Prolog
Orang sering mendengar atau mengucapkan kata kebijakan, tetapi tidak banyak orang yang paham tentang proses proses dan asal usul terbentuknya suatu kebijakan. Sering pula orang menyamakan kebijakan dengan peraturan, regulasi. Secara konseptual keduanya berbeda. Kebijakan merupakan produk hilir dari suatu organisasi atau manajemen. Tidak mungkin ada kebijakan tanpa adanya organisasi. Organisasi dapat hidup dan eksis karena mendapat pasokan informasi yang menjadi bahan bakarnya. Informasi dihasilkan dari proses ekstraksi dari sejumlah besar data. Proses ekstraksi itu meliputi menyaring, simulasi, manipulasi dan modeling, serta memberikan nilai / makna pada kumpulan besar data, sehingga punya nilai guna. Tanpa adanya data, tidak mungkin dihasilkan informasi. Data diperoleh dari hasil aktivitas menyusun sistem taksonomi / klasifikasi dari kumpulan fakta, berdasarkan ciri ciri atribut tertentu sebagai ciri pembeda. Tanpa adanya aktivitas pengumpulan fakta, tidak mungkin dapat dihasilkan data. Fakta dikumpulkan dengan aktivitas observasi dan pengukuran. Dari uraian di atas dapat dilihat betapa panjang rantai proses lahirnya suatu kebijakan. Ketidak pahaman sebagian besar orang dalam proses pembentukan kebijakan terlihat dari sikap penolakkan terhadap suatu kebijakan. Penolakan itu tidak disertai dengan pemaparan fakta, data, informasi tandingan yang setara dengan yang dimiliki oleh pembuat kebijakan. Sikap tersebut jelas tidak fair. Agar lebih elegan, para penentang suatu kebijakan harus menempuh proses yang sama untuk membuat usul kebijakan tandingan.
Definisi Konseptual
Simulasi adalah suatu proses peniruan dari sesuatu yang nyata, beserta keadaan sekelilingnya. Aksi melakukan simulasi secara umum menggambarkan sifat karakteristik kunci dari suatu sistem.
Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa yang secara sengaja melakukan penambahan, pengurangan, penyembunyian, penghilangan dan pengkaburan terhadap sebagian atau seluruh dari sustu sistem, substansi, sumber informasi, realitas, kenyataan, fakta dan data yang dibuat berdasarkan sistem perancangan yang dapat dilakukan secara individu, kelompok, atau sistem tata nilai, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu.
Model adalah rencana , representasi atau deskripsi yang menjelaskan suatu objek, sistem, konsep yang berupaya menyederhanakan realita. Modeling adalah suatu proses pembuatan model objek dalam bentuk 3 dimensi di komputer.
Kebijakan adalah rangkaian konsep dan azaz yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan dan cara bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada organisasi, kelompok, sektor swasta dan individu. Kebijakan adalah norma yang telah dipositipkan di strukturkan dan dibuat oleh lembaga resmi yang berwenang atau lembaga tertentu. Kebijaksanaan adalah keputusan yang telah diambil, yang memerlukan pertimbangan mendalam
Pandemi Covid 19 Sebagai Contoh Kasus
Pandemi Covid 19 sudah berlangsung 2 tahun. Silih berganti berbagai kebijakan sudah diluncurkan dengan tujuan untuk mencegah penyebarannya, mempersingkat durasi berlangsungnya pandemi. Berbagai kebijakan itu antara lain vaksinasi, lockdown, PPKM ( Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ) dan turunannya seperti WFH ( Work From Home ), E-Learning, 5 M ( Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, Menghindari Kerumunan, Mengurangi Mobilitas ). Banyak orang tidak tahu dasar filosofis, dasar pikiran yang melandasi berbagai kebijakan di atas. Bahkan bukan mustahil, para pembuat kebijakan itu sendiri tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap dasar pemikiran dari kebijakan yang dibuatnya. Situasinya terkesan bahwa Aktor / Inisiator kebijakan itu bertindak semata mata berdasarkan akal sehat ( common sense ). Sinyalemen ini didasarkan pada fakta, beberapa kali terjadi salah perhitungan dalam permodelan matematis untuk menghitung / memprediksi durasi berlakunya suatu kebijakan yang nanti di bawah ini akan dibahas lebih lanjut.
Disadari ataupun tidak, semua kebijakan yang diterapkan selama ini bertumpu pada model model matematis. Ada beberapa model matematis yang dapat digunakan untuk menggambarkan pola penyebaran penyakit menular, termasuk Covid 19. Salah satu model yang digunakan, disebut Model SIR ( Suspectible - Infected - Recovery) klasik yang diciptakan oleh W O Kermack dan A G Mckendric. Dalam membuat tulisan ini penulis juga menggunakan persamaan diferensial autonomous. Untuk mendapatkan hasil lebih meyakinkan, penulis juga menggunakan tiga model matematis lain yaitu :
- Model SIS ( Suspectible Infective Suspectible )
- Model SEIS ( Suspectible Expose Infective Suspectible ), dengan memasukkan variabel moda transportasi yang menghubungkan dua kota.
- Model System Dinamyc, dari Jay Forrester, dengan memasukkan variabel waktu secara time series dalam satuan waktu minggu selama satu siklus penyebaran penyakit
Semua persamaan matematis di atas tidak mungkin ditampilkan semua, karena pasti akan langsung menurunkan minat baca dari pembaca umum. Dalam tulisan ini hanya model SIR yang ditampilkan secara utuh. Walaupun menggunakan model matematis beragam, hasilnya tetap sama dan konsisten. Kesimpulan dari semua model itu adalah :
- Tidak ada jenis penyakit menular baik yang berasal dari bakteri maupun virus yang berjangkit dalam bentuk wabah, berlangsung dalam waktu lama.
- Durasi satu siklus tiap penyakit / virus sangat tergantung dari banyak faktor, di antaranya kepadatan populasi, sifat sifat prevalensi Virus / bakteri, daya resistensi dan ketahanan immunitas tiap orang, pola hidup sehat, kebersihan lingkungan, termasuk sistem sanitasi.
- Untuk virus yang familiar dengan manusia, dan sudah tersedia vaksinnya, maka vaksinasi merupakan cara ampuh untuk mencegah meluasnya penyebaran wabah. Untuk virus baru yang belum ada vaksinnya, cara terbaik untuk mempercepat durasi siklus penyebarannya adalah dengan memperkuat daya resistensi tubuh, mengurangi frekuensi bepergian dan berkumpul di tempat keramaian.
Model SIR Sebagai Dasar Pemikiran
Menurut model SIR, pada suatu waktu tertentu, selama pandemi berlangsung, tiap orang dalam suatu populasi dapat digolongkan kepada tiga kelompok, yaitu :
- Kelompok orang yang tidak ditulari penyakit, diberi simbol Nu.
- Kelompok orang yang terkena suatu penyakit menular, diberi simbol NI.
- Kelompok orang yang tidak tergolong kepada Nu dan NI, karena sudah sembuh atau sudah mati. Prakiraan kecepatan perubahan komposisi jumlah individu di ketiga kelompok itu dapat diukur dengan dua parameter kecepatan, yaitu :
- Kecepatan penularan sama dengan jumlah orang yang sehat, yang berjumpa dengan yang sakit, lalu jatuh sakit, diberi simbol I.
- Kecepatan yang sembuh atau mati, diberi simbol R.
Dengan demikian dinamika pandemi dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
d Nu
--------- = --- I Nu NI ( 1 )
d t
Persamaan 1 berarti, kecepatan pertambahan orang yang jatuh sakit mula mula hanya sedikit. Semakin lama semakin banyak orang yang tertular dan jatuh sakit. Setelah beberapa waktu, kecepatan penularannya semakin menurun, karena jumlah orang yang tidak tertular semakin sedikit. Virus hanya menyerang orang yang belum tertular, ketika jumlah di kelompok tidak tertular semakin sedikit, maka serangan virus makin mereda dan akhirnya lenyap. Kelompok yang tertular akan sembuh dan sebagian lagi tewas.
Jika digambarkan dengan diagram, jumlah orang yang jatuh sakit itu dinyatakan dalam fungsi waktu, maka akan diperoldh gambaran berbentuk kurva normal atau bentuk lonceng. Semua dinamika gelombang serangan penyakit menular, apapun jenis penyakitnya,tanpa kecuali sejak dahulu, kini, dan di masa depan mengikuti model ini. Ada masa muncul, berkembang pesat, kemudian melambat, menurun dan akhirnya lenyap. Setelah melewati periode tertentu misalnya 20 atau 50 tahun, siklus ini akan terulang lagi, dengan jenis virus lama atau dapat juga juga dengan virus yang telah mengalami mutasi genetik.
d NI
------- = I Nu NI --- R NI ( 2 )
d t
Persamaan ( 2 ) berarti bahwa
kecepatan jumlah orang yang sembuh atau mati dari kelompok orang sakit, bergantung pada jumlah orang dalam kelompok orang sakit.
d N R
----------- = R NI ( 3 )
dt
Implikasi penting dari tiga persamaan di atas adalah :
- Jumlah orang yang jatuh sakit bergantung pada jumlah orang yang tidak sakit
- Secara matematika dapat dibuktikan bahwa pandemi penyakit menular dipengaruhi oleh kepadatan populasi. Semakin padat suatu populasi makin banyak korban jika wabah pandemi penyakit menular datang menyerang. Hal ini berarti bahwa Jumlah orang yang jatuh sakit dapat diatur oleh jumlah orang yang tidak sakit. Hal lain yang penting adalah bahwa dinamika epidemi dipengaruhi oleh I dan R. I menunjukkan suatu parameter yang memiliki banyak faktor ketergantungan, misalnya tingkat kebersihan lingkungan, sanitasi, kesiagaan tanggap darurat, kondisi kesehatan, kebiasaan dan pola hidup sehat, virulensi patogen terhadap daya tahan dan resistensi tubuh. Demikian juga dengan parameter R, semakin cepat penderita sakit, sembuh atau mati, semakin cepat pula epidemi mereda.
Model SIR, memberi arahan tentang bagaimana cara merumuskan kebijakan untuk mengatasi pandemi Covid 19. Arahannya cukup jelas, yaitu harus diciptakan situasi dan kondisi seperti yang diinginkan oleh model. Kondisi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu simulasi, manipulasi dan modeling.
Kebijakan Berbasis Simulasi
Menurut model SIR, jumlah orang sakit ditentukan oleh jumlah orang sehat. Untuk menekan jumlah orang sakit, maka semua orang di dalam suatu populasi di suatu tempat harus dianggap sehat atau dianggap sakit. Untuk menciptakan kondisi ini maka harus dilakukan rekayasa tertentu, yaitu memisahkan kelompok orang sakit dari kelompok orang sehat, sehingga tercipta klaster orang sakit dan klaster orang sehat. Hasil dari simulasi ini adalah program Karantina, Isolasi dan Isolasi Mandiri. Orang sakit atau yang terpapar virus dimasukkan ke karantina dan wajib menjalani program Isolasi atau Isoman.
Model SIR juga memberi implikasi bahwa semua orang di dalam suatu populasi yang berada di suatu ekosistem, harus dianggap sehat dan yang berada di luarnya harus dianggap sakit. Implikasi ini memberi arahan agar dicegah interaksi antara populasi dari wilayah / ekosistem lain. Harus dicipakan kondisi nir interaksi, membuat kebijakan lockdown, PPKM, Penyekatan. Orang di suatu wilayah seperti merasa dipenjara. Banyak orang merasa tertekan, jenuh dengan penerapan kebijakan ini, karena pemegang otoritas tidak pernah memberi penjelasan terbuka tentang semua dasar pikiran dari kebijakan itu dan tidak pernah ada kejelasan tentang masa berlakunya, sehingga tercipta suasana kegelisahan dan kecemasan serta ketidak pastian. Pada titik ini timbul dugaan , bahwa mungkin para pengambil keputusan itu juga buta akan pengetahuan teoritis yang mendasar. Jadi pada dasarnya semua kebijakan itu lahir berdasarkan arahan model matematis guna tercipta kondisi ideal dengan melakukan simulasi.
Kebijakan Berbasis Manipulasi
Model SIR juga memberi kesimpulan bahwa variabel kepadatan populasi mempengaruhi kecepatan penyebaran pandemi. Oleh karena itu para pembuat kebijakan, sangat berkepentingan untuk menciptakan tingkat kepadatan populasi harus rendah, walaupun pada kenyataannya tetap tinggi. Untuk tujuan tersebut, diperlukan upaya manipulasi, agar tercipta kondisi seolah olah tidak padat ( jarang ). Upaya konkrit yang dijalankan adalah mengurangi kapasitas daya tampung ruang kerja secara virtual, sampai tingkat 50% dari kapasitas ril, dengan membuat kebijakan kerja dari rumah secara bergiliran dalam satuan waktu tertentu, misalnya setiap satu minggu ( Work From Home ). Selain itu diupayakan mengurangi daya tampung moda transportasi darat, laut dan udara secara virtual. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kebijakan menjaga Jarak, WFH, mengurangi kapasitas daya tampung / daya dukung, Pembelajaran E-Learning, Kuliah, Diskusi dan Seminar secara On Line, pada dasarnya adalah kebijakan berbasiskan manipulasi.
Modeling Sebagai Kontrol Kebijakan
Modeling dibutuhkan dalam mempersiapkan implementasi suatu kebijakan. Hasil proses modeling adalah model model yang memberikan gambaran utuh menyeluruh walaupun tidak mendetail seakurat realita. Dengan melihat potret secara keseluruhan dapat ditentukan posisi titik titik krusial yang membutuhkan perhatian ekstra. Model dapat memberi arahan tentang momentum waktu terbaik kapan suatu kebijakan diterapkan, menentukan akselerasi percepatan atau perlambatan laju kecepatan penerapan, kapan suatu kebijakan harus dihentikan. Model juga dapat memperhitungkan variabel variabel penekan, pengganggu, yang berpotensi menimbulkan distorsi pada tataran implementasi di realitas sesungguhnya.
Ketiadaan model yang jelas dan handal dalam merumuskan kebijakan penanggulangan pandemi Covid 19, terlihat jelas pada penerapan kebijakan PPKM. Berulang kali masa pemberlakuan PPKM diperpanjang tanpa ada penjelasan rinci. Para pembuat kebijakan terlihat gamang, gugup, bingung dalam mengambil keputusan lanjutan. Penerapan kebijakan PPKM tanpa batasan waktu yang jelas akan memberikan dampak negatif, berupa :
1. Dapat melemahkan dan menurunkan daya saing produk, yang berakibat pada penurunan angka pertumbuhan ekonomi. Para pelaku dunia usaha dihadapkan pada situasi yang tidak pasti.
2. Secara psikogis menimbulkan tekanan pada warga masyarakat umum, menimbulkan rasa frustrasi dan menurunkan kepercayaan masyarakat pada kemampuan Pemerintah dalam mengatasi krisis.
Keadaan ini tidak perlu terjadi, jika para pembuat keputusan, memiliki model yang baik. Model yang baik akan membuat para perumus dan penentu kebijakan menjadi lebih percaya diri.
Epilog
Dari paparan di atas, menjadi jelas tentang riwayat perjalanan panjang pembentukan sebuah kebijakan sejak dimulai dari pengamatan dan pengukuran fakta, pengelompokan fakta berdasarkan ciri atribut tertentu, lalu menjadi data. Kumpulan data dielaborasi, disimulasi, dimanipulasi dan proses modeling menjadi informasi. Informasi menjadi bahan bakar untuk menggerakkan roda oraganisasi yang kemudian melahirkan kebijakan. Penjelasan ini harusnya jadi acuan dalam melontarkan kritik terhadap sebuah kebijakan. Boleh saja setiap orang mengkritik kebijakan sepanjang orang tersebut juga menempuh cara yang sama untuk menghasilkan kebijakan tandingan. Untuk menempuh rute yang sama, dibutuhkan sumberdaya yang memadai. Konsekuensi dari situasi tersebut adalah : kita harus memiliki sumberdaya yang handal dan kemampuan akademis yang mumpuni, untuk dapat melontarkan kritik terhadap suatu kebijakan dan menyodorkan draft kebijakan tandingan. Itulah peta jalan yang ditempuh oleh orang yang berkualifikasi intelektual, terpelajar dan beradab.
Comments
Post a Comment