BANYAK, BAGUS / ENAK DAN MURAH : APA MUNGKIN ?
Prolog
Masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa banyak
keinginannya yang melawan hukum fisika. Sebagai konsekuensinya, keinginan itu
selamanya tidak mungkin terwujud.
Fenomena ini terjadi karena kurangnya pemahaman akan berlakunya hukum hukum
ilmu ilmu keras, seperti fisika.
Dalam kehidupan sehari hari, penulis sering melihat
proses negosiasi transaksi jual beli. Pembeli mengajukan usulan yang dengan
serta merta ditolak oleh penjual, karena jika usulan itu diterimanya, dapat
dipastikan usahanya bakal bangkrut. Pembeli ingin membeli suatu produk atau
jasa dalam jumlah banyak, mutunya bagus.
Jika yang akan dibeli berupa makanan, rasanya harus enak. Usulan berikutnya,
harganya harus murah. Uraian di atas
dapat diringkas menjadi motto Banyak,
Bagus / Enak, dan Murah. Lalu apa yang salah dari
keinginan pembeli itu ditinjau dari ilmu fisika? Uraian di bawah ini akan
memperjelas soal itu.
Kuantitas Vs. Kualitas
Semua materi di alam yang tersedia dalam jumlah
banyak, dapat dipastikan kualitasnya rendah. Untuk mendapatkan emas murni
seberat 1 Kg, diperlukan ratusan ton batuan atau pasir yang mengandung emas.
Dengan teknologi tinggi, tenaga kerja terampil dan energi tinggi, massa batuan
dan pasir yang mengandung emas, diekstraksi, sehingga dihasilkan 1 Kg emas murni. Oleh karena hasil yang diperoleh
dari ekstraksi, jumlahnya tidak banyak, maka tidak mungkin dapat
mengakomodasikan keinginan mendapatkan jumlah suatu benda dalam kuantitas
besar, dan kualitasnya tinggi. Orang harus memilih antara kualitas dan kuantitas.
Selain mekanisme ekstraksi, kualitas terbaik dapat dihasilkan melalui mekanisme sortir. Sebuah pohon jeruk berbuah
lebat, mencapai 50 buah. Buah buah dari satu pohon, mengalami laju pertumbuhan
yang tidak sama. Dari 50 buah tersebut hanya 10 buah yang mencapai pertumbuhan
maksimum, berkualitas super. Sisanya berkualitas sedang. Begitu juga dengan
kumpulan siswa dari satu sekolah menengah, tidak semua berkemampuan akademik
yang sama. Murid berkualitas terbaik, dikumpulkan dalam satu kelas yang disebut
kelas unggulan. Selebihnya yang berjumlah mayoritas berkualitas lebih rendah.
Jadi tidak mungkin mendapatkan
kualitas terbaik dalam jumlah besar. Hal ini sesuai dengan Hukum Kurva Normal, yang dapat digambarkan seperti lonceng / genta.
Grafik kurva normal menunjukkan bahwa 20 % dari populasi berkualitas tinggi
berada di sisi kiri dari garis median, 60 % berada di area tengah ( kualitas
sedang ), dan 20 % berada di sisi kanan garis median ( kualitas rendah ).
Mengingat jumlah yang berkualitas tinggi tidak banyak,
maka berlaku Hukum Kelangkaan.
Setiap jenis barang berkategori langka, pasti jumlahnya tidak banyak, karena
kalau jumlahnya banyak, maka tidak
mungkin disebut langka.
Setiap barang yang langka, maka pasti harganya mahal. Makanan berkualitas tinggi pasti dihasilkan dari bahan bahan baku
dan campuran berkualitas tinggi dan diolah dengan skill tinggi, pasti rasanya enak dan harganya pasti mahal. Setiap saat kita selalu
dihadapkan pada pilihan pilihan di antara variabel variabel kuantitas, kualitas
dan harga yang saling berinteraksi. Dibutuhkan ilmu sebelum mengambil suatu
pilihan. Seringkali kita dihadapkan pada dilema atau trilema atau bahkan
multilema. Dalam memilih, kita tidak
dapat mengambil semua pilihan terbaik, tetapi merupakan kombinasi pilihan yang rasional.
Untuk mengakomodasi kepentingan orang banyak, kita
terpaksa harus menurunkan standard mutu, sampai level yang masih dapat
ditoleransi dan harga yang masih terjangkau. Pilihan yang diambil merupakan
hasil interaksi, negosiasi, tarik menarik kepentingan dari banyak pihak. Salah satu bentuk keputusan yang bijaksana
adalah kemampuan meramu dan menetapkan titik keseimbangan harmoni yang dapat
mengakomodasi kebutuhan orang banyak, dengan kualitas yang masih dapat
ditoleransi dan dengan harga yang masih dapat terjangkau. Alam tiga dimensi
tidak mungkin bermurah hati dengan mentoleransi keinginan yang ingin serba banyak , serba bagus / enak,
sekaligus serba murah
Epilog
Banyak orang harus disadarkan bahwa dalam hidup diperlukan kearifan dalam memilih
keputusan. Interaksi di alam bersifat dinamis, rumit. dan terikat pada dalil
dalil ilmu alam.
Orang harus disadarkan bahwa hidup di bumi harus patuh
/ taat pada dalil dalil ilmu alam dimensi tiga, karena dalil dalil itu
tergolong hukum besi, mengenai siapa saja, di mana saja, kapan saja. tanpa
kecuali. Dalam menghadapi hukum besi,
dibutuhkan kepatuhan. Alam akan
bersikap kejam, melindas siapapun yang tidak patuh.
.png)

Comments
Post a Comment