ANTARA TAMIANG DAN MAJAPAHIT


 Prolog

 

Penulis dilahirkan di suatu desa kecil yang tidak terkenal. Desa itu dinamakan Medang Ara, termasuk kecamatan Manyak Peyed, kabupaten Aceh Tamiang, provinsi Aceh. Medang Ara terletak di tepi perkebunan karet milik PT Socfindo ( Societe Finance  - Indonesia ), sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing ( PMA ) dari Belgia.

Ayah penulis, HMMC J Wirtjes XV adalah salah satu petinggi di perusahaan tersebut. Nama kecamatan Manyak Payed, mengingatkan sebagai toponim yang dapat dikaitkan dengan  nama kerajaan termahsyur, Majapahit. Ibu kota kecamatan Manyak Payed adalah Tualang Cut. Sejak masih kecil, penulis sering mendengar cerita dari para orang tua, bahwa nama Manyak Payed  berasal dari kata Majapahit. Ratusan silam ada sepasukan dari kerajaan Majapahit yang membangun base camp di wlayah yang sekarang bernama Manyak Payed dalam rangka ekspedisi menaklukkan kerajaan Tamiang. Tidak sedikit pula orang yang meragukan kebenaran cerita tersebut. Kemiripan bunyi antara Manyak Payed dengan Majapahit, dianggap sebagai kebetulan semata

Bagi mereka, Majapahit terlalu jauh dari Tamiang, sehingga disangsikan kalau Majapahit mampu mengirim pasukan untuk menduduki Tamiang. Kisah tersebut di kalangan masyarakat dianggap sebagai dongeng pengantar tidur. 

 


antara Tamiang dan Majapahit
Sumber: Google map

Memori Kolektif sebagai Isyarat Awal

 Selama bertahun tahun cerita rakyat itu terus mengusik rasa ingin tahu penulis. Dari penelusuran informasi dari berbagai pihak, ditemukan petunjuk awal yang tidak dapat  diabaikan begitu saja. Ternyata tidak jauh dari kota kecamatan, ke arah pantai, terdapat sebuah rawa rawa, yang di kalangan penduduk dikenal dengan nama Paya Gajah. Paya adalah bahasa lokal untuk menyebut rawa rawa. Menurut penuturan para tetua kampung, di tempat tersebut pernah berkemah pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada.

Nama Gajah Mada kemudian tertinggal sebagai nama rawa rawa tersebut. Penelusuran berikutnya membawa penulis berkunjung ke sebuah bukit di desa Semadam, terletak lebih kurang 35 Km di selatan Manyak Payed. Bukit itu dinamakan bukit Mada. Menurut penuturan orang  orang tua setempat, Gajah Mada pernah mendirikan perkemahan pasukannya di bukit itu. Tiga nama tempat berdekatan yang dapat diasosiasikan dengan kerajaan Majapahit dan Mahapatih  Gajah Mada adalah petunjuk awal yang tidak dapat dianggap sepele.

Kalau hanya satu nama tempat yang ada kemiripan bunyi, mungkin dapat dianggap sebagai faktor kebetulan, tetapi kalau tiga nama tempat, sangat sulit kalau dianggap sebagai kebetulan. Sepertinya ke tiga nama tempat tersebut merupakan memori kolektif yang sudah mengendap cukup lama tertanam di benak masyarakat dan masih tersisa samar samar.

Hasil kunjungan napak tilas, belum cukup untuk membangun imajinasi tentang peristiwa yang terjadi 700 tahun lalu. Hal ini memperkuat tekad penulis untuk mengunjungi pusat kerajaan Majapahit, agar dapat berkontemplasi sambil mencari bukti yang lebih kuat dari sekadar cerita. Hasil kunjungan ke pusat kerajaan Majapahit di desa Trowulan, dekat Mojokerto, dapat memberi pemahaman bahwa kisah ekspedisi pasukan Majapahit ke Tamiang bukan cerita isapan jempol. Walaupun demikian  bukti konkrit yang meyakinkan belum didapat.  Bukit tersebut harus dapat menjadi jembatan penghubung yang dapat menyatukan fenomena kemiripan bunyi toponim di atas dengan kerajaan Majapahit. 

 

Kitab Negarakertagama sebagai Bukti Pamungkas

 Kitab Negarakertagama adalah nama sebuah kitab kuno berisi kakawin ( puisi, syair ), yang ditulis pada tahun 1365 M. Judul kitab aslinya adalah DESAWARNANA, artinya Sejarah Desa - Desa. Penulis kitab tersebut adalah Mpu Prapanca, yang memiliki nama asli Dang Acarya Nadendra. Prapanca pernah menduduki posisi puncak pemuka agama Buddha di ibukota Majapahit yang bergelar Darmadyaksa ring Kasogatan. Kitab ini terdiri dari 98 pupuh ( bait ), ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Kitab ini ditemukan pertama kali oleh ahli filologi dan arkeologi terpandai di Hindia Belanda bernama Johannes Laurent Andreas Brandes, tahun 1894. Oleh panglima ekspedisi , Jenderal J A Vetter, Brandes diikut sertakan dalam ekspedisi tentara KNIL, ke Lombok, dengan tugas khusus, mengidentifikasi  dan menyelamatkan naskah naskah kuno  yang ditemukan di istana Puri Cakranegara.

Brandes berhasil menyelamatkan  naskah kuno yang sangat berharga dari puing puing istana kerajaan Lombok tersebut. Tahun 1902 Brandes menterjemahkan dan menerbitkan sebagian isi kitab Desawarnana dan memberi judul baru pada kitab itu yaitu Negarakertagama. Brandes tidak sempat menuntaskan penelitiannya terhadap naskah Negarakertagama, karena pada Tahun 1905 beliau wafat dan dikebumikan di kompleks makam Taman Prasasti di kawasan Tanah Abang, Batavia.

Tahun 1914 Hendrik Kern, pakar filologi, linguistik dan agama Buddha di Universitas Leiden, Holland menerbitkan bagian dari  kitab Negarakertagama yang belum sempat diterbitkan Brandes. Tahun 1919 Nicholas Johannes Krom, pakar filologi, arkeologi di Universitas Leiden dan pendiri Oudheidkundige Dients, ( Dinas  Purbakala ), di Hindia Belanda ( 1913 ), kembali menerbitkan naskah Negarakertagama yang disertai komentar komentarnya yang sangat baik. Slamet Mulyana menghasilkan karya terjemahan Kitab Negarakertagama Berikut Tafsir Sejarahnya ( 1979 ). Theodore Gautier Thomas Pigeaud menerbitkan karya monumental tentang Negarakertagama terdiri dari 5 jilid, 1500 halaman yang diberi judul Java in the  14 th Century. Hasil kajian lima pakar ternama tersebut menempatkan kitab Negara kertagama sebagai sumber sejarah otentik bernilai tinggi, ditulis oleh orang terpandang, pelaku dan saksi mata pada masa yang sama dengan saat kejadian yang dikisahkan. Dengan demikian isi kitab Negarakertagama valid dan dapat dijadikan bukti pamungkas yang menghapus segala keraguan. Informasi tentang ekspedisi Majapahit ke Tamiang  terdapat pada pupuh ke 13 , yang isinya adalah sebagai berikut  : 

 

           PUPUH 13

1. Lwir nin nusa pranusa pramukha sakahawat / ksoni ri malayu, nan jambi mwan palemban karitan i teba len /  darmmacraya tumut, kandis kahwas manankabwa ri siyak i rkan / kampar kwan i  pane kampe  hari athawe mandahilin i tumihan ( huruf tebal dari penulis ) parrlak / mwan i barat.

 Terjemahannya dalam bahasa Indonesia :

1. Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu : Jambi, Palembang, Teba  dan Darmasraya pun ikut juga disebut daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang ( huruf tebal dari penulis ), negara Perlak dan Padang. 

 

Pupuh 13, kitab Negarakertagama merupakan bukti sahih yang memberikan konfirmasi atas kebenaran memori kolektif masyarakat Tamiang tentang adanya ekspedisi pasukan Majapahit. Kedudukan dan nilai keautentikan kitab Negarakertagama setara dengan dokumen resmi lainnya seperti prasasti. Setelah menemukan bukti kuat ini, penulis kembali mengunjungi pusat jantung kekuasan Majapahit di Trowulan.

Penulis duduk di tepi kolam Segaran, di pintu gerbang Bajang Ratu dan Wringin Lawang, berimajinasi membayangkan manuver parade pasukan Majapahit meninggalkan Ibu kota Trowulan, menuju bandar Canggu. Di haluan kapal berdiri dengan anggun Laksamana Agung Mpu Nala, memimpin armada Angkatan Laut Majapahit menuju Swarnadwipa. Setelah menempuh perjalanan sejauh hampir 2.500 Km, pasukan  Majapahit mendarat dan mendirikan beberapa base camp di Tamiang. Armada itu menempuh perjalanan jauh dan menempuh bahaya demi sebuah pengakuan atas supremasi negara Majapahit di atas negara negara di Nusantara. Majapahit tidak pernah berambisi menguasai negeri lain. Pemerintahan negeri negeri lain tetap dipegang oleh penduduk setempat. Majapahit hanya minta hak membuka hubungan diplomatik dengan mancanegara, mengirim duta dan menerima duta asing  harus berada di tangan Majapahit.

Sebagai tanda pengakuan atas kepemimpinan Majapahit, penguasa -  penguasa dari negeri - negeri di Nusantara secara berkala mengirim upeti sekadarnya dan mengirim perutusan untuk menghadap Maharaja Majapahit. Begitu model relasi antara Majapahit dengan negara negara di Nusantara. Kemudian penulis bergegas pergi ke Tamiang untuk mengembangkan imajinasi di  Bukit Mada, Paya  Gajah dan Manyak Payed. Kitab Negarakertagama telah memberikan konfirmasi positif atas memori kolektif masyarakat Tamiang. Penulis berdiri di tiga situs yang terkait dengan Majapahit sambil  membayangkan peristiwa yang terjadi 700 tahun lalu. Di desa Medang Ara, di ujung halaman depan sebuah rumah, penulis berdiri termenung memandang rumah yang tidak berubah sejak 61 tahun lalu. Ternyata tempat kelahiran penulis yang terpencil ini menyimpan kisah yang direkam oleh Sang Pujangga Besar Mpu Prapanca. Tidak percuma penulis melakukan 2 kali perjalanan ulang alik antara Tamiang dengan Majapahit, karena dapat memberi kepastian kepada masyarakat Tamiang, bahwa memori kolektif yang diwarisi turun temurun secara lisan, sudah mendapat konfirmasi dari kitab terkenal yang sudah diberi status sebagai MEMORI DUNIA, oleh UNESCO, pada tahun 2008. 

 

Epilog

Ilmu arkeologi sudah sering terbukti dapat diandalkan sebagai filter dan alat penapis untuk memilah antara dongeng dengan kisah nyata. Memori kolektif masyarakat sudah sering terbukti bukan sekadar cerita fiktif yang tidak berdasar.  Metode pendekatan yang tepat dapat memberikan hasil memuaskan. Kisah itu dapat memberikan membangkitkan rasa bangga, cinta tanah air , menimbulkan inspirasi dan memberi dorongan motivasi bagi masyarakat untuk berbuat yang terbaik sebagai bakti untuk negeri.


Comments

Popular Posts