MEMERIKSA GENOM dan MEMAHAMI JATI DIRI UGM

 In Memoriam Prof Dr Teuku Jacob, MS, DS

Geboren    : 6 December 1929, te Peureulak,                              Oost Aceh.

Overleden : 17 October 2007, te Yogyakarta


Prolog

Pada suatu hari di bulan April 1965, sebuah rombongan kecil turis domestik tiba di candi Borobudur. Seorang anak laki laki berusia 6 tahun ada di rombongan tersebut. Pemandu wisata di grup itu bernama Masri, asal Kalimantan Selatan adalah Mahasiswa Universitas Gajah Mada ( UGM ),  Program Studi Arkeologi tahun ke 4. Masa studi di Universitas pada masa itu tergolong lama untuk ukuran sekarang. Penjelasan Masri tentang Candi Borobudur yang demikian lengkap membuat semua anggota rombongan terpana kagum. Kunjungan ke Candi Borobudur itu sangat berkesan, membekas dalam ingatan bocah kecil itu. Saat itu juga si anak minta pada papinya agar jika sudah dewasa diijinkan sekolah arkeologi di UGM seperti Oom Masri. Beliau juga membawa anak kecil itu melihat gedung utama UGM di Bulak Sumur. Di dekat pilar bergaya Mediterania di Balai Rung kami duduk berdua sambil makan camilan dan minum. Pengalaman itu terus mematri ingatan akan Candi Borobudur dan UGM, terus membayangi si anak kecil. Tanpa terasa, waktu berjalan terus, 14 tahun setelah peristiwa itu, si anak kecil sudah bertransformasi menjadi Mahasiswa UGM, Program Studi Arkeologi, sesuai dengan apa yang dicita citakannya. Si anak kecil itu adalah orang yang sedang membuat tulisan ini. Tahun 1995 penulis sempat bertemu dan bernostalgia dengan  Oom Masri di Surabaya.

UGM adalah Universitas tertua dan terbesar di Republik. Alumninya mencapai jumlah ratusan ribu orang tersebar di seluruh pelosok tanah air dan juga di mancanegara. Organisasi alumninya  bernama Keluarga Gadjah Mada ( KAGAMA ), terkenal solid dan eksis di manapun keberadaannya. Universitas sebesar UGM tidak luput dari berbagai hambatan / kendala dan masalah. Akhir akhir ini UGM dan KAGAMA diterpa isu ijazah Joko Widodo ( Presiden Republik dua periode ) termasuk skripsinya yang diragukan keasliannya. Isu itu telah menjadi isu nasional dan pasti akan mengurangi kredibilitas UGM sebagai institusi yang menerbitkan ijazah bagi tiap lulusannya. Terlepas dari soal salah atau benar tuduhan ijazah palsu Joko Widodo, semua alumni dan pengelola UGM membutuhkan suntikan energi, spirit untuk memperkuat daya tahan menghadapi gempuran dari manapun. Untuk mendapatkan spirit itu, diperlukan pengetahuan yang memadai tentang  genom ( peta genetik ), agar setiap anggota keluarga Gadjah Mada dapat mengenal jati dirinya untuk menghadapi segala cobaan dengan kepala tegak. Mengenal diri sendiri adalah pengetahuan tertinggi yang harus dimiliki tiap orang. 

Dalam menelusuri pengetahuan tentang genetik UGM, ada dua jalan. Pertama adalah model penalaran deduktif, dimulai dengan merumuskan pernyataan umum, kemudian dicari fakta empirik yang mendukung kesahihan pernyataan tersebut. Ke dua menggunakan cara penalaran induktif. Cara ini menghimpun fakta empirik, kemudian di buat abstraksi berupa rumusan pernyataan.  Cara apapun yang dipilih akan tiba di titik yang sama. Dalam tulisan ini penulis memilih cara pertama. 



Gambar 1: Gedung Pusat UGM yang berdiri                               megah ,anggun

Sumber    :  Google






Gambar 2 : Logo UGM yang indah, harmoni

        Sumber  :   Google                                                      






Gambar 3 : Penulis diapit oleh Oom Masri ( berkaca mata hitam ) dan papi.

Sumber :  Koleksi pribadi




Simbol Nasionalisme

Tahun 1950 seorang pemuda asal Aceh bernama T Jacob yang berotak cerdas dihadapkan pada dua pilihan tempat melanjutkan studi, yaitu Universitas Indonesia ( UI ) di Jakarta dan UGM  di Yogyakarta.  Jacob dengan tegas memilih UGM, dengan alasan di UI masih ada profesor bangsa Belanda, sementara di UGM semua profesor adalah bangsa Indonesia. UGM adalah rumah bagi kaum Republiken, dan menyandang status sebagai Universitas kebangsaan, universitas perjuangan. Sejak berdiri hingga sekarang UGM menampung mahasiswa dari seluruh etnik yang ada di Nusantara dan menjadi miniatur Indonesia. Jasa besar Sri Sultan Hamengkubuwono IX mulai dari pendirian hingga perkembangan berikutnya tidak dapat dilupakan. Di UGM setiap mahasiswa dari berbagai daerah saling berkenalan, berkolaborasi, saling memahami, dan menemukan jodohnya. UGM adalah mixer genetik yang mempercepat percampuran genetik yang kelak akan membentuk mosaik wajah baru Indonesia, sehingga Nasionalisme tidak saja terwujud dari aspek ide / intangible, tetapi juga terwujud secara fisik / materi genetik / tangible. 


Simbol Semangat Pionir dan Egaliter

Mahasiswa UGM dikenal "tahan banting ", sanggup ditempatkan di mana saja. Di semua daerah, di tiap institusi hampir dapat dipastikan ada alumni UGM. Indikasinya jelas, KAGAMA hadir di tiap pelosok negeri. Semangat pionir inilah yang berhasil menciptakan simpul simpul baru dalam mempercepat pembangunan di daerah. Dari Bulak Sumur dan Sekip, alumni UGM menyebar ke berbagai daerah ( konvergen ). Sebaliknya UGM mengembangkan semangat egaliter, dengan menerima bakat bakat terbaik dari berbagai daerah untuk berkarir menjadi dosen  di UGM tanpa memandang asal usul, etnik, agama / ideologi. Prof Dr T Teuku Jacob berasal dari ujung barat ( Aceh ) dan Prof Herman Johannes dari ujung selatan Nusantara ( pulau Rote ) berhasil mencapai jabatan Rektor UGM. UGM berhasil menjadikan dirinya sebagai pusat magnet yang mampu menarik orang orang terbaik ( divergen ) untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan negeri. 

Pada dasawarsa 50 an UGM mengirim mahasiswanya ke berbagai pelosok negeri untuk menjadi tenaga guru sukarela di SMA. Tujuannya adalah untuk program percepatan memajukan pendidikan. Salah satu mahasiswa yang dikirim ke pulau Timor, bernama Kusnadi  Hardjasoemantri kelak berhasil menjabat sebagai Rektor UGM. Program itu menjadi cikal bakal program Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) yang legendaris. Mahasiswa KKN UGM sekarang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. 


Tidak Melupakan Asal Usulnya

UGM menyadari benar dari mana asal usulnya dsn tidak pernah melupakan jati dirinya. Sebagian besar pendiri, guru besar, dosen, mahasiswanya berasal dari desa. Banyak orang yang mengatakan bahwa UGM sudah Universitas Ndeso dan semua warga UGM bangga dengan stigma itu. Hal itu ditunjukkan secara nyata dengan keberpihakan UGM kepada desa. UGM mendirikan Pusat Studi Pengembangan Kawasan & Pedesaan. Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah di bawah Fakultas Geografi dan Pusat Penelitian Kependudukan. Ketiga institusi itu berhubungan sangat erat dengan desa. Dari UGM juga lahir gagasan membangun jaringan Koperasi Unit Desa ( KUD ) yang digagas oleh Prof Sudarsono. Presiden Suharto mrnunjuk beliau menjadi Menteri Pertanian Republik Indonesia. Departemen Transmigrasi, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional  ( BKKBN ), Badan Perencana Pembangunan Nasional ( BAPPENAS ) adalah mitra abadi UGM dalam proses pembangunan. 

Dengan selalu mengingat genetik, asal usul dan jati diri UGM, seharusnya setiap alumni tidak perlu berkecil hati dengan berbagai cobaan dan masalah yang menerpa. UGM terlalu besar untuk dapat dihancurkan oleh satu atau dua kasus / isu. Kontribusi UGM untuk negeri tidak dapat dihapuskan begitu saja. Alam dan sejarah mencatat apa yang telah didharma baktikan UGM untuk Republik.  


Epilog

Di alam tidak ada yang sempurna. Ketidak sempurnan itu jangan membuat kita kecewa, justru menjadikan kita berbuat lebih baik lagi. Kita tidak tahu sampai dimana batas kemampuan potensi dan aktualnya. Mungkin kita tidak pernah mencapai titik itu, tetapi kita harus terus berupaya mendekati titik yang sebenarnya  unlimited. Memahami genetik dan jati diri, akan membantu kita untuk lebih mengenal siapa diri kita dan mengenal diri sendiri  ( Ken U Zelven ) adalah pengetahuan tertinggi. Pengetahuan itu sangat berguna bagi kita dalam menatap dan berjalan ke masa depan. 



Appendix

Di bawah ini djelaskan tentang jati diri salah satu Rektor UGM yang dijadikan memori di awal tulisan ini. Bertahun tahun penulis berguru kepada Sang Beghawan Paleoantropologi terbaik di dunia. 


T. Jacob terlahir sebagai anggota keluarga bangsawan Aceh sebagai anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Ayahnya bernama T. Ismail seorang Kepala Wilayah ( Ulebalang ), setingkat Kecamatan di Peureulak, Aceh Timur. Sebagai orang bangsawan yang berpikiran modern, T. Ismail mengirimkan anak anaknya ke sekolah. Tahun 1943, Jacob menamatkan pendidikan tingkat SD di kota Langsa, ibu kota Kabupaten Aceh Timur. Jacob kemudian melanjutkan pendidikan SMP di Kuta Raja ( Banda Aceh ), dan tamat tahun 1946, serta melanjutkan ke jenjang SMA dan tamat tahun 1949. Jacob kemudian ditawarkan dua pilhan untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ( UI ) atau Universitas Gadjah Mada ( UGM ), Yogyakarta. Jacob dengan mantap memilih UGM, dengan alasan di UI masih ada dosen dosen bangsa Belanda, sementara itu Di UGM yang dikenal sebagai universitas perjuangan dan bersemangat Republiken, semua dosennya bangsa Indonesia. Jacob termasuk rombongan pertama putera Aceh yang dikirim belajar di Yogyakarta. Tahun 1956, Jacob menyelesaikan pendidikan dokter dan memutuskan berkarir sebagai dosen di almamaternya. Jacob melanjutkan studi di Universitas Howard , Washington DC di bawah supervisi Prof. Dr. William Montague Cobb, seorang pakar Paleoantropologi kenamaan dan tamat tahun 1960. Prof William Montague Cobb adalah profesor pertama dari kalangan Afroamerica, yang berpengaruh besar terhadap pilihan jalan karir keilmuan Jacob. Kemudian Jacob melanjutkan pendidikan di Rijks Universiteit Utrecht, Holland, di bawah bimbingan ahli paleoantropologi terkemuka, Prof. Dr. Gustaav Heinrich Rudolph von Koenigswald. Tahun 1967 Jacob mencapai gelar Doktor dengan judisium Cum laude. Disertasinya yang sudah menjadi klasik berjudul Some Problems Pertaining to Racial History of Indonesia Region, Neerlandia, Utrecht, 1967. Setelah itu keran tulisannya mengalir deras tanpa henti mencapai puluhan buku dan artikel yang bertaburan di berbagai jurnal bergengsi. Jacob tercatat menjadi anggota di banyak asosiasi ilmuwan yang berpusat di USA dan Eropa, khususnya bidang antropologi fisik / biologi. Aktivitas penelitiannya tidak pernah berhenti. Kecintaannya pada bidang antropologi fisik, membuatnya tidak pernah membuka praktek sebagai dokter medis. Jacob adalah satu di antara sedikit dokter yang tidak pernah berpraktek sebagai dokter. Dia merasa tidak punya waktu untuk melayani pasien. Jacob memilih menjadi ahli paleoantropologi karena tidak suka berhadapan dengan darah, dan mayat. Jacob dikenal piawai membangun kerjasama riset antar lembaga dan antar negara. Berkat lobbynya, di UGM berdiri satu satunya di Indonesia laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi. Selama puluhan tahunJacob memimpin laboratorium itu tanpa tergantikan hingga wafatnya. Laboratorium itu memiliki tingkat pengamanan kelas wahid, setara gedung Pentagon dan Markas Besar CIA. Hanya Jacob seorang yang punya akses ke jantung Lab tersebut, lemari besi tempat penyimpanan harta karun tidak ternilai berupa fosil fosil manusia purba. Dalam perjalanan karirnya, Jacob termasuk unik, lebih dahulu diangkat menjadi Profesor Paleontologi di luar negeri, Universitas San Diego ( 1968 ). Tahun 1971 Jacob diangkat menjadi Profesor Antropologi Fisik dan Paleoantropologi di UGM. Pada tahun 1982 - 1986 Jacob menjadi Rektor UGM. Pada pertengahan dekade 80 an Jacob mengembangkan minat baru dan merintis pengembangan ilmu Polemologi, ilmu yang fokus mempelajari berbagai skema, mekanisme upaya perdamaian. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai publikasi hasil kajiannya di bidang polemologi dan semakin beragamnya bidang riset yang ditekuninya. Pada tahap ini Jacob sudah berada pada tataran di atas ilmuwan, memasuki level filsuf. Riset dan bidang kajiannya sudah mendobrak sekat sekat pembatas ilmu ilmu yang memang sebenarnya hanya pembatas semu. Sangat disayangkan, hingga wafatnya, tidak ada penerus posisi dan reputasi Jacob sebagai ahli paleoantropologi dan paleontologi kelas wahid. Jacob menikah dengan Nuraini dan memiliki puteri semata wayang. Sikap dan perilaku Jacob terhadap jabatan dan materi patut diteladani. Dia tidak pernah mengijinkan dirinya dan keluarganya menikmati fasilitas negara di luar urusan kedinasan. Pada awal bulan Oktober 2007 Jacob harus menjalani terapi pengobatan di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Prof. Sardjito, di kompleks UGM, karena komplikasi beberapa penyakit. Kondisi itu terjadi akibat penurunan kemampuan fungsi organ organ tubuh, karena usia lanjut. Selama dua minggu, lebih sepuluh orang dokter dari berbagai spesialisasi keahlian berjuang keras memperpanjang usianya. Akhirnya pada tanggal 17 Oktober 2007, pukul 18.00 WIB, Jacob pergi meninggalkan nama besar dan reputasi tinggi sebagai ilmuwan perintis , peletak dasar paleoantropologi dan paleontologi di Indonesia. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pekuburan warga UGM di Sawit Sari, Yogyakarta.











Comments

Popular Posts