RELASI EFEK EKSGO DENGAN KEBIJAKAN


Prolog

Harian Kompas edisi 13 Maret 2020, pada halaman1 memuat .berita bertajuk Gonta - ganti Kebijakan Hambat RI Jadi Negara Maju. Berita itu mendorong penulis merenung dan berpikir lebih ke " arah hulu  ", mencari faktor penyebab mengapa hal itu dapat terjadi. Pengembaraan di alam pikiran membawa penulis ke masa silam, ribuan tahun lalu. Masa lalu yang sepintas terasa jauh, tetapi dengan teknik berpikir tertentu, jadi terasa dekat. Tulisan ini berusaha menjawab problem ke kinian dengan penjelasan yang inspirasinya berasal dari masa lalu. 

Beberapa Postulat

Tulisan ini dibuat di atas beberapa postulat yang menjadi landasan untuk membangun pemikiran dan argumentasi. Adapun  postulat yang dimaksud adalah : 

  1. Masa lalu - masa kini  - masa depan bukan merupakan tiga kontinuum, tetapi satu kontinuum di dalam dimensi ruang- waktu.
  2. Semua aktivitas manusia dimulai dari pikiran ----> perilaku ---->  hasil perilaku dan berlangsung secara berurutan. Dengan  cara  sama tetapi dari arah berlawanan, hasil perilaku dapat mengungkapkan perilaku dan perilaku dapat mengungkapkan pikiran, seperti dapat dilihat :  pikiran <----- perilaku <----  hasil perilaku.
  3. Alam, termasuk artefak adalah penyimpan jejak terbaik. Semua aktivitas manusia terekam pada artefak. Jejak itu jadi sarana penghubung antara masa lalu dengan masa kini.
  4. Semua artefak bukan fosil perilaku,  bukan merupakan bukti langsung, tetapi masih harus ditafsirkan, karena perilaku yang membuatnya tidak dapat diamati secara langsung dari artefak. 


Postulat no. 2 menunjukkan cara kerja ilmu antropologi dan dapat dianalogikan dengan kendaraan yang berjalan maju, dimulai dari gagasan. Cara kerja ilmu arkeologi berjalan ke arah sebaliknya, atau berjalan mundur, dimulai dari hasil perilaku. Postulat no. 4, membantah pendapat mainstream, bahwa artefak merupakan bukti langsung yang dapat langsung digunakan digunakan untuk menjelaskan fenomena di masa lalu.

Dasar Pemikiran

Semua fenomena alam pasti meninggalkan jejak. Kehadiran semua mahluk hidup termasuk manusia dengan segala  aktivitas juga meninggalkan jejak. Walaupun demikian tidak semua jejak dapat diamati dengan mudah oleh setiap orang.  Ada jejak yang mudah dan jelas terlihat secara kasat mata, ada yang terlihat samar -  samar, bahkan ada yang tidak terlihat sama sekali. Jejak yang tidak  terlihat oleh oleh alat dria,  hanya dapat dideteksi keberadaannya dengan peralatan canggih dengan daya sensitivitas tinggi dan dibutuhkan  pengetahuan  khusus untuk membaca dan menafsirkannya. Manusia adalah mahluk yang memiliki kesadaran diri, imajinasi tanpa batas, kemampuan berpikir abstrak,  kemampuan membangun jaringan kerjasama tanpa batas, menciptakan tanda, simbol, mengembangkan bahasa lisan dan sistem tulisan. Tidak mengherankan kalau spesies Homo Sapien merajai planet bumi. 

Kemampuan Homo Sapien yang jauh di atas spesies lain, membuatnya memiliki kebutuhan berbeda dari yang lain. Salah satu kebutuhan tersebut adalah yang diidentifikasi oleh psikolog termasyhur Abraham Maslow, sebagai kebutuhan akan aktualisasi diri. Maslow meletakkan jenis kebutuhan ini di puncak piramida, yang artinya kebutuhan level teratas yang berusaha dicapai setelah kebutuhan kebutuhan lain terpenuhi. Bobot dan jenis kebutuhan ini tidak sama di antara seseorang dengan orang lain. Aktualisasi diri adalah upaya manusia untuk menunjukkan eksistensinya di alam semesta. Setiap orang ingin meninggalkan jejak, kesan,  terlepas dari bobot, ukuran, temporer ataupun permanen yang dapat dijadikan tanda bahwa orang tersebut pernah hadir di alam dan menjadi salah satu warga alam semesta. Orang orang tertentu yang punya kapasitas kemampuan di atas rata rata dan diberi label dengan berbagai predikat seperti raja, presiden, perdana menteri, millioner, atlet terkemuka, artis beken dan orang orang berbakat besar, adalah orang yang paling berkepentingan untuk menunjukkan eksistensi dirinya.

Mereka berupaya keras meninggalkan Legacy ( warisan ), yang dapat bertahan selama mungkin, melampaui umur manusia. Warisan itu harus dapat dijadikan penanda yang menunjukkan kepada dirinya atau diasosiasikan dengan dirinya. Warisan itu dapat berwujud benda, fisik, tangible, seperti bangunan monumental dan dapat pula berwujud non fisik, non benda, intangible seperti ideologi dan / atau kebijakan. Jangan dianggap bahwa warisan yang bersifat tangible lebih penting dari warisan intangible. Banyak warisan intangible justru lebih penting dari tangible, karena dapat menentukan nasib jutaan orang, dapat menentukan arah perkembangan suatu bangsa dan negara. 

Definisi Konseptual

Eksgo merupakan akronim dari kata  Eksistensi Ego. Penciptaan konsep ini dilakukan setelah mengamati secara cermat berbagai fenomena di masa kontemporer dan kajian pustaka tentang peristiwa di masa lalu. Sejak dahulu ke masa kini setiap orang memiliki dorongan, kecenderungan kuat untuk menunjukkan eksistensi dirinya.  Eksistensi ego diartikan sebagai kecenderungan dan motivasi kuat seseorang untuk menonjolkan eksistensi dirinya. Begitu kuatnya dorongan motivasi itu sehingga dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk. Upaya yang dapat dilakukan untuk meneguhkan eksistensi seseorang dapat ditunjukkan dalam bentuk: 

  • Membangun reputasi, karir, prestasi  dalam satu atau beberapa bidang.
  • Menghimpun aset, kapital, kekuasaan, pengaruh.
  • Membangun bangunan monumental yang bertahan lama dan melampaui usia hidup rata rata manusia.
  • Menghilangkan, mengaburkan, menggerus prestasi, reputasi, kredibilitas orang lain yang dianggap sebagai penghalang untuk mencapai tujuan.


Konsep eksistensi erat hubungannya dengan konsep aktualisasi diri yang merupakan bagian dari teori Motivasi Manusia, dari Abraham Maslow. Teori itu dimuat di dalam publikasi berjudul A Theory of Human Motivation, dimuat di dalam Psychological Review, 1943. Maslow mengurutkan kebutuhan manusia berjenjang secara hierarki. Setelah kebutuhan pertama ( kebutuhan fisiologis seperti,pangan, sandang, papan ) terpenuhi, manusia meningkatkan kebutuhan berikutnya ( rasa aman ), dan seterusnya. Kebutuhan berikutnya kasih sayang, penghargaan dan terakhir adalah aktualisasi diri yang akan membuka peluang memasuki tahap menunjukkan eksistensi diri. 

Kebijakan diartikan sebagai aturan tertulis, merupakan suatu keputusan formal organisasi, yang mempunyai sifat mengikat, yang mengatur perilaku dengan tujuan untuk dapat menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat. Kebijakan menjadi rujukan utama para anggota organisasi,  anggota masyarakat dalam berperilaku. Kebijakan pada umumnya memiliki sifat problem solving dan proaktif. Berbeda dengan hukum ( law ), atau peraturan ( regulasi ), kebijakan lebih memiliki sifat adaptif,  fleksibel dan interpretatif. Suatu kebijakan yang baik harus memberi peluang interpretasi sesusi dengan situasi dan kondisi tertentu. Berdasarkan levelnya kebijakan dapat dikelompokkan menjadi kebijakan umum, kebijakan pelaksanaan yang merupakan turunan dari kebijakan umum, dan kebijakan teknis, yang merupakan turunan dari kebijakan pelaksanaan. Suatu kebijakan dilahirkan melalui tahap tahap : 

  1. Penyusunan Agenda, merupakan tahap paling krusial dari proses pembuatan kebijakan. Pada tahap ini biasanya berlangsung tarik menarik kepentingan berbagai kelompok, negosiasi intensif dan alot, saling memberi dan menuntut konsesi. Oleh karena sifat dan karakter kebijakan, tidak pernah dapat dicapai hasil  rumusan dan penerapan kebijakan yang memuaskan semua pihak.
  2. Formulasi kebijakan. Pada tahap ini dilakukan perumusan berbagai definisi, artikulasi, berbagai mekanisme yang diperlukan untuk mengimplementasikan kebijakan.
  3. Adopsi / Legitimasi kebijakan. Pada tahap ini kebijakan mendapat landasan legitimasi secara hukum, politik, etis, moral untuk diotorisasi oleh pihak yang diberi kewenangan.
  4. Evaluasi kebijakan. Pada tahap ini kebijakan dievaluasi secara menyeluruh dimulai dari proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan sampai berbagai dampak yang ditimbulkan oleh pelaksanaan suatu kebijakan.


Anslisis

Seperti sudah dijelaskan di atas, semua artefak tanpa kecuali diciptakan melalui proses lintasan yang sama. Dimulai dari gagasan -----> perilaku -----> hasil perilaku. Manusia membuat sesuatu karena didorong oleh adanya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan tertinggi adalah mengaktualisasikan diri. Aktualisasi diri dilakukan untuk menegaskan eksistensi diri. Kebutuhan itu adalah barang mewah, tidak semua orang punya kesempatan dan kemampuan untuk melakukannya. Para pemuka dan elit di suatu masyarakat ingin meninggalkan dunia setelah menghasilkan sesuatu yang monumental, agar kehadirannya di dunia dapat dikenang. Jauh setelah kematiannya, namanya akan tetap dikenang. Sering dalam upaya menghasilkan sesuatu yang monumental dibutuhkan sumberdaya yang besar. Jika sang tokoh tidak memiliki sumberdaya untuk menyelesaiksn proyeknya, maka masyarakat ikut memikul beban itu. Untuk memobilisasi dukungan guna mendapatkan sumberdaya,  dibutuhkan suatu sistem kekuasan terpusat. Adanya kekuasaan terpusat telah mendorong terciptanya berbagai monumen yang fenomenal di berbagai bagian dunia.  Mesir menghasilkan bangunan piramid, Mesopotamia menghasilkan Taman Tergantung dan kota metropolis Babilonia. India menghasilkan kota kota Mohenjo Daro dan Harappa, Yunani memiliki Acropolis, Romawi menghasilkan metropolitan Roma. Cina memiliki tembok raksasa sepanjang 2.500 Km. Bangsa Indonesia tidak ketinggalan menghasilkan monumen yang menjadi salah satu satu karya masterpice di dunia yaitu Candi Borobudur. Seorang arsitek dan konsultan arkeologi kenamaan  dari Perancis Jaques Dumarcy sudah melakukan penelitian mendalam di candi Borobudur. Menurut pendapat Jacques Dumarcy, candi Borobudur mengalami perubahan desain teknis sebanyak lima kali. Diduga kuat bahwa perubahan berulang kali pada desain teknis disebabkan karena tiap tiap raja yang berkuasa ingin menanamkan gagasannya pada candi itu. Setiap terjadi pergantian raja terjadi perubahan desain. Fenomena ini mirip dengan fenomena di masa kini. Setiap terjadi pergantian presiden atau menteri, berganti pula kebijakan. Sulit diharapkan adanya kesinambungan program jangka panjang. Di dalam bentuk negara republik, terutama yang menganut sistem demokrasi, durasi masa pemerintahannya lebih singkat.

Dengan mempertimbangkan sifat manusia yang ingin menonjolkan eksistensi egonya, sulit diharapkan adanya program strategis lahir di negara republik, demokrasi, terutama di dunia ketiga. Umumnya negara dunia ketiga dengan tradisi demokrasi  yang belum matang, baru sebatas ritual, tampilan ornamen, sebuah kebijakan pembangunan jangka panjang tidak populer. Masyarakat di negara seperti Indonesia, umumnya berpikir konkrit. Selama  masa pemerintahannya yang berdurasi,  5 tahun, menyusun program jangka panjang bukan  tindakan favorit. Proyek strategis jangka panjang belum terlihat hasilnya sampai sang penguasa lengser. Masyarakat akan memvonis pejabatnya gagal dalam menjalankan tugas. Akibatnya semua kegiatan yang dibuat hanya berorientasi pada proyek berbasis satu tahun anggaran,  bukan program jangka panjang. Proyek itu umumnya bersifat fisik, yang hasilnya segera terlihat nyata. Indikator keberhasilan seorang pejabat adalah kemampuannya menghabiskan anggaran dalam satu tahun anggaran. Jika ada pejabat yang berusaha membuat program strategis, penggantinya tidak akan mau melanjutkannya. Akibatnya tidak ada kesinambungan program. Kondisi ini mempersulit Indonesia untuk  bergerak bertransformasi menjadi negara maju, seperti disinyalir oleh harian Kompas.

Sebuah ilustrasi di bawah ini akan memperjelas situasi yang di maksud. Sebuah Kabupaten X , sebagian besar wilayahnya berupa lahan kritis di perbukitan. Sebagian besar hutan di daerah aliran sungainya kritis, neraca airnya buruk, pada musim kemarau, airnya sangat kurang dan pada musim hujan melimpah, sehingga  menimbulkan banjir. Tingkat penghasilan penduduk rendah, tingkat erosi tinggi, Proyek strategis yang perlu dilakukan adalah melakukan reboisasi besar besaran untuk memperbaiki neraca hidrologi, memperbaiki lahan kritis yang akan mengurangi tanah longsor.  Keberhasilan proyek ini baru terasa manfaatnya setelah 20 tahun, jauh setelah penggagasnya tidak menjabat lagi. Indikator paling jelas yang terlihat adalah hilangnya fenomena banjir dan tanah longsor. Dana yang biasanya digunakan untuk  memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat banjir, dan  tanah longsor dapat digunakan untuk menggerakkan ekonomi sektor ril. Dengan demikian maka perekonomian di kabupaten X meningkat. Kenyataannya  pejabat pengganti merasa tidak berkepentingan dengan proyek itu dan pejabat penggagasnya akan dianggap gagal, karena masyarakatnya cenderung berpikir konkrit yang hasilnya harus dapat segera terlihat.

Ada kalanya seorang penguasa merasa pamor  pendahulunya terlalu besar untuk dilampaui. Untuk menegaskan eksistensi dirinya lebih besar, melakukan praktek kotor yaitu mendelegitimasi reputasi pendahulunya.  Praktek ini pernah dilakukan oleh rejim Suharto terhadap Sukarno. Segala sesuatu yang berbau Sukarno digerus habis habisan.  Bahkan sampai harus menulis ulang sejarah. Dikatakan bahwa penggali Pancasila ideologi negara bukan Sukarno, melainkan Mohammad Yamin. Melarang perayaan hari lahir pancasila pada tanggal 1 Juni, tanggal saat Sukarno menyampaikan pidatonya yang terkenal di depan sidang BPUPKI . Menghilangkan dari peredaran buku berjudul Indonesia Menggugat, karya monumental Sukarno yang mengguncangkan dunia. Buku itu berisi pidato pembelaan diri  Sukarno di depan sidang Land Raad di Bandung pada tahun 1933. Pidato itu sudah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa dan menjadi referensi wajib di universitas universitas besar di Eropa dan Amerika.  Ironisnya buku itu tidak dikenal di kalangan terpelajar di Indonesia. Begitulah praktek kotor yang dilakukan penguasa yang tidak mampu menandingi prestasi pendahulunya demi memperkuat eksistensi egonya.

Di atas telah dipaparkan hubungan eksistensi ego dengan kebijakan. Sering sekali kepentingan mengangkat eksistensi ego seorang manusia,mengalahkan kepentingan pembuatan dan implementasi kebijakan untuk kepentingan masyarakat / bangsa. Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi di jaman modern, di negara Republik dengan predikat negara demokrasi. Republik yang menerapkan demokrasi punya peluang terbesar untuk menghasilkan pemiimpin bersifat alturisme dan filantropi. 
Cara terbaik untuk memprediksi perilaku seseorang adalah dengan mempelajari gagasannya. Sebelum naik ke tampuk kekuasaan, Adolf Hitler sudah membentangkan cita citanya di dalam buku yang ditulisnya ketika berada di penjara yang berjudul Mein Kampf yang artinya Perjuanganku. Rakyat Jerman ketika itu sedang terpuruk akibat kekalahan dalam Perang Dunia I melawan negara negara Sekutu. Rakyat percaya Hitler dapat mengembalikan kejayaan bangsa Jerman dan Hitler kemudian memenangkan pemilu yang mengantarkannya jadi Kanselir  ( Perdana Menteri ) Jerman.

Epilog

Di dalam negara demokrasi, setiap orang berkuasa menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Rakyat harus disadarkan akan potensinya yang besar untuk menghadirkan   seorang Tiran, Despot, Diktator atau seorang Demokrat, Filantropist dan Alturist. Pengalaman di Republik khususnya pada era Reformasi, banyak rakyat terlepas dari sadar atau tidak sadar, rela menggadaikan potensi masa depannya, demi mendapatkan beberapa lembar uang pecahan nominal 100.000 rupiah. Akibat situasi demikian, tugas dan tanggung jawab seorang terpelajar menjadi lebih berat, yaitu :

  • Memberi pencerahan kepada masa, akan potensi bahaya melakukan praktek jual beli suara bagi masa depan mereka sendiri.
  • Menekan rasa eksistensi ego dan memperbesar rasa filantropi dan alturisme, sehingga dapat dihasilkan kebijakan yang berkesinambungan demi kemajuan bangsa dan negara.


Kapasitas  kemampuan yang besar yang dimiliki seseorang bukan ditujukan semata mata untuk kejayaan eksistensi seorang ego, tetapi ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia. Semua pikiran, ucapan dan tindakan setiap orang, terutama para individu besar akan ditakar / ditimbang  oleh sejarah. Kalimat terakhir menggunakan frasa terkenal MENE  MENE TEKEL UFARSIN yang artinya Negaramu, kerajaanmu sudah ditakar, ditimbang oleh bangsa Persia . Frasa itu ditulis dalam tulisan Ibrani terdapat di dinding ruang aula utama istana raja Nebukadnezar di kota Babilonia. Frasa itu dibaca tepat pada malam istana itu diserbu dan diduduki oleh Kaisar Darius III dari kerajaan Persia.


Comments

Popular Posts