TORREN WILLEM III -VERSI BARU

 


Prolog

Toren Willem III adalah nama mercu suar tertua di Indonesia, terletak di puncak perbukitan, di ujung utara pulau Beras. Pulau Beras ( Breuh, artinya beras, dalam bahasa Aceh ), adalah satu dari 6 pulau dalam satu rangkaian yang disebut sebagai Pulo Aceh. Pulo Aceh sekarang merupakan wilayah administrasi setingkat kecamatan yang  bernama Kecamatan Pulo Aceh. Pusat pemerintahannya berada di kampung Lampuyang. Kecamatan Pulo Aceh termasuk ke dalam Kabupaten Aceh Besar. Pulo Aceh juga termasuk Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Pulau pulau lain yang termasuk dalam jajaran Pulo Aceh adalah pulau Nasi, Teunom, Bunta, Keuresik, Sidom.

Kecamatan Pulo Aceh terdiri dari 17 desa, dan salah satu desa itu bernama Meulingge, terletak di ujung utara pulau Beras. Meulingge berasal dari kata Meuligo dalam bahasa Aceh, Mahligai dalam bahasa Indonesia, yang menunjukkan adanya suatu bangunan besar yang bersifat monumental. Di desa Meulingge itulah terdapat mercu suar yang sekarang dikenal dengan nama mercu suar pulau Beras. Jalan untuk mencapai mercu suar dimulai dari desa Lampuyang, menempuh jalan darat selama lebih kurang 3 jam. Jalannya berupa kombinasi jalan aspal, tanah, berbatu. Mercu suar yang menggunakan nama Willem III di dunia, ada tiga unit, di pulau Beras, di pulau Aruba, Kepulauan Karibia dan di Holland. Mercu suar yang di Holland sekarang sudah tidak berfungsi dan dijadikan museum.
Bahan yang digunakan  untuk penulisan ini sebagian didapat dari penelusuran kepustakaan dan wawancara dengan informan kunci. Informan tersebut merupakan  salah satu saksi pelaku yang pernah tinggal selama puluhan tahun di kompleks mercu suar tersebut pada awal abad XX. Catatan sejarah yang digunakan adalah buku yang ditulis oleh General Majoor George Frederick Willem Borel . Buku itu ditulis berdasarkan catatan hariannya dan terbit dengan judul De  Waarheid Over Onze Vestiging in Atjeh yang artinya Fakta Tentang Koloni Kita di Aceh. Sebagian foto yang ditampilkan berasal dari koleksi museum Instituut de Tropen , Amsterdam dan museum  KITLV ( Koninklijke Instituut Taal Land en Volkenkunde, Leiden, Holland ). Beberapa foto lain diambil dari google.

Peta Pulo Aceh
(Sumber: Wikipedia)

Profil Narasumber

Penulis menggunakan 2 orang narasumber yang kredibel dan dapat diandalkan, karena merupakan saksi mata dan pelaku dari peristiwa yang terjadi di toren Willem III. Nara sumber pertama memberikan informasi yang berasal dari abad XIX dan narasumber ke dua memberikan informasi yang berasal dari abad XX. Nara sumber menuliskan pengalamannya di catatan harian yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Narasumber ke dua menceritakan pengalamannya langsung kepada penulis, melalui wawancara tatap muka sebanyak beberapa kali selama  durasi waktu beberapa tahun. Wawancara dilakukan secara tidak terstruktur dan tidak terjadwal, karena narasumber cenderung enggan membicarakan pengalaman pribadi, beliau lebih suka berdakwah menyebarkan agama yang dianutnya ( Advent Hari Ke tujuh ). Walaupun demikian, dengan bujukan dan memohon, akhirnya beliau bersedia menceritakan pengalamannya selama menetap  di toren Willem III.

General Majoor George Frederick Willem Borel lahir di Maastricht, Holland pada 22 Agustus 1837 dan wafat di Bad Nauheim, Jerman pada 4 Agustus 1907. Pemuda Borel masuk Akademi Militer Kerajaan di Breda yang terkenal, dan lulus pada tanggal 14 Juli  1857 sebagai Letnan Dua. Ketika ditugaskan sebagai Komandan Ekspedisi Militer di pulau Beras pada tahun 1887, pangkat nya Letnan Kolonel. Tanggal 21 Agustus 1895 Borel dipromosikan menjadi Jenderal Mayor dan pada tanggal 1 Januari 1898, atas permintaan sendiri dipensiunkan dari dinas militer.
Foto General Majoor George Frederick Willem Borel
(Sumber: KITLV Leiden)


Anna Maria Elizabeth Maatita Leiwakabessy ( Oma Leiwa ), lahir di Kupang pada 15 September 1891, sebagai anak kembar dari pasangan Maatita ( ayah ), dan Alletta  Maatita Meller ( ibu ). Saudara kembarnya Hein Maatita, bekerja sebagai apoteker dan wafat di Batavia tanggal 13 Maret 1939. Ketika remaja oma Leiwa pernah bekerja di kediaman Residen di Kupang. Beliau menikah dengan pemuda asal Ambon bermarga Leiwakabessy. Setelah menikah mereka menetap di pulau Beras selama beberapa puluh tahun, sampai masuknya Jepang. Di pulau Beras, suami oma Leiwa bekerja sebagai petugas mercu suar di toren Willem III. Oleh Jepang, keluarga oma Leiwa dipulangkan ke Ambon dan suaminya wafat di sana. Setelah kemerdekaan, oma Leiwa menetap di Medan. Salah satu hasil karyanya di Medan adalah berdirinya gereja dan sekolah Advent di jalan Dr. Mansyur, Medan. Kemudian sejak tahun 1974 beliau menetap di Jakarta hingga wafatnya tahun 1981 dalam usia 90 tahun. 


 Foto  Oma Leiwa ( baju putih)
(Sumber: Dokumentasi Keluarga Wolters, Jakarta)

Latar Belakang Didirikannya Toren William III

Tanggal 26 Maret 1873 Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan perang dengan Kesultanan Aceh. Dalam ekspedisi pertama berkekuatan lebih 3.000 personil dipimpin oleh General Majoor Jhr Harmen Rudolf Kohler, gagal menaklukkan Aceh dan pasukan itu kembali ke Batavia. Tahun 1874 dikirim ekspedisi berkekuatan lebih besar dipimpin oleh pensiunan Letnan Jenderal Jan van Swieten. Ekspedisi ini berhasil menduduki keraton Aceh dan Sultan menyingkir ke luar kota, tetapi peperangan masih jauh dari selesai. Ketika itu armada angkatan laut Hindia Belanda lalu lalang, hilir mudik antara Batavia dan Kuta Raja dan patroli keliling Aceh. Sementara itu Aceh belum punya pelabuhan  yang memadai, satu satunya pintu masuk hanya  melalui muara sungai Krueng Aceh, yang dangkal, banyak gosong, pasir di muara sungai.
Di perairan sekitar Pulo Aceh juga banyak karang. Jika tidak berhati hati kapal dapat kandas dan karam. Keadaan ini mendorong pemerintah merasa perlu membangun mercu suar di Pulo Aceh untuk memberi isyarat kepada kapten kapal agar berhati hati ketika akan masuk dan keluar perairan Aceh. Di masa kepemimpinan jenderal Johannes Ludovicius Jacobus Hubertus Pel ( 1874 - 1876 ), dibangun mercu suar di ujung utara pulau Beras yang diberi nama Willem III, sesuai nama raja Belanda ketika itu. Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami betapa strategisnya arti, fungsi dan  keberadaan mercu suar itu.

Deskripsi Mercu Suar dan Lingkungan Sekitar

Pada tahun 1874 pembangunan mercu suar dimulai. Mengingat pentingnya proyek ini Pemerintah tidak kepalang tanggung mengerah sumberdaya yang dimilikinya. Bahan bangunan kualitas terbaik dan teknologi terbaik di jamannya digunakan. Ada 5 orang insinyur dan 489 tenaga kerja dari Ambon ditambah 698 orang dari berbagai tempat lain dikerahkan. Selama masa pembangunan, lebih dari 1.000 personil tentara dari kesatuan infantri, artileri,dan marinir dikerahkan untuk mengawal proyek tersebut. Dapat dibayangkan bagaimana rumitnya sistem logistik yang digunakan untuk membangun proyek mercu suar  di Medan yang topografinya berat seperti di ujung utara pulau Beras.
Pada tanggal 20 Juni 1875 mercu suar tersebut selesai dikerjakan dan tanggal 23 Juli 1875 diresmikan. Kompleks Menara terletak di atas areal seluas 5 Ha. Menara sebagai bangunan inti dan enam bangunan lain sebagai pendukung.  Menara mercu suar berbentuk dasar lingkaran, dengan menggunakan fondasi batu andesit, tubuh menara terbuat dari batu bata, diplester dengan  semen. Ketebalan dinding mencapai 2 meter, tinggi menara mencapai 80 meter dari permukaan tanah. Bagian dalam menara dibuat jadi 8 tingkat, setiap tingkat memiliki ketinggian yang sama. Untuk naik ke atas , terdapat tangga yang bentuknya melingkar, terbuat dari baja dan menempel pada dinding menara. Setiap tingkat memiliki lantai kayu yang ditopang balok baja yang ditanam ke dinding menara. Tiap tingkat mulai dari tingkat satu sampai tingkat 5 memiliki jendela yang berbentuk lengkung dan lantai 6 hingga 8 jendelanya berbentuk lingkaran. Jendela itu berfungsi untuk memperlancar sirkulasi udara dan penerangan cahaya. Jika melihat ke arah jendela tampak pemandangan indah menakjubkan dengan warna biru hingga ke batas horizon.
Di puncak menara cahaya bebas masuk ke dalam menembus jendela kaca. Di dalam ruangan tersebut terdapat lampu mercu suar berukuran besar. Lampu tersebut masih asli. Dari puncak menara pemandangan indah terhampar ke segala arah. Sebagian pantai pulau Beras jelas kelihatan, di sebelah utara terlihat pulau Rondo sebagai pulau terluar nampak jelas dan di sebelah timur laut tampak pulau Weh. Pintu masuk menara terbuat dari baja dan di atas ambang pintu terdapat prasasti dari marmer  berisi beberapa baris tulisan Latin di dalam bahasa Belanda. Adapun transkrip tulisan tersebut sebagai berikut :

Willem's Toren 1875 Gesticht in
oorlogstijd, Den vredegewyd, Tevens ren blijvende eerezuil boot al de dapperen en braven,
 die ter bereiking van did doel des brebes hun blood en leven ten offer gaven. 

Terjemahan dari transkripsi itu ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut : 

Menara Willem 1875 Didirikan pada masa perang, sebuah kenangan abadi untuk setiap kebenaran dan para pemberani, untuk mencapai tujuan damai ini darah dan nyawa telah dikorbankan.
Foto Prasasti di atas ambang pintu gerbang toren Willem III
(Sumber: Ahmad)

Inskripsi ini setiap hari dilihat, dibaca dengan khidmat dijadikan semacam kredo untuk mensugesti dan mengilhami berbagai tindakan berani dan patriot dari pasukan dan personil mercu suar terutama di saat sulit.  Di sebelah selatan menara terdapat  sebuah bangunan berlantai dua, berbentuk persegi panjang. ukuran luas bangunan hampir sama besar dengan lapangan basket. Lantai lotengnya terbuat dari  kayu. Lantai dasarnya digunakan untuk dapur umum dan ruang makan. Lantai atas digunakan  untuk ruang tidur. Di sebelah selatan bangunan tersebut terdapat 4 bangunan tidak bertingkat,  berjejer dengan ukuran relatif sama besar. Ke empat bangunan ini digunakan untuk ruang tidur para personil pasukan penjaga mercu suar dan petugas mercu suar. Di sebelah selatan rangkaian bangunan tersebut terdapat sebuah bangunan berukuran paling besar di kompleks tersebut yang letaknya di dataran lebih tinggi sekitar 15 meter dari bangunan lain. Untuk mencapai bangunan ini harus melalui tangga lebar sebanyak 65 anak tangga. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai  yang lantainya terbuat dari kayu. Bangunan ini diperuntukan bagi para perwira, lantai bawah untuk ruang makan merangkap ruang pesta / dansa dan lantai atas digunakan untuk ruang tidur. Sekarang semua bangunan termasuk mercu suar sudah dipugar, kecuali  bangunan untuk perwira. Bangunan barak perwira dalam keadaan rusak berat, atap, pintu dan jendela sudah hancur, hanya tinggal  dinding dan lantai dasar. Kebutuhan air untuk seluruh kompleks di pasok dari tiga sumber. Ada bak penampungan air berukuran besar, untuk menampung air hujan. Ada sebuah sumur gali yang menggunakan pompa tangan. Tidak jauh dari kompleks ada aliran air yang keluar dari celah batuan. Di kompleks mercu suar terdapat dua kamar mandi umum berukuran besar. Pada abad XIX, untuk penerangan pada malam hari digunakan lampu minyak dan pada abad XX, digunakan lampu listrik, yang dipasok oleh mesin pembangkit listrik. Bahan makanan dipasok dari daratan Sumatera yang didatangkan dengan kapal setiap bulan sekali. Selain makanan, juga dipasok minuman beralkohol jenis bir, jenewer, anggur, dan  brandy. 

Foto Kompleks toren Willem III  yang baru selesai dibangun ( 1875 )
(Sumber: KITLV Leiden)

Foto Kompleks toren Willem III  yang belum dipugar
( Sumber: Wikipedia )

Foto Kompleks toren Willem III  yang baru selesai dipugar
(Sumber: Wikipedia )

Foto Pemandangan Kompleks toren Willem III 
dari udara ( Sumber: Wikipedia )

Foto Pemandangan Kompleks toren Willem III  dari barak perwira dan ruang dansa
( Sumber: Wikipedia )
Foto Pemandangan ujung utara Pulau Beras dari puncak menara mercu suar
( Sumber: Ahmad )

Foto Lampu mercu suar toren Willem III yang masih asli
( Sumber: Ahmad )

Analisis Konteks Bangunan Dengan Lanskapnya

Berdasarkan uraian di atas jelas terlihat perbedaan mencolok antara bentuk, ukuran, lay out bangunan mercu suar Willem III dengan mercu suar lainnya. Perbedaan itu meliputi aspek aspek : 
  1. Ukuran luas areal kompleks mercu suar Willem III jauh lebih luas dari mercu suar lain. 
  2. Jumlah dan luas bangunan pendukung jauh lebih banyak dan lebih besar.
  3. Jumlah personil yang bertugas di sana jauh lebih besar dari mercu suar di tempat lain. 
Agaknya sejak awal  kompleks mercu suar Willem III memang didesain dengan visi  yang berbeda. Desainer mercu suar ini kelak terbukti memiliki visi yang jauh ke depan. Sepertinya bentuk desain kompleks mercu suar dan ini lebih mirip dengan benteng pertahanan, atau tangsi militer. Jika kondisi mercu suar ini sama dengan di tempat lain, mungkin jalan sejarah Aceh akan berbeda dari yang diketahui sekarang. Dapat dikatakan mercu suar Willem III berpengaruh terhadap jalannya sejarah Aceh, seperti yang akan terlihat pada uraian berikutnya. Apa yang diramalkan oleh perancang mercu suar ini terbukti benar setelah mercu suar beroperasi selama 12 tahun. Secara keseluruhan menara mercu suar Willem III, terlihat sangat kokoh. Kekuatannya sudah teruji ketika terjadi gempa besar yang diikuti  gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Mercu suar ini sama sekali tidak mengalami keretakan sedikitpun, sementara bangunan lain yang lebih modern dan berusia lebih muda, hancur luluh lantak.

Pertempuran Dahsyat di Lampuyang

Berdasarkan catatan harian yang ditulis oleh Letnan Kolonel G F W Borel pada bulan November 1887, apa yang diramalkan oleh perancang mercu suar Willem III benar benar terjadi. Borel menulis sebagai berikut : " Bulan November sedang berlangsung musim hujan. Laporan dari pasukan intelijen menyebutkan adanya gerakan penyusupan ke pulau Beras oleh pasukan Aceh di bawah pimpinan Tengku Thjik di Tiro dalam jumlah ratusan personil bersenjata api kelewang, rencong. Pasukan musuh diperkirakan akan menyerbu dan bermaksud merebut mercu suar. Pasukan itu membangun markas di Lampuyang, bagian selatan pulau Beras. Bahkan sudah ada pasukan musuh yang berada di bawah bukit dan bersiap menyerbu ke atas. Suasana benar benar mencekam. Angin dingin bertiup kencang menderu menggoyang pohon pohon besar. Lengah sedikit jadi sasaran tembakan pasukan Aceh yang sewaktu waktu muncul bagai siluman dari balik hutan lebat. Saya mengambil inisiatif menggerakkan pasukan yang   ada sebanyak 300 personil untuk menyerbu Lampuyang, sambil meminta bala bantuan pasukan dari Kuta Raja. Tanggal 9 November pasukan kami mulai bergerak ke Lampuyang. Terjadi bentrokan dengan pasukan Aceh di sepanjang perjalanan dan pada keesokan harinya kami sudah berada di depan kubu pertahanan pasukan Aceh.

Dalam pertempuran hari itu 40 rumah terbakar habis oleh sapuan tembakan artileri medan. Kami juga kehilangan beberapa perahu dan meriam. Pasukan yang luka luka dirawat di kapal dan di perkemahan. Pasukan yang tewas di bawa ke Kuta Raja untuk dimakamkan di kompleks kuburan Pocut. Tanggal 13 November tiba pasukan bantuan dari Kuta Raja yang diangkut dengan 3 kapal perang bertenaga uap masing masing bernama Zr Ms Merapi, Zr Ms Banda dan Zr Ms Bali. Pasukan bantuan berjumlah 150 personil bersenjata lengkap, artileri medan jenis meriam, howitzer mortir dan amunisi dalam jumlah banyak. Sebagian besar anggota pasukan bantuan berasal dari batalion 14 yang dipimpin oleh mayor J W Stemfoort, yang kelak berhasil mencapai pangkat General Majoor. Dengan tambahan pasukan ini , kekuatan kami hampir mencapai 1 batalion. Rencana penyerbuan total segera disusun. Saya bertindak selaku komandan tertinggi dan mayor Stemford sebagai wakil komandan. Diputuskan untuk menghujani posisi pasukan Aceh dengan tembakan artileri berat tanpa henti siang dan malam. Tanggal 15 November, dilakukan serangan frontal.  Suara teriakan , jeritan dan rintihan terdengar sayup sayup  ditengah gemuruh dentuman artileri. Ketika malam. hari, langit Lampuyang terang benderang oleh tembakan artileri kami. Serangan artileri terus berlanjut sampai tanggal 20. Pada hari itu seluruh pasukan Aceh berhasil ditumpas, hanya sebagian kecil yang berhasil melarikan diri. Kami benar benar telah menghukum dan memberi pukulan sangat keras kepada pasukan musuh. Sejak itu tidak ada lagi pasukan musuh yang berniat  menduduki mercu suar Willem III. Memang masih ada penyerangan dan penghadangan kecil kecilan. Serangan itu dilakukan secara sporadis, dan tidak punya makna strategis, sehingga tidak membahayakan dan bukan merupakan ancaman bagi kekuatan kita ". Seandainya mercu suar Willem III tidak memiliki pertahanan kuat, dapat dipastikan jatuh ke tangan pihak Aceh dan itu sangat membahayakan posisi kekuatan Belanda di Kuta Raja. Bahkan bukan tidak mungkin kalau  hal itu minimal dapat merubah jalan sejarah perang Aceh melawan Belanda. Di sinilah terlihat kejeniusan dan keunggulan visi perancang mercu suar Willem III.

Kehidupan di Toren Willem III Pada Abad XIX

Pada kuartal terakhir abad XIX, suasana di Aceh Daratan masih dilanda peperangan yang hebat
antara Hindia Belanda dan Kesultanan Aceh. Suasana itu berimbas juga pada kehidupan di mercu suar Willem III. Di kompleks itu berdiam sekitar 1 kompi ( 80 - 90 orang ), pasukan militer reguler dan beberapa petugas mercu suar. Aktivitas keseharian berjalan rutin. Pagi hari  sekitar pukul 7 apel pagi. Tidak ada upacara menaikkan bendera, karena bendera terus berkibar selama kondidinya masih baik. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan Wilhelmus. Setelah apel, sarapan pagi. Menu sarapan terdiri dari beberapa variasi, ada nasi  dengan lauk, roti, biskuit dan bubur. Setelah sarapan dilanjutkan dengan latihan olah fisik.  Setelah latihan mereka mencari kesibukan masing masing, melakukan aktifitas membaca majalah / jurnal militer. Ada yang melakukan  aktivitas memancing di pinggir laut, bermsin kartu. Setiap jam dilakukan patroli rutin keliling kompleks secara bergiliran. Patroli dilakukan sampai menyusuri pantai dan tepi hutan di lereng perbukitan. Antara pukul 12 - 13 makan siang dengan menu yang  beragam. Ada nasi dengan lauk, roti, ikan. Banyak menu makanan yang dikeringkan. Setelah makan siang, dilanjutkan dengan istirahat / tidur siang. Sore hari dilewatkan dengan aktivitas santai dan latihan fisik ringan. Makan malam dihidangkan pada pukul 19 - 21. Biasanya menu makan malam lebih bervariasi, ada daging sapi, ayam atau babi. Setelah makan malam, biasanya dilanjutkan dengan ngobrol santai sambil minum kopi atau bir. Pukul 22, biasanya sudah banyak yang tidur. Pada abad XIX tidak banyak aktivitas pesta, mungkin disebabkan karena masih dalam suasana perang. Setiap tahun dirayakan ulang tahun Raja, Ratu dan Gubernur Jenderal, dalam suasana sederhana, sekadar makan dan minum minum. Seluruh penghuni kompleks pada masa itu seluruhnya laki kaki, tidak ada wanita. Tidak diketahuui bagaimana cara mereka menyalurkan kebutuhan biologisnya. Sampai sekarang belum ditemukan sumber tertulis yang membicarakan soal itu. Di kompleks itu tidak ada rumah ibadah, gereja ataupun mesjid. Ruang dansa pada hari minggu dijadikan gereja untuk menyelenggarakan acara kebaktian. Mengenai aktivitas ibadah penganut agama Islam, tidak ada keterangan sama sekali. 

Kehidupan di Toren Willem III Pada Abad XX

Kehidupan di mercu suar Willem III Pada Abad XX, agak berbeda dibandingkan dengan abad XIX. Perbedaan itu mungkin disebabkan karena ada perbedaan suasana dan konstelasi kekuasaan di Aceh Daratan. Tokoh tokoh utama pelaku sejarah di pihak Aceh sudah banyak yang gugur dj medan perang, tokoh muda yang menonjol belum muncul. Banyak juga tokoh senior yanv menjadi simbol perjuangan, telah menyerah kepada Belanda, seperti Sultan Mohammad Daud Syah dan Panglima Polem. Pada dekade kedua abad XX, dapat dikatakan perang Aceh telah usai dan Aceh memasuki masa tenang, walaupun di sana sini masih ada letupan letupan kecil, tetapi secara keseluruhan Belanda telah dapat mengendalikan situasi. Keadaan ini tentu membawa perubahan pula di mercu suar pulau Beras.Kekuatan personil pasukan dikurangi cukup banyak, hanya menyisakan pasukan sejumlah satu pleton ( 30 orang ). Dengan berkurangnya personil, kesibukan rutin juga jauh lebih longgar. Di sini akan diuraikan hanya apa apa yang tidak terdapat pada masa sebelumnya. Pada awal abad XX, ada beberapa perkembangan baru yang berlangsung di sana.Beberapa petugas mercu suar ada yang sudah membawa isteri dan anaknya, termasuk oma Leiwa di antaranya. Dengan adanya isteri dan anak ( Oma Leiwa tidak punya anak ), para petugas merasa lebih betah menetap di tempat tugasnya. Pada isteri menciptakan kesibukannya masing masing. Ada yang beternak unggas, bercocok tanam sayur dan buah buahan. Ada pula yang punya kesenangan menjahit. Hubungan yang terbina dengan anggota militer cukup baik. Penghuni yang baru mendapat anak, menanam ari ari anaknya di tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kebiasaan ini umumnya dilakukan oleh petugas yang berasal dari suku Jawa. Kehidupan di mercu suar Willem III lebih semarak dan bervariasi, walaupun penghuninya lebih sedikit. Pesta dansa diselenggarakan lebih sering. Pesta paling meriah tentu saja perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Tepat pukul 00.00, menjelang tanggal 31 Agustus dilepaskan tembakan salvo dari meriam sebanyak 21 kali, diikuti dengan pembukaan botol botol champaigne, peluncuran kembang api. Makanan dan minuman tersedia melimpah. Pesta dansa dilakukan semalam suntuk, diiringi musik klassik yang diputar melalui priangan hitam dengan menggunakan gramophone. Nomor nomor kegemaran yang jadi favorit adalah gubahan dari komposer komposer terkenal seperti Johann Strauss II, Ludwig Bethoven, Wolfgang Mozart, Frederick Chopin dan Tolstoy Tsaichovsky. Setiap Alunan musik berakhir pada tiap nomor, selalu diikuti dengan teriakan teriakan Hip... Hip.....Hura .....Hip ....Hip.....Hura.


Semua bentuk kehidupan di alam pasti mengalami perubahan demikian juga dengan hal dengan kehdiupan mapan di Kompleks Torren Willem III. Perubahan itu dipicu oleh kondisi eksternal Kompleks Willem Torren III. Memasuki dekade ketiga di abad 20, kondisi keamanan Aceh Daratan relatif mulai tenang dan Pemerintah Belanda dapat mengontrol keamanan dengan baik. Dengan membaiknya situasi keamanan di Aceh, maka kekuatan pasukan di Kompleks Torren Willem III secara berangsur-angsur dikurangi hingga berjumlah hanya 1 regu (tidak sampai 10 orang) ditambah 7 orang operator mercusuar. Secara berangsurangsur pegawai mercusuar Torren Willem III dikurangi. Suami Oma Leiwakabessy juga dimutasi. Atas bantuan adik iparnya yang menjabat sebagai petinggi Sabang Maatschapaij, suami Oma Leiwakabessy dipindahkan ke Sabang dan bekerja sebagai Pegawai Sabang Maatschapaij. Pada tahun 1936, terjadi gempa besar Di Pulau Beras yang mengguncang menara mercusuar Torren William III. Kompleks Torren Willem III mengalami kerusakan yang cukup berat. 2 dari 7 petugas operator mercusar mengalami kematian terkena tumpahan logam berat (air raksa) yang digunakan pada lampu mercusuar. Beberapa orang mengalami luka berat dan dirawat di Rumah Sakit Kutaraja. Setelah kejadian itu sejumlah pasukan ditarik dari Kompleks Torren Willem III dan operator yang bertugas di Torren Willem III tinggal beberapa orang saja

Perlahan aktivitas kehidupan di Kompleks Torren Willem III mulai berkurang intensitasnya sehingga mendatangkan kesunyian. Meskipun keheningan kini menghiasi Kompleks Torren Willem III, namun cerita tentang kegigihan dan pengorbanan para petugas mercusuar yang berjuang di tengah badai tetap menjadi warisan yang tak terlupakan. Setiap kunjungan ke Pulau Beras menjadi pengingat akan kejadian tragis ini, mengajarkan kita tentang kerentanan manusia di hadapan kekuatan alam yang dahsyat. Dari puing-puing tragedi ini, kita belajar bahwa dalam kegelapan dan keheningan, ada harapan yang selalu menyala, menerangi jalan bagi perbaikan dan pembangunan yang lebih baik. Kepindahan sebagian besar penghuninya tidak mengurangi arti penting keberadaan mercusuar Torren Willem III. Menara beton mercusuar tetap berdiri di tengah kesunyian, hanya terdengar suara debur ombak pantai pulau Beras. Dalam kesunyian itu masih ada satu atau dua orang petugas yang tetap setia melontarkan cahaya lampu suar di tengah malam sepi ke arah lautan bebas, demi keselamatan lalu lintas kapal di lautan bebas. Sungguh suatu tugas kemanusiaan yang mulia, tetapi sering dilupakan oleh sebagian besar orang. Kesunyian yang kini menyelimuti Kompleks Torren Willem III bukanlah akhir dari kisah, tetapi awal dari babak baru dalam perjalanan menuju pemulihan dan transformasi yang lebih baik.

Foto Barak Perwira dan Ruang Dansa ( belum di pugar )
(Sumber: Ahamad)


Foto Barak Perwira dan Ruang Dansa ( belum di pugar )
(Sumber: Ahamad)


Epilog

Oma Leiwa menceritakan kepada penulis mengenai beberapa episode kehidupannya di mercu suar Willem III, dari masa kehidupannya yang panjang. Penulis pernah 2 kali berkunjung ke mercu suar Willem III, tahun 2001 dan 2002, ketika bertugas di Sabang. Penulis melakukan perjalanan napak tilas, mengunjungi tiap sudut kompleks mercu suar, termasuk naik hingga puncak menara suar. Semua bangunan yang diceritakan masih ada, walaupun dalam kondisi memprihatinkan. Bangunan yang ditempati oma Leiwa berikut perabotannya yang sudah usang masih dalam kondisi asli. Penulis lama duduk termenung di tempat itu membayangkan kehidupan yang pernah dijalaninya. Sungguh pengalaman luar biasa masih dapat menyaksikan semuanya masih dalam keadaan asli. Imajinasi penulis serasa menembus lorong waktu ke satu abad lampau. Semua yang  dikisahkan oma Leiwa sangat  tepat dan akurat. Walaupun dalam keadaan kusam, kompleks itu masih menyisakan tanda kejayaannya di masa silam. Penulis merasa beruntung sebagai satu satunya pengunjung di abad XXI  ini yang pernah berjumpa dan berdialog langsung dengan saksi pelaku dari barisan terakhir penghuni kompleks ini di masa silam.  Beberapa tahun lalu,  UNESCO, badan organik PBB, berinisiatif memugar kompleks itu. Berkat Unesco, semua bangunan sudah dipugar mengikuti bentuk aslinya. Hanya satu bangunan barak perwira di lokasi ketinggian yang sering dijadikan arena pesta dansa, belum dipugar. Dalam keremangan senja, penulis menoleh ke arah mercu suar untuk terakhir kali sambil membayangkan wajah almarhumah oma Leiwa, bergumam mengucapkan selamat tinggal kepada kompleks yang luar biasa ini. Selamat tinggal toren Willem III.

Comments

Popular Posts