TUAN MUDA HANDZIRIS : LEGENDA DARI SPOORDEX
Prolog
Sejak abad XVI kota Banda Aceh ( ibu kota kerajaan Aceh Dar As Salam ) sudah menunjukkan ciri sebagai kota kosmopolitan. Dibandingkan dengan kota kota besar di Republik, Banda Aceh di masa lalu masih lebih modern ditinjau dari aspek supra struktur dan tentu saja tidak dapat dibandingkan dari segi infra struktur kota modern di masa kini. Salah satu ciri suprastruktur yang dimaksud adalah indeks toleransi di antara warga kota, penghargaan kepada sifat egaliter. Beberapa jabatan strategis sering diduduki oleh orang asing. Jabatan Syahbandar ( Kepala pelabuhan ), Diplomat, Penasehat sultan, Penerjemah sultan, Kadhi Malikul Adil ( Hakim ). Warga asing yang pernah menduduki jabatan tinggi di ibu kota antara dari India, Arab, Eropa, Yahudi.
Pada masa kemunduran kerajaan Aceh, tidak diketahui dengan pasti apakah orang asing masih diberi jabatan prestisius itu. Pada masa perang Aceh melawan Belanda pada akhir abad XIX dan awal abad XX, orang asing yang masuk ke Aceh hampir seluruhnya berstatus anggota militer. Setelah tahun 1904, situasi Aceh mulai tenang dan terkendali. Kemudian mengalir lagi gelombang migrasi bangsa asing ke Aceh. Diantara warga asing itu banyak orang Yahudi menetap di Banda Aceh. Mereka umumnya terdiri dari dua kelompok besar yaitu Azkhenazim ( Eropa ), berasal dari Rumania, Ukraina, Rusia, Austria, Jerman, Belanda dan Shepardim ( negara negara di sekitar Laut Tengah ), Maroko, Aljazair, Tunisia, Italia, Yunani. Mereka menekuni beragam profesi, seperti penasehat militer, bankir, pengusaha. Beberapa pengusaha mencapai kesuksesan di antaranya Tuan tanah Bolchover, Opa Nooi ( pemilik jaringan kompleks pertokoan, terutama di kampung Kedah, kebun kelapa ), Jan Alberti ( pemilik jaringan pertokoan di kawasan Peunayong, kebun kelapa, tambak ikan, panglong, apotek, bioskop, studio foto, Tuan Muda Handziris ( pemilik jaringan rumah sewa. kebun kelapa ). Di Banda Aceh populasi orang Yahudi mencapai antara 250 - 300 orang dan kuburan Yahudi di kompleks kherhof berjumlah lebih dari 25 makam. Tulisan ini khusus mengisahkan seorang bernama
Petros Franxiscus Handziris.
Profil Tuan Muda Handziris
Petros Franxiscus Handziris lahir tahun 1883 di Tinos, sebuah pulau kecil indah bagian dari Kepulauan di laut Aegea, Yunani Selatan. Dari nama depannya Petros, jelas menunjukkan asal daerahnya, bukan Itali ( Petrus ), atau Eropa Barat ( Peter ). Keluarga Handziris merupakan keturunan Yahudi Shepardim yang sudah berabad abad menetap di Tinos. Tinos sekarang adalah salah satu resort pariwisata terkenal dengan pantai pasir putih dan laut biru yang indah. Tahun 1900 dalam usia 17 tahun Handziris merantau ke Hindia Belanda, dengan tujuan kota Medan. Di Medan dia tinggal bersama pamannya yang berprofesi sebagai pengusaha properti. Paman Handziris memiliki banyak rumah sewa berbentuk couple ( kopel ), dua rumah yang berdempet salah satu sisi dindingnya, memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Selama tujuh tahun Handziris belajar jadi pengusaha properti. Setelah ilmunya dianggap cukup mumpuni, pamannya menyuruh Handziris mandiri, diberi modal yang cukup untuk membuka usaha jaringan rumah sewa di Kuta Raja ( Banda Aceh ). Situasi Aceh yang mulai tenang setelah perang selama puluhan tahun, mulai ramai dikunjungi dan kegiatan bisnis mulai berkembang. Peluang ini dengan jeli dimanfaakan oleh Handziris dengan membangun jaringan rumah sewa, dan kemudian dia dikenal sebagai juragan bisnis rumah sewa. Setelah berhasil, Handziris mengundang abang kandungnya dari Tinos untuk menetap di Banda Aceh. Keduanya di kenal dengan julukan Tuan Muda. Bagaimana membedakan ke dua bersaudara yang memiliki julukan yang sama?. Ini salah satu keunikan penggunaan gelar Tuan Muda. Yang tua diberi julukan Tuan Muda Tua dan yang muda disebut Tuan Muda Muda. Memang terdengar aneh cara memaknai dua fenonena yang berbeda ( tua dan muda ) dengan lafal fonem yang sama, ( muda ). Penyebutan Tuan Muda untuk keduanya mungkin ada hubungannya dengan cara hidup selibat ( hidup membujang ) yang dilakoninya. Penulis tidak pernah bertemu dengan Handziris muda, karena dia sudah wafat pada tahun 1960 dalam usia 77 tahun dan dimakamkan di Kerkhof ( kuburan orang Eropa ) di Banda Aceh. Kemudian Handziris tua pindah dan menetap di Medan hingga wafatnya tahun 1975 dalam usia 95 tahun. Penulis pernah berjumpa dengan Handziris tua di Medan di sebuah rumah di jalan Kapitan Patimura.
Foto No. 1 : Tinos, Yunani, kampung halaman Tuan Muda Handziris
Sumber : Google
Bisnis Rumah Sewa Tuan Muda Handziris
Handziris mulai membangun jajaran rumah sewa pertama kali tahun 1907 di sebuah jalan melingkar di tepi tanggul rel kereta api. Rel kereta api dibangun di atas tanggul buatan dari tanah. Kapling tanah itu disebut Spoordex. Sebutan itu terdiri dari dua kata spoor ( kereta api ) dan dex ( tanggul ). Rumah yang dibangun tipe kopel, di sisi Utara terdiri dari 15 unit ( 30 rumah ) dan sisi Selatan terdiri dari 10 unit ( 20 rumah ). Kompleks spoordex tergolong perumahan mewah pada masanya, walaupun terbuat dari kayu. Bangunan rumah bergaya Indies dengan serambi luas di bagian depan, jendela besar dan tinggi di bagian depan terbuat dari kaca dan jendela di bagian samping terbuat dari dari kayu ( jendela berbentuk seperti sisir ) . Penghuni kluster spoordex adalah pengusaha, pejabat sipil dan militer.
Selain kluster spoordex, kompleks rumah sewa milik Handziris juga terdapat di jalan Merduati terdiri dari 6 unit ( 12 rumah ), dan beberapa unit terdapat di jalan Cut Meutia, dekat kantor Bank Indonesia. Tuan Muda Handziris dan abangnya menetap di salah satu rumah di spoordex. Properti lain yang dimiliki oleh Handziris adalah jajaran pertokoan, di Peunayong dan Kedah, kebun kelapa, tanah di daerah Olleuleueh dan Darussalam.
Foto No 2 : Jajaran rumah kopel sewaan di kluster Spoordex, Banda Aceh.
Sumber : Google
Penampilan Flamboyan Tuan Muda Handziris.
Siapa yang tak kenal dengan Tuan Muda Handziris?. Namanya beken di seantero kota Banda Aceh. Flamboyan, perlente, tampan, ramah, suka tersenyum kepada siapapun yang berpapasan dengannya, selalu menegur sapa lebih dulu. Sosoknya mudah dikenali dan memiliki ciri khas yang menjadi trade marknya. Semua orang dari tua, dewasa, muda, bahkan anak anakpun mengenali sosok Tuan Muda Handziris. Sehari hari Handziris mengenakan seragam kebesarnnya, baju putih polos model safari, celana pendek warna putih sebatas lutut, mengenakan kaos kaki tinggi menutupi betis, sepatu putih, memakai topi berterpi lingkaran warna putih, seperti yang dikenakan para pejabat Belanda. Kendaraan yang paling disukainya adalah sepeda mahal merek Raleigh. Dengan penampilan seperti itu Tuan Muda Handziris menjadi tokoh selebriti di Banda Aceh, hilir mudik di sekeliling kota, bergantian dengan abangnya mengontrol propertinya, termasuk mengutip uang sewa, karena mereka tidak memiliki pegawai. Walaupun dikenal sebagai orang yang sangat ramah dan mudah tersenyum, Tuan Muda Handziris sangat hemat dan pelit bicara. Jika ditanya, mereka menjawab singkat dan seperlunya saja. Pada tanggal 19 April 1960 Tuan Muda Handziris wafat dan dikebumikan di kompleks makam Kerkhof Pocut, di daerah Blower. Blower berasal dari nama Tuan Tanah asal Rumania keturunan Yahudi yang menguasai tanah tanah luas di Banda Aceh, bernama Meir Bolchover. Kuburannya satu kompleks dengan Handziris. Makam keduanya mudah dikenali. Makam Meir Bolchover berkumpul dalam kluster makam Yahudi, letaknya di bagian belakang. Makam Handziris terletak di sebelah kiri dekat pintu gerbang masuk kompleks. Dilihat dari ornamen makamnya, Tuan Muda Handziris adalah anggota persaudaraan kuno, Iluminati, Free Mason. Hal ini dapat dilihat dari simbol mata satu dan huruf X di bagian timpanom nisan. makam.
Foto No 3 : Kuburan Tuan Muda Handziris di kompleks Kerkhof Banda Aceh
Sumber : Wirtjes ( 2021 )
Warisan Monumental Tuan Muda Handziris ( Epilog )
Ketika Tuan Muda Handziris wafat, ribuan orang warga kota Banda Aceh melepas kepergiannya menuju kompleks makam. Semua warga kota merasa kehilangan warga kotanya yang dikenal santun dan baik. Sejak itu satu persatu aset milik Tuan Muda Handziris berganti kepemilikan melalui proses jual beli. Sekarang sebagian besar jajaran rumah sewanya sudah berubah wujud menjadi kompleks pertokoan. Beberapa unit masih dapat dikenali bentuk aslinya. Ketika Tuan Muda Tua masih hidup, proses pengalihan hak milik atas aset Tuan Muda Handziris masih berjalan relatif mudah. Setelah wafatnya Tuan Muda Tua, proses itu lebih sulit, karena harus mendatangkan ahli warisnya di Yunani.
Masih ada warisan monumental yang diberikan oleh Sang Flamboyan Tuan Muda Handziris untuk negeri Aceh yang dicintainya, tempat dia melewati sebagian besar masa hidupnya. Handziris menghibahkan seluruh tanahnya di Darussalam untuk dijadikan tapak lokasi berdirinya KOPELMA DARUSSSLAM ( Kota Pelajar dan Mahasiswa Darussslam ). Di lokasi itu pada tahun 1959 Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Sukarno meresmikan berdirinya Universitas Syah Kuala. Tanah itu dihibahkan oleh Tuan Muda Handziris setahun sebelum wafatnya. Seluruh dosen, pegawai, mahasiswa dan alumni Universitas Syah Kuala berhutang budi kepada Sang Legenda Spoordex
.
Foto No.4 : Kampus Universitas Syah Kuala di Darussslam, Banda Aceh
Sumber : Google




.png)

Comments
Post a Comment