ALGORITMA USU TERTINGGAL DUA ABAD



Prolog

Pada dekade dua puluhan abad XX, seorang calon ambtenar ( pejabat pemerintah ) Pemerintah Kolonial Hindia Belanda bernama Dr. J J ( Jan Johannes  ) van de Velde tiba di Batavia dari Holland. Kapal yang ditumpanginya merapat di dermaga pelabuhan Tanjung Priok pada pagi hari. Van de Velde, langsung menuju kantor Pusat  Binnenlanden Bestuur (  Departemen Dalam Negeri ) untuk melaporkan kedatangannya. Dalam Surat Keputusan penugasannya, van de Velde ditempatkan di Surabaya. Van de Velde merupakan seorang Indolog (ahli tentang Indonesia ), lulusan Departemen Indologi Universitas Leiden.

Pada masa itu, Indologi adalah departeman yang prestisius, tempat para calon pejabat pemerintah dididik. Di sana bercokol para profesor terkenal dan  mumpuni, seperti J P B Josselin de Jong, J Speyer,  E M Uhlenbeck, C Snouck Hurgronje,  G A J Hazeu dan J Ph Vogel. Para alumninya tidak kalah beken, seperti doktor dan profesor pertama dan kedua bangsa Indonesia yaitu Hoessein Djajadiningrat ( 1913 ) R M Ng Poerbatjaraka ( 1926 ),  Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan  beberapa Gubernur Pemerintah Hindia Belanda. Sri Sultan Hamengkubuwono tidak sempat menyelesaikan disertasi doktoral,  karena dipanggil pulang ke Jawa oleh ayahandanya. Para birokrat terkenal jebolan Indologi Leiden antara lain Dr. B J O Schrieke, Dr.  C van der Plaas,  Dr. P Duyvendak, Dr J van Baal, Dr. Lucien Adam.

Dengan semangat seorang idealis muda yang menyukai tantangan, van de Velde merasa Surabaya bukan tempat tugasnya yang ideal. Dia segera mengusulkan perubahan tempat tugas, agar ditempatkan di Kalimantan.  Para pejabat di kantor pusat mengabulkan permintaannya. Van de Velde  disarankan pergi berjalan jalan keliling kota Batavia dan diminta kembali ke kantor pada pukul 14.00. Tepat pukul 14.00, van de Velde tiba di kantor dan semua dokumen yang menyangkut perubahan penempatan berikut tiket kapal ke tempat tujuan, pemindahan gaji, biaya perjalanan selesai diproses dalam waktu 4 jam. Van de Velde berangkat sore hari itu juga menuju Kalimantan dengan kapal. Kisah ini dapat dibaca di dalam memoar dan catatan harian van  de Velde. Pada akhir pemerintahan Hindia Belanda van de Velde berhasil menduduki jabatan Residen dan Penasehat Tinggi Pemerintah.

Penulis lama merenungkan kisah itu, yang memperlihatkan betapa efisien mesin birokrasi Pemerintah Hindia Belanda. Jaman seabad yang lalu, alat komunikasi tercanggih adalah telegram, belum ada telephone sambungan interlokal,  mesin fax, mesin foto copy, komputer, jaringan internet. Semua urusan permutasian pejabat antar daerah sekalipun, dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Hal ini tidak terbayangkan dapat terjadi pada birokrasi  Pemerintahan Republik  walau di era digital sekalipun. Pihak yang skeptis dengan kecanggihan birokrasi Pemerintah Hindia Belanda,  beralasan bahwa hal itu dapat terjadi karena jumlah pegawainya sedikit. Ini adalah bentuk argumentasi yang bersifat aplogis tidak berpijak pada realita. Pertanyaan menarik yang dapat diajukan adalah apa yang yang menyebabkan birokrasi  Pemerintah Hindia Belanda dapat berlangsung sangat efektif dan efisien. Menurut pendapat penulis, hanya ada satu penjelasan yang kuat dan logis, yaitu birokrasi Pemerintah Hindia Belanda memiliki algoritma yang canggih.

Ilustrasi sistem algoritma
Sumber: Google

Konsep Algoritma

I.  Definisi konseptual.

Sebenarnya algoritma sangat dekat dan berhubungan erat dengan semua aspek kehidupan manusia, tetapi sebagian besar manusia tidak menyadarinya. Dapat dikatakan bahwa semua derap langkah dan gerakan manusia diatur, diarahkan, dibimbing oleh serangkaian algoritma, mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Pekerjaan yang paling mudah dan rutin dilakukan seperti makan, mengenakan pakaian juga dibimbing oleh algoritma. Kebutuhan akan algoritma semakin dirasakan pada kehidupan di sistem yang rumit atau pada fenomena intersubjektif, seperti negara, korporasi. Kata algoritma pertama kali digunakan oleh Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al Khwarizmi, ahli matematika asal Persia ysng hidup pada abad IX. Algoritma didefinisikan sebagai urutan dari serangkaian langkah / prosedur yang logis, guna menyelesaikan masalah. Kata kuncinya adalah logis. Algoritma tidak sama dengan logaritma. Logaritma adalah sebuah operasi di dalam matematika guna menghitung kebalikan eksponen dari sebuah kepangkatan. Di dalam matematika dan ilmu komputer, algoritma adalah prosedur langkah demi langkah untuk perhitungan, pemrosesan data dan penalaran otomatis.

II. Bentuk Dasar / Struktur Algoritma

Ada beberapa bentuk struktur algoritma yaitu : 
  1. Struktur Sekuensial, memiliki minimal 1 instruksi dan dikerjakan secara berurutan.
  2. Struktur Kondisional,  struktur yang menyatakan bahwa pemilihan langkah harus berdasarkan keputusan atau kondisi yang dipersyaratkan.
  3. Struktur Pengulangan, yaitu struktur yang menyajikan instruksi untuk dilakukan berulang kali. 



III.  Klasifikasi Algoritma

Ada beberapa jenis algoritma, yaitu : 
  1. Rekursi dan Iterasi. Algoritma rekursi  dapat memanggil dirinya sendiri berulang kali. Algoritma literasi menggunakan konstruksi berulang dapat memiliki data tambahan pada struktur yang dibuat.
  2. Deterministik dan Non Deterministik. Algoritma Deterministik  memecahkan masalah dengan keputusan yang memiliki tingkat presisi tinggi, dan algoritma non deterministik memecahkan masalah secara prakiraan.
  3. Algoritma logika, adalah algoritma yang  dapat memposisikan diri seperti logika deduksi dan sangat terkendali.
  4. Algoritma Serial, Paralel dan Terdistribusi Algorigma serial, hanya dapat menjalankan satu instruksi. Algoritma paralel dapat menjalankan beberapa perintah secara simultan dalam waktu yang bersamaan. Algoritma terdistribusi banyak menggunakan mesin yang terkoneksi dalam jaringan. 
  5. Algoritma Quantum, adalah Algoritma yang menggunakan model realistik dari hasil komputasi quantum. 
  6. Algoritma berbentuk narasi verbal dan algoritma berbentuk bagan alir (  flow chart ).
Contoh sederhana algoritma flowchart


Sumber: Google



Tujuan Algoritma
Algoritma dibuat untuk : 
  1. Menyederhanakan program yang besar, dan rumit. 
  2. Menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis.
  3. Membuat program jadi lebih terstruktur, sehingga lebih mudah untuk pengembangan,  modifikasi, koreksi  karena hanya mengubah modul tertentu tanpa mengubah keseluruhan.
  4. Meminimalisir penulisan program yang berulang ulang. 
  5. Dapat mendeteksi kesalahan pada tahap paling dini,  karena alur perintahnya jelas. 
  6. Memudahkan proses pendokumentasian. 


Kriteria Algoritma Yang Baik
Algoritma yang baik baru memenuhi kriteria, antara lain :
  1. Memiliki input > 0
  2. Memiliki output > 1,  dan minimal 1.
  3. Terbatas ( finite ). Algoritma harus berhenti setelah melakukan langkah langkah. yang diperlukan.
  4. Pasti ( definite ) Algoritma harus jelas kapan dimulai dan kapan berakhir. Tujuan algoritma harus diuraikan secara rinci dan jelas tiap langkah harus diuraikan secara jelas, sehingga terhindar dari  kondisi dan sifat ambiguitas. 
  5. Efisien. Algoritma harus efisien. Adanya perintah / langkah seperti mencari hasil penjumlahan 5 + 0, tidak efisien, karena bilangan apapun jika ditambah dengan 0 ( nol ), hasilnya adalah bilangan itu sendiri, sehingga tidak perlu dimasukkan ke dalam sebuah algoritma. Dalam bahasa sederhana, algoritma pada dasarnya sama dengan Protap ( prosedur tetap ) dan SOP (Standard Operasional Prosedur ).    

Manfaat,  Peranan Algoritma Di Masa Kini Dan Masa Depan

Secara umum manfaat algoritma adalah untuk memudahkan kerja dalam rangka meningkatkan kenyamanan hidup manusia. Algoritma sudah digunakan ketika manusia masih menjalankan kehidupan dengan berburu dan meramu. Ketika manusia mengembangkan sistem pertanian dengan pola hidup menetap, algoritma yang digunakan juga berkembang jadi lebih canggih.  Pada era digital sekarang ini, algoritma sudah berkembang sangat maju. Tidak ada sektor kehidupan yang tidak bergantung pada algoritma.

Puncak kecanggihan algoritma saat ini adalah yang digunakan untuk mengembangkan AI ( Artificial Intelligence ). Di masa depan dalam hitungan bilangan tahun, peran dokter, apoteker,  pengacara, guru / dosen, pelatih olah raga, komponis, musikus dan sebagainya akan tergusur oleh AI. Sekarang sudah dapat dihasilkan AI yang menggantikan peran profesi tersebut dengan level mutu di atas hasil karya manusia dan dilakukan tanpa ada kesalahan.  AI dapat menciptakan komposisi nada lebih baik dari komponis profesional, merekrut  atlet pilihan yang lebih jitu dari pelatih berpengalaman. AI dapat mendiagnosa penyakit lebih akurat berikut saran terapinya lebih baik dari dokter berpengalaman. Dalam hitungan tahun ke depan AI dapat menjembatani celah antara kecerdasan dengan kesadaran, sehingga algoritmanya dapat mencakup kecerdasan dan kesadaran.


Algoritma USU

Universitas Sumatera Utara adalah universitas terkemuka di Sumatera, sudah pasti memiliki algoritma dalam operasionalnya. Misalnya algoritma algoritma penerimaan mahasiswa baru, pembayaran honor para stakeholdernya, penyelenggaraan kuliah dan sebagainya. Sebagai Universitas yang tergolong PTN BH ( Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum ), kategori akreditasi A ( terbaik ), harusnya memiliki algoritma yang canggih.

Untuk dapat menilai level algoritma USU, cara terbaik dan paling mudah adalah dengan  memeriksa proses dan  outputnya. Mengingat banyak sekali proses dan output yang dihasilkan, di sini disebutkan hanya beberapa kasus saja. Berdasarkan pengalaman beberapa rekan Dosen USU yang sedang menempuh studi S2 dan S3 di USU, para dosen dikenakan status ijin belajar. Untuk mengurus ijin, sampai terbitnya surat ijin belajar dibutuhkan waktu lebih dari satu bulan. Untuk mengurus permohonan ijin mengikuti pelatihan yang dibiayai oleh USU, dibutuhkan waktu 1 bulan dan belum tentu disetujui. Yang lebih memprihatinkan pemberitahuan keputusan diterima atau ditolak diberikan pada saat yang sudah sangat terlambat. Setelah ditelusuri prosesnya, ternyata semua surat yang ditujukan kepada pihak Rektorat terlalu lama berada di Bagian Tata Usaha. Demikian juga dalam pengurusan perbaikan kesalahan penulisan nama di  ijazah, walaupun sudah disampaikan data yang benar melalui surat peryataan mahasiswa dan ditanda tangani di atas materai. Dibutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Hal ini tentu merugikan alumni yang dapat kehilangan momentum untuk mendapatkan pekerjaan. Sebagian besar mahasiswa yang diwisuda, tidak menerima ijazah pada hari wisuda. Ijazah baru diterima beberapa minggu kemudian.

Sebagai perbandingan, hal  ini tidak terjadi di Universitas Gajah Mada,  Yogyakarta yang juga berstatus PTN BH dan akreditasi A. Sementara jumlah wisudawannya lebih banyak dari USU. Dari beberapa contoh kasus di atas, salah satu faktor penyebabnya diduga kuat adalah terbelakangnya Algoritma USU, tentu ada juga faktor lain seperti tidak adanya keselarasan antara komitmen dengan konsistensi pelaksanaan komitmen. Agak mengherankan bagaimana USU dapat beroperasi dengan kondisi seperti itu. Jika melihat algoritma yang dikembangkan di berbagai korporasi swasta, jelas sekali USU jauh tertinggal. Sementara itu USU salah satu sumber pemasok sumberdaya manusia terdidik untuk korporasi. Hal ini merupakan paradox sekaligus ironi. Semua slogan tentang penyiapan tenaga terdidik untuk menyongsong revolusi industri 4.0, menjadi absurd, konyol dan pepesan kosong. Penulis merasa gregetan melihat lambatnya pergerakan arus informasi yang seperti siput.

Di era digital, kampus bukan lagi pemegang otoritas keilmuan dan perumus serta penafsir realitas. Teknologi digital sudah merampas hak istimewa itu dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Para dosen mengajarkan  berbagai pengetahuan termasuk algoritma, ironinya algoritma USU sudah sangat ketinggalan jaman. Prakiraan  penulis, ketertinggalan itu mencapai rentang waktu 2 abad. Dasar perkiraan itu sebagai berikut :

Birokrasi Pemerintah Hindia Belanda pada satu abad lalu (1920 an ), sudah tertinggal 1 abad  ternyata masih jauh lebih canggih dan lebih efisien dari algoritma USU saat ini ( 2020 ). Dengan demikian tidak salah kalau dikatakan bahwa algoritma USU sudah tertinggal 2 abad. Penulis beberapa kali menjadi konsultan sistem analisis di beberapa perusahaan industri. Dalam diskusi di kelas dan ketika mensupervisi pekerjaan di lapangan, peserta banyak bertanya tentang kondisi sistem di USU, termasuk algoritmanya. Setelah terdiam beberapa saat, penulis terpaksa memberikan informasi apa adanya dan mereka memberikan respon beragam. Yang paling menyakitkan, adalah komentar seperti ini " Bapak cuma bisa membenahi rumah orang lain,  tapi rumah sendiri berantakan". Di perusahaan industri penulis membuat algoritma pengelolaan limbah bahan beracun berbahaya ( B3 ), algoritma arus lalu lintas kendaran, barang, manusia berikut rambu dan marka jalan,  untuk mencegah kecelakaan lalu lintas dan berbagai jenis algoritma yang jumlahnya mencapai ratusan.

Di masa depan, Gap antara perangkat keras dengan algoritma di USU,  dapat dipastikan akan semakin melebar. Sebentar lagi kita akan memasuki tahap kecepatan komunikasi pertukaran data dan informasi level 5 G. Bagaimana mungkin kemampuan setinggi itu dapat diakomodasi oleh algoritma yang terbelakang.  Kemampuan itu jadi seperti mubazir. Jika USU ingin tetap eksis di era digital, tidak ada cara lain selain memperbaruhi algortmanya, merubah mindset, menyelaraskan antara komitmen dengan konsistensinya.

Epilog

Dari paparan di atas, algoritma adalah sesuatu yang sangat vital bagi apa saja di alam ini. Kebutuhan akan algoritma semakin terasa bagi organisasi sebesar USU. Manajemen rektorat saat ini yang hampir berakhir masa jabatannya  mungkin sulit diharapkan untuk melakukan perbaikan mendasar. Siapapun manajemen rektorat USU  di masa depan, wajib memoderinisir algoritma yang yang sudah lapuk,  dan menjadikannya sebagai agenda prioritas. Di masa depan, eksistensi USU sangat bergantung pada kecepatan bereaksi untuk merespon sinyal perubahan di tahap paling dini. Kecepatan reaksi dan naluri menangkap pesan sinyal perubahan,  peluangnya lebih besar di tangan  para pemimpin berusia muda. Oleh karena itu pemimpin berusia muda lebih memberikan harapan untuk melakukan perubahan. Trend ( kecenderungan ), naiknya pemimpin generasi muda terjadi di berbagai tempat, seperti fenomena naiknya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan. Begitu juga dengan bermunculannya para tokoh bisnis usia muda sebagai founder, co founder dan CEO ( Chief Executive Officer ) di berbagai perusahaan start up yang valuasinya mencapai triliunan rupiah. Fenomena ini seharusnya menyadarkan para pemimpin berusia lanjut untuk segera  turun panggung, karena era mereka sudah berlalu. Kini saatnya orang muda memimpin. Begitulah pelajaran dari alam semesta.

Comments

Popular Posts