KETIDAKSETARAAN DI SEPANJANG SEJARAH PERADABAN
Pengantar
Gagasan membuat tulisan ini muncul
setelah membaca karya penulis paling inspiratif sekaligus provokatif di abad
ini yaitu Yuval Noah Harari,
berkebangsaan Israel, yang berjudul 21
LESSONS for the 21st Century. Gagasan Harari tentang
ketidaksetaraan kemudian diramu dengan gagasan tentang Homo technium dari
Dan Brown yang terdapat di dalam bukunya yang berjudul Origin, agar dapat dinikmati oleh
para pembaca. Pemaparan isi tulisan ini diharapkan dapat membuka
kesadaran tentang apa yang kita lakukan setiap hari dengan gadget dan
smartphone kita serta berbagai implikasi dari perkawinan biotek dan infotek
yang melahirkan algoritma canggih robot dan Artificial Intelligence.
Ketidaksetaraan
Pada Era Berburu dan Meramu
Siapapun yang mempelajari sejarah
perkembangan peradaban manusia, pasti akan menemukan satu fenomena yang abadi,
ada di tiap jaman, walaupun bentuknya dapat berbeda beda menurut dimensi ruang
dan waktu. Fenomena itu adalah ketidaksetaraan.
Pada masyarakat berburu dan meramu faktor yang membuat ketidaksetaraan adalah
keberanian, kekuatan dan keterampilan fisik yang diperlukan dalam aktivitas
berburu, di samping pengetahuan tentang sifat dan kebiasaan berbagai jenis
hewan buruan.
Pengetahuan dan keterampilan itu hanya
dapat dimiliki oleh individu individu berbakat. Kelebihan itu membuat pemiliknya
memiliki reputasi dan pengaruh di kelompoknya. Pengaruh itu memberinya
kekuasaan memerintah orang lain. Pada masa itu kemampuan tersebut diperoleh
secara egaliter dan belum diciptakan mekanisme pewarisan kekuasan dan sistem
simbol simbol status. Ketika seorang tokoh wafat, dia menikmati upacara prosesi
ritual penguburan yang mewah dan dapat dipastikan banyak orang yang tidak
merasakan kemewahan itu. Walaupun masyarakat masa itu relatif egaliter, tetapi
sudah terdapat benih benih ketidaksetaraan.
Ketidaksetaraan
Pada Era Agrikultur
Pada masyarakat agrikultur, manusia
sudah mengembangkan teknik domestifikasi tumbuhan dan hewan, berikut peralatan
yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas tersebut. Untuk dapat menjalankan
aktivitas pertanian dan peternakan, ada kondisi yang menjadi prasyarat
yaitu pola hidup menetap. Lahirlah desa desa yang kemudian berkembang menjadi
kota kota. Wilayah Palestina dan Mesopotamia di Irak sekarang mempelopori
terbentuknya kota kota. Beberapa Kota yang terkenal adalah Jerico, Ur, Nippur,
Khorsabat, Babilon, Niniveh. Kota kota itu kemudian berkembang menjadi kesatuan
politik yang disebut negara ( state ). Keterikatan manusia dengan lahan
mendorong diciptakannya sistem kepemilikan pribadi.
Konsep kepemilikan pribadi mendorong
lahirnya konsep aset dan properti. Kuantitas
dan kualitas properti serta aset dijadikan faktor ketidaksetaraan di antara
manusia. Properti utama berupa lahan, hewan , peralatan dijadikan faktor produksi dan tempat tinggal,
aksesoris dijadikan simbol simbol status.
Dengan adanya simbol simbol status, diciptakan mekanisme pewarisan status
berdasarkan pertalian hubungan darah dan kekerabatan. Untuk memperkuat sistem
pewarisan diciptakan mitos mitos, legenda, yang dikisahkan secara turun temurun.
Pada awalnya kisah itu disampaikan secara lisan dan secara tertulis
ketika manusia sudah menciptakan sistem tulisan. Upaya itu dilakukan tidak
kepalang tanggung, dengan membawa kisah itu ke zona keillahian, dengan bantuan
para pemuka agama. Para pemuka agama tentu saja menerima imbalan materi, dan
kedudukan tinggi di pusat kekuasan atas jasanya. Sebagian besar massa menerima
saja takdir Illahi dengan kepasrahan total. Sebagai upaya penghiburan, agar
massa tidak memberontak terhadap kondisi status quo yang jauh dari
adil, maka disusun kisah tentang kenikmatan hidup di alam lain untuk selamanya,
sebagai imbalan atas pengabdiannya di alam fana. Algoritma prosesi pemakaman
tokoh utama yang meninggal dibuat makin rumit, dan makamnya dibuat megah dan
bersifat monumental. Peradaban agrikultur berlangsung selama 10.000
tahun.
Ketidaksetaraan
Pada Era Industri
Pada abad XV di Eropa muncul gerakan renaisance, yang menonjolkan aktivitas
olah otak. Hasil gerakan itu adalah berkembangnya ilmu pengetahuan modern, yang
mendorong timbulnya revolusi industri. Pada era industri, properti utama adalah
mesin. Kepemilikan mesin menjadi faktor ketidaksetaraan di antara manusia. Para
pemilik mesin menggantikan peran para Baron dan Land Lord di era agrikultur. Di
era industri muncul profesi baru yang tidak dikenal atau tidak banyak dikenal
di era sebelumnya yaitu bankir. Para bankir menjadi mitra simbiosis bagi para
pemilik mesin ( industrialis ). Para bankir ini kemudian mengembangkan berbagai
teknik dan instrumen finansial. Industrialis dan bankir kemudian memperluas
persekutuannya dengan merangkul kelompok ilmuwan / insinyur dan politisi. Abad
XX adalah puncak perkembangan era industri. Ideologi modern ( kapitalisme,
liberalisme, sosialisme, komunisme dan humanisme menggantikan peran agama
tradisional, terutama di negara negara Eropa dan Amerika Serikat.
Di penghujung abad XX muncul fenomena globalisasi. Globalisasi telah
meruntuhkan batas teritorial negara dalam lalu lintas orang, barang yang dan
informasi. Banyak orang menaruh harapan berlebihan pada globalisasi. Kombinasi
globalisasi dan liberalisme akan menghapuskan ketidaksetaraan selamanya
dari muka bumi. Ketidaksetaraan dianggap warisan jaman agrikultur yang paling
sulit dilenyapkan dari peradaban. Berbagai ajaran agama dan ideologi datang
silih berganti, gagal menggusur ketidaksetaraan, khususnya pada level
perilaku. Akhirnya kolaborasi globalisasi dengan liberalisme bukan saja gagal
menggusur ketidaksetaraan dari panggung sejarah, tetapi justru menghasilkan
ketidaksetaraan paling brutal dan masiv. Manusia meninggalkan abad XX dan
memasuki abad XXI ibarat memasuki alam yang sama sekali asing. Berbagai
fenomena yang tidak dikenal sebelumnya menjadi realitas keseharian. Disrupsi
terjadi di berbagai bidang, terutama yang paling dirasakan terjadi pada
bidang teknologi dan ekonomi, kemudian merambah aspek tata kelola bidang bidang
lain seperti pendidikan, sosial dan budaya.
Ketidaksetaraan
Pada Era Informasi
Pada era agrikultur, tanah adalah aset
dan properti paling vital. Jika ingin mencegah konsentrasi kepemilikan tanah di
tangan segelintir elit, cara paling efektif adalah dengan menciptakan algoritma
mekanisme pengaturan kepemilikan tanah. Kegagalan pendistribusian tanah secara
adil, menghasilkan dua kelompok besar kasta di masyarakat yaitu kasta
bangsawan dan kasta rakyat jelata. Pada era industri, aset dan properti vital
adalah mesin dan pabrik. Pabrik dan mesin lebih berharga dari tanah. Jika ingin
mencegah konsentrasi kepemilikan pabrik dan mesin di tangan segelintir orang,
harus dibuat algoritma yang mengatur kepemilikan pabrik dan mesin. Kegagalan
pendistribusian aset vital Itu, menciptakan dua kasta baru yaitu kelas
kapitalis / borjuis dan kelas proletar / buruh. Kasta yang terbentuk di
ke dua era tersebu bersifat sosiologis
dan antropologis.
Pada era informasi, aset dan properti
terpenting adalah data dan informasi yang menggusur tanah dan mesin / pabrik.
Jika ingin mencegah konsentrasi kepemilikan data dan informasi di tangan satu
dua orang elit, wajib dibuat algoritma yang mengatur kepemilikan data dan
informasi serta pengendalian arus data dan informasi. Kegagalan upaya itu
akan menghasilkan dua kasta baru yang dibedakan secara biologis dan bersifat biologis. Secara biologis tidak ada perbedaan berarti antara kasta
bangsawan dan rakyat biasa, demikian juga antara kasta borjuis dengan proletar.
Keadaannya berbeda jauh pada kasta di
era informasi, karena perbedaan kasta itu bersifat biologis. Hal ini tidak
pernah terjadi di era sebelumnya. Kasta yang dimaksud adalah Homo deus atau Homo technium yang superior
dan Homo sapien yang inferior.
Segelintir orang super kaya dapat merenovasi dirinya sampai ke level mendasar,
secara genetika. Mereka merevitalisasi sebagian besar organ vital dan fungsi
fungsinya, serta meng up grade kemampuannya sampai ke level yang tidak
pernah terbayangkan bagi sebagian besar orang. Secara biologis
manusia yang telah direnovasi itu bukan lagi spesies Homo sapien. Segelintir
manusia super ini akan mengendalikan sebagian besar Homo sapien yang jadi
segerombolan spesies kehilangan kegunaan dari keberadaannya di alam. Sebagian
besar fungsi fungsinya telah diambil alih oleh algoritma yang
mengendalikan robot dan Artificial Intelligence ( AI ).
Kombinasi liberslisme dan globalisasi
ditambah dukungan biotek dan infotek, alih alih menghilangkan ketidaksetaraan,
justru menciptakan ketidaksetaraan yang paling vulgar di lintasan sejarah
peradaban. Para Homo technium di masa depan menjadikan rumah sakit bukan untuk
berobat, atau mengobati penyakit, tetapi untuk memperbaiki kualitas fisik dalam
hal tampilan dan mutu organ tubuh luar dalam. Mereka sudah terbebas dari
berbagai penyakit yang masih diderita oleh Homo sapien, seperti gagal ginjal,
hipertensi, jantung koroner, diabetes dan beraneka ragam kanker. Usia mereka
boleh tua, tetapi tampilan fisik dan staminanya beberapa puluh tahun lebih
muda, serta seluruh organ tubuh berfungsi prima.
Dari aspek bakat dan kecerdasan Homo
technium jelas jauh di atas Homo sapien. Begitu juga dengan penguasaan aset
dan properti. Mereka menjelma menjadi penumpang VVIP di muka bumi ini,
menikmati sebagian besar sumberdaya, sementara mayoritas Homo sapien hidup
berdesak desakan di tempat sempit, bertarung keras dengan sesamanya
memperebutkan remah remah yang tersisa. Sungguh tragis nasib kelompok terbesar
dari segi jumlah tetapi termarjinalkan karena tidak punya kemampuan
mengendalikan aliran data dan informasi. Kompetisi memperebutkan data dan
informasi hanya melibatkan beberapa raksasa seperti Google, Facebook, Tencent.
Merekalah yang mendiktekan apa yang harus kita tonton dan baca. Setiap butuh
informasi apa saja, dengan alasan kepraktisan, kita beralih ke Google. Setiap
butuh tontonan dan hiburan kita berpaling ke Youtube. Para raksasa penguasa
data dan informasi itu memberikan segala kebutuhan kita akan informasi dan
hiburan secara gratis. Sebenarnya mereka tidak memberikan semua itu dengan
gratis. Sembari menyuguhkan hidangannya, mereka "menjebak kita", dengan meminta kesediaan kita memberikan
tanda "like". Sebenarnya
permintaan itu hanya basa basi
saja. Tanpa kita beri respon apapun, algoritma canggih mereka sudah
otomatis mengelompokkan kita ke dalam mozaik peta rencana dan agenda besarnya.
Program big data, mereka dengan
keakuratan dan kecepatan tinggi sudah memetakan
diri kita bahkan lebih baik dari yang punya diri sekalipun. Dari pencatatan
digital mereka memantau apa saja yang menarik minat kita mulai dari kuliner,
hobi, aliran musik, lukisan, genre novel, film, mode, pandangan politik dan
sebagainya.
Dengan algoritma dan AI yang mereka miliki, praktis mereka
lebih paham akan diri tiap individu. Semua data dan informasi itu dijual dengan
harga super mahal kepada semua industri yang memproduksi barang dan jasa.
Komoditi yang diperdagangkan adalah informasi tentang fokus perhatian dari sekian juta atau puluh juta audiens kepada
korporasi besar. Komoditi ini bernilai milyaran dollar. Para raksasa informasi
itu sudah mengambil alih peran biro iklan, lembaga survei tradisional seperti
Nielsen yang didirikan oleh Arthur
Nielsen Di masa lalu manusia menjadi pelanggan dan konsumen, tetapi di masa
kini dan masa depan, manusia dijadikan produk
oleh raksasa data dan informasi dan dijual ke produsen barang dan jasa.
Kemudian sekaligus dijadikan konsumen
oleh produsen barang dan jasa. Kondisi ini adalah ironi kesekian kali yang
menimpa manusia sebagai akibat ketidaksetaraan di era globalisasi dan
informasi. Di Indonesia, orang pertama yang menyadari betapa vital dan
pentingnya data dan informasi adalah Christianto
Wibisono, yang pada tahun 1980 mendirikan Pusat Data Bisnis Indonesia ( PDBI ). Christianto Wibisono adalah
orang yang sejak 4 dekade yang lalu sudah mencapai level kesadaran abad
digital, walaupun algoritma yang digunakan dalam memproses data masih di level
analog. Walaupun begitu cara kerja PDBI termasuk sudah paling maju untuk
jamannya. Dibandingkan dengan Google, tentu saja algoritma PDBI pada 4 dekade
yang lalu tidak dapat dibandingkan.
Penutup
Ketidaksetaraan adalah cacat
genetis, sudah bawaan dari proses evolusi alam yang tidak dapat
dihilangkan. Pemahaman mendalam atas fenomena itu mungkin dapat sedikit
mengurangi efek buruk dari anak kandung sejarah alam yang kita sebut
ketidaksetaraan atau ketidakadilan. Dipandang dari perspektif evolusi
alam, kita dapat memahami mengapa para elit di masa lampau
menciptakan mitos, legenda, sebagai obat
penawar sesaat bagi penderitaan berkepanjangan yang ditanggung oleh massa,
di sepanjang jaman, demi memuaskan hasrat hedonis dari para elit.
Keadilan dan kesetaraan agaknya selamanya hanya merupakan utopia bagi
sebagian besar manusia. Ideologi dan ilmu pengetahuan ternyata hanya memberi
harapan semu kepada manusia. Semakin tinggi peradaban, justru ketidaksetaraan dan
ketidakadilan makin lebar.
.png)

Comments
Post a Comment