ASAL USUL ETIKA DAN MORAL MANUSIA
Prolog
Beberapa hari yang lalu seorang sahabat menanyakan pendapat penulis tentang pandangan sains tentang etika dan moral. Pertanyaan itu mendorong penulis berpikir serius untuk menjawab pertanyaan itu. Dorongan untuk menulis topik etika dan moral juga dipicu oleh karena dua bulan terakhir masyarakat di Republik dihujani dengan ke dua istilah itu di berbagai media, terkait dengan pemilu Calon Presiden / Wakil Presiden. Pemilu itu dianggap oleh sebagian kecil orang cacat secara etika dan moral. Keabsahan hasil pemilu digugat, dituntut agar diulang dan agar salah satu pasangan calon didiskualifikasi. Tulisan ini menggunakan pendekatan natural sains untuk menjawab pertanyaan di atas. Dari diskusi dengan beberapa sahabat, mereka merasa heran sambil bertanya apakah pendekatan natural sains dapat menjelaskan fenomena sosial humaniora. ?. Untuk dapat menjawab pertanyaan itu, penulis menekuni literatur ilmu - ilmu biologi, arkeologi, filsafat.
Hasilnya memberi petunjuk bahwa untuk menjawab pertanyaan asal usul etika dan moral manusia, kita cukup menggunakan pengetahuan sains modern tanpa perlu mencari pengetahuan yang bersifat teleologis dan tidak perlu merujuk pada sumber sumber kitab langit. Selama ini dianggap isu tentang etika dan moral adalah area rohani, dan pengetahuan tentang hal itu hanya dapat diperoleh dengan bimbingan kitab langit. Sains dianggap tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk membahasnya. Pandangan ini dilandasi oleh pikiran bahwa yang paling mengetahui tentang sosok manusia adalah Sang Maha Pencipta. Pengetahuan tentang manusia diberikan lewat kitab suci. Di dalam kitab suci terdapat semua pengetahuan tentang segala hal. Sebenarnya tidak demikian, kitab suci hanya memuat isyarat isyarat tertentu tentang sesuatu, bukan informasi yang komplit, detail dan sudah / dapat diuji secara empirik.
Kajian Antropologi Biologi, khususnya biologi evolusioner dan ilmu perilaku memberikan pemahaman bahwa sifat sifat dasar kemanusiaan yang wujudnya terlihat seperti sekarang, tidak muncul seketika, sekaligus secara instan seperti paket hadiah dari langit. Sifat sifat itu berakar di bumi, khususnya benua Afrika, dibentuk oleh jaringan interaksi rumit di antara puluhan / ratusan variabel dalam proses selama jutaan tahun melalui mekanisme determinisme, acak dan gabungan keduanya. Proses terbentuknya etika dan moral manusia, bermula dari fenomena alam yang sangat mendasar dan menjadi tema dasar alam semesta. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan campur tangan Illahiah. Pada bagian awal diuraikan definisi konseptual etika dan moral yang berbasis ilmu filsafat. Uraian tersebut sama sekali tidak menjelaskan proses terbentuknya etika dan moral pada manusia. Pada bagian berikutnya diuraikan proses terbentuknya etika dan moral berdasarkan ilmu biologi.
Definisi Konseptual
Etika
Pengertian Etika ( etimologi ), berasal dari bahasa Yunani ,“Ethos” yang berarti hati nurani ataupun perikelakuan yang pantas ( atau yang diharapkan ). Menurut Baker ( 2008 ), konsep dasar etika adalah "harus" dan "wajib" dalam kehidupan. Etika juga berhubungan dengan nilai-nilai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima. Istilah "etika" bukan hanya sekadar ungkapan, hal ini mengacu pada pemahaman dan penerapan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari ( Baker, 2008 ). Ada banyak jenis etika dan kebajikan yang berbeda dari satu situasi ke situasi lainnya. Aristoteles mengatakan ada dua hal dalam jiwa manusia. Yang pertama terlibat dalam penalaran dan yang kedua dalam hal "yang tidak bisa bernalar sendiri" ( Kraut, 2010 ). Untuk menjadi "bermoral dan bijaksana secara praktis" , kita harus melalui dua tahap, yaitu mengembangkan kebiasaan yang baik sejak kecil dan mendapatkan "kebijaksanaan praktis" ( Kraut, 2010 ). Ketika keduanya bersatu, barulah kebajikan etis berkembang sepenuhnya ( Kraut, 2010 ). Etika merupakan bagian integral dari hukum dan politik sosial. Dalam etika normatif, tindakan benar dan salah diturunkan dan didefinisikan. Etika deskriptif meneliti konsep protokol dan estetika ( Dan, 2001 ). Etika terapan menyelidiki keberhasilan atau kegagalan teori etika dalam situasi sehari-hari. Etika masuk untuk mengidentifikasi tindakan terbaik yang mungkin dipilih ( Dan, 2001 ).
Jenis - Jenis Etika
Etika dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Etika Deskriptif, merupakan penggambaran atau pelukisan tingkah laku moral. Secara kritis, rasional dan secara menyeluruh atau universal. Etika deskriptif tidak memberikan penilaian, tetapi menggambarkan atau pelukisan moralitas pada individu tertentu, kebudayaan tertentu dan dalam waktu tertentu. Etika deskriptif berkaitan dengan adat istiadat, kebiasaan, anggapan baik ataupun buruk, tindakan yang diizinkan dan yang tidak diizinkan untuk dilakukan dalam suatu kebudayaan dan subkultur tertentu yang terjadi pada suatu periode sejarah.
2. Etika Normatif, merupakan penilaian tentang perilaku manusia dan juga memberi norma yang menjadi kerangka atau dasar perilaku. Etika normative bersifat memerintahkan, tidak melukiskan melainkan menentukan benar tidaknya suatu tindakan / suatu perilaku. Etika normatif mengandung argumentasi atau alasan atas dasar norma atau latar belakang perilaku bisa dianggap baik atau buruk, disertai dengan analisis moral dan dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam praktek.
3. Metaetika, berasal dari bahasa Yunani yaitu kata ‘meta’ yang berarti melebihi atau melampaui. Metaetika merupakan kajian dari etika deskriptif dan normatif. Metaetika mempelajari tentang logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Metaetika menjelaskan mengenai ciri-ciri dan istilah yang berkaitan dengan tindakan moral.
Moral:
Kata moral berasal bahasa latin ‘’mos’’, yaitu kebiasaan. Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Moral menurut Baker ( 2008 ), adalah prinsip-prinsip etis yang selalu sama. Moralitas juga bisa bersifat deskriptif, meneliti perilaku masyarakat. Pengertian normatif, melekatkan kondisi khusus pada makhluk yang berakal ( Gert, 2008 ). Moralitas adalah istilah yang lebih ambigu, karena "sering dibedakan dari etiket, hukum, dan agama" yang merupakan kode perilaku yang diusulkan oleh masyarakat. Pengertian moralitas secara deskriptif juga digunakan untuk merujuk pada sikap utama individu ( Gert, 2008 ). Hal ini dapat sangat berbeda dalam konten dan landasan di dalam masyarakat. Moralitas didasarkan pada pengertian menghindari kerusakan, luka, atau cedera ( Gert, 2008 ). Namun, baik secara deskriptif maupun normatif mengacu pada panduan yang sebagian "menghindari dan mencegah bahaya pada orang lain" ( Gert, 2008 ). Perbedaan antara etika dan moral adalah bahwa sementara moral mendefinisikan karakter kita sendiri, etika menentukan kerja internal dari sistem sosial ( Gert, 2008 ). Etika didasarkan pada kode moral yang diadopsi oleh anggota kelompok tertentu ( Gert, 2008 ).
Ciri moral:
Menurut K Bertens, ciri-ciri nilai moral adalah berkaitan dengan tanggung jawab. Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia, namun lebih spesifik lagi berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggung jawab. Nilai moral mengakibatkan seseorang bersalah atau tidak bersalah, karena dia bertanggung jawab. Ciri lain adalah berkaitan dengan hati nurani. Ciri khas nilai moral adalah hanya nilai inilah yang menimbulkan suara dari hati nurani, baik yang menuduh, karena orang meremehkan atau menentang nilai – nilai moral atau memuji bila orang mewujudkan nilai – nilai moralnya
Mewajibkan
Nilai moral mewajibkan secara absolut dan tak bisa ditawar-tawar. Sebagai contoh adalah bila seseorang memiliki nilai estetis, maka dia akan menghargai lukisan yang bermutu, sebaliknya orang lain boleh saja tidak menghargai lukisan tersebut. Namun pada nilai moral, orang harus mengakui dan harus merealisasikan. Kewajiban absolute melekat pada nilai-nilai moral, karena nilai nilai ini berlaku bagi manusia.
Bersifat formal
Filsuf Max Scheler menyatakan bahwa nilai-nilai moral membonceng pada nilai-nilai lain. Hal ini berarti dalam merealisasikan nilai-nilai moral seseorang mengikut sertakan nilai-nilai lain dalam suatu komunitas.
Jenis - Jenis Moral
Moralitas objektif adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai suatu tindakan yang telah dikerjakan, bebas dari pengaru pihak pelaku. .
Moralitas subyektif adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai tindakan yang dipengaruhi pengertian dan persetujuan si pelaku sebagai individu, dalam hal ini dipengaruhi latar belakang pendidikan dan sifat pribadi.
Moralitas intrinsik adalah moralitas yang memandang perbuatan menurut hakikatnya bebas dari setiap bentuk hukum positif.
Moralitas ekstrinsik adalah moralitas yang memandang perbuatan sebagai sesuatu yang diperintahkan atau dilarang oleh seseorang yang berkuasa atau hukum positif, baik dari manusia atau dari Tuhan.
Perbedaan Etika dan Moral
Perbedaan antara etika dan moral adalah bahwa sementara moral mendefinisikan karakter kita sendiri, etika menentukan kerja internal dari sistem sosial. Etika didasarkan pada kode moral yang diadopsi oleh anggota kelompok tertentu ( Gert, 2008 ).
Perubahan Sebagai Causa Prima
Perubahan adalah tema dasar alam semesta. Semua yang ada di alam pasti berubah, tidak ada yang statis, sehingga muncul ungkapan : hanya satu yang abadi, yaitu perubahan itu sendiri. Perbahan pasti menimbulkan variasi dan variasi pasti memberikan peningkatan pada jumlah jenis dan jumlah satuan. Jumlah jenis dan jumlah satuan yang meningkat, pasti akan menimbulkan kerumitan dan kompleksitas. Dalam situasi dan kondisi yang serba kompleks, maka pasti menimbulkan kesulitan dalam menghitung jumlah dan mengidentifikasi variabel. Lebih sulit lagi menentukan nilai dari tiap variabel. Untuk memahami kompleskitas dibutuhkan data dalam jumlah besar berikut sarana pengolahan data agar dapat memerikan situasi kompleksitas. Sarana dimaksud adalah metode pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, teknik perhitungan, peralatan instrumentasi. sistem aksara, tulisan dan numerik.
Berikutnya, kompleksitas pasti menimbulkan situasi ketidakpastian ( unpredictable ). Dalam kondisi sederhana, segala sesuatu mudah dihitung, diramalkan. Kesulitan meramalkan sesuatu akan meningkat, seiring dengan meningkatnya derajat kompleksitas. Perilaku alam menjadi lebih sulit diramalkan. Dalam situasi ketidakpastian, orang dihadapkan pada kondisi kecemasan, kegelisahan, ketakutan. Apa saja yang didapat pada hari ini, belum tentu akan didapatkan lagi pada esok hari. Akibatnya orang saling berlomba, berpacu mengumpulkan sumberdaya sebanyak banyaknya selagi masih ada kesempatan. Dalam perlombaan itu orang saling berebut, jegal menjegal, sikut, menyikut, saling menjatuhkan. Orang yang punya nyali dan kuat akan mendapatkan lebih banyak dari orang yang lebih lemah. Terjadi efek menimbun stock diikuti oleh efek histeria. Orang yang tidak mendapat bagian atau mendapat sedikit, pasti tidak tinggal diam. Mereka menuntut dan menggugat pihak yang memiliki stock berlebih.
Akibat selanjutnya sudah dapat dipastikan akan terjadi konflik dalam berbagai derajat / bobot / magnitude, skala cakupan / ruang lingkup. Sebagai konsekuensi logis dari uraian di atas adalah konflik tidak dapat dihilangkan atau dilenyapkan, karena inheren berada di dalam perubahan. Menghilangkan konflik sama dengan menghentikan perubahan dan itu mustahil dilakukan. Konflik hanya dapat dikelola, agar efek destruktifnya dapat dikurangi. Dengan cara pandang ilmu biologi ini, akan ditelusuri bagaimana proses terbentuknya etika dan moral pada manusia.
Cara Hidup dan Masalah Yang Mendera Manusia
Faktor ketidakpastian menimbulkan dua kondisi pada kehidupan manusia. Jika akibat yang ditimbulkan oleh ketidakpastian bersifat positif maka kondisi itu disebut peluang dan jika bersifat negatif maka disebut risiko. Tujuan manusia mengelola ketidakpastian adalah memperbesar peluang dan memperkecil risiko. Risiko pasti menimbulkan masalah yang dapat mengancam kelangsungan hidup dan eksistensi manusia di alam. Semua mahluk hidup memiliki naluri untuk mempertahankan kehidupannya dan menggandakan genomnya ( peta kode genetik yang terdapat pada tiap pasang untaian kromosom ). Masalah yang dialami manusia dapat datang dari perubahan yang terjadi di alam dan dari konflik di antara sesama anggota komunitas atau dari luar komunitas. Misalnya masalah banjir, kebakaran hutan, konflik perbuatan sumberdaya alam, wabah penyakit dan sebagainya. Tiap masalah berbeda tingkat / derajat / magnitude, intensitas dan frekuensi kejadiannya. Juga berbeda bobot / skala / ruang lingkupnya. Semua perbedaan itu membutuhkan metode penanggulangan yang berbeda beda pula. Semua masalah terutama yang bersksla besar, tidak mungkin dapat diatasi oleh seseorang, atau keluarga, kelompok, komunitas. Masalah besar, menyangkut jumlah orang yang banyak, melingkupi wilayah luas, hanya dapat diatasi dengan adanya kerjasama baik terbatas ataupun tidak terbatas. Kerjasama adalah kata kunci untuk mengatasi berbagai masalah yang mendera manusia. Kerjasama luas melintasi wilayah bentang alam ekosistem, melibatkan multi kelompok / komunitas membutuhkan faktor kesamaan sebagai pengikat. Kesamaan itu dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, kesamaan bahasa, etnik, sistem nilai / norma, agama, ideologi, kisah / legenda / mitos dan kepentingan. Makin banyak persamaan, khususnya kesamaan kepentingan, makin kuat jalinan kerjasama yang dibangun.
Aturan Main Sebagai Sarana Kerjasama
Semua bentuk kerjasama tidak artinya kalau tidak ada aturan main yang mengatur tata cara berinteraksi, berbicara, bersikap, berkelakuan dalam menjalankannya. Aturan main itu harus dibuat, disusun bersama, dikomunikasikan di antara para stakeholder, dipatuhi oleh para pihak yang tetlibat dalam kerjasama. Aturan main itu dapat dirumuskan secara tertulis dan adapula yang disampaikan secara lisan turun temurun antar generasi, yang kita kenal sebagai aturan norma / nilai, mores / folkways, adat, hukum / kodeks, etika dan moral.
Tidak ada mahluk di alam semesta yang dapat hidup sendiri tanpa ditopang, disokong oleh mahluk lain termasuk dalam bentuk mutually simbiosis yang paling sederhana, abstrak, seperti jaringan mata rantai piramida makanan. Oleh karena itu kerjasama di berbagai level, antar individu, kelompok, komunitas, ekosistem, lokal, regional dan global menjadi wajib hukumnya. Kerjasama hanya dapat terjadi, terbina jika ada relasi yang baik di antara para pihak. Relasi yang baik hanya dapat terwujud jika para pihak tidak saling menyakiti, tidak saling merugikan dan mengecewakan. Kata kuncinya adalah berbuat baik kepada semua pihak, sesuai dengan aturan main yang berlaku. Berbuat baik adalah satu satunya pilihan yang tersedia bagi semua mahluk hidup, jika ingin bertahan / survive di alam semesta, bukan karena iming iming pahala dan surga atau ancaman / intimidasi dosa dan neraka.
Komitmen dan Kepatuhan Sebagai Prasyarat
Komitmen adalah deklarasi atau janji yang diumumkan kepada para pihak tentang tekad seseorang, kelompok, komunitas, masyarakat, bangsa, untuk mentaati, mematuhi, menjalankan suatu keputusan / kebijakan, aturan, nilai, norma, mores, folkways, hukum, etika dan moral. Komitmen tetap hanya tinggal sebagai janji kosong tidak bermakna, jika tidak dilandasi oleh kepercayaan dari semua para pihak. Kepercayaan adalah landasan kokoh setiap komitmen yang diucapkan. Kepercayaan tidak datang dari langit, tetapi dihasilkan oleh kepatuhan / ketaatan dari para pihak untuk menjalankan aturan main. Tanpa komitmen dan kepatuhan, seluruh aturan main menjadi pepesan kosong tidak bermakna. Tanpa aturan main maka semua bentuk kerjasama tidak ada artinya. Tanpa kerjasama maka nasib kehidupan sudah diambang kepunahan.
Epilog
Etika dan moral seseorang, kelompok, komunitas dan bangsa diukur dari komitmen dan tingkat kepatuhannya memenuhi komitmen yang sudah dideklarasikan. Komitmen dan Kepatuhan akan memberi jaminan bahwa aturan main dijalankan. Aturan main adalah sarana untuk membangun kerjasama. Kerjasama mutlak dibutuhkan untuk mengatasi masalah yang mengancam eksistensi kehidupan. Masalah terjadi karena alam terus berubah. Perubahan adalah suatu keniscayaan.
Perjalanan menjelajahi lautan sains memberikan wawasan bahwa kehidupan di bumi berasal dan berakar di bumi. Aturan main yang dijalankan juga bukan barang import dari dunia antah berantah, tetapi benihnya disemaikan di bumi, melalui proses yang berlangsung selama jutaan tahun, melalui jalinan rumit interaksi ratusan variabel dan melalui proses mekanisme determinisme, acak dan gabungan keduanya.
.png)

Comments
Post a Comment