MUSEUM PERKEBUNAN INDONESIA : SARANA TRANSPORTASI ANTAR DIMENSI WAKTU
Prolog
Tulisan ini didedikasikan untuk
memperingati ulang tahun ke 94 ayahanda Soedjai
Kartasasmita, yang jatuh pada tanggal 26 November 2020. Soedjai
Kartasasmita adalah manusia langka dengan beragam prestasi kelas wahid, mulai
dari perkebunan, pendidikan, diplomasi, fotografi hingga museum. Di usia yang
bagi sebagian besar orang sudah tergolong uzur, tetapi beliau tetap
bersemangat, fit dan gesit menjalani aktivitas sehari hari. Sudah banyak
tulisan yang mengulas berbagai pencapaian prestasi Soedjai Kartasasmita,
sehingga tulisan ini tidak mengulangi hal itu.
Tulisan ini khusus membahas salah satu
maha karya Soedjai Kartasasmita, yaitu Museum
Perkebunan Indonesia I dan II ( Musperin ). Museum Perkebunan Indonesia I adalah
suatu museum tematik, yang
menjadikan perkebunan sebagai tema utama dan satu satunya di Indonesia. Museum
ini terletak di Jalan Brigjend Katamso, Medan. Pemilihan tema ini didasarkan
pada alasan bahwa kehadiran perkebunan di Indonesia pada umumnya dan provinsi
Sumatera Utara pada khususnya telah memberikan pengaruh besar terhadap
pembentukan peradaban di masa lalu hingga sekarang. Kota Medan lahir dan
berkembang hingga menjadi metropolitan karena ditopang oleh perkebunan. Museum
Perkebunan Indonesia II, terletak di jalan Pemuda, Medan merupakan perluasan space secara fisik dari
Museum Perkebunan Indonesia I, tetapi juga sekaligus merupakan penyempitan tema dari saudara tuanya,
memilih infrastruktur sebagai sub tema.
Pemilihan sub tema infrastruktur didasarkan pada alasan bahwa tanpa dukungan infrastruktur dasar, perkebunan tidak mungkin dapat berkembang pesat. Perkembangan perkebunan membutuhkan infrastruktur, dan sebaliknya infrastruktur membutuhkan perkebunan sebagai motor penggerak. Dua infrastruktur dasar di Sumatera Utara yaitu jaringan rel kereta api dan pelabuhan Samudera, Belawan menjadi bukti kebenaran pernyataan di atas. Kehadiran dua museum tersebut berikut pemilihan tema dan sub tema, adalah bukti ketajaman visi Soedjai Kartasasmita, tokoh kunci yang berperan selaku konduktor dari orchestra Museum Perkebunan Indonesia I dan II. Keistimewaan lain dari Museum Perkebunan I dan II adalah kedua bangunan museum tersebut merupakan bangunan cagar budaya. Soedjai Kartasasmita sekali lagi menunjukkan ketajaman visinya dalam memilih bangunan untuk dijadikan museum karena pilihan tersebut merupakan langkah jitu untuk menyelamatkan bangunan cagar budaya. Setelah kedua bangunan tersebut menjadi museum maka tidak ada lagi orang, lembaga, bahkan pemerintah sekalipun yang berani melakukan perubahan fungsi peruntukan bangunan tersebut karena pasti akan mendapat hujatan dan perlawanan keras dari seluruh elemen masyarakat. Museum adalah simbol peradaban manusia. Perusakan terhadap museum sama dengan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Diasumsikan bahwa sebagian
besar pembaca sudah paham dengan konsep museum. Museum bukan gudang penyimpanan barang antik, penyimpanan barang
barang rongsokan, tetapi tempat memamerkan jejak peradaban manusia. Museum
adalah tempat orang mendidik dirinya sendiri. Di Museum orang dapat
belajar tanpa guru / dosen, tanpa jadwal terstruktur, tanpa kurikulum, tanpa
Rencana Pembelajaran Semester ( RPS ), dan Garis Besar Pendidikan
Pengajaran ( GBPP ) yang serba kaku. Orang yang paham, dapat belajar melalui
benda benda yang dipamerkan, dengan mengembangkan teknik observasi sistematis,
dialog imajiner, dan mengembangkan imajinasi.
Tulisan ini akan membawa pembaca
bertualang di alam pemikiran, mencoba membaca dan menafsirkan jejak jejak
peradaban manusia. Jejak itu akan berbicara tentang banyak hal, sesuatu yang
tidak didapatkan di sekolah konvensional. Pembelajaran model ini dapat
terselenggara berkat visi dan upaya tidak kenal lelah dari seorang tua arif
bijaksana, Soedjai Kartasasmita.
Postulat Yang Digunakan
2. Artefak sebagai hasil perilaku, tidak dapat dianggap sebagai fosil perilaku, karena bentuk perilaku pembuatnya sudah tidak dapat diamati lagi. Jejak bekas perilaku manusia hanya dapat dibaca melalui metode penafsiran, analogi, pengandaian.
3. Dari jejak perilaku manusia dapat
dikenali minimal empat fenomena yaitu bentuk,
struktur, proses dan fungsi.
Tiga Dimensi Waktu
1. Mempelajari budaya materi masa lalu
untuk memahami masa lalu.
2. Mempelajari budaya materi masa lalu
untuk memahami masa kini.
3. Mempelajari budaya materi masa kini
untuk memahami masa lalu.
4. Mempelajari budaya materi masa
kini untuk memahami masa kini.
Menurut pendapat penulis klasifikasi
strategi yang dikemukakan oleh Schiffer, masih kurang lengkap. Perlu
ditambahkan dengan mekanisme ke lima, yaitu mempelajari budaya materi masa lalu, masa kini, untuk melihat masa
lalu, memahami masa kini dan membayangkan masa depan. Semua mekanisme ini
dapat diterapkan di museum. Koleksi museum dapat digunakan untuk melihat ke belakang, memahami masa
kini dan membayangkan masa depan. Mekanisme pertama paling banyak
dikenal dan diterapkan.
Dengan kerangka di atas, penulis
berusaha mengembangkan dialog dengan koleksi Museum Perkebunan Indonesia. Agar pembahasan dapat lebih terfokus,
tulisan ini hanya membahas satu jenis komoditi perkebunan, yaitu kelapa sawit
yang sekarang sedang mengalami booming.
Definisi dan Bentuk Kebun
Berdasarkan koleksi foto foto kebun di masa lalu, ternyata definisi / konsep kebun di atas kertas dan " peta mental / pikiran ", mulai mengalami perubahan. Definisi kebun di masa lalu adalah suatu hamparan lahan luas melampaui batas horizon pandangan mata, relatif datar yang ditanami satu jenis tanaman komoditi, yang di sekelilingnya terdapat kantung kantung pemukiman dan berbagai fasilitas infrastruktur pendukung keberadaan kebun.
Definisi dan mindset tentang kebun diciptakan bangsa Belanda pada 150 tahun lalu. Definisi adalah hasil abstraksi dari realita empirik. Realita kebun di masa lalu memang sangat sesuai dengan definisi di atas. Kebun di masa kini tidak selamanya berada di lahan datar. Sekarang luas kebun mengalami penambahan luar biasa, melewati batas kontur lahan datar, bahkan sudah merambah kaki dan lereng perbukitan. Penambahan luas yang dilakukan atas nama kebutuhan dan / atau kekeinginan, telah melewati batas norma norma pengelolaan lahan yang baik. Norma kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan telah dilanggar secara masiv, sistematis dan terstruktur. Akibatnya sudah dapat diduga yaitu :
1. Dibutuhkan upaya ( effort ), lebih
besar, sehingga nilai input, modal yang dibutuhkan lebih besar.
2. Tingkat losses lebih besar, baik input
berupa pupuk maupun produksi berupa kehilangan brondolan buah kelapa sawiit
ketika dipanen. Waktu yang dibutuhkan juga lebih lama, termasuk kesulitan
pengangkutan, dan risiko kecelakaan kerja juga lebih tinggi. Kedua faktor di
atas menyebabkan tingkat efisiensi menurun, berakibat pada profit yang juga
menurun. Ternyata manusia sekarang lebih mengedepankan kebutuhan / keinginan
dari akal sehat. Ini adalah pelajaran pertama yang didapat.
Akibat dari ekspansi luas kebun
yang tidak terkendali adalah penurunan mutu lingkungan sumberdaya alam.
Indikator terjadinya degradasi mutu lingkungan dapat dilihat dari meningkatnya
frekuensi dan intensitas peristiwa geohidroklimat,
yaitu, longsor, banjir, erosi dan sedimentasi. Semua peristiwa alam itu telah menurunkan nilai tambah dan manfaat dari
keberadaan kebun. Biaya dan usaha merehabilitasi kerusakan yang terjadi,
telah menggerogoti profit yang diperoleh.
Kemudian kita mulai membayangkan
bagaimana definisi dan bentuk kebun di masa depan. Kemajuan pesat di bidang
bidang teknologi mikro elektronika, mikrobiologi / genetika, teknologi nano
akan mengubah definisi dan bentuk serta ukuran kebun secara revolusioner, struktural dan mendasar.
Aplikasi konsep teknothrop, dalam
sistem produksi pangan dengan menggunakan teknologi bioreaktor, tidak membutuhkan lahan pertanian / perkebunan
yang luas. Luas kebun yang dibutuhkan tidak sampai 10 % dari luas yang
sekarang. Dapat dipastikan pada 3 - 5 dekade mendatang definisi, bentuk dan
ukuran luas kebun akan berubah total. Walaupun luas kebun sudah jauh berkurang,
produksi komoditi dapat dilipat gandakan dari tingkat produksi sekarang dengan
tingkat entropi yang jauh lebih
rendah. Konsep teknothrop didefinisikan sebagai proses penciptaan biomassa melalui teknik kultur jaringan dengan
menggunakan instrumen bio reaktor melalui mekanisme proses duplikasi jaringan
sel hewan, tumbuhan dan mikro organisme di laboratorium. Penjelasan rinci
tentang konsep teknothrop dapat dibaca pada tulisan yang sudah dipublikasi di
blog pribadi penulis dan dapat diakses oleh siapapun yang berminat. Hal ini
memberi teguran / peringatan bagi investor yang terus bernafsu ingin memperluas
areal kebunnya.
Selain dari bentuk dan luas kebun,
ukuran pohon kelapa sawit sekarang lebih pendek dari pohon kelapa sawit di masa
lalu. Hal ini disebabkan karena ada perubahan mutu varietas benih yang ditanam.
Energi dan materi yang semula diarahkan untuk memperbesar massa batang dan
pelepah dapat dialihkan untuk memperbesar massa buah. Durasi masa produktivitas
tanaman kepala sawit masa kini juga lebih panjang. Kapasitas pabrik pengolahan
juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pabrik tertua rata rata
berkapasitas 10 ton Tandan Buah Segar ( TBS ) per jam. Kapasitas ini kemudian
meningkat jadi 30 ton TBS per jam, kemudian meningkat lagi mdnjadi 60 ton TBS
per jam, bahkan ada yang mencapai 90 ton TBS per jam. Penambahan kapasitas ini
pasti diikuti dengan penambahan kebutuhan air. Peningkatan pemakaian air,
pasti meningkatkan beban pencemaran air, tanah dan udara. Kebutuhan
lahan untuk memperluas kolam limbah juga meningkat. Pelarangan penggunaan incenerator, untuk membakar tandan
kosong, menimbulkan masalah bagi banyak kebun untuk mengatasinya.
Pemanfaatan limbah padat untuk dijadikan
kompos, merupakan salah satu solusi untuk mengatasi problem limbah padat. Salah
satu upaya mengatasi beban pencemaran limbah cair, adalah praktek Land Application ( mengaplikasikan
limbah cair di lahan kebun ). Perubahan pada bentuk dan ukuran kebun berikut
pabrik pengolahannya memberikan konsekuensi pada perubahan struktur keruangan
kebun. Banyak lahan kebun terpakai untuk menghadirkan solusi yang dibutuhkan,
agar masalah yang timbul dapat diatasi.
Struktur Kebun
Konsep struktur yang dimaksud oleh
tulisan ini meliputi struktur keruangan yang didesain, tata letak / lay out
fasilitas dan jaringan infrastruktur kebun. Pembentukan struktur kebun
dipengaruhi oleh bentuk kontur lahan. Bagaimanapun juga aspek bentuk lahan
pasti mempengaruhi bentuk struktur kebun. Pada masa lalu, pemukiman dan
fasilitas infrastruktur dibuat mengelompok, mengelilingi areal kebun. Satu
kebun memiliki luas rata rata berkisar antara 3000 - 5000 Ha, dipimpin oleh
seorang Administratur ( ADM ) atau Manager. Satu kebun memiliki beberapa Afdeling, yang dipimpin oleh seorang Asisten. Luas satu afdeling rata rata
berkisar 500 600 Ha. Satu afdeling terdiri dari beberapa Blok. Biasanya pabrik pengolahan berada tidak jauh dari sungai. Di
masa lalu hal ini dimaksudkan agar mudah mendapatkan suplai air, dan
mengalirkan limbah pabrik ke sungai.
Regulasi di masa kini tidak
mengijinkan pembuangan limbah cair ke sungai tanpa melalui upaya treatment
limbah. Limbah yang sudah diolah secara proses aerob dan an aerob akan
disalurkan ke badan air. Untuk mengurangi tekanan limbah cair di
pabrik dan menghemat penggunaan pupuk an organik serta penghisapan berlebihan
air tanah dangkal oleh tanaman kelapa sawit, Pemerintah mengizinkan para
pengelola kebun melakukan praktek Land Application melalui regulasi yaitu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No
29 Tahun 2003 Tentang Pedoman Syarat dan Tata Cara Perizinan Pemanfaatan Air
Limbah Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.
Dalam upaya menerapkan keberadaan dua
fasilitas tersebut di atas mengubah struktur keruangan kebun. Perubahan
tersebut tampak pada beberapa aspek struktur lahan kebun. Beberapa kebun
terpaksa mengorbankan areal gawangan, digunakan untuk fasilitas aplikasi
lahan.
Sebenarnya prosedur aplikasi lahan
mengandung risiko tinggi jika dilaksanakan dengan disiplin rendah. Salah satu
risikonya adalah terkontaminasinya air tanah dangkal. Tingkat BOD ( Biologycal Oxigen Demand )
di dalam limbah cair itu cukup tinggi berkisar antara 3500 - 5.000 ppm.
Dibutuhkan disiplin tingkat tinggi untuk melakukan aplikasi lahan. Pertanyaan
berikutnya, kira kira bagaimana struktur kebun di masa depan?. Mengingat bakal
terjadi perubahan definisi, bentuk dan ukuran kebun di masa depan, pasti juga
akan membawa Perubahan besar pada aspek struktur. Perubahan akan terjadi pada
struktur tata ruang, lay out ( tata letak ). Areal kebun yang luas, berikut
pabrik pengolahan yang luas, kompleks pemukiman yang luas berikut
fasilitas infrastruktur yang lain sudah tidak dibutuhkan lagi. Ada beberapa alternatif
yang dapat dilakukan, misalnya mengubah fungsi peruntukan lahan, seperti
pembangunan kota baru atau dihutankan kembali. Perubahan pada struktur di kebun
pasti akan menimbulkan perubahan pula pada aspek proses.
Proses - Proses Di Kebun
Aspek proses dapat mengungkapkan banyak informasi. Koleksi koleksi di Musperin I dan II, dapat mengungkapkan banyak kisah menarik. Dari koleksi foto dan artefak, terungkap bagaimana proses pembangunan kebun. Waktu yang dibutuhkan mulai dari pembukaan lahan kebun kelapa sawit pertama sampai beroperasinya pabrik pengolahan tidak kurang dari 10 tahun. Kebun dan pabrik tertua terdapat di desa Sungai Liput, Kabupaten Aceh Tamiang milik PT Socfindo ( Societe Finance Indonesia ), sebuah perusahaan PMA asal Belgia. Awalnya, tahun 1909 didirikan perusahaan bernama Societe Financiere des Caouchoucs Medan Societet Anonyme oleh Adrian Hallet dan M Bunge. Perusahaan itu lebih populer dengan nama PT Socfin. Kebun pertama mulai dibuka tahun 1911 dan pabrik prngolahannya mulai beroperasi tahun 1922.
Proses pembukaan lahan butuh waktu beberapa tahun, karena belum
menggunakan alat alat mekanis ( alat berat ). Dibutuhkan kesabaran,
ketekunan dan kerja keras untuk pekerjaan tersebut. Setelah pembersihan lahan,
dipersiapkan pembibitan pohon kelapa sawit. Waktu yang dibutuhkan pada masa
kini untuk pekerjaan yang sama, lebih singkat.
Proses pembukaan kebun di masa kini
relatif sama dengan di masa lalu. Aspek proses di masa kini mengalami reduksi
tidak hanya dari aspek waktu, tetapi juga dari aspek lain, seperti mutu input (
kuantitas, frekuensi pemupukan ), pemeliharaan piringan, pemeliharaan
pabrik. Pemupukan yang baik pada tahun berjalan, baru terlihat pada hasil
panen berikutnya.
Demikian pula sebaliknya, pemupukan yang
buruk baru didapat hasilnya pada tahun berikutnya. Banyak orang mengira bahwa
pabrik yang canggih dapat memberikan hasil lebih memuaskan. Pemahaman akan
proses mematahkan anggapan tersebut. Minyak
kelapa sawit dibuat di kebun. Pabrik secanggih apapun, tidak dapat menaikkan
angka rendemen CPO, karena pabrik hanya mengekstraksi buah kelapa sawit.
Pada masa lalu semua kebun dijalankan dengan mematuhi semua prinsip, kriteria dan persyaratan yang
ditetapkan. Para pengelola dan pimpinan kebun, lebih taat azas. Sementara
para pengelola kebun di masa kini kurang disiplin mentaati semua ketentuan.
Dalam proses pemeliharaan kebun, pabrik dan berbagsi properti lainnya, terlihat
pengelola kebun di masa lalu lebih berdisiplin. Tingkat kedisiplinan para
pengelola kebun Asing berada di posisi teratas, diikuti oleh pengelola kebun
Swasta Nasional dan terakhir pengelola kebun milik BUMN. Seorang pekebun
kawakan pernah berkata " pupuk
terbaik adalah jejak tapak sepatu Planter di lahan kebun ". Itu adalah
ungkapan paling relevan tentang pentingnya kedisiplinan pengelola kebun
menjalankan tugasnya. Pada aspek proses juga tampak pentingnya upaya
pemeliharaan rutin ( maintenance ). Ketaatan pada aspek proses pada akhirnya
akan berbuah profit yang besar.
Sebaliknya pelanggaran berbagai
ketentuan normatif dalam aspek proses akan berbuah losses, yang berakumulasi
dan pada akhirnya berbuah kerugian. Jika losses demi losses terus terjadi ,
maka pada akhirnya akan menenggelamkan perusahaan kebun. Dalam riwayat
perkebunan ada beberapa perusahaan akhirnya tinggal nama dan ada beberapa
yang stabil bertahan di puncak dan ada pula yang stagnan di level medium. Faktor
penyebab dari semua fenomena itu adalah tingkat
kepatuhan / kedisiplinan pada azas di dalam aspek proses.
Tidak semua upaya manusia membangun
kebun berisi kisah sukses, banyak pula kisah pedih dan tragis. Banyak kebun
teh, kopi, kina di Jawa Barat, kebun tebu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kebun
tembakau di Jawa Timur, kebun karet, kebun tembakau dan kebun kelapa
sawit di Sumatera Utara, sebelum berada di puncak kejayaan, mengalami proses
jatuh - bangun. Hanya pekebun yang bermental baja, pantang menyerah, yang
akhirnya meraih kesuksesan. Kebun banyak menyimpan drama kemanusiaan yang penuh
dengan warna dan variasi.
Pada masa awal pembangunan kebun,
kondisi infrastruktur dan sarana angkutan belum sebaik masa kini. Perjalanan
mengangkut teh dari kebun Gambung dekat Garut ke pelabuhan Sunda Kelapa ( Pasar
Ikan ) dan Tanjung Priok dilakukan dengan gerobak pedati yang ditarik
oleh sapi dan membutuhkan waktu berbulan bulan. Hasil kebun yang semakin banyak
dan memberikan prospek cerah, mendorong para investor dan pemerintah membangun
infrastruktur berupa jalan, jembatan, rel kereta api dan pelabuhan beserta
sarana angkutannya. Proses yang panjang itu pada akhirnya memberikan fungsi penting pada kebun sebagai
pendorong hadirnya peradaban baru. Kebun pada akhirnya berfungsi sebagai pembangun peradaban.
Bagaimana aspek proses kebun di masa depan?.
Dapat diperkirakan bahwa proses - proses yang berlangsung di kebun pada masa
depan akan mengalami perubahan besar dan mendasar. Hal ini disebabkan karena sebagian besar proses proses bergeser dari
out door ke in door. Dengan demikian banyak aktivitas proses yang lama
hilang, digantikan oleh proses - proses baru yang masih asing bagi kita semua.
Proses persemaian benih, pembersihan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan,
pengolahan, mungkin tidak ada lagi. Semua proses beserta peralatannya
akan menjadi koleksi museum.
Fungsi Kebun
Sekarang pembahasan memasuki tahap
fungsi kebun. Kebun yang dimaksud di dalam tulisan ini adalah bentuk
usaha komersil. Tanaman yang ditanam di kebun bukanlah tanaman pangan,
melainkan tanaman komoditi yang tergolong sebagai barang barang penikmat. Barang penikmat ini dibutuhkan sebagai
unsur pembentuk peradaban, seperti gula, teh, kopi, vanili, coklat, tembakau,
aneka rempah rempah dan sebagainya. Kehadiran kebun di suatu wilayah dapat
menarik kedatangan sekelompok orang menetap di sekitar kebun. Arus pendatang
semakin bertambah sejalan dengan berkembangnya perkebunan. Desa desa di sekitar
kebun berkembang menjadi kota. Kota kota utama di provinsi Sumatera utara
berkembang karena adanya perkebunan perkebunan besar. Kota kota Medan, Binjai,
Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Kisaran dan Rantau Prapat tumbuh berkembang
karena hadirnya perkebunan di sekitarnya. Jaringan jalan raya, jembatan, rel
kereta api dibangun untuk melayani kebutuhan perkebunan. Pelabuhan Belawan
dibangun karena alasan yang sama. Perkebunan telah mengubah wilayah pantai
Timur Sumatera Utara dari ekosistem
naturalis menjadi ekosistem
domestifikasi dan ekosistem fabrikasi.
Arus materi, energi dan informasi yang
beredar di Sumatera Utara meningkat pesat. Peningkatan itu dapat terjadi karena
masuknya modal, peralatan, manusia di sektor perkebunan. Pada tahap ini kebun
dan perkebunan sudah dapat disebut sebagai fungsi
peradaban, pembentuk peradaban, substansi peradaban. Tidak terbantahkan bahwa
berkat kehadiran perkebunan, sejak akhir abad XIX dan awal abad XX,
masyarakat Hindia Belanda sudah mengenal bahkan ikut menikmati benda benda
produk teknologi termaju. Benda benda yang jadi simbol peradaban modern yang
sudah beredar luas antara lain, telephone, telegraph, penerangan listrik,
jaringan pipa gas, layanan pos, air ledeng, gramophone, radio, gedung bioskop,
film, ice cream, hotel, restaurant, kolam pemandian, hotel, bar /
societet, mobil, kereta api, kapal api, pesawat terbang. Institusi institusi
modern juga sudah dinikmati, seperti dinas brainware,
sistem peradilan, penjara, sekolah, rumah sakit, pusat pasar.
Bagaimana fungsi kebun di masa depan?.
Dengan hadirnya sistem produksi pangan berbasis teknothrop, fungsi kebun
sebagai pembangun peradaban akan berubah drastis. Tidak ada lagi hamparan kebun
yang luas berikut pabrik pengolahannya. Berganti dengan puluhan , bahkan
ratusan atau ribuan laboratorium bio reaktor yang tersebar di
berbagai wilayah. Peran dan fungsi kebun di dalam peradaban akan diambil alih
oleh laboratorium bio reaktor. Dengan demikian konflik perebutan lahan
dapat hilang dengan sendirinya, beban pencemaran lingkungan berkurang banyak,
beban angkutan berbagai moda transportasi untuk distribusi barang juga berkurang.
Penyebaran laboratorium bio reaktor di berbagai wilayah semakin mendekatkan
produsen dengan konsumen.
Cerita tentang kebun menjadi kisah
nostalgia masa lalu. Di sinilah letak peran penting dan strategis Musperin,
sebagai pemelihara dan perawat barang barang memorable. Musperin dapat mengoptimalkan perannya sebagai pawang peradaban masa lalu. Musperin ibarat sebuah wahana
transportasi yang membawa penumpang dalam perjalanan wisata antar dimensi
waktu. Dalam perjalanan itu para penumpangnya belajar dalam rangka mendidik
dirinya sendiri agar dapat berpikir dan bertindak lebih arif dalam menjalani
kehidupannya.
Epilog
Dari paparan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa koleksi museum ternyata menyimpan jejak peradaban yang dapat
dibaca, ditafsirkan melalaui metode dan teknik keilmuan. Koleksi museum bukan
sekadar benda mati yang tidak dapat berbicara. Interview secara imajiner dengan
koleksi berupa artefak, ekofak dan feature telah berhasil mengungkapkan 4
fenomena dasar di alam yaitu bentuk, struktur, proses dan fungsi dalam
konteks perkebunan sebagai salah satu tema dasar di dalam peradaban. Perjalanan
menembus dimensi waktu di Museum Perkebunan Indonesia, telah memberi banyak
pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari sekolah konvensional.
Museum telah menambah kekayaan
khasanah sistem dan sarana pendidikan, sehingga sungguh tepat
pernyataan bahwa museum adalah tempat orang belajar secara mandiri untuk
meningkatkan level pengetahuannya. Pengetahuan tersebut pada akhirnya dapat
memberikan kearifan. Dengan kearifan itu seorang manusia dapat menjalani
hidupnya secara terhormat dan bermartabat. Sebagai penutup, penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ayahanda Soedjai Kartasasmita yang
sudah mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Pada kesempatan ini ananda
Yance mengucapkan " SELAMAT ULANG
TAHUN KE 94 ". Semoga ayahanda tetap sehat dan bahagia dalam hidup.
Catatan Penulis
Selain Soedjai Kartasasmita, selaku figur sentral, masih banyak orang yang sudah berkontribusi besar terhadap upaya pendirian dan pengembangan Museum Perkebunan Indonesia. Mereka juga orang orang berdedikasi dan berkomitmen penuh terhadap kemanusiaan. Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Yang Terhormat:
- Abangda Ir. Rhohan Faezi Mochtar, selaku Ketua Umum Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, yang tetap setia mendampingi ayahandanya.
- Mbak yu Dra. Sri Hartini, M.Si, selaku Ketua Pengurus Harian Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, senior penulis di UGM, yang sudah bekerja ekstra keras untuk mengembangkan Museum Perkebunan Indonesia.
- Bapak Achmad Suherman Kartasasmita, putera Bapak Soedjai Kartasasmita, Direktur Utama Bank Mestika, yang banyak memberikan dukungan kepada Museum Perkebunan Indonesia.
- Bapak Dr. Muhammad Abdul Ghani, M.Si, selaku Dewan Pembina Yayasan Museum Perkebunan Indonesia dan Direktur Umum Holding Company P T Perkebunan Nusantara, yang banyak memberikan bantuan kepada Museum Perkebunan Indonesia.
- Bapak Dr. Edwin Lubis, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit, yang banyak membantu pengembangan Museum Perkebunan Indonesia.
- Bapak Dr. Hasril Hasan Siregar, selaku Dewan Pembina Yayasan Museum Perkebunan Indonesia,seperti Ketua Harian BKS - PPS yang banyak membantu pengembangan Museum Perkebunan Indonesia.
- Bapak Harold O Williams, selaku Bendahara Umum Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Principal PT Socfindo.
- Bapak Andi Suwignyo, selaku Dewan Pengawas Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, General Manager PT Socfindo
- Ibu Fransisca Dieny Br Ginting, selaku Bendahara Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Staf PT Socfindo.
- Bapak Dr. Erond Damanik, selaku Sekretaris Pengurus Harian Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Dosen Universitas Negeri Medan.
- Ibu Dr. Isnen Fitria, Ibu Sri Shindi Indira dan Bapak Hendra Fahruddin Siregar dari Beranda Warisan Sumatera yang telah banyak membantu kegiatan Museum Perkebunan Indonesia.
- Ibu Hesti Tarikat, Ibu Rika Susanto, Ibu Theressa Birks, Bapak Osmar Tanjung, Komisaris PTPN IV, selaku Pendukung Luar Negeri
- Ananda Chairunnisa, selaku Staf Administrasi Yayasan Museum Perkebunan Indonesia.
- Ananda Cindy Yosita Puteri, SIP dan Ananda Nur Aini Afika Sari, S.Pd, selaku Staf Teknik Yayasan Museum Perkebunan Indonesia.
- Ucapan terima juga disampaikan kepada Individu, Kelompok, Organisasi, seperti KAGAMA, Institusi ( sekolah ) yang tidak dapat disebutkan satu demi satu, karena sudah sangat banyak yang berpartisipasi mendukung, berkontribusi untuk pengembangan Museum Perkebunan Indonesia.








.png)
Comments
Post a Comment