MUSEUM PERKEBUNAN INDONESIA : SARANA TRANSPORTASI ANTAR DIMENSI WAKTU

Prolog

 

Tulisan ini didedikasikan untuk memperingati ulang tahun ke 94 ayahanda Soedjai Kartasasmita, yang jatuh pada tanggal 26 November 2020. Soedjai Kartasasmita adalah manusia langka dengan beragam prestasi kelas wahid, mulai dari perkebunan, pendidikan, diplomasi, fotografi hingga museum. Di usia yang bagi sebagian besar orang sudah tergolong uzur, tetapi beliau tetap bersemangat, fit dan gesit menjalani aktivitas sehari hari. Sudah banyak tulisan yang mengulas berbagai pencapaian prestasi Soedjai Kartasasmita, sehingga tulisan ini tidak mengulangi hal itu.

Tulisan ini khusus membahas salah satu maha karya Soedjai Kartasasmita, yaitu Museum Perkebunan Indonesia I dan II ( Musperin ). Museum Perkebunan Indonesia I adalah suatu museum tematik, yang menjadikan perkebunan sebagai tema utama dan satu satunya di Indonesia. Museum ini terletak di Jalan Brigjend Katamso, Medan. Pemilihan tema ini didasarkan pada alasan bahwa kehadiran perkebunan di Indonesia pada umumnya dan provinsi Sumatera Utara pada khususnya telah memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan peradaban di masa lalu hingga sekarang. Kota Medan lahir dan berkembang hingga menjadi metropolitan karena ditopang oleh perkebunan. Museum Perkebunan Indonesia II, terletak di jalan Pemuda, Medan merupakan perluasan space secara fisik dari Museum Perkebunan Indonesia I, tetapi juga sekaligus merupakan  penyempitan tema dari saudara tuanya, memilih infrastruktur sebagai sub tema.

Pemilihan sub tema infrastruktur didasarkan pada alasan bahwa tanpa dukungan infrastruktur dasar, perkebunan tidak mungkin dapat berkembang pesat. Perkembangan perkebunan membutuhkan infrastruktur, dan sebaliknya infrastruktur membutuhkan perkebunan sebagai motor penggerak. Dua infrastruktur dasar di Sumatera Utara yaitu jaringan rel kereta api dan pelabuhan Samudera, Belawan menjadi bukti kebenaran pernyataan di atas. Kehadiran dua museum tersebut berikut pemilihan tema dan sub tema, adalah bukti ketajaman visi Soedjai Kartasasmita, tokoh kunci yang berperan selaku konduktor dari orchestra Museum Perkebunan Indonesia I dan II. Keistimewaan lain dari Museum Perkebunan I dan II adalah kedua bangunan museum tersebut merupakan bangunan cagar budaya. Soedjai Kartasasmita sekali lagi menunjukkan ketajaman visinya dalam memilih bangunan untuk dijadikan museum karena pilihan tersebut merupakan langkah jitu untuk menyelamatkan bangunan cagar budaya. Setelah kedua bangunan tersebut menjadi museum maka tidak ada lagi orang, lembaga, bahkan pemerintah sekalipun yang berani melakukan perubahan fungsi peruntukan bangunan tersebut karena pasti akan mendapat  hujatan dan perlawanan keras dari seluruh elemen masyarakat. Museum adalah simbol peradaban manusia. Perusakan terhadap museum sama dengan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Diasumsikan  bahwa  sebagian besar pembaca sudah paham dengan konsep museum. Museum bukan gudang penyimpanan barang antik,  penyimpanan barang barang rongsokan, tetapi tempat memamerkan jejak peradaban manusia. Museum adalah tempat orang mendidik dirinya sendiri.  Di Museum orang dapat belajar tanpa guru / dosen, tanpa jadwal terstruktur, tanpa kurikulum, tanpa Rencana Pembelajaran Semester ( RPS ),  dan Garis Besar Pendidikan Pengajaran ( GBPP ) yang serba kaku. Orang yang paham, dapat belajar melalui benda benda yang dipamerkan, dengan mengembangkan teknik observasi sistematis, dialog imajiner, dan mengembangkan imajinasi.

Tulisan ini akan membawa pembaca bertualang  di alam pemikiran, mencoba membaca dan menafsirkan jejak jejak peradaban manusia. Jejak itu akan berbicara tentang banyak hal, sesuatu yang tidak didapatkan di sekolah konvensional. Pembelajaran model ini dapat terselenggara berkat visi dan upaya tidak kenal lelah dari seorang tua arif bijaksana, Soedjai Kartasasmita.



Museum perkebunan I Jl.Brigjend Katamso, Medan

 



Museum perkebunan II di Jl. Pemuda, Medan

 

Postulat Yang Digunakan

 Tulisan ini disusun di atas landasan beberapa postulat, yaitu :

 1. Pikiran adalah pangkal dari segala sesuatu. Pikiran mengarahkan perilaku dan perilaku menghasilkan sesuatu, yang bersifat tangible dan intangible dengan model lintasan garis lurus ( linear ). Dengan menempuh arah sebaliknya,  dari sesuatu ( hasil perilaku ) dapat ditelusuri perilaku dan dari perilaku, dapat diketahui pikiran yang mendasarinya.

2. Artefak sebagai hasil perilaku, tidak dapat dianggap sebagai fosil perilaku, karena bentuk perilaku pembuatnya sudah  tidak dapat diamati lagi. Jejak bekas perilaku  manusia hanya dapat dibaca melalui metode  penafsiran, analogi, pengandaian.

3. Dari jejak perilaku manusia dapat dikenali minimal empat fenomena yaitu bentuk, struktur, proses dan fungsi.

 

Tiga Dimensi Waktu

 Tahun 1976, seorang arkeolog yang terkenal  dari mazhab processual, Michael B Schiffer, menerbitkan karya yang fenomenal, berjudul Behavioral Archaeology. Karya itu memuat berbagai dalil  tentang perilaku yang dirumuskan dalam berbagai model dan persamaan matematis, sehingga dapat dikatakan sebagai arkeologi kuantitatif. Michael B Schiffer, merumuskan empat jenis mekanisme strategi mempelajari budaya materi, yaitu  : 

1. Mempelajari budaya materi masa lalu untuk memahami masa lalu.

2. Mempelajari budaya materi masa lalu untuk memahami masa kini.

3. Mempelajari budaya materi masa kini untuk memahami masa lalu. 

4. Mempelajari budaya materi  masa kini untuk  memahami masa kini.

 

Menurut pendapat penulis klasifikasi strategi yang dikemukakan oleh Schiffer, masih kurang lengkap. Perlu ditambahkan dengan mekanisme ke lima, yaitu mempelajari budaya materi masa lalu, masa kini, untuk melihat masa lalu, memahami masa kini dan membayangkan masa depan. Semua mekanisme ini dapat diterapkan di museum. Koleksi museum dapat digunakan untuk melihat  ke belakang, memahami masa kini dan  membayangkan masa depan. Mekanisme pertama paling banyak dikenal dan  diterapkan.

Dengan kerangka di atas, penulis berusaha mengembangkan dialog dengan koleksi Museum Perkebunan Indonesia. Agar pembahasan dapat lebih terfokus, tulisan ini hanya membahas satu jenis komoditi perkebunan, yaitu kelapa sawit yang sekarang sedang mengalami booming. 

 

Definisi dan Bentuk Kebun

Berdasarkan koleksi foto foto kebun di masa lalu, ternyata definisi / konsep kebun di atas kertas dan  " peta mental / pikiran ", mulai mengalami perubahan. Definisi kebun di masa lalu adalah suatu hamparan lahan luas melampaui batas horizon pandangan mata, relatif datar yang ditanami satu jenis tanaman komoditi, yang di sekelilingnya terdapat kantung kantung pemukiman dan berbagai fasilitas infrastruktur pendukung keberadaan kebun.



kebun kelapa sawit di lahan datar

 Definisi dan mindset tentang kebun diciptakan bangsa Belanda pada 150 tahun lalu. Definisi adalah hasil abstraksi dari realita empirik. Realita kebun di masa lalu memang sangat sesuai dengan definisi di atas. Kebun di masa kini tidak selamanya berada di lahan datar. Sekarang luas kebun mengalami penambahan luar biasa, melewati batas kontur lahan datar, bahkan sudah merambah kaki dan lereng perbukitan. Penambahan  luas yang dilakukan atas nama kebutuhan dan / atau kekeinginan, telah melewati batas norma norma pengelolaan lahan yang baik. Norma kelas kemampuan lahan dan kesesuaian lahan telah dilanggar secara masiv, sistematis dan terstruktur. Akibatnya sudah dapat diduga yaitu : 

1. Dibutuhkan upaya ( effort ), lebih besar, sehingga nilai input, modal yang dibutuhkan lebih besar. 

2. Tingkat losses lebih besar, baik input berupa pupuk maupun produksi berupa kehilangan brondolan buah kelapa sawiit ketika dipanen. Waktu yang dibutuhkan juga lebih lama, termasuk kesulitan pengangkutan, dan risiko kecelakaan kerja juga lebih tinggi. Kedua faktor di atas menyebabkan tingkat efisiensi menurun, berakibat pada profit yang juga menurun. Ternyata manusia sekarang lebih mengedepankan kebutuhan / keinginan dari akal sehat. Ini adalah pelajaran pertama yang didapat.

Akibat dari ekspansi luas kebun  yang tidak terkendali adalah penurunan mutu lingkungan sumberdaya alam. Indikator terjadinya degradasi mutu lingkungan dapat dilihat dari meningkatnya frekuensi dan intensitas peristiwa geohidroklimat, yaitu, longsor, banjir, erosi dan sedimentasi. Semua peristiwa alam itu telah menurunkan nilai tambah dan manfaat dari keberadaan kebun. Biaya dan usaha merehabilitasi kerusakan yang terjadi, telah menggerogoti profit yang diperoleh. 

 

Kemudian  kita mulai membayangkan bagaimana definisi dan bentuk kebun di masa depan. Kemajuan pesat di bidang bidang teknologi mikro elektronika, mikrobiologi / genetika, teknologi nano akan mengubah definisi dan bentuk serta ukuran kebun secara revolusioner, struktural dan mendasar. Aplikasi konsep teknothrop, dalam sistem produksi pangan dengan menggunakan teknologi bioreaktor, tidak membutuhkan lahan  pertanian / perkebunan yang luas. Luas kebun yang dibutuhkan tidak sampai 10 % dari luas yang sekarang. Dapat dipastikan pada 3 - 5 dekade mendatang definisi, bentuk dan ukuran luas kebun akan berubah total. Walaupun luas kebun sudah jauh berkurang, produksi komoditi dapat dilipat gandakan dari tingkat produksi sekarang dengan tingkat entropi yang jauh lebih rendah.  Konsep teknothrop didefinisikan sebagai proses penciptaan biomassa melalui teknik kultur jaringan dengan menggunakan instrumen bio reaktor melalui mekanisme proses duplikasi jaringan sel hewan, tumbuhan dan mikro organisme di laboratorium. Penjelasan rinci tentang konsep teknothrop dapat dibaca pada tulisan yang sudah dipublikasi di blog pribadi penulis dan dapat diakses oleh siapapun yang berminat. Hal ini memberi teguran / peringatan bagi investor yang terus bernafsu ingin memperluas areal kebunnya.

Selain dari bentuk dan luas kebun, ukuran pohon kelapa sawit sekarang lebih pendek dari pohon kelapa sawit di masa lalu. Hal ini disebabkan karena ada perubahan mutu varietas benih yang ditanam. Energi dan materi yang semula diarahkan untuk memperbesar massa batang dan pelepah dapat dialihkan untuk memperbesar massa buah. Durasi masa produktivitas tanaman kepala sawit masa kini juga lebih panjang. Kapasitas pabrik pengolahan juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pabrik tertua rata rata berkapasitas 10 ton Tandan Buah Segar ( TBS ) per jam. Kapasitas ini kemudian meningkat jadi 30 ton TBS per jam, kemudian meningkat lagi mdnjadi 60 ton TBS per jam, bahkan ada yang mencapai 90 ton TBS per jam. Penambahan kapasitas ini pasti diikuti dengan penambahan kebutuhan air.  Peningkatan pemakaian air, pasti meningkatkan beban pencemaran air, tanah  dan  udara. Kebutuhan lahan untuk memperluas kolam limbah juga meningkat. Pelarangan penggunaan incenerator, untuk membakar tandan kosong, menimbulkan masalah bagi banyak kebun untuk mengatasinya.

Pemanfaatan limbah padat untuk dijadikan kompos, merupakan salah satu solusi untuk mengatasi problem limbah padat. Salah satu upaya mengatasi beban pencemaran limbah cair, adalah praktek Land Application ( mengaplikasikan limbah cair di lahan kebun ). Perubahan pada bentuk dan ukuran kebun berikut pabrik pengolahannya memberikan konsekuensi pada perubahan struktur keruangan kebun. Banyak lahan kebun terpakai untuk menghadirkan solusi yang dibutuhkan, agar masalah yang timbul dapat diatasi.

 

Struktur Kebun

Konsep struktur yang dimaksud oleh tulisan ini meliputi struktur keruangan yang didesain, tata letak / lay out fasilitas dan jaringan infrastruktur kebun. Pembentukan struktur kebun dipengaruhi oleh bentuk kontur lahan. Bagaimanapun juga aspek bentuk lahan pasti mempengaruhi bentuk struktur kebun. Pada masa lalu, pemukiman dan fasilitas infrastruktur dibuat mengelompok, mengelilingi areal kebun. Satu kebun memiliki luas rata rata berkisar antara 3000 - 5000 Ha, dipimpin oleh seorang Administratur ( ADM ) atau Manager. Satu kebun memiliki beberapa Afdeling, yang dipimpin oleh seorang Asisten. Luas satu afdeling rata rata berkisar 500 600 Ha. Satu afdeling terdiri dari beberapa Blok. Biasanya pabrik pengolahan berada tidak jauh dari sungai. Di masa lalu hal ini dimaksudkan agar mudah mendapatkan suplai air, dan mengalirkan limbah pabrik ke sungai.

Regulasi di masa kini  tidak mengijinkan pembuangan limbah cair ke sungai tanpa melalui upaya treatment limbah. Limbah yang sudah diolah secara proses aerob dan an aerob akan disalurkan ke badan   air. Untuk mengurangi tekanan limbah cair di pabrik dan menghemat penggunaan pupuk an organik serta penghisapan berlebihan air tanah dangkal oleh tanaman kelapa sawit, Pemerintah mengizinkan para  pengelola kebun melakukan praktek Land Application melalui regulasi yaitu Keputusan Menteri Lingkungan  Hidup No 29 Tahun 2003 Tentang Pedoman Syarat dan Tata Cara Perizinan Pemanfaatan Air Limbah Industri Minyak Sawit Pada Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit.

Dalam upaya menerapkan keberadaan dua fasilitas tersebut di atas  mengubah struktur keruangan kebun. Perubahan tersebut tampak pada beberapa aspek struktur lahan kebun. Beberapa kebun terpaksa mengorbankan areal gawangan, digunakan  untuk fasilitas aplikasi lahan.

Sebenarnya prosedur aplikasi lahan mengandung risiko tinggi jika dilaksanakan dengan disiplin rendah. Salah satu risikonya adalah  terkontaminasinya air tanah dangkal. Tingkat BOD ( Biologycal Oxigen Demand )  di dalam limbah cair itu cukup tinggi berkisar antara 3500 - 5.000 ppm. Dibutuhkan disiplin tingkat tinggi untuk melakukan aplikasi lahan. Pertanyaan berikutnya, kira kira bagaimana struktur kebun di masa depan?. Mengingat bakal terjadi perubahan definisi, bentuk dan ukuran kebun di masa depan, pasti juga akan membawa Perubahan besar pada aspek struktur. Perubahan akan terjadi pada struktur tata ruang, lay out ( tata letak ). Areal kebun yang luas, berikut pabrik pengolahan yang luas, kompleks pemukiman  yang luas berikut fasilitas infrastruktur yang lain sudah tidak dibutuhkan lagi. Ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, misalnya mengubah fungsi peruntukan lahan, seperti pembangunan kota baru atau dihutankan kembali. Perubahan pada struktur di kebun pasti akan menimbulkan perubahan pula pada aspek proses.

 



Penerapan Land Aplication dengan teknik Flatbed


Proses - Proses Di Kebun

Aspek proses dapat mengungkapkan banyak informasi. Koleksi koleksi di Musperin I dan II, dapat mengungkapkan banyak kisah menarik. Dari koleksi foto dan artefak, terungkap bagaimana proses pembangunan kebun. Waktu yang dibutuhkan mulai dari pembukaan lahan kebun kelapa sawit pertama sampai beroperasinya pabrik pengolahan tidak kurang dari 10 tahun. Kebun dan pabrik tertua terdapat di desa Sungai Liput, Kabupaten Aceh Tamiang milik PT Socfindo ( Societe Finance Indonesia ), sebuah perusahaan PMA asal Belgia. Awalnya, tahun 1909 didirikan perusahaan bernama Societe Financiere des Caouchoucs Medan Societet Anonyme oleh Adrian Hallet dan M Bunge. Perusahaan itu lebih populer dengan nama PT Socfin. Kebun pertama mulai dibuka tahun 1911 dan pabrik prngolahannya mulai beroperasi tahun 1922. 



Salah satu pabrik pengolahan kelapa sawit tertua di Indonesia, tetapi sangat terawat baik dan bersih, milik PT.Socfindo di Desa Sungai Liput Kabupaten Aceh Tamiang 



Skema bagan alir proses yang berlangsung di pabrik pengolahan kelapa sawit

Proses pembukaan lahan butuh waktu beberapa tahun, karena belum menggunakan alat alat mekanis ( alat berat ). Dibutuhkan kesabaran,  ketekunan dan kerja keras untuk pekerjaan tersebut. Setelah pembersihan lahan, dipersiapkan pembibitan pohon kelapa sawit. Waktu yang dibutuhkan pada masa kini untuk pekerjaan yang sama, lebih singkat.

Proses pembukaan kebun di masa kini relatif sama dengan di masa lalu. Aspek proses di masa kini mengalami reduksi tidak hanya dari aspek waktu, tetapi juga dari aspek lain, seperti mutu input ( kuantitas, frekuensi pemupukan ),  pemeliharaan piringan, pemeliharaan pabrik. Pemupukan yang baik pada tahun berjalan, baru terlihat  pada hasil panen berikutnya.

Demikian pula sebaliknya, pemupukan yang buruk baru didapat hasilnya pada tahun berikutnya. Banyak orang mengira bahwa pabrik yang canggih dapat memberikan hasil lebih memuaskan. Pemahaman akan proses mematahkan anggapan tersebut. Minyak kelapa sawit dibuat di kebun. Pabrik secanggih apapun, tidak dapat menaikkan angka rendemen CPO, karena pabrik hanya mengekstraksi buah kelapa sawit. Pada masa lalu semua kebun dijalankan dengan mematuhi semua prinsip, kriteria dan persyaratan yang ditetapkan. Para pengelola dan pimpinan kebun, lebih taat azas. Sementara para pengelola kebun di masa kini kurang disiplin mentaati semua ketentuan. Dalam proses pemeliharaan kebun, pabrik dan berbagsi properti lainnya, terlihat pengelola kebun di masa lalu lebih berdisiplin. Tingkat kedisiplinan para pengelola kebun Asing berada di posisi teratas, diikuti oleh pengelola kebun Swasta Nasional dan terakhir pengelola kebun milik BUMN. Seorang pekebun kawakan pernah berkata " pupuk terbaik adalah jejak tapak sepatu Planter di lahan kebun ". Itu adalah ungkapan paling relevan tentang pentingnya kedisiplinan  pengelola kebun menjalankan tugasnya. Pada aspek proses juga tampak pentingnya upaya pemeliharaan rutin ( maintenance ). Ketaatan pada aspek proses pada akhirnya akan berbuah profit yang besar. 

Sebaliknya pelanggaran berbagai ketentuan normatif dalam aspek proses akan berbuah losses, yang berakumulasi dan pada akhirnya berbuah kerugian. Jika losses demi losses terus terjadi , maka pada akhirnya akan menenggelamkan perusahaan kebun. Dalam riwayat perkebunan ada beberapa perusahaan akhirnya tinggal nama dan ada beberapa  yang stabil bertahan di puncak dan ada pula yang stagnan di level medium. Faktor penyebab dari semua fenomena itu adalah tingkat kepatuhan / kedisiplinan pada azas di dalam aspek proses.

Tidak semua upaya manusia membangun kebun berisi kisah sukses, banyak pula kisah pedih dan tragis. Banyak kebun teh, kopi, kina di Jawa Barat, kebun tebu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kebun tembakau di Jawa Timur, kebun karet, kebun  tembakau dan kebun kelapa sawit di Sumatera Utara, sebelum berada di puncak kejayaan, mengalami proses jatuh - bangun. Hanya pekebun yang bermental baja, pantang menyerah, yang akhirnya meraih kesuksesan. Kebun banyak menyimpan drama kemanusiaan yang penuh dengan warna dan variasi.

Pada  masa awal pembangunan kebun, kondisi infrastruktur dan sarana angkutan belum sebaik masa kini. Perjalanan mengangkut teh dari kebun Gambung dekat Garut ke pelabuhan Sunda Kelapa ( Pasar Ikan ) dan  Tanjung Priok dilakukan dengan gerobak pedati yang ditarik oleh sapi dan membutuhkan waktu berbulan bulan. Hasil kebun yang semakin banyak dan memberikan prospek cerah, mendorong para investor dan pemerintah membangun infrastruktur berupa jalan, jembatan, rel kereta api dan pelabuhan beserta sarana angkutannya. Proses yang panjang itu pada akhirnya memberikan fungsi penting pada kebun sebagai pendorong hadirnya peradaban baru. Kebun pada akhirnya berfungsi sebagai pembangun peradaban.

Bagaimana aspek proses kebun di masa depan?. Dapat diperkirakan bahwa proses - proses yang berlangsung di kebun pada masa depan akan mengalami perubahan besar dan mendasar. Hal ini disebabkan karena sebagian besar proses proses bergeser dari out door ke in door. Dengan demikian banyak aktivitas proses yang lama hilang, digantikan oleh proses - proses baru yang masih asing bagi kita semua. Proses persemaian benih, pembersihan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan,  mungkin tidak ada lagi. Semua proses beserta peralatannya akan menjadi koleksi museum. 

 

Fungsi Kebun

Sekarang pembahasan memasuki tahap fungsi kebun. Kebun yang dimaksud di dalam tulisan ini  adalah bentuk usaha komersil. Tanaman yang ditanam di kebun bukanlah tanaman pangan, melainkan tanaman komoditi yang tergolong  sebagai barang barang penikmat. Barang penikmat ini dibutuhkan sebagai unsur pembentuk peradaban, seperti gula, teh, kopi, vanili, coklat, tembakau, aneka rempah rempah dan sebagainya. Kehadiran kebun di suatu wilayah dapat menarik kedatangan sekelompok orang menetap di sekitar kebun. Arus pendatang semakin bertambah sejalan dengan berkembangnya perkebunan. Desa desa di sekitar kebun berkembang menjadi kota. Kota kota utama di provinsi Sumatera utara berkembang karena adanya perkebunan perkebunan besar. Kota kota Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Kisaran dan Rantau Prapat tumbuh berkembang karena hadirnya perkebunan di sekitarnya. Jaringan jalan raya, jembatan, rel kereta api dibangun untuk melayani kebutuhan perkebunan. Pelabuhan Belawan dibangun karena alasan yang sama. Perkebunan telah mengubah wilayah pantai Timur Sumatera Utara dari  ekosistem naturalis menjadi ekosistem domestifikasi dan ekosistem fabrikasi.

Arus materi, energi dan informasi yang beredar di Sumatera Utara meningkat pesat. Peningkatan itu dapat terjadi karena masuknya modal, peralatan, manusia di sektor perkebunan. Pada tahap ini kebun dan perkebunan sudah dapat disebut sebagai fungsi peradaban, pembentuk peradaban, substansi peradaban. Tidak terbantahkan bahwa berkat kehadiran perkebunan, sejak akhir abad XIX dan awal abad XX,  masyarakat Hindia Belanda sudah mengenal bahkan ikut menikmati benda benda produk teknologi termaju. Benda benda yang jadi simbol peradaban modern yang sudah beredar luas antara lain, telephone, telegraph, penerangan listrik, jaringan pipa gas, layanan pos, air ledeng, gramophone, radio, gedung bioskop, film, ice cream, hotel, restaurant, kolam pemandian, hotel, bar / societet,  mobil, kereta api, kapal api, pesawat terbang. Institusi institusi modern juga sudah dinikmati, seperti dinas brainware, sistem peradilan, penjara, sekolah, rumah sakit, pusat pasar.

Bagaimana fungsi kebun di masa depan?. Dengan hadirnya sistem produksi pangan berbasis teknothrop, fungsi kebun sebagai pembangun peradaban akan berubah drastis. Tidak ada lagi hamparan kebun yang luas berikut pabrik pengolahannya. Berganti dengan puluhan , bahkan ratusan atau ribuan laboratorium bio reaktor yang tersebar di berbagai wilayah. Peran dan fungsi kebun di dalam peradaban akan diambil alih oleh laboratorium bio reaktor.  Dengan demikian konflik perebutan lahan dapat hilang dengan sendirinya, beban pencemaran lingkungan berkurang banyak, beban angkutan berbagai moda transportasi untuk distribusi barang juga berkurang. Penyebaran laboratorium bio reaktor di berbagai wilayah semakin mendekatkan produsen dengan konsumen.

Cerita tentang kebun menjadi kisah nostalgia masa lalu. Di sinilah letak peran penting dan strategis Musperin, sebagai pemelihara dan perawat barang barang memorable. Musperin dapat mengoptimalkan perannya sebagai pawang peradaban masa lalu. Musperin ibarat sebuah wahana transportasi yang membawa penumpang dalam perjalanan wisata antar dimensi waktu. Dalam perjalanan itu para penumpangnya belajar dalam rangka mendidik dirinya sendiri agar dapat berpikir dan bertindak lebih arif dalam menjalani kehidupannya.

 

Epilog

 

Dari paparan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa koleksi museum ternyata menyimpan jejak peradaban yang dapat dibaca, ditafsirkan melalaui metode dan teknik keilmuan. Koleksi museum bukan sekadar benda mati yang tidak dapat berbicara. Interview secara imajiner dengan koleksi berupa artefak, ekofak dan feature telah berhasil mengungkapkan 4 fenomena dasar di alam yaitu  bentuk, struktur, proses dan fungsi dalam konteks perkebunan sebagai salah satu tema dasar di dalam peradaban. Perjalanan menembus dimensi waktu di Museum Perkebunan Indonesia, telah memberi banyak pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari sekolah konvensional.

Museum telah menambah kekayaan khasanah    sistem dan sarana pendidikan, sehingga sungguh tepat pernyataan bahwa museum adalah tempat orang belajar secara mandiri untuk meningkatkan level pengetahuannya. Pengetahuan tersebut pada akhirnya dapat memberikan kearifan. Dengan kearifan itu seorang manusia dapat menjalani hidupnya secara terhormat dan bermartabat. Sebagai penutup, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ayahanda Soedjai Kartasasmita yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Pada kesempatan ini ananda Yance mengucapkan " SELAMAT ULANG TAHUN KE 94 ". Semoga ayahanda tetap sehat dan bahagia dalam hidup.

 



Penulis bersama Soedjai Kartasasmita dan Rhohan  Faezi Mochtar

 

Catatan Penulis

Selain Soedjai Kartasasmita, selaku figur sentral, masih banyak orang yang sudah berkontribusi besar terhadap upaya pendirian dan pengembangan Museum Perkebunan Indonesia. Mereka juga orang orang berdedikasi dan berkomitmen penuh terhadap kemanusiaan. Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Yang Terhormat: 

  1. Abangda Ir. Rhohan Faezi Mochtar, selaku Ketua Umum Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, yang tetap setia mendampingi ayahandanya.
  2. Mbak yu Dra. Sri Hartini, M.Si, selaku Ketua Pengurus Harian Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, senior penulis di UGM, yang sudah bekerja ekstra keras untuk mengembangkan Museum Perkebunan Indonesia.
  3. Bapak Achmad Suherman Kartasasmita, putera Bapak  Soedjai Kartasasmita, Direktur Utama Bank Mestika, yang banyak memberikan dukungan kepada Museum Perkebunan Indonesia. 
  4. Bapak Dr. Muhammad Abdul Ghani, M.Si, selaku Dewan Pembina Yayasan Museum Perkebunan Indonesia dan Direktur Umum Holding Company P T Perkebunan Nusantara, yang banyak memberikan bantuan kepada Museum Perkebunan Indonesia.
  5.  Bapak Dr. Edwin Lubis, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit, yang banyak membantu pengembangan Museum Perkebunan Indonesia.
  6. Bapak Dr. Hasril Hasan Siregar, selaku Dewan Pembina Yayasan Museum Perkebunan Indonesia,seperti  Ketua Harian BKS - PPS yang banyak membantu pengembangan Museum Perkebunan Indonesia.
  7. Bapak Harold O Williams, selaku Bendahara Umum Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Principal PT Socfindo.
  8. Bapak Andi Suwignyo, selaku Dewan Pengawas Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, General Manager PT Socfindo
  9. Ibu Fransisca Dieny Br Ginting, selaku Bendahara Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Staf PT Socfindo.
  10. Bapak Dr. Erond Damanik, selaku Sekretaris Pengurus Harian Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Dosen Universitas Negeri Medan.
  11. Ibu Dr. Isnen Fitria, Ibu Sri Shindi Indira dan Bapak Hendra Fahruddin Siregar dari Beranda Warisan Sumatera yang telah banyak membantu kegiatan Museum Perkebunan Indonesia.
  12. Ibu Hesti Tarikat, Ibu Rika Susanto, Ibu Theressa Birks, Bapak Osmar Tanjung, Komisaris PTPN IV, selaku Pendukung Luar Negeri
  13. Ananda Chairunnisa, selaku Staf Administrasi Yayasan Museum Perkebunan Indonesia.
  14. Ananda Cindy Yosita Puteri, SIP dan Ananda Nur Aini Afika Sari, S.Pd, selaku Staf Teknik Yayasan Museum Perkebunan Indonesia.
  15. Ucapan terima juga disampaikan kepada Individu, Kelompok, Organisasi, seperti KAGAMA, Institusi ( sekolah ) yang tidak dapat disebutkan satu demi satu, karena sudah sangat banyak yang berpartisipasi mendukung, berkontribusi untuk pengembangan Museum Perkebunan Indonesia.

 

Comments

Popular Posts