CORONA MENGUBAH ARTI, MAKNA SIMBOL JABATAN DAN RELASI KUASA MANUSIA
Prolog
Dua hari terakhir, penulis menerima hujan pertanyaan dari para kerabat, sahabat, rekan / mitra kerja dari berbagai penjuru bumi. Pertanyaan itu berasal dari dalam negeri dan mancanegara. Pertanyaannya hanya satu, yaitu meminta konfirmasi kebenaran atas berita menghebohkan di media, yang mengatakan bahwa orang no 1 di Universitas Sumatera Utara dinyatakan positif terinfeksi Covid 19. Kegiatan menjawab pertanyaan itu sudah merupakan kesibukan tersendiri, sehingga terpaksa dibuat jawaban sama dan standard, lalu dikirim secara massal kepada para penanya. Gelombang pertanyaan yang dilontarkan kepada penulis, adalah hal yang wajar, karena mereka mengetahui status penulis sebagai Dosen di Universitas Sumatera Utara. Kejadian itu telah membuat penulis merenung dan memikirkan fenomena tersebut. Ada dua hal yang menarik dari fenomena itu, yaitu :
- Manusia sudah tidak dapat melepaskan diri dari cengkeraman realitas intersubjektif yang diciptakannya sendiri.
- Covid 19 telah menjungkir balikkan realitas intersubjekif ciptaan manusia.
Dua fenomena itu yang akan dibahas lebih
lanjut di dalam tulisan ini, karena para pakar tidak pernah mengulasnya. Para
pakar terlalu asyik membahas masalah corona dari aspek dan dari perspektif yang
monoton yaitu aspek dan perspektif medis dan ekonomi. Penulis selalu berusaha
keluar dari jebakan mainstream itu, agar dapat diperoleh pemahaman yang lebih
bervariasi dan komprehensif. Kalau kita mau sedikit saja menggeser arah
teropong, segera terlihat bahwa pandemi Covid 19 menawarkan beragam
fenomena menarik.
Salah satunya, pandemi ini telah
menelanjangi banyak sifat, karakter dan motif tersembunyi dari sosok manusia.
Momen pandemi ini harus dipandang sebagai laboratorium
alam semesta berskala giga, yang tidak muncul di setiap jaman. Kesempatan
langka ini terlalu berharga jika hanya dimanfaatkan untuk studi medis dan
ekonomi. Para ahil ilmu perilaku harus memanfaatkan momen ini, agar dapat
berkontribusi positif untuk memperkaya pengetahuan yang pasti bermanfaat bagi
generasi sekarang dan generasi mendatang.
Definisi Konseptual dan Aneka Ragam Realitas
Untuk memahami berbagai realitas di
alam, merumuskan definisi manusia adalah langkah pertama yang harus
dilakukan. Hal ini disebabkan karena manusia adalah pencipta realitas terpenting.
Ada dua rumusan definisi yang singkat
dan padat serta representatif tentang manusia. Pertama definisi berdasarkan
anatomi fisik, manusia adalah mahluk
berjalan tegak dengan dua kaki. Berjalan tegak dengan dua kaki adalah khas
manusia, tidak dimiliki oleh mahluk lain. Berbagai riset mutakhir di bidang
neuro sains, telah meruntuhkan mitos bahwa manusia adalah satu
satunya mahluk yang memiliki pikiran. Oleh karena itu berdasarkan
prinsip klasifikasi, semua harus
tercakup dan saling menidakkan, definisi anatomi di atas lebih kekar
dibanding yang lain. Definisi berikutnya adalah definisi kultural, manusia adalah mahluk yang perilakunya
diarahkan dan dipengaruhi oleh sistem nilai dan norma. Kedua definisi di
atas sudah cukup memadai untuk memahami sosok manusia dalam upaya melangkah ke
tahap berikutnya.
Berdasarkan definisi di atas dapat dibuat beberapa deduksi, yang merupakan konsekuensi logis dari rumusan definisi tersebut. Manusia adalah mahluk yang mampu mengembangkan imajinasi tanpa batas dan mahluk yang mampu membangun kerjasama dengan sesamanya secara luas tanpa batas. Dengan kemampuan berimajinasi, manusia dapat menciptakan berbagai realitas. Ada tiga jenis realitas yang dikenal, yaitu :
- Realitas Objektif. Realitas ini bersifat ril, dapat dilihat ditangkap oleh alat dria dan dirasakan oleh setiap orang. Misalnya keadaan cuaca ( temperatur, tekanan dan kelembaban udara pada suatu ruang dan waktu tertentu ).
- Realitas Subjektif, hanya dapat dirasakan oleh sesorang tanpa dapat dikonfirmasi oleh orang lain atau berbagai alat / instrumen. Misalnya seseorang merasakan sakit di bagian anggota tubuh tertentu. Ketika orang tersebut menjalani pemeriksaan tubuh secara menyeluruh, termasuk menggunakan instrumen canggih, tidak ditemukan kelainan apapun.
- Realitas Intersubjektif. Realitas ini tidak ril, merupakan hasil konstruksi imajinasi. Realitas ini sangat dominan di dalam peradaban modern dan mendesak dua jenis realitas yang lain. Contoh realitas ini tidak terhitung banyaknya. Beberapa realitas intersubjektif antara lain semua bentuk organisasi ( negara, korporasi ) uang, jabatan, ideologi, bendera, ijazah.
Sebagai ilustrasi, seorang millioner
bernama Arnold, diklaim sebagai orang paling kaya di suatu negeri dengan total
kekayaan ditaksir berjumlah 3 milyar $ US. Secara ril kekayaan Arnold tidak
sebesar itu. Dalam hitungan hari atau minggu, kekayaannya dapat bertambah atau
berkurang secara signifikan, karena sebagian besar nilai kekayaan para
millioner berada dalam bentuk saham dan kertas berharga ( saham, obligasi ).
Nilai kekayaan seseorang meningkat ketika banyak orang masih percaya kepada nilai kertas berharga. Ketika orang tidak
percaya kepada nilai kertas berharga milik sesorang atau kelompok orang, maka
nilai nya jatuh dan kertas berharga itu jadi seonggok kertas tidak berguna.
Begitu juga dengan uang dan ijazah.
Nilai uang dan kertas berharga ditakar dari trust ( kepercayaan ) yang melekat pada benda benda itu. Dengan
kata lain korporasi, uang adalah hasil
imajinasi yang dikonstruksikan. Demikian juga dengan nilai benda benda
sakral suatu ideologi yang dimuliakan. Nilai kesakralan suatu benda jadi
hilang, ketika sebagian besar pemeluknya sudah tidak lagi mempercayai ideologi tersebut.
Tulisan Sebagai Sumber Kekuatan Magis
Tulisan adalah kumpulan huruf yang
disusun menurut aturan tata bahasa, sehingga mengandung arti dan makna
tertentu. Sistem tulisan adalah salah satu produk budaya yang paling
spektakuler di sepanjang sejarah peradaban manusia. Sistem tulisan dapat
dianggap sebagai simbol simbol yang dapat menembus dimensi ruang dan waktu.
Lewat tulisan suatu ide / gagasan, perintah, pesan, informasi ditransformasikan
dari satu atau kelompok orang ke orang atau kelompok lain, baik yang berada
satu dimensi ruang - waktu maupun berbeda dimensi ruang - waktu. Tulisan
dapat mempresentasikan kehadiran seseorang secara virtual.
Sebuah tanda tangan seorang yang
memiliki kekuasan / otoritas yang tertera di sebuah lembar kertas Surat
Keputusan dan dibacakan di suatu forum formal, dapat dimaknai bahwa pemilik tanda tangan, hadir di forum
tersebut. Begitu juga dengan ukiran tanda tangan pejabat publik yang
tertera di atas lempengan batu prasasti, tanda peresmian sebuah gedung /
monumen, memberi makna terhadap kehadiran pejabat yang bersangkutan. Saat ini ada
jutaan orang Pegawai Negeri Sipil yang menikmati gaji dan berbagai tunjangan
serta fasilitas dari negara berkat torehan tanda tangan seorang bernama Suharto, atau pejabat yang mengatas
namakannya di Surat Keputusan pengangkatanya, walaupun sang pemilik tanda
tangan sudah lama wafat.
Pada masa lampau jaman kekaisaran di Cina, ketika sebuah titah atau maklumat dari kaisar dibacakan, semua orang yang mendengarnya berlutut dengan takzim, seolah olah kaisar hadir di tempat itu. Hal ini menjadi bukti bahwa kemampuan berpikir secara virtual bukan hanya monopoli masyarakat digital di jaman ini. Daya magis sistem tulisan dapat mencegah orang berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.
Sebagai ilustrasi, di sebuah proyek
pembangunan yang dipagar keliling, di depan pintu masuk tertulis " Di larang masuk bagi yang tidak
berkepentingan ". Tulisan itu memancarkan aura magis yang dapat
menghalangi orang yang mau menerobos masuk. Kekuatan tulisan itu setara dengan
sepasukan penjaga bersenjata. Kekuatan tulisan itu jadi berlipat ganda jika
ditambahkan kata kata " Pasal 167 (
1 ) KUHP, atau Pasal 389 KUHP, atau Pasal 551 KUHP ". Tulisan
itu dapat menyurutkan niat orang untuk memasuki area itu. Cukup dengan tulisan
, tanpa kehadiran petugas, sudah cukup membuat orang segan dan respek dengan
sesuatu. Kekuatan yang tidak tampak secara kasat mata dari tulisan sama dengan
mantra mantra yang diucapkan oleh para Syaman
di masa lalu. Kekuatan magis tulisan akan berlipat ganda jika disandingkan
dengan simbol simbol tertentu dalam wujud seperti logo, materai, stempel
/ segel.
Selembar surat berlogo, bertanda tangan
pejabat berwenang dan dibubuhi materai dan cap stempel dapat mengubah dan
memindahkan secara cepat hak kepemilikan suatu aset dari satu orang / pihak ke
orang / pihak lain. Kekuatan itu juga yang memberi daya magnet bagi
simbol simbol jabatan publik.
Daya Magnet Atribut, Simbol dan Jabatan
Dalam peradaban manusia dikenal berbagai atrbut, simbol yang dijadikan sebagai petanda ( signifie )dan penanda ( signifiant ) Keduanya adalah konsep yang dikembangkan di dalam ilmu semiotika terutama di dalam mazhab struktural. Konsep petanda dan penanda. diciptakan oleh ahli linguistik, semiotika dan filsuf kelahiran Swiss, bernama Ferdinand de Saussure. Penjelasan secara detail dari kedua konsep tersebut dapat dilihat pada buku yang berjudul Kajian Linguistik. Menurut Hjelmslev, petanda berwujud konsep pemikiran dan penanda berwujud material. Suatu simbol atau tanda hanya dapat dipahami jika hubungan di antara pertanda dengan penanda telah disepakati secara bersama. Penanda dan maknanya ( petanda ), selalu berubah, dan jika sudah kadaluarsa, tidak digunakan lagi.
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa
jabatan berikut simbol simbol dan atribut yang menyertainya adalah realitas
intersubjektif ( imajinasi yang dikonstruksikan ). Suatu jabatan pasti terkait
erat dengan kewenangan dan tanggung jawab. Kewenangan berkaitan erat dengan
pengaruh dan kekuasaan. Kekuasaan dan pengaruh berkorelasi positif dengan kekayaan
materi. Seorang yang memiliki jabatan publik yang dapat menentukan nasib banyak
orang perlu dilengkapi dengan berbagai atribut untuk menambah aura
kewibawaannya. Atribut itu dapat berupa ornamen simbol pentagram ( bintang bersudut lima ) di pundak, atau medalion di
dada. Atribut lain yang biasa digunakan adalah penutup kepala ( topi atau
mahkota ), pakaian seragam atau pakaian kebesaran. Selain untuk membuat segan
orang yang berinteraksi dengannya, semua atribut dan simbol itu dapat
meningkatkan rasa percaya diri pemakainya. Seolah olah semua itu masih belum
cukup, untuk menaikkan gengsi dan wibawa, para pejabat dilengkapi oleh barisan
staf, ajudan dan pengawal.
Di halaman rumah dinas pejabat
dilengkapi pula dengan pos petugas sekuriti dan bendera yang berkibar di
tiangnya. Untuk menambah kewibawaannya, dalam momen momen tertentu, sang pejabat
menggunakan Voor rijder, sebagai
pembuka jalan dan beberapa mobil pengiring. Masih belum cukup, di rumah dan dan
di kantor, pejabat menerapkan algoritma prosedur protokoler yang berlapis, dan
rumit. Singkat kata, semua atribut, simbol, aturan protokoler itu dibuat dengan
tujuan mempetkuat kewibawaan jabatan dan pejabatnya. Semua algoritma itu
mengandung kelemahan mendasar, yaitu menjauhkan
pejabat dari rakyat, memutus aliran acak informasi yang aktual, akurat dan
objektif dari sekelilingnya. Informasi yang sampai ke tangan pejabat adalah
informasi yang terpilih, terseleksi, subjektif, penuh bias / distorsi dan
sarat dengan pesan dari pihak yang punya motif serta kepentingan tertentu.
Walaupun demikian, kharisma jabatan
dan pejabatnya tetap memancarkan daya magnet dan gelombang getaran kuat
sehingga memukau banyak orang. Banyak orang berusaha dengan segala cara
untuk meraih jabatan tinggi dan bergengsi. Struktur piramida dari birokrasi
yang berlaku dimanapun, tidak memungkinkan bagi banyak orang untuk memenuhi
ambisi dalam upaya meraih jabatan tinggi. Kondisi objektif yang terjadi, membuat orang menurunkan target yang ingin diraih. Banyak orang berlomba lomba,
saling sikut, saling jegal untuk mendekati pejabat. Target yang dipatok adalah
menjadi orang lingkar dalam ( ring 1 ), yang memiliki akses luas dan bebas
kepada pejabat pembuat keputusan. Kalaupun tidak dapat terlibat penuh dalam
pembuatan kebijakan, minimal menjadi pihak pertama yang mengetahui kebijakan /
keputusan yang baru dibuat. Berada dekat dengan pejabat penting adalah previllege yang tidak semua orang mendapatkannya. Walaupun sudah menurunkan target,
tidak banyak orang yang dapat berada di lingkar dalam pejabat penting.
Dibutuhkan algoritma khusus, mental baja, materi yang cukup ditambah kepiawaian
melobby dan keluwesan bergaul, agar dapat meraih posisi itu dan tidak banyak
orang yang memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.
Bagi yang tidak memenuhi syarat,
terpaksa menurunkan lagi targetnya. Dapat bertemu dengan pejabat tinggi pada
momen momen tertentu, menjadi target berikutnya. Jika dapat berfoto berdua
bersama pejabat akan lebih baik lagi. Foto momen tersebut segera diperbesar,
diberi bingkai mewah kemudian di gantung di dinding ruang tamu rumahnya. Jika perlu menggusur
tempat foto keluarga. Foto itu dapat meningkatkan gengsi pemilik rumah di mata
keluarga besar, tetangga, sahabat, rekan dan mitra kerja. Foto itu dapat pula
menimbulkan rasa segan pada aparat pemerintah yang datang ke rumahnya. Jika
para pejabat mengembangkan algoritmanya dalam membangun relasi dengan atasan,
kolega dan bawahan serta masyarakat umum, sebaliknya para pengusaha, relasi dan
masyarakat, masing masing juga mengembangkan algoritma. Dua jenis algoritma
yang berbeda landasan dan motif bertemu dan berinteraksi.
Paparan di atas adalah gambaran pada saat situasi normal di masa pra pandemi Covid 19. Apapun dan siapapun orang ataupun algoritma yang dijalankan, ada satu hal yang dapat dipastikan. Semua atribut simbol, algoritma yang berkembang di seputar jabatan dan pejabat hanya menonjolkan pencitraan, menutupi kepura puraan, dan kemunafikan yang dikemas oleh berbagai aturan protokoler, prosedur dan algoritma yang canggih. Jabatan dan pejabat dipandang sebagai dua entitas berbeda. Orang lebih dihargai karena berdasarkan jabatan dan atribut yang melekat pada jabatan itu, bukan atas dasar kualitas kepribadiannya sebagai individu atau sebagai dividu. Indikasi kuat atas pernyataan itu adalah perubahan drastis sikap dan perilaku orang terhadap mantan pejabat. Artinya secanggih apapun algoritma yang diterapkan tetap tidak dapat mengubah bentuk interaksi dan interrelasi antara pejabat dengan audiens ketika masih berkuasa.
Perubahan sikap dan perilaku dari
audiens kepada para pejabat baru terjadi
ketika status mantan pejabat melekat pada diri sang pejabat. Itulah
prestasi puncak kecanggihan algoritma manusia yang mengatur hubungan pejabat dengan
audiens. Pada akhirnya algoritma itu tidak dapat menutupi kemunafikan
manusia sebagaimana ketika seorang pejabat masih berkuasa. Oleh karena itu
tidak mengherankan jika penyakit post
power sydrome sering menyerang mantan pejabat. Ditambah lagi jika mantan
pejabat tersangkut masalah hukum, penyakit stroke pasti segera menyergap mantan
pejabat. Tidak pernah terdengar berita
ada orang yang tidak ada masalah dengan seorang pejabat, lalu dengan kemauan
sendiri menjauh dari pejabat yang sedang berada di puncak kekuasaan. Hal
itu disebabkan karena kuatnya daya
magnet simbol, atribut jabatan, dan tidak ada algoritma yang dibuat untuk itu.
Virus Corona Mengubah Perilaku Interaksi dan Interrelasi
Seperti sudah sering dikemukakan bahwa
pandemi Covid 19 telah mengubah banyak norma interaksi manusia dan menyentuh
banyak aspek kehidupan. Salah satu aspek yang diubah oleh corona adalah bentuk
dan sifat relasi antar manusia, khususnya hubungan antara simbol, atribut
jabatan berikut pejabat yang memilikinya dengan audiens. Pada masa pra pandemi
Covid 19, sangat langka ditemukan manusia yang mau melawan tarikan magnet
jabatan. Justru manusia berlomba lomba masuk dalam pusaran daya magnet itu.
Setelah datang badai serangan corona,
tatanan itu berantakan. Ketika ada seorang pejabat penting dikhabarkan
terinfeksi virus corona, banyak orang terguncang, khususnya yang sering
berada di sekitar pejabat tersebut. Setelah diumumkan seorang pejabat penting
terinfeksi, langsung turun perintah berdasarkan algoritma protokol Covid 19.
Perintah itu antara lain menelusuri jejak siapa saja yang pernah
berinteraksi dengan pejabat tersebut sejak 14 hari terakhir. Semua orang yang
terkait segera menjalani pemeriksaan dan interogasi yang melelahkan. Orang yang
dinyatakan positif segera dikarantina / diisolasi atau mengisolasi diri secara
mandiri. Semua orang menjauhi si pejabat dan ada yang menyesali kejadian
tersebut. Pejabat yang terinfeksi juga secara sukarela menjauhi semua orang
terdekatnya.
Proses penelusuran jejak itu dapat saja berkembang luas secara berantai, karena seorang pejabat publik, pasti berhubungan dengan banyak orang. Kantor pejabat tersebut segera sepi dari aktivitas. Beberapa rekan penulis secara terus terang menyatakan perasaan takutnya untuk datang ke kompleks kampus karena pejabat tertingginya sudah terinfeksi. Perasaan takut telah membuat orang tidak dapat berpikir logis. Ada fakta yang dilupakan bahwa serangan virus corona bersifat acak, dapat menimpa siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Terinfeksi oleh virus corona bukan berarti kiamat bagi hidupnya. Perbandingan jumlah orang yang sembuh dengan yang mati 10 berbanding 1. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Kejadian yang disebutkan di bagian prolog memberi beberapa pelajaran penting :
1. Badai serangan virus corona telah
mengubah apa yang tidak dapat diubah oleh algoritma manusia, yaitu melawan daya
tarikan magnet atribut jabatan dan pejabat yang sedang berkuasa. Hanya virus
corona yang dapat membuat manusia mampu melawan daya magnet tersebut.
2. Pada masa pra pandemi, aspek petanda
selalu kalah terdesak oleh aspek penanda. Pada masa pandemi, terjadi fenomena
sebaliknya, aspek petanda lebih dikedepankan. Pada masa pra pandemi daya magnet
berbagai atribut fisik jabatan telah menyingkirkan akal sehat. Baru di
masa pandemi, akal sehat lebih dikedepankan, mengatasi daya tarik magnet
jabatan / pejabat. Baru di masa pandemi manusia dapat mengembangkan daya
imajinasi, membayangkan sesuatu yang belum terjadi. Orang mulai berandai andai
jika dirinya terinfeksi virus corona, dan imajinasi itu telah menghalangi
keinginan untuk masuk terseret arus magnet jabatan.
3. Virus corona sudah berhasil
membongkar sifat / watak, motif yang terdalam dan paling tersembunyi manusia
yaitu menempatkan keselamatan diri pribadi di urutan teratas.
Epilog
Semua uraian di atas masih menyisakan
satu pertanyaan penting, yaitu apa atau siapa yang membuat daya magnet atribut,
simbol jabatan begitu besar dan sekaligus juga merontokkan daya magnet
tersebut?. Apakah manusia, sang mahluk pemimpin di muka bumi dan mahluk Very
Very Important Person di alam ini?. Jawabannya tegas yaitu tidak / bukan. Jika demikian siapa?. Jawabannya hanya satu
yaitu algoritma. Para ahli
neuro sains, ahli bioteknologi / genetika dan ahli fisika / mekanika kuantum
telah membisiki kita akan salah satu rahasia terbesar di alam semesta. Ilmu
ilmu di atas adalah ilmu ilmu yang menekuni dunia mikroskopis. Para ahli itu
mengatakan bahwa semua fenomena di alam, termasuk manusia adalah deretan dan kumpulan algoritma. Manusia tidak lain
adalah susunan dan proses proses bio- fisik- kimiawi. Sampai saat ini di
sepanjang sejarah peradaban manusia , hanya virus corona yang dapat membuat
manusia mampu melawan tarikan daya tarik magnet atribut / simbol jabatan.
Dengan apa yang sudah terjadi, muncul pertanyaan pamungkas yaitu masih pantaskah manusia merasa dirinya
mahluk VVIP di alam ini? . Silahkan para pembaca merenungkan dan menjawab
sendiri pertanyaan itu.
.png)

Comments
Post a Comment