KUALA BATEE : JEJAK AGRESI AMERIKA SERIKAT DI ACEH
Prolog
Pada pertengahan tahun 1970 penulis sekeluarga mudik ke kampung mami di Blang Pidie, yang sekarang menjadi ibu kota kabupaten Aceh Barat Daya, hasil pemekaran dari kabupaten Aceh Selatan. Kami berada di kampung selama 2 minggu dan selama itu pula merasa jadi tamu kehormatan . Setiap hari 2 sampai tiga keluarga dan sanak famili menjamu kami. Pada waktu itu, penulis sering mendengar kisah yang melegenda tentang kerajaan Kuala Batee. Kerajaan itu dibombardir dengan hujan tembakan meriam dari kapal perang Amerika Serikat hingga rata dengan tanah. Menurut penuturan para orang tua, letak pusat kerajaan itu tidak jauh dari Blang Pidie. Setiap kali penulis minta diantar ke tempat yang dimaksud, tetapi selalu dijawab bahwa bekas bekasnya sudah tidak ada lagi. Sampai hari kepulangan kami, keinginan melihat tapak lokasi kerajaan Kuala Batee tidak terpenuhi.
Setelah tiba di Medan, cerita tentang kerajaan Kuala Batee terus teringat dan tidak pernah terlupakan. Semakin banyak belajar berbagai ilmu pengetahuan, kisah kehancuran kerajaan Kuala Batee makin mendapat konfirmasi positif. Bukti bukti keberadaan Kuala Batee makin bertambah banyak. Pengetahuan itu hanya beredar di sekelompok kecil orang. Selama hampir dua abad, ada upaya beberapa pihak untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Ternyata pemerintah Ametika Serikat di bawah rejim presiden Andrew Jackson ( 1829 - 1837 ) dari partai Demokrat pernah melakukan agresi kejam di bumi Aceh. Media massa ditekan oleh pemerintah agar tidak memberitakan kejadian itu. Penulis tetap percaya dengan kebenaran prinsip sains modern bahwa alam adalah penyimpan jejak terbaik. Prinsip itu kemudian menuntun penulis melacak, menelusuri jejak kejahatan negara adi kuasa terhadap sebuah negara kecil yang sudah dilupakan orang.
Awal Munculnya Kerajaan Kuala Batee
Kuala Batee muncul dari puing kehancuran kerajaan Lama Tuha yang diterjang banjir besar pada tahun 1740. Seorang perantau dari Pidie bernama Tengku Syik Karim mendapat ijin dari Ulebalang ( Kepala Negeri ) Susoh ( dekat Blang Pidie ) untuk membuka perkebunan lada yang kemudian berkembang menjadi negeri Lama Muda dengan pelabuhan Kuala Batee sebagai bandar utama. Pada perkembangan berikutnya, negeri Tuha Muda berdiri sendiri, dengan Kuala Batee menjadi ibu kotanya, berbatasan langsung dengan negeri Susoh. Ulubalang Susoh dan Kuala Batee tunduk kepada Sultan Aceh Dar As Salam di Banda Aceh. Pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX, pelabuhan Kuala Batee menjadi pusat perdagangan lada di pesisir Barat Sumatera. Kota Salem di negara bagian Massachusetts berkembang menjadi kota yang makmur berkat perdagangan lada dengan Kuala Batee. Hal ini ditandai oleh tampilan segel resmi kota Salem. Setiap tahun rata rata 4 kapal layar bertiang tiga ( galleon ) bermuatan penuh lada hitam ( piper nigrum ) dipasok dari Kuala Batee ke kota Salem selama 47 tahun.
Sengketa Dagang Sebagai Awal Kehancuran Kuala Batee
Pada tanggal 6 Februari 1831 kapal dagang bernama Friendship dari Salem yang dinakhodai oleh kapten Charles Moore Endicott sedang berlabuh di Kuala Batee untuk memuat lada. Ketika kapten sedang berada di darat, terjadi insiden pembajakan kapal Friendship oleh penduduk lokal. Kapal dapat dibebaskan, tetapi 3 orang awak kapal terbunuh dan kerugian materi ditaksir berjumlah 50.000 US $. Ketika kapal tiba di Salem, berita pembajakan tersebut segera menyebar ke seluruh negeri. Petistiwa itu menimbulkan beragam reaksi di Kongres, Senat dan kabinet Presiden Adrew Jackson. Presiden segera memerintahkan Menteri Angkatan Laut John Branch menyusun rencana invasi ke Kuala Batee untuk melakukan tindakan balasan. Tindakan keras harus diambil untuk menjadi pelajaran bagi negara manapun agar tidak bertindak semena mena terhadap negara Amerika Serikat. Angkatan Laut segera mengirim satu kapal perang jenis fregat yang paling canggih dan baru diluncurkan dari galangan kapal yang diberi nama USS Potomac. Nama itu diambil dari nama sungai yang melintas di ibu kota Washington DC. Kapal perang USS Potomac dipimpin oleh Laksamana John Downes meninggalkan pelabuhan Boston pada tanggal 29 Agustus 1831, mengambil rute menyeberangi Samudera Atlantik, melewati Tanjung Harapan, masuk ke Samudera Hindia dan pantai Barat Sumatera dan berlabuh di Kuala Batee Pada tanggal 5 Februari 1832
Menurut sumber sumber lokal dan Belanda pembajakan kapal dagang Friendship dipicu oleh ketidakpuasan penduduk lokal terhadap pedagang Amerika yang melakukan penipuan dalam satuan ukuran bobot timbangan. Penduduk yang merasa dirugikan melakukan penyerangan ke kapal, dipimpin oleh Lahuda Langkap, membunuh 3 orang kelasi dan merampas uang. Sebenarnya Laksamana John Downes tidak berniat langsung melakukan tindakan kekerasan, tetapi kapten kapal Friedship memprovokasinya dengan mengatakan bahwa penguasa Kuala Batee tidak bakal mau membayar kerugian akibat pembajakan. Keterangan itu diperkuat oleh penduduk lokal bernama Poh Adam yang dijadikan narasumber.
Pada tanggal 6 Februari 1832 Laksamana John Downes memerintahkan satu detasemen marinir melakukan pendaratan dan pengintaian, lalu disusul dengan pendaratan 260 orang pasukan marinir. Mereka segera menyerang sebuah benteng, salah satu dari 5 benteng di Kuala Batee. Pasukan itu berhasil membunuh seorang Ulubalang berikut 150 orang pasukannya. Sementara korban di pihak Amerika Serikat 2 orang terbunuh dan 11 luka luka. Melihat perbandingan angka korban, jelas sekali itu bukan peperangan tetapi pembantaian. Penyerangan itu tidak didahului dengan pengumuman perang sebagaimana layaknya dua pihak yang akan berperang. Persenjataan ke dua pihak juga sangat tidak seimbang. Laksamana John Downes kemudian menarik pasukannya ke kapal dan memerintahkan pemboman dari meriam kapal ke seluruh kota. Akibatnya nyaris semua bangunan di Kuala Batee hancur rata dengan tanah dan korban meningkat menjadi 450 orang tewas. Raja Kuala Batee langsung menyerah tanpa syarat. Tindakan Raja Kuala Batee segera diikuti oleh para raja tetangga, agar tidak menjadi sasaran serangan berikutnya. Setelah membumi hanguskan Kuala Batee, kapal USS Potomac segera kembali ke Boston lewat Samudera Pasifik. Kuala Batee tenggelam dan tidak pernah bangkit kembali. Pelabuhannya ditinggalkan oleh para pedagang dan dilupakan.
Kuala Batee Dalam Budaya Pop
Selama hampir dua abad aksi agresi Amerika Serikat yang brutal terhadap Kuala Batee berhasil ditutup rapat dari media. Pada tahun 1986 sekelompok anak muda Amerika mendirikan sebuah grup band yang dinamakan Quallah Battoo . Bunyi dari tulisan itu jelas sekali berhubungan dengan toponim di Aceh Barat Daya, Kuala Batee ( Kuala Batu ). Tidak diketahui dari mana kelompok band itu mendapat inspirasi dalam memilih nama. Ada dugaan bahwa ketika terjadi perdebatan di Kongres Amerika Serikat mengenai sikap yang bakal diambil sehubungan dengan peristiwa pembajakan kapal dagang Friendship. Momen kejadian itu mungkin sempat diberitakan di koran lokal dan masih tersimpan di arsip museum atau perpustakaan Kongres yang legendaris. Berita itu mungkin terbaca oleh para pemuda yang kemudian mendirikan grup band dengan nama Kuala Batee. Pada tahun 2017 seorang bernama Dr. Ronald Stephen Knapp menulis sebuah novel dengan judul Quallah Battoo. Novel itu mengangkat kisah agresi Amerika Serikat ke Kuala Batee.
Epilog
Peristiwa agresi Amerika Serikat di Kuala Batee memberi pelajaran penting bahwa tindakan kekerasan yang ditimpakan pada satu pihak pasti akan memicu tindakan kekerasan lain. Dalam interaksi antar individu atau antar kelompok, pasti berpotensi untuk terjadinya konflik. Fenomena konflik didasari oleh mekanisme deterministik, acak dan gabungan keduanya. Untuk meminimalisir potensi dan peluang terjadinya konflik adalah mengoptimalkan kemampuan bicara dan diplomasi. Berbicara menjadi sangat penting dalam bernegosiasi, agar kepentingan satu pihak atau dua pihak dapat terakomodasi tanpa harus menggunakan kekerasan. Hanah Arendt, Filsuf besar wanita dari era kontemporer sudah menguraikan dasar filosofi secara panjang lebar tentang manfaat besar kemampuan berbicara untuk memaksa / meyakinkan orang agar mau secara sukarela melakukan apa yang dinginkan oleh pembicara. Otak dan mulut harus didahulukan sebelum mempertimbangkan tindakan kekerasan. Ada kalanya kekerasan terpaksa digunakan sebagai langkah terakhir untuk memecahkan kebuntuan. Pada tahap ini Otto von Bismarck. kanselir Kekaisaran Jerman berkata, ketika debat adu argumentasi di Sidang Parlemen atau meja perundingan yang bertele tele tidak membuahkan keputusan maka yang diperlukan adalah besi dan darah.











.png)

Comments
Post a Comment