IN MEMORIAM PROF JOHN NORMAN MIKSIC Ph.D
Prof John Norman Miksic Ph.D
Lahir 29 Oktober 1946 di Rochester, Negara Bagian New York.
Wafat 25 Oktober 2025 di Singapore
Medan, 1977
Pada suatu sore pada tahun 1977, saya berkunjung ke kediaman Tengku Lukman Sinar di jalan Abdullah Lubis, kawasan Medan Baru. Beliau adalah tokoh masyarakat Melayu, seorang bangsawan dari Kesultanan Serdang, dan seorang sejarawan yang cukup terkenal di Medan. Saya bersahabat dengan Tengku Lukman walaupun kami berbeda generasi. Saya teman satu sekolah dengan dua orang puteri beliau di SMP Harapan, jalan Imam Bonjol, Medan. Pada kesempatan itu Tengku Lukman memperkenalkan saya dengan tamunya, seorang warganegara Amerika Serikat bernama John Norman Miksic. John bercerita kalau dia adalah seorang mahasiswa doktoral dari Universitas Cornell, salah satu universitas papan atas di dunia yang akan melakukan penelitian ( survei dan ekskavasi ) arkeologi di situs Kota Cina, 20 Km di utara kota Medan. Kota Cina pada abad XI - XIV adalah kota pelabuhan yang ramai. Hasil penelitiannya akan dijadikan bahan penulisan disertasinya, di bawah bimbingan pakar terkemuka Prof O W Wolters.
Tidak lama kemudian datang seorang tamu lain berkebangsaan Inggris asal Skotlandia bernama Edmund Edwards Mc Kinnon, yang bekerja di perusahaan perkebunan PT Horison. Saya sudah 2 tahun mengenal Mc Kinnon. Saya, Tengku Lukman, John dan Edmund memiliki minat yang besar dengan dunia masa lalu dan kalau bertemu selalu mendiskusikan perkembangan arkeologi. Saya banyak belajar arkeologi yang sudah diminati sejak lama dari dua orang asing itu. Perkenalan dengan mereka semakin memperkuat minat untuk menekuni ilmu itu setelah lulus sekolah menengah. Saya memutuskan pergi ke Universitas Gadjah Mada ( UGM ) Yogyakarta untuk belajar arkeologi ( 1979 ). Ketiga sahabat saya itu mendukung keputusan saya tersebut. Saya beberapa kali diundang oleh John berkunjung ke rumah kontrakannya di Jalan KH Wahid Hasyim, di kawasan Medan Baru tidak jauh dari kediaman Tengku Lukman Sinar. Di akhir tahun itu, John berpamitan mau kembali ke Cornell, karena sudah merampungkan risetnya di Kota Cina. Setelah itu tidak ada komunikasi dengan John tetapi masih tetap berhubungan dengan Edmund dan Tengku Lukman Sinar. Setahun kemudian giliran saya pamit dengan kedua sahabat, untuk melanjutkan pendidikan di UGM.
Yogyakarta, 1981
Di suatu ruang kelas di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, sedang berlangsung kuliah Metode Arkeologi III dengan tema Metode Pemugaran Bangunan / Monumen Bersejarah yang diampu oleh Drs. Soediman, arkeolog senior yang menjabat sebagai Pelaksana Harian Kepala Proyek Pemugaran Candi Borobudur. Menjelang berakhirnya sesi kuliah, Pak Soediman berkata bahwa kita akan menerima kehadiran seorang dosen tamu dari Amerika Serikat untuk memperkuat jajaran Staf Dosen di jurusan Arkeologi UGM. Dosen itu bernama John Norman Miksic, Ph.D, lulusan Cornell University. Sekarang Pak John Miksic masih bertugas di BAPPEDA Provinsi Bengkulu sebagai Staf Ahli. Tidak lama lagi dia akan merampungkan tugasnya di Bengkulu dan segera pindah ke Yogyakarta. Selama bertugas di Indonesia, John berafiliasi dengan lembaga Ford Foundation. Setelah sesi kuliah berakhir, saya duduk termenung mengenang sosok John Norman Miksic yang saya kenal di Medan dan merasa hampir pasti bahwa itu adalah orang yang sama yang bakal menjadi dosen saya. Jika benar, ini adalah reuni yang tidak direncanakan. Alam semesta mempertemukan kami kembali dalam status hubungan dosen dan mahasiswa.
Di koridor antara gedung lama dengan gedung baru Fakultas Sastra dan Kebudayaan saya dan Pak John bertemu kembali setelah 4 tahun berpisah. Sambil bersalaman erat dia berbisik meminta saya datang ke rumahnya di Jalan Beo No 10, di kawasan Demangan Baru, Colombo. Sore hari itu juga saya datang dan Pak John menyambut hangat di depan pintu dan kami berpelukan. Isterinya yang berasal dari Kedah, Malaysia ikut mengobrol sambil mengenang saat saat berada di Medan. Saya diajak makan malam bersama dan ketika jarum jam menunjukkan angka 10, saya berpamitan pulang. Pak John menawarkan kapan saja saya boleh berkunjung ke rumahnya. Beliau memiliki sepasang anak, yang pertama bernama Ezra Yon Miksic dan seorang puteri yang saya lupa namanya.
Hari hari berikutnya selama 6 tahun saya rutin datang berkunjung seminggu atau 2 minggu sekali. Tahun 1985 Pak John pindah rumah di kawasan Bulaksumur, kompleks dosen UGM, tepatnya Blok D No 14. Kepindahan itu semakin membuat saya lebih sering datang berkunjung ke rumahnya, saya menetap di kawasan Sekip Blok M No 7A, yang hanya berjarak 300 meter. Di Jurusan Arkeologi UGM Pak John mengampu 6 mata kuliah yang semuanya saya tempuh, yaitu Arkeologi Lingkungan, Pusat Pusat Asal Peradaban, Metode Pengolahan Data, Etnoarkeologi, Museologi dan Keramologi.
Kehadiran John Norman Miksic nembawa perubahan besar di Jurusan Arkeologi, memberikan warna baru dengan masuknya pengaruh mazhab Processual atau New Arkeologi. Koleksi buku perpustakaan Jurusan Arkeologi jadi bertambah banyak dengan buku buku terbitan mutakhir, diikuti dengan hadirnya Laboratorium Arkeologi bidang Tekno Arkeologi dan Kemiko Arkeologi.
Pak John adalah dosen yang cerdas dan tekun. Beliau belajar bahasa Belanda dan Jerman secara otodidak, sampai menguasai secara pasif dan mampu membaca dan memahami buku yang ditulis dalam 2 bahasa tersebut. Jika menemui kesulitan memahami istilah tertentu dalam bahasa Belanda, saya diminta datang untuk mendiskusikan istilah istilah yang belum dipahaminya. Saya banyak mendapatkan ilmunya yang mendalam. Pak John juga menguasai ilmu ilmu kebumian seperti geomorfologi, geologi dan hidrologi, serta nenguasai statistik dan matematika. Dia pernah mengajar matematika dan sains di sekolah menengah ketika bertugas sebagai sukarelawan Peace Corps di Negara Bagian Kedah, Malaysia pada tahun 1968 - 1972. Di tempat itu Pak John bertemu dengan wanita yang bernama To Himun yang kemudian dinikahinya dan memberikan sepasang anak. Dia juga mendorong saya untuk belajar bidang ilmu ilmu kebumian, matematika, statistik dan filsafat.
Pada suatu hari saya berkunjung ke rumah Dr Michael R Dove seorang ahli Antropologi Ekologi yang juga dosen saya, yang rumahnya berseberangan dengan rumah yang saya tempati ( Sekip Blok L No 2 ). Tidak lama kemudian muncul Pak John, dan dia tidak menyangka bakal jumpa dengan saya di situ. Pak Michael dan Pak John ternyata sedang mengerjakan proyek bersama kolaborasi riset antropologi dan arkeologi dalam budidaya padi sawah. Dari proyek itu saya mendapat ilmu tentang cara mengkoneksi ke dua disiplinn ilmu itu dengan ilmu ilmu kebumian di dalam suatu riset terpadu. Saran Pak John saya laksanakan, akhirnya saya menempuh jalur yang sama, mengajar matematika, filsafat ilmu dan ilmu ilmu kebumian di Universitas Sumatera Utara ( USU ), Medan.
Tidak terasa 5 tahun berlalu, tibalah waktunya saya berpisah dengan Pak John, karena harus kembali ke Medan setelah menamatkan pendidikan di Kampus Biru. Sebelum berpisah, Pak John meminta saya melakukan riset lapangan di Aceh atas biaya yang diupayakanya untuk tujuan itu. Tentu saja saya bersedia melakukan tugas itu untuknya. Saya diminta melakukan observasi cermat, melakukan analisis dan menuliskan laporannya tentang kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Aceh. Saya melakukan perjalanan keliling Aceh masuk dan keluar 85 Kecamatan dari 113 Kecamatan di seluruh Aceh. Tugas itu saya selesaikan dalam waktu 1 tahun, dan laporannya saya serahkan langsung kepadanya di Singapore, karena waktu itu beliau sudah pindah ke sana menjadi dosen di National University Singapore.
Di Singapore, John Norman Miksic menorehkan prestasi akademis lebih monumental. Dapat dikatakan Pak John berhasil mengubah persepsi orang tentang eksistensi Singapore. Hasil kerja risetnya yang bermutu tinggi berhasil membuktikan bahwa Singapore sudah berperan penting sebagai simpul utama jalur perdagangan internasional 5 abad sebelum kedatangan Sir Thomas Stamford Raffeles tahun 1819. Dia melakukan riset yang membuktikan bahwa ada jalur sutra via laut dari Cina ke Mancanegara, disamping jalur sutra via darat yang sudah lebih dulu dikenal. Hasil kerja Pak John telah mengubah banyak substansi materi pelajaran sejarah di sekolah sekolah di Singapore. Julukan yang dilekatkan ke dirinya sebagai Indiana Jones dari Singapore bukan sekadar julukan kosong. Pak John adalah otak di balik bangkitnya rasa bangga rakyat Singapore akan masa lalunya yang gemilang. Selama dia berkarir di Singspore, saya sempat mengunjunginya sebanyak 3 kali , tahun1988, 2001 dan 2003.
Medan, 2000
Pada tahun 2000 saya merasakan pengalaman tak terlupakan, paling berkesan selama 2 hari bersama John Norman Miksic. Pak John datang ke Medan dan saya diminta menemaninya sepanjang hari. Pukul 07 saya tiba di hotel Tiara tempat beliau menginap. Dia mengajak sarapan di luar, ingin bernostalgia di warung makan yang sering dikunjunginya. Pak John menolak menggunakan taksi, lebih memilih naik becak bermotor, yang di Medan dikenal dengan nama becak mesin. Mengingat postur tubuh kami berdua, tidak nyaman menggunakan satu becak. Kami menggunakan dua becak yang berjalan beriringan. Tempat tempat yang dikunjungi adalah tempat tempat yang biasa dikunjunginya. Tujuan pertama adalah rumah kontrakannya di Jalan KH Wahid Hasyim, kediaman - kediaman Tengku Lukman Sinar dan beberapa orang lain, di antaranya EK Siahaan. Tempat tempat berikutnya Istana Sultan Deli ( Istana Maimoon ), Mesjid Raya Al Nashun, Kolam Raya Sri Deli. Sepertinya perjalanan kami adalah napak tilas dari setahun keberadaannya di Medan. Di kolam Raya kami duduk hingga beberapa jam sambil makan rujak khas Medan. Di tempat itu Pak John banyak bercerita tentang masa kecilnya di pedesaan kampung halamannya, di pedalaman, 90 Km dari Rochester. Minatnya di bidang arkeologi tumbuh sejak masa kanak kanak di desanya. Di ladangnya, Kakeknya beberapa kali menemukan artefak milik suku Indian Iroquois
Tahun 1964 Pak John menamatkan pendidikan sekolah menengah dan masuk ke Dartmouth College, belajar bidang antropologi dan arkeologi hingga tahun 1968. Selama jadi mahasiswa John pernah ikut ekspedisi penelitian arkeologi di situs situs Suku Maya di Amerika Tengah, seperti Tikal. Kemudian dia menjadi tenaga sukarela di Kedah dengan tugas spesifik membangun irigasi, koperasi dan menjadi guru matematika dan sains di sekolah menengah. Tahun 1972 John Norman Miksic melanjutkan pendidikan tingkat magister bidang Hubungan Internasional di Universitas Ohio ( Athens ), tamat tahun 1974. Kemudian mengambil pendidikan magister bidang Antropologi di Cornell University di Ithaca, selesai tahun 1976. Pada tahun itu juga Pak John menempuh pendidikan doktoral di Universitas yang sama bidang Arkeologi. Promotornya adalah pakar ternama bidang sejarah perdagangan, Prof. Oliver William Wolters. Setelah riset di Kota Cina ,Sumatra Utara, John mempertahankan disertasinya yang berjudul Archaeology, Trade and Society in Northeast Sumatra tahun 1979. Disertasi itu berhasil memenangkan penghargaan sebagai disertasi terbaik di Cornell University tahun 1979. Disertasi itu sekarang sudah menjadi klasik dan merupakan karyanya yang monumental.
Tahun 1979 John Norman Miksic menjadi konsultan BAPPEDA Provinsi Bengkulu dari USAID dengan tugas spesifik mendidik pegawai BAPPEDA dalam mengumpulkan data dan mengolah data serta membuat laporan kerja. Tahun 1981 Pak John menjadi dosen tamu di UGM Yogyakarta. Tahun 1987 beliau menjadi dosen tamu di National University Singapore. Sepertinya Pak John sangat betah dan merasa nyaman bertugas di sana dan menjadikannya sebagai terminal terakhir dari perjalanan karirnya. Di tempat itu pula lahir karya karya monumentalnya. Setelah John Norman menceritakan pengalamannya, giliran saya yang diminta berbuat yang sama. Setelah selesai bicara panjang lebar, kami kembali ke hotel. Malam itu Pak John minta ditemani makan malam di pusat kuliner Chinese Food di jalan Selat Panjang, sampai larut malam.
Karya Masterpiece John Norman Miksic Ph.D
Pak John banyak mengeluarkan publikasi ilmiah di berbagai media, buletin, jurnal ilmiah terndeks scopus, makalah dalam acara seminar, simposium dan buku. Di sini tidak semua karya John Norman Miksic ditampilkan, hanya yang bersifat monumental.
1 Archaeology, Trade and Society in Northeast Sumatra, 1979.
2 Old Javanese Gold, 1990
3 Borobudur: Kisah Emas Para Buddha ( Panduan Perjalanan Periplus ), 1990
4 Warisan Majapahit, 1995
5 Warisan Indonesia Sejarah Awal, 2002
6 Tembikar di Asia Tenggara Earthenware , 2003
7 Borobudur: Masterpiece in Stone: The History and Meaning of the World's Largest Buddhist Monument, 2005
8 Singapore Awal 1300 an - 1819. Bukti dalam Pera, Teks dan Seni, 2005
9 Kamus Sejarah Asia Tenggara Kuno, 2006
10 Ikon Seni: Koleksi Museum Nasional Indonesia, 2007
11 Keramik Asia Tenggara, 2009
12 Borobudur: Megah, Misterius, Luar Biasa , 2010
13 Pengadilan Surakarta, 2012
14 Singapore. The Silk Road of The Sea 1300 - 1800, 2013
15 Asia Tenggara Kuno ( Arkeologi Dunia Routledge ), 2016
Dari deretan buku di atas terbukti bahwa John Norman Miksic sudah melaksanakan amanah gurunya Prof OW Wolters, disertasi bukan karya puncak seorang akademisi, melainkan hanya karya awal. Umat manusia dan kemanusiaan menunggu hadirnya karya karya monumental berikutnya untuk mengembangkan peradaban.
Salam Perpisahan
Kemarin sore, Kakak / Senior saya di UGM Mbak Ritha mengirim berita mengejutkan, Guru, Mentor dan Sahabat saya John Norman Miksic telah pergi untuk selamanya. Sejak tahun 2021 John mengidap penyakit melanoma, sejenis penyakit kulit yang langka. Beliau wafat karena penyakit pneumonia, infeksi paru paru di rumah sakit. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka
Blok 660 E Jurong West Steet 64, Singapore dan akan dikremasi pada 29 Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan hari kelahirannya ke 79. Beliau didampingi isterinya Dr. Goh Geok Yian seorang arkeolog asal Singapore hingga akhir hayatnya.
Dari jauh di seberang lautan, saya Yance , murid John Norman Miksic menyampaikan salam terakhir dan ungkapan perasaan duka cita yang mendalam kepada Ibu Goh Geok Yian dan putera sulungnya Ezra Yon yang sekarang menetap di kota San Diego, California, Amerika Serikat.

.png)

Comments
Post a Comment