MENGAPA MEDAN SERING BANJIR ?

 Prolog

Judul tulisan ini adalah kalimat tanya, mengindikasikan rasa heran, bingung, kenapa Medan jadi langganan banjir. Sebagai warga kota yang tekun mempelajari karakter kotanya, penulis berupaya mencari tahu mengapa selama puluhan tahun Pemerintah Kota dan warga kota Medan tidak berdaya mengatasi masalah banjir. Berdasarkan kajian sains modern, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi banjir. Banjir didefinisikan sebagai meluapnya air dari badan air ( sungai, kanal, parit, riol ), sehingga menggenangi daerah yang dalam keadaan normal tidak tergenang. Dari definisi itu dapat diidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya banjir. 


Faktor Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Banjir

Faktor atau kelompok faktor tersebut adalah : 

I  Geologi, Geomorfologi, Geohidrologi, Pedologi dan Klimatologi / Meteorologi Kota Medan.


Daratan dan kota Medan dibentuk oleh sedimen dari jaman Tersier, dengan formasi Seurela, sebagai lapisan tertua. Formasi ini tersusun dari batu lempung, batu pasir, batu lanau  dan konglomerat. Kemudian diikuti oleh formasi Julok Rayeuk. Formasi ini tersusun dari lapisan pasir, batu, selang seling lempung tuf Toba dan tuf Riodasit. Kedua Formasi ini memiliki sifat kelolosan air ( permeabilitas ), sedang dan tinggi. Kemudian dilanjutkan dengan endapan dari jaman kuarter dengan formasi Medan bongkah kuarter, tersusun dari kerikil pasir, lanau dan  lempung yang menutupi lapisan tuf Toba. Lapisan paling muda adalah formasi aluvial, tersusun dari kerikil, pasir dan lampung. Endapan dari jaman kuarter ini memiliki koefisien permeabilitas sedang dan tinggi.  Dengan jenis endapan dan formasi batuan geologis demikian dapat disimpulkan bahwa secara geologis dataran kota Medan sulit mengalami banjir. 
Berdasarkan klasifikasi bentuk lahan menurut ahli geomorfologi terkenal Th. Verstappen dan interpretasi citra satelit Ikonos skala 1 : 10000, dapat diketahui bahwa daratan kota Medan memiliki satuan  bentukan lahan fluvial dan vulkanik yang terbentuk oleh endapan yang dibawa oleh air sungai dan lapisan abu vulkanik akibat letusan gunung berapi. 
Berdasarkan kajian geohidrologi, daratan kota Medan memiliki tiga jenis lapisan aqifer, yaitu : 

1. Endapan aqifer aluvium, terdiri dari pasir, kerikil dengan koefisien permeabilitas sedang dan tinggi. Posisi keletakan lapisan aqifer ini 3 - 4 meter di bawah permukaan tanah dan dengan debit kurang dari 1 liter per detik.
2.  Endapan aqifer kuarter, posisi keletakannya di bawah permukaan tanah 5 - 7 meter dengan debit 1 - 2 liter per detik.
3. Endapan aqifer Julok RayeukSeurela, posisi keletakannya di bawah permukaan tanah lebih dari 225 meter dengan debit lebih dari 10 liter per detik.
Berdasarkan penelitian dan kajian pedologi ( ilmu tanah ) yang dilakukan oleh van Hissink dan J G  C Vriens pada tahun 1910, ada beberapa jenis tanah di daratan kota Medan, yaitu tanah pasir, lampung, tanah hitam, tanah coklat, tanah merah. Khusus di daerah Denai, Medan Tenggara terdapat satu jenis tanah lempung kualitas istimewa yang dijadikan bahan baku pembuatan batu bata dan genteng berkualitas premium. Perusahan yang mengelola pabrik pembuatannya dikenal dengan nama Deli Klei.
Iklim di kota Medan tergolong tipe A, menurut klasifikasi yang dibuat oleh Schmidt - Ferguson. Berdasarkan data curah hujan yang berasal dari pos pengamatan meteorologi stasiun Polonia sepanjang tahun 2019, curah hujan di Medan tergolong tinggi ( 2200 mm per tahun ), dengan intensitas hujan rata rata 4, mm / jam,  dengan bulan bulan basah Oktober- Desember dan bulan Februari sebagai  bulan terkering. Di Medan tidak ada pembagian tegas antara musim hujan dengan musim kemarau. Temperatur udara rata rata 27° C, dengan kelembaban udara  rata rata 80 - 93%. Berdasarkan  data data di atas dapat disimpulkan bahwa daratan kota Medan merupakan daerah ideal untuk dijadikan kawasan pemukiman, karena berdasarkan faktor faktor alam, dataran kota Medan tidak / sulit sekali mengalami banjir.


II  Rekayasa Keairan

Air adalah kebutuhan pokok bagi semua mahluk hidup. Pengelola kota Medan diingatkan oleh para Tuan Kebun, agar tidak mengulang kesalahan Batavia dan Labuhan Deli. Batavia selama 300 tahun belum berhasil  mengatasi banjir dan menghasilkan air minum yang berkualitas. Begitu juga dengan Labuhan Deli  yang kondisinya lebih parah dari Batavia.  Masalah yang dihadapi oleh Medan juga sama, yaitu mendapatkan air bersih berkualitas tinggi untuk kebutuhan domestik dan sekaligus membuang air bekas pakai, tetapi kondisi permukaan tanah harus tetap kering. Hal ini harus dipahami benar, Medan dibangun bukan sekadar mengatasi banjir, karena itu hanya target kota yang tidak berkualitas tinggi. Medan punya target lebih tinggi, yaitu membangun kota yang sehat. Banjir adalah  meluapnya air dari badan air, sehingga menggenangi daerah yang dalam keadaan normal tidak tergenang. Selama air tidak meluap dari badan air ( parit, sungai ), tidak dapat disebut banjir. Jadi persoalan banjir adalah mengatur lalu lintas air dalam hal volume dan debit agar tetap berada pada badan air. Teknik rekayasa keairan yang dibutuhkan adalah mendesain sistem drainase yang baik. 
Untuk mendapatkan air yang berkualitas baik, pada tahun 1889, sebuah perusahaan yang berbasis di kota Binjai bernama G D Langereis & Co, mengajukan permohonan konsesi untuk menyaring air sungai Deli guna keperluan domestik. Rencana itu tidak berjalan karena kesulitan likuiditas perusahaan itu. Pada tahun 1903 Deli Maatschappij, mendatangkan ahli hidrologi terkenal dari Rotterdam bernama J Schotel. Oleh karena kesibukannya yang padat, Schotel mengutus asisten kepercayaannya bernama F Boshuyer melaksanakan tugas mencari sumber air yang akan dijadikan air baku untuk diolah menjadi air minum. Boshuyer menemukan sumber air potensial di kawasan Sibolangit, Bandar Baru, antara sungai Petani dan sungai Betimus, yang dikenal sebagai mata air Lau Bateruden dengan debit 120 liter per detik. Mutu air tersrbut secara kimiawi diteliti oleh ahli bakteri Dr. J G C Vriens, Dr W A Kuenen dan Dr. H Durk. Air dari mata air itu dihimpun di dalam Bron ( bangunan penangkap / penampung air ), di Bandar Baru. Kemudian di alirkan melalui pipa ke Medan dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Produksi air mencapai 3000 M3 per hari dengan tekanan air di dalam pipa 2 atmosfer ( 2 kg /  Cm2 ). Pada tahun 1904 Boshuyer menyelesaikan laporannya kepada Deli Maatschappij. Pada tahun 1905 Deli Maatschappij pembentuk anak perusahaan dengan modal awal disetor sebesar 5000 Gulden yang dinamakan Waterleiding Maatschappij. Perusahaan  ini dipimpin oleh tiga orang, masing masing mewakili perusahaan yang ikut menanamkan modalnya. Ketiga orang tersebut adalah Cornelis van Honert dari Deli Maatschappij, Pieter Kolft dari Steenkolen Maatschappij ( perusahaan tambang batubara ), Charles Marie Herckenrath dari Deli Spoorweg Maatschappij ( perusahaan Kereta Api ). Investasi yang ditanamkan di perusahaan air bersih mencapai 500.000 Gulden. Kualitas air bersih produksi perusahaan ini sangat tinggi.  Waterleiding Maatschappij membangun sistem perpipaan untuk mendistribusikannya ke rumah rumah penduduk. Alokasi pembagian air dilakukan berdasarkan strata penggolongan masyarakat oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Golongan Eropa mendapat porsi terbesar 150 liter per orang per hari. Golongan Timur Asing Tionghoa mendapat 90 liter per orang per hari, Golongan Timur Asing non Tionghoa mendapat 70 liter per orang  per hari dan penduduk Bumi Putera 50 liter per orang per hari. Selain itu Waterleiding Maatschappij memberikan air gratis kepada penduduk Medan sebesar 130 M3 per hari yang disalurkan melalui 10 unit hydrant dan Kamar Mandi Umum. Tarif yang dikenakan oleh Waterleiding Maatschappij tergolong murah, rata rata hanya 0,04 - 0,05 Gulden per M3. Seluruh sistem keairan Medan mulai dari Bandar Baru sampai ke mulut keran di rumah penduduk terawat baik, jauh lebih baik dari Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Nadi milik Pemerintah Kota Medan masa kini.
Setelah kebutuhan air terpenuhi, kemudian dipikirkan cara mengalirkan air bekas pakai ke badan air agar permukaan tanah tetap kering. Lingkungan yang lembab dan  basah dapat memicu laju pertumbuhan bakteri.

Pada tahun 1921, Gemeente Medan mendatangkan tiga orang desainer kota terkenal dari Holland untuk merancang sistem drainase kota. Ketiga orang tersebut adalah Ir. D Roosenburg dari Den Haag, Jhr A H Op Ten Noort dari Utrecht, Ir. L S P Scheffer dari Utrecht. Sistem drainase Medan ketika itu hanya terdiri dua saluran drainase sepanjang beberapa ratus meter, dengan kapasitas 75 mm / per jam, sangat tidak memadai. Melalui kajian pustaka, penulis dibuat terkagum kagum, karena mereka bekerja sangat luar biasa canggih, bahkan untuk ukuran masa kini. Tahap pertama mereka mengumpulkan data curah hujan sepuluh tahun terakhir yang dikumpulkan dari catatan yang dibuat oleh Deli Proefstation diterbitkan dalam Bijlage No 21 Tahun 1919. Dari terbitan itu tersebut diperoleh data curah hujan tertinggi yang jatuh pada tanggal 23 Desember 1915 sebesar 157 mm / jam. Selain itu mereka mengumpulkan data luas atap rumah tiap rumah, kemiringan atap, ketebalan permukaan atap, tekstur jalan raya, trotoar, kemiringan topografi lahan, jalan, luas ruang terbuka hijau, jenis tanaman penutup lahan, koefisien penguapan, laju kecepatan angin. Semua data dari berbagai variabel itu dianalisis dengan teknik statistik analisis multi variat,  dan anacova, multiple regresi. Kemudian dilakukan analisis simulasi modeling dengan model model matematis. Hebatnya, semua itu dikerjakan secara manual, karena pada masa itu belum ada komputer. Yang lebih mengagumkan lagi mereka sudah memasukkan faktor / variabel perilaku manusia  , dengan menggunakan indikator tingkat kedisiplinan warga kota. Indikator itu dikuantifikasi dalam nilai konstanta ( bilangan tetap ) dan dimasukkan dalam model matematis. Akhirnya mereka menemukan angka dimensi ukuran yang handal untuk sistem drainase kota Medan yaitu 180 mm / jam. Semua perhitungan itu bermakna dalam kondisi hujan selebat apapun, asalkan warga kotanya disiplin tidak membuang sampah ke parit / saluran drainase dan petugas Gemeente disiplin memelihara sistem drainase, dapat dipastikan kota Medan tidak akan mengalami banjir. Upaya pemeliharaan yang direkomendasikan adalah setiap hari petugas opziter melakukan patroli keliling kota mengontrol kondisi saluran drainase dan sekali setiap bulan lubang kontrol saluran ditembak dengan water canon dari mobil brainware ( pemadam kebakaran ).
Pekerjaan pembangunan saluran drainase selesai dalam beberapa tahun dan Medan memiliki sistem drainase kota tercanggih di Asia setara dengan kota kota terbaik di Eropa. Beban sungai sebagai penerima air limbah dikurangi dengan adanya saluran / kanal buatan dan dibagi merata antara sungai Deli, sungai Babura dan sungai Percut.. Penulis tertegun membayangkan kehebatan maha karya dari ketiga desainer sistem drainase Medan. Sistem itu ditelantarkan oleh semua Rejim Kota Medan sejak Republik terbentuk.  Walaupun ditelantarkan 30 tahun, penulis sempat merasakan kehandalan sistem itu ketika pernah menjadi warga di kawasan Gemeente, tidak pernah merasakan banjir. Mulai dekade 80 an sistem yang tidak pernah dirawat, akhirnya jebol juga. Hancurnya sistem drsinase kota Medan terjadi ketika tata ruang kota Medan diacak acak secara biadab. Sejak itu kawasan paling elit kota Medan hingga hari ini tidak steril dari banjir. Sejak 80 tahun merdeka, jangankan dirawat dengan tembakan water canon, dibuka tutup lubang kontrol pun tidak pernah. Pelajaran penting dari kondisi itu adalah, bangsa Indonesia sangat lemah dalam maintenance di segala bidang




III  Jatidiri Kota Medan dan Perilaku Pemerintah Serta Warga Kota

Dari semua uraian di atas, dapat dirumuskan jatidiri kota Medan. Medan dibangun dan berkembang karena adanya usaha perkebunan berskala besar. Medan memiliki kondisi yang lebih sehat untuk dikembangkan sebagai kota bisnis dan kota peristirahatan bagi para Tuan Kebun. Inti kota Medan sebagai kawasan Gemeente didesain menurut ilmu pengetahuan termaju pada saat itu. Desain itu diaplikasikan dengan sungguh sungguh, sehingga tercipta kota yang indah, asri, nyaman dan tertata rapi. Penduduk kota Medan menikmati pasokan air berkualitas tinggi, aliran listrik dan gas non stop, udara bersih, sanitasi kota kelas wahid, jalan aspal lebar dan mulus dengan berpenerangan di waktu malam.  Pada dasarnya secara geologi dan geomorfologi serta geohidrologi, kota Medan tidak memiliki gen banjir. Ditambah dengan rekayasa teknik yang canggih dalam manajemen keairan, sebenarnya tidak ada alasan bagi Medan untuk mengalami banjir. Kalau terjadi banjir di Medan, maka yang patut disalahkan ada dua pihak yang dapat disalahkan adalah Pemerintah Kota dan  warga kotanya. Medan adalah kota multi etnik yang bersifat kosmopolitan. Dengan ciri sifat itu seharusnya warga kota memiliki sifat terbuka. Sesuai dengan semangat jaman itu dan ideologi yang berlaku yaitu kolonialisme dan imperialisme, penguasa Gemeente menerapkan politik rasialisme dengan membagi masyarakat menurut golongan ras dan hal itu terlihat nyata dalam urusan pelayanan publik. Kenyamanan hidup di kawassn inti kota, menuntut adanya manajemen maintenance berbagai unit utilitas kota. Upaya itu hanya dapat berhasil jika dilandasi oleh sikap profesional dan tingkat kedisiplinan dari pengelola kota dan warga kota. Dapat dikatakan bahwa penguasa kota dan seluruh warga kota Medan pada masa lalu memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. 


Upaya Mengatasi Banjir

Pemerintah Kota Medan 3 tahun terakhir mengupayakan tindakan mengatasi banjir dengan membuat kolam retensi, sudetan, gorong gorong. Upaya itu tidak memberikan hasil yang memuaskan. Belanda tidak pernah membangun kolam retensi ataupun sumur laluan. Yang dibangun Belanda adalah sistem drainase, parit, riol, kanal dan merawatnya secara teratur, terjadwal. Tujuannya mengalirkan air secepatnya ke saluran drainase primer ( sungai ) dan diteruskan ke laut. Hasilnya, MEDAN TIDAK PERNAH MENGALAMI BANJIR. Kalau Pemerintah Kota dan warga kota Medan mau kotanya seperti di masa jaman Belanda, sederhana saja. Pulihkan seluruh sistem drainase dengan cara dikeruk semua sedimen / sampah yang menyumbat sistem drainase, pulihkan semua kanal, normalisasi sungai ( bersihkan bantaran sungai dari pemukiman dan sampah serta endapan sedimen di dasar sungai ), perawatan rutin seluruh sistem drainase. Satu hal lagi, keruk seluruh endapan / sedimen yang menumpuk di muara sungai Deli ( Kuala Deli ) yang menghalangi kelancaran air sungai Deli ke laut. Banjir yang terjadi di Medan disebabkan oleh TIDAK BERFUNGSINYA SISTEM DRAINASE KARENA BURUKNYA PERILAKU YANG TIDAK BERDISIPLIN DARI PEMERINTAH KOTA DAN WARGA KOTA MEDAN.  Sama sekali BUKAN KARENA FAKTOR ALAM ATAU BURUKNYA REKAYASA KEAIRAN WARISAN BELANDA.


Epilog

Pemerintah Kota Medan sebaiknya tidak membuat rencana yang aneh aneh, yang sekadar menciptakan proyek yang menghabiskan dana besar. Logika berpikirnya sederhana saja. Sewaktu sistem drainase tidak tersumbat, Medan tidak pernah banjir. Ketika sistem drainase tersumbat, Medan jadi langganan banjir. Maka untuk mengatasi banjir, bersihkan saluran drainase. BUKAN DENGAN MEMBUAT KOLAM RETENSI YANG SUDAH TERBUKTI TIDAK EFEKTIF DAN SUMUR LALUAN YANG BELUM JELAS. Ikuti saja PETA JALAN YANG DITINGGALKAN OLEH DESAINER KOTA MEDAN. Di dalam dunia keilmuan ada satu prinsip sederhana yang wajib diikuti yang disebut prinsip parsimoni. Prinsip itu mengatakan jika ada lebih dari satu penjelasan tentang sesuatu hal, maka yang benar dan  harus dilakukan adalah penjelasan YANG PALING SEDERHANA. Pemerintah Kota Medan hanya perlu membangun dan merawat sistem drainase, memperbesar / memperluas kapasitasnya disesuaikan dengan pertambahan jumlah penduduk dan perluasan areal kota. 






Comments

Popular Posts