PELAJARAN DARI ALAM : MANUSIA HARUS TAHU DIRI
Prolog
Alam adalah sumber pengetahuan yang paling terpercaya, nir bias, tidak punya motif dan kepentingan, menampilkan fakta an sich. Untuk menghampiri pengetahuan dari alam dibutuhkan ketelitian, kecermatan, ketajaman observsi, keakuratan, reliabilitas dan validitas instrumen pengukuran. Hasil yang diperoleh kemudian diklassifikasi ke dalam sistem taksonomi berdasarkan ciri atribut tertentu, kemudian dilakukan manipulasi, simulasi, modeling, uji coba model, revisi model, sintesis, abstraksi / konseptualisasi, konstruksi teori. Teori yang dihasilkan kemudian dideduksikan ke dalam bentuk hipotesis, dibuat deduksi hipotesis atau ramalan / bridging argument. Ramalan itu diuji pada fakta baru yang belum pernah dieksplorasi. Hasil pengujian akan membuka peluang terbentuknya pengetahuan baru yang dapat diandalkan. Paparan di atas merupakan langkah satu siklus lengkap berlandaskan prinsip rasional - empiris yang menjadi pakem / acuan langkah pengembangan ilmu. Setiap melalui satu siklus, maka ilmu pengetahuan maju satu langkah.
Siklus pengembangan ilmu berlangsung terus menerus di dalam paradigma tertentu. Sampai pada suatu ketika terjadi anomali, yaitu fenomena aneh, menyimpang, yang tidak dapat dijelaskan oleh teori yang sudah teruji. Semakin lama, jumlah anomali makin banyak, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan ilmuwan. Keresahan itu berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap paradigma yang sedang dikembangkan. Sekelompok ilmuwan yang biasanya berusia relatif muda, berpikiran revolusioner, mulai menggugat kemapanan paradigma. Mereka mulai merumuskan landasan ontologi dan epistemologi baru, pendekatan baru, metode penelitian baru dan menerapkannya dalam tataran empirik. Perkembangan baru itu melahirkan paradigma baru, cara pandang baru, metode baru, instrumen penelitian yang baru. Demikian skema perkembangan ilmu yang digagas oleh Thomas S Kuhn.
Informasi yang didapat dari alam melalui prosedur ketat dan terkendali ( ilmiah ) dapat diandalkan melebihi informasi yang didapat dengan cara lain. Cara itu yang penulis gunakan untuk menyadap pengetahuan dari alam, termasuk pengetahuan tentang manusia. Kajian dan penelusuran informasi yang didapat dari alam, memberikan hasil yang menarik. Ternyata banyak manusia mengabaikan bahkan melawan prinsip prinsip alam. Akibatnya manusia yang katanya sosok pintar, kuat, penting, pemimpin mahluk di muka bumi, jadi sering melakukan blunder, sehingga tampil bodoh, konyol, layaknya pecundang.
Biologi Evolusioner Sebagai Penyingkap Tabir
Ilmu biologi khususnya biologi evolusioner, telah berjasa memberi pengertian tentang proses muncul, berkembang dan punahnya suatu spesies di muka bumi. Setiap mahluk hidup memiliki strategi yang sama yaitu mempertahankan eksistensi genetiknya ( bertahan hidup ) dan menggandakan genomnya ( menambah jumlah populasinya ). Ukuran sukses atau gagalnya suatu spesies adalah peningkatan jumlah populasi. Strategi ini dapat dicapai dengan dua taktik yaitu :
1. Menggunakan sebagian besar energi yang dihasilkan dari proses foto sintesis atau metabolisme untuk fokus pada pembesaran masa tubuh. Taktik ini dipilih oleh hewan mamalia besar seperti ikan paus, gajah, sapi, harimau, singa, manusia. Oleh karena energinya difokuskan untuk pembesaran masa tubuh, maka kemampuan menggandakan populasi jadi kecil. Indikasinya terlihat dari frekuensi hamil dan melahirkan relatif jarang dan jumlah individu yang dilahirkan relatif sedikit.
2. Menggunakan sebagian besar energi yang dihasilkan dari proses foto sintesis atau metabolisme untuk fokus pada penggandaan jumlah populasi. Taktik ini dipilih oleh hewan jenis unggas, serangga, ikan teri. Indikasinya terlihat dari jumlah populasi yang banyak setiap pelepasan sel telur.
Taktik pertama memiki keunggulan dalam mempertahankan diri dari serangan predator dan taktik kedua memilikan keunggulan dalam mempertahankan jumlah jenisnya yang rentan untuk dimangsa oleh predator. Taktik apa yang lebih unggul?. Mungkin tidak ada yang unggul, karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Di masa lalu sampai pada masa holocen ( 11.000 tahun lalu - tiga abad lalu ), proses alam menjadi satu satunya faktor yang memberi tekanan pada ke dua taktik tersebut. Sementara sejak masa anthropocene ( 2 abad terakhir ), manusia menjadi faktor dominan yang mempengaruhi jumlah populasi hampir semua spesies, sehingga semakin sulit menentukan taktik apa yang lebih unggul. Alam memiliki nilai moral alam yang lebih objektif, tidak melibatkan emosi. Manusia memiliki nilai moral manusia yang bersifat subjektif dan melibatkan unsur emosi.
Dalam proses alam, kesuksesan suatu spesies semata mata ditentukan oleh besaran tekanan alam dan kelenturan daya lenting, dalam mengatasi fluktuasi amplitudo guncangan ekosistem. Semakin lentur daya lenting suatu spesies, semakin besar pula daya adaptasinya dalam menghadapi tekanan perubahan beramplitudo besar. Setiap spesies memiliki kemampuan daya lenting yang tidak sama, sehingga ada yang terancam punah dan bahkan ada yang sudah punah dan ada pula yang masih bertahan. Di masa anthropocene, tekanan perubahan lingkungan dan besaran amplitudonya sangat besar. Bahkan spesies homo sapiens ( manusia modern ) pun kewalahan menghadapi tekanan perubahan iklim baik berskala mikro ( lokal ), meso ( regional ), maupun makro ( global ). Sementara perubahan iklim itu sebagian besar dipicu oleh perilaku manusia. Kondisinya mirip dengan ungkapan senjata makan tuan atau efek ouroboros.
Setiap spesies yang ingin bertahan tetap eksis di alam, harus mampu mengatasi tekanan perubahan yang menerpanya, dengan cara melakukan penyesuaian terhadap perubahan. Penyesuaian itu dilakukan dengan memperbesar kemampuan daya lenting, atau memperbesar daya kapasitas bawa ( carrying capasity ) nya, bukan dengan menafikan kekuatan perubahan dari luar dirinya. Selain memberikan tekanan pada suatu spesies, manusia juga dapat melakukan rekayasa terhadap spesies lain dengan cara mengurangi tekanan yang diterima spesies tersebut, bukan dengan meningkatkan daya lenting dan kapasitas bawa spesies tersebut. Bentuk konkritnya adalah dengan menempatkan spesies tertentu pada suatu lokasi yang nyaman dan diperkirakan dapat meningkatkan daya tahannya menghadapi tekanan, yang disebut taman nasional, taman suaka margasatwa, tempat penangkaran dan sebagainya. Misalnya Taman Nasional Ujung Kulon untuk melindungi spesies badak jawa ( rhinoceros sondaicus ) dari kepunahan dan Taman Nasional di pulau Komodo, untuk melindungi spesies komodo ( varanus komodoensis ). Cara ini sebenarnya bukan upaya yang mendasar. Upaya yang lebih mendasar adalah melakukan riset mendalam dalam jangka waktu lama, agar dapat diketahui treatment yang lebih tepat. Cara menempatkan spesies tertentu dalam kawasan suaka margasatwa, hanya membuat daya tahan dan daya juangnya makin melemah, karena faktor tekanan dikurangi. Cara ini hanya memperpanjang masa hidup spesies tertentu dari kepunahan, yang jika tidak diintervensi oleh manusia, akan punah lebih cepat. Dalam sudut pandang spesies yang ingin diselamatkan dari kepunahan, upaya konservasi sebenarnya hanya memperpanjang penderitaan spesies tersebut. Alam sebenarnya sudah tidak care dan tidak familiar lagi misalnya dengan badak atau komodo. Habitat dan ekosistem sekarang mungkin tidak sesuai lagi dengan kedua satwa tersebut. Kepunahan mungkin merupakan nasib yang lebih baik bagi badak dibanding dengan hidup di taman nasional dan dilindungi oleh manusia. Hidup di ekosistem yang tidak sesuai lagi adalah suatu penderitaan bagi spesies langka. Kelangkaan jumlah populasi adalah indikasi bahwa kemampuan gen melakukan mutasi dan penggandaan genom sudah melemah. Perlindungan yang disupport oleh manusia, mungkin didorong oleh hasrat ingin melihat sosok satwa langka itu sebagai atraksi tontonan atau bahan kajian riset.
Analogi Kelakuan Manusia Dengan Dalil Biologi
Pelajaran terpenting yang didapat dari ilmu biologi adalah : meningkatkan kemampuan daya lenting, daya adaptasi dan kapasitas bawa seorang manusia jauh lebih penting dari pada menempatkannya di zona nyaman, bebas dari tekanan, tantangan dan hambatan. Treatment demikian hanya menghasilkan individu yang lemah, ringkih, manja, tidak punya daya dan semangat juang. Terlalu banyak contoh orang tua yang melapangkan jalan buat anaknya, menempatkannya di zona nir kompetisi, bahkan sampai merusak tatanan yang dianggapnya bakal menjadi penghalang bagi jalan mulus buat anaknya. Orang tua seperti itu tidak menyadari bahwa dia telah mendegradasi gennya sendiri menjadi lemah. Copy genomnya hanya bisa bertahan berkat fasilitas tanpa batas. Ketika fasilitas itu dicabut, maka tampaklah dengan nyata, betapa rapuh warisan yang ditinggalkannya. Sosok yang rapuh itu justru diserahkan memikul tanggung jawab luar biasa besar, yang oleh orang yang ditempa dengan keraspun, belum tentu mampu melaksanakan tugas berat itu. Sungguh kasihan nasib sang anak disiksa untuk memenuhi ambisi orang tuanya. Seharusnya tiap orang sadar akan kapasitas kemampuan tiap orang tidak sama. Biarkan alam berproses menempa seseorang menjadi pribadi yang tangguh. Ingat, waktu adalah sesuatu yang mahal, tidak dapat diganti atau dibeli dengan uang seberapapun besarnya. Manusia harus tahu diri, jangan melawan dalil dalil alam yang sangat keras dalam menghukum orang yang bebal, tidak mau belajar dari alam.
Epilog
Seorang jenderal besar dari Amerika Serikat, pahlawan Perang Dunia II, bernama Doughlas Mac Arthur pernah bermohon kepada Tuhan agar putera kesayangannya ditempa di jalan keras, terjal, penuh tantangan, bukan di jalan yang lunak dan mulus. Anak yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum berhasrat memimpin orang lain. Anak yang memiliki sikap tegas sekaligus welas asih terutama kepada orang yang kalah, kurang beruntung dan lemah. Anak yang mempunyai pandangan jauh ke depan tanpa melupakan masa lalu. Anak yang memiliki keseriusan dan kesungguhan tetapi tidak melupakan kejenakaan dan rasa humor.
Sebagai penutup, penulis menyampaikan pesan alam semesta kepada pembaca :
Jika anda keras mendidik diri sendiri, maka kehidupan akan lunak kepada anda dan sebaliknya jika anda lunak mendidik diri sendiri. maka kehidupan akan keras kepada anda.
.png)
Comments
Post a Comment