas yang berpikir logis, memiliki empati dan kemampuan kerjasama, memiliki daya tahan untuk melewati kondisi paling sulit serta memiliki kedewasaan, pengendalian diri yang prima.
Di abad XXI terjadi percepatan luar biasa dalam perkembangan peradaban. Manusia sudah berhasil menguasai api / energi para Dewa, dapat berkomunikasi secara cepat dan menjangkau area luas, terkoneksi dengan banyak pihak melalui jaringan internet, mampu menulis peta genom dirinya, dan melakukan manipulasi / rekayasa genetika. Manusia sudah berada di penghujung tahun ajaran dan bersiap menjalani ujian terakhir. Di titik ini manusia harus menentukan arah perjalanan nasibnya selanjutnya. Para Guru Agung sudah mewariskan semua pengetahuan dan kekuatannya.
Ada dua pilihan yang dapat diambil oleh manusia yaitu:
1 Menjadi Dewa, dengan penguasaan berbagai pengetahuan dan kekuatan yang di dapat dari proses pembelajaran yang lama. Manusia dapat memilih takdirnya menjadi makhluk yang super di atas mahluk lain. Manusia dapat memperpanjang usia hidupnya, dapat menduplikasi dirinya secara identik dan memiliki kesehatan serta fungsi organ tubuh secara prima.
2 Tetap Menjadi Manusia, memiliki banyak kekurangan, keterbatasan dan memiliki masa hidup yang singkat.
Manusia berterima kasih kepada kepada para Guru Agung yang telah mengajarkan beragam pengetahuan yang memberikan manusia peluang untuk bertransformasi dari sekadar bidak catur menjadi aktor sekaligus sutradara di papan catur kehidupan, tetapi manusia tetap diberi kebebasan memilih takdir dirinya sendiri.
Epilog
Sungguh panjang dan berliku perjalanan nasib manusia sejak dia menancapkan eksistensi dirinya sebagai mahluk yang memiliki kesadaran, pengetahuan, kecerdasan, imajinasi dan kemampuan kerjasama tanpa batas. Di masa lalu manusia menjalani takdirnya bukan sebagai aktor, melainkan sekadar pion. Ada empat kekuatan sinyal yang telah membentuk realitas, yang mengombang ambingkan manusia dalam waktu yang sangat lama. . Perkembangan evolusi fisik dan mental telah membuat manusia memiliki kemampuan membangun peradaban, memiliki kemampuan memelihara peradaban dan memiliki kemampuan sebagai penghancur peradaban serta kemampuan pengendalian diri yang prima.




.png)

Comments
Post a Comment