MENCARI INDIKATOR TERUKUR KEMAJUAN KEBUDAYAAN

 

Prolog

Pada suatu sore dalam kegiatan survey ekologi bentang lahan di suatu lembah yang sunyi, penulis mendekati sekelompok orang yang sedang membangun menara telekomunikasi ( BTS ). Sambil beristirahat menghilangkan rasa lelah, penulis dijamu dengan kopi hangat dan makanan camilan. Terjadi dialog yang intens tentang sistem telekomunikasi yang dipraktekkan di Republik. Penulis bertanya mengapa jaringan internet di negeri ini bekerja sangat lambat, membosankan. Pimpinan teknisi itu tidak segera menjawab, tetapi malah tertawa terkekeh kekeh. Setelah puas tertawa dia menjawab dengan mimik muka serius. Dia berkata " Kabel serat optik yang digunakan di Korea Selatan, Dubai, Hongkong, negara negara maju di Eropa adalah kualitas no 1. Jangan dibandingkan antara Indonesia dengan negara negara itu. Kabel serat optik yang kita gunakan adalah kualitas no 5 atau no 4.  Penulis jadi penasaran dan bertanya lagi mengapa kita tidak menggunakan kabel serat optik kualitas no 1 ?. Jawabannya sungguh membuat penulis terpana. "Menggunakan kabel kualitas no 5 pun, kami masih berisiko rugi besar. Bagaimana mungkin kami berani berspekulasi dengan bobot risiko yang demikian besar?. Bangsa ini tidak pantas diberikan barang kelas premium, karena banyak yang bermental dan berperilaku maling. 

Dia melanjutkan ceritanya. Satu tower dengan tinggi 75 - 80 meter, membutuhkan minimal 6 untaian kabel sepanjang lebih kurang totalnya 600 meter, termasuk untuk tersambung dengan peralatan hardware di bawah. Satu gulungan  kabel sepanjang 500 meter harganya mencapai 300 juta rupiah. Setelah beroperasi, datang sekumpulan orang ( maling ), memotong kabel itu dengan alat gunting besar. Maka sejak itu nilai uang ratusan juta jadi barang rongsokan yang tak berguna. Kabel itu dipotong potong dan tiap potong berukuran panjang 2 meter. Potongan kabel itu dibawa ke markas mereka dan secara bertahap dibakar, hingga karet pembalutnya meleleh. Tinggal selongsong tembaga yang kemudian dipadatkan dengan martil besar dan dilipat lipat. Tembaga itu kemudian dijual kiloan di tempat penampungan dengan harga belasan ribu rupiah per kilo. Barang teknologi tinggi buatan Jerman berharga ratusan juta dalam waktu beberapa hari nilainya disusutkan menjadi beberapa juta rupiah. Barang rongsokan itu diekspor ke Jerman dan disulap lagi menjadi kabel berharga ratusan juta rupiah dan kita beli lagi. 

Dalam perjalanan pulang, penulis berpikir, mencerna semua fenomena itu. Bangsa Jerman jago dalam meningkatkan nilai tambah materi sementara bangsa Republik jago dalam menyusutkan nilai materi. Pantas saja Jerman menyandang predikat Uber Ales. Betapa jauh beda mereka dengan Republik.  


Peran Teknologi Dalam Meningkatkan Nilai Tambah

Setiap produk yang diciptakan manusia pasti memiliki daur hidup, mulai dari penambangan bahan baku, pengangkutan material dari penambangan ke bengkel / pabrik pembuatan, pengangkutan ke pasar, dibeli oleh konsumen, digunakan sampai rusak / hancur, di buang ke tempat sampah. Itu semua disebut satu siklus daur produk. Tanpa usaha, teknologi (masukan materi, energi, informasi ), maka hilang pula nilai produk itu. Untuk memperpanjang daur ( usia pemanfaatan ), daur itu dapat diperpanjang dengan teknologi daur ulang, lahir produk serupa yang memiliki nilai. 

Produk bahan organik sangat berpeluang diperpanjang daur materinya. Misalnya tandan kosong kelapa sawit, kalau dibakar akan meng hasilkan polutan yang mencemari udara, dan tidak ada nilai yang dihasilkan. Seandainya tandan kosong dihamparkan di lapangan terbuka, diatasnya ditaburkan serbuk gergaji, atau sekam padi, beberapa bulan kemudian tandan kosong itu akan dipenuhi oleh ulat, cacing, jamur. Jamurnya dipanen, dijual, di olah dan dapat  dijadikan menu masakan unggulan di restoran elit. Ulat dan cacing dijadikan pakan ternak ayam dan ikan. Tandan kosongnya berubah menjadi rabuk / serbuk berwarna hitam, dapat dijadikan pupuk organik untuk tanaman buah buahan dan tanaman hias. Lahan kemudian jadi bersih kembali dan diperoleh nilai tambah yang cukup besar dari tandan kosong itu. Satu contoh lain adalah ampas kopi yang dihasilkan dari penyeduhan bubuk kopi. Dengan teknologi terkini, ampas kopi dapat diolah menjadi cangkir, piring.  Cangkirnya digunakan untuk wadah minuman kopi dan piringnya digunakan sebagai wadah camilan. Setelah selesai digunakan cangkir dan piring itu dapat dimakan, atau dijadikan pupuk organik. Nilai Tambah lahir dari upaya memperpanjang daur materi. Upaya memperpanjang daur materi adalah langkah menuju kondisi zero waste ( nir limbah ). Uraian di atas memberi landasan untuk merumuskan kembali definisi limbah yaitu materi, energi, informasi yang berada pada ruang - waktu yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Kalau kita dapat mengubah ketidaksesuaian itu menjadi kesesuaian, maka sesuatu itu bukan lagi disebut limbah. Suatu mobil baru diletakkan di puncak gunung yang tidak ada jalan raya, tidak ada bengkel dan mekanik, tidak ada SPBU ( Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum ), tidak ada toko sparepart, maka mobil itu jadi limbah. Mobil bekas sekalipun jika berada di suatu kota yang lengkap infrastruktur dan jaringan utilitasnya, maka mobil itu dapat dijadikan sarana angkutan dan tidak menjadi limbah. 


Riset dan Inovasi Sebagai Basis Teknologi

Teknologi, terutama teknologi tinggi, canggih dan rumit pasti dihasilkan dari kegiatan riset. Riset yang bermutu tinggi akan menghasilkan inovasi. Inovasi akan melahirkan teknologi dan teknologi akan menghasilkan nilai tambah. Semua negara yang maju secara teknologi pasti sangat aktif melakukan kegiatan riset. Kegiatan riset dapat berkembang jika ada dukungan penguasaan ilmu ilmu dasar seperti fisika, kimia, biologi dengan beragam cabang keilmuannya. Ilmu ilmu dasar itu perlu dilengkapi dengan penguasaan matematika dan statistik untuk aktivtas komputasi. Tanpa penguasaan ilmu ilmu dasar maka jangan berharap akan dihasilkan riset bermutu tinggi. Tanpa riset yang maju, jangan berharap mampu menguasai teknologi dan tanpa teknologi, tidak ada nilai tambah yang dihasilkan. 


Teknologi Sebagai Unsur Kebudayaan

Kebudayaan diartikan sebagai pedoman, panduan, petunjuk cara berpikir, berbicara, bersikap dan bertindak. Kebudayaan tidak hanya diartikan sebagai produk, kata benda, tetapi juga proses dan kata kerja. Kesenian adalah bagian dari kebudayaan. Demikian juga dengan teknologi, bahasa, sistem nilai / norma, hukum, sistem kekerabatan, sistem ideologi dan seni. Unsur unsur kebudayaan ada yang bersifat tangible ( materi ) dan intangible ( non materi ). Unsur Kebudayaan yang paling mudah diobsevasi, diukur adalah yang bersifat tangible. 

Materi, energi dan informasi adalah unsur yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Materi dan energi dibutuhkan sebagai masukan bagi proses metabolisme tubuh dan energi dibutuhkan sebagai motor penggerak kehidupan. Kemampuan tiap orang atau tiap bangsa dalam memperoleh energi, mengendalikan dan memanfaatkan energi tidak sama. Unsur Kebudayaan yang paling banyak bersentuhan dengan energi adalah teknologi. Teknologi dapat dijadikan patokan untuk menilai tingkat kemampuan seseorang atau kelompok orang dalam memperoleh, mengendalikan dan memanfaatkan energi. Energi dapat dijadikan indikator untuk mengukur tingkat Kebudayaan suatu bangsa. Satuan ukuran parameter yang digunakan untuk mengukur kuantitas energi yang dikendalikan dan dimanfaatkan adalah kalori, kilo watt / jam ( Kwh ). Kebutuhan akan makanan, pakaian, perumahan dapat dikonversi ke dalam satuan energi. Makin tinggi konsumsi energi suatu bangsa, maka makin tinggi tingkat kebudayannya. Misalnya bangsa Indonesia rata rata mengkonsumsi energi per tahun sebesar 4 jua kalori yang distribusi peruntukannya pada sektor pangan, sandang, papan, transportasi. Mungkin bangsa Amerika memiliki tingkat konsumsi energi 40 kali lipat, karena seluruh gerak langkahnya ditopang oleh energi. Misalnya untuk aktivitas memasak, mencuci, setrika, menyapu,  pemanas / pengatur suhu, frekuensi lalu lalang penggunaan lift, transportasi dan sebagainya. Gagasan mengukur tingkat Kebudayaan dengan menggunakan indikator pemanfaatan energi pertama kali diajukan oleh ahli antropologi bernama Leslie White  dan kemudian disempurnakan oleh para muridnya yang bernama Marshal Sahlins dan Elman Service. Parameter energi hanya efektif, valid untuk mengukur unsur kebudayaan yang bersifat tangible. 

Selain pemanfaatan energi, ada parameter lain yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan kebudayaan, yaitu kemampuan menciptakan nilai tambah. Nilai tambah yang dihasilkan dapat diukur dengan nilai uang dalam  satuan mata uang tertentu, seperti rupiah, dollar dan euro. Makin tinggi nilai tambah yang dapat dihasilkan suatu bangsa maka makin tinggi kebudayaannya. 


Epilog

Tulisan di atas merupakan rintisan awal kajian menentukan parameter terukur tingkat Kebudayaan yang bersifat tangible. Parameter pemanfaatan energi sudah lama dikenal. Penulis mengembangkannya dengan memasukkan indikator nilai tambah. Indikator nilai tambah perlu diuji coba dalam penelitian empirik untuk mendapat dukungan agar dapat masuk ke dalam perbendaharaan keilmuan. Verifikasi suatu metode dan konsep wajib dilakukan agar khazanah ilmu pengetahuan dapat maju selangkah. Perjumpaan penulis dengan para teknisi lapangan bidang telekomunikasi telah memberi inspirasi untuk membuka area baru kajian kebudayaan  yang belum pernah dieksplorasi. 



Comments

Popular Posts