KISAH DI BALIK JENAZAH HMMC J WIRTJES XV ( VENTJE )
IN MEMORIAM HMMC J WIRTJES XV ( VENTJE )
Geboren : 1 Januari 1924 di Kuta Raja
Overleden : 5 Agustus 1965 di Kwala Simpang, Aceh Tamiang
Foto 1 : Ventje Muda
Sumber : Koleksi foto milik keluarga Wirtjes
Foto 2 : Ventje sedang istirahat sepulang dari kantor.
Sumber : Koleksi foto milik keluarga Wirtjes
Prolog
Pada tanggal 2 Agustus 1965 subuh, sebuah mobil Jeep dengan tiga penumpang dan muatan penuh bergerak meninggalkan halaman rumah dinas Inspektur Kebun Seumayam, milik PT SOCFINDO, di Aceh Barat. Penumpangnya adalah HMMC J Wirtjes XV selaku Inspektur merangkap Principal PT Socfindo dan Konsul Belgia di Medan, seorang dokter dan seorang sopir. Tujuannya adalah kota Medan. Lintasan jalan yang dilalui menyusuri Pesisir Barat Aceh hingga kota Banda Aceh. Waktu tempuh dari Seumayam ke Banda Aceh lebih kurang 24 jam. Di masa itu kondisi jalan sangat buruk, penuh lubang besar. Di sepanjang rute itu tidak ada jembatan yang menghubungkan dua tepi sungai besar. Penyeberangan orang dan kendaraan dilakukan dengan menggunakan rakit. Tanggal 3 Agustus mereka tiba di Banda Aceh. Setelah istirahat sejenak, perjalanan di lanjutkan dengan menyusuri pesisir Timur Aceh. Perjalanan dilakukan secara maraton, dengan dua sopir secara bergantian. Dokter praktis jadi penumpang di sepanjang perjalanan.
Awal Bencana
Pada tanggal 5 Agustus subuh mereka sudah berada di dekat kota Kwala Simpang, sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Tamiang. Waktu itu yang pegang kemudi adalah Meneer Wirtjes. Kondisinya sudah sangat lelah dan rencananya ketika tiba di kota Kwala Simpang, akan digantikan oleh sopir. Malang tak dapat ditolak, di desa Tanah Terban ( 5 Km dari kota Kwala Simpang ), dalam keadaan mengantuk dan lelah ,Ventje tidak menyadari mobilnya sudah berada di tepi parit besar sedalam 4 - 5 meter , berair sedalam 2 meter. Ketika tersadar, roda depan sebelah kanan sudah berada di awang awang, tepat di atas parit besar itu. Semua upaya untuk mengendalikan mobil sudah terlambat.secera refleks, insting Venjte memilih melompat keluar. Justru ayunan tubuhnya mempercepat jatuhnya mobil, menyusul tubuhnya yang sudah tercebur ke dalam parit. Tak ayal lagi mobil itu menimpa tubuh Ventje yang segera jatuh tertelungkup di dasar parit . Dua penumpang lain dalam keadaan tertidur, menyadari mobil sudah berada di dasar parit. tetapi tidak melihat Ventje. Keduanya merangkak ke luar mobil dan menyentuh tubuh Ventje yang sudah tidak bernyawa. Keduanya segera merangkak naik ke tepi jalan dan mencari rumah penduduk untuk meminta pertolongan. Jenazah Ventje dapat dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Kwala Simpang untuk dibersihkan dan divisum. Dokter yang mendampingi sejak dari Seumayam segera mengirim kabar ke kantor pusat Socfindo di Medan. Berita itu tidak langsung disampaikan kepada keluarga Ventje di Medan. Dipilih waktu sore menjelang jenazah tiba di Medan, berita itu akan disampaikan kepada keluarga oleh pimpinan tertinggi Socfindo yang sebenarnya dua hari ke depan akan digantikan oleh Ventje. Terjadi kesibukan di kantor pusat dan rumah duka untuk menyambut jenazah.
Foto 7 : Jenazah Ventje tiba di rumah duka jalan A Rivai Medan, rumah kediaman Kolonel August Otto Hernsdorff
Sumber : Koleksi foto milik keluarga Wirtjes
Keanehan Pada Jenazah Ventje
Dokter yang melakukan visum merasa ada yang aneh pada jenazah. Ventje yang dalam posisi terlungkup ditindih oleh mobil dengan dua penumpang dan bermuatan penuh, tetapi jenazahnya mulus, tidak ada sedikitpun goresan luka atau memar / lebam pada kulitnya. Dokter merasa kematiannya bukan disebabkan oleh luka luar, atau luka dalam atau patah tulang, tetapi oleh lumpur yang menyumbat hidung, tenggorokan sehingga menutupi saluran udara. Dia sama sekali tidak dapat bernafas. Sopir yang selalu mendampingi Ventje tahu penyebab keanehan itu tetapi tidak mengungkapkan kepada dokter dan siapa saja yang ada di kamar jenazah. Dia menunggu saat yang tepat ketika berada sendiri di dekat jenazah, segera meraih pinggang Ventje, mencari sesuatu, tetapi tidak menemukan apapun. Jenazah kemudian dimandikan, dan sopir ikut membantu memandikan jenazah dengan motif tertentu yang belum terwujud. Barang yang melekat di tubuh Ventje segera dikumpulkan di antaranya dompet berisi uang, jam tangan Rolex, ikat pinggang, baju, celana, sepatu untuk diserahkan kepada keluarga. Satu benda yang dicari sopir tetap raib dan dia berbisik kepada isteri Ventje bahwa barang yang paling berharga tidak ditemukan. Sang isteri segera paham akan maksud si sopir, segera meraba pinggang Ventje dan menemukan barang yang dicari. Ternyata benda itulah yang melindungi tubuh Ventje dari benturan keras, sehingga tetap mulus. Walaupun demikian benda itu tidak dapat melindungi Ventje dari serangan air dan lumpur.
Sopir merasa heran, bagaimana mungkin isteri Almarhum bisa mendapatkan benda itu dengan mudah sementara dia sudah memeriksa dengan teliti, begitu juga dokter yang melakukan visum. Rasa penasarannya terus nengendqp di pikirannya hingga dia wafat. Apa gerangan benda yang begitu diminati oleh banyak orang yang tahu keistimewaannya?. Hal ini akan terungkap di bagian akhir kisah.
Ajudan Yang Usil dan Penasaran
Awal tahun 1962 Ventje menjabat Administratuur Kebun Sungai Liput, milik Socfindo. Di Kebun itu ada markas Kompi TNI yang dipimpin oleh Letda Soerjadi Soedirdja, Alumnus AMN Magelang tahun 1962. Soerjadi Soedirdja di masa rejim Suharto, dalam pangkat Mayor Jenderal diangkat menjadi Gubernur DKI Jaya. Soerjadi bergaul akrab dengan Ventje dan sudah beberapa kali menawarkan anak buahnya untuk menjadi ajudan. Akhirnya tawaran itu diterima dan personil yang ditunjuk adalah Sersan Efendi Rusli, berasal dari Sumatera Barat. Selama menjadi ajudan Ventje, Efendi yang akrab dipanggil dengan sebutan Pendi, sudah sering mendengar desas desus bahwa Ventje adalah orang yang kebal senjata tajam dan peluru.
Gosip itu terus membayangi pikiran Pendi. Setelah satu tahun bertugas menjadi ajudan Ventje, Pendi berubah dari orang yang sigap, responsif menjadi orang pendiam. Tidak ada yang tahu penyebab perubahan itu. Tahun berikutnya Pendi pamit meninggalkan posnya. Tidak ada yang tahu alasan kepergian Pendi. Ventje juga tidak pernah membicarakan hal itu kepada siapapun.
Pengakuan di Puncak Sabang Hill
Pada bulan Agustus 1987, penulis berada di Sabang. Pada suatu malam yang cerah, penulis pergi ke puncak Sabang Hill, menikmati suasana di atas bukit, dan mengambil posisi di tepi tebing yang menghadap ke Teluk Sabang. Kemudian datang satu mobil Jeep Toyota Hardtop dengan beberapa orang penumpang. Salah seorang dari mereka berteriak memanggil nama penulis. Tidak disangka, ternyata dia Pendi yang sudah jadi perwira berpangkat Letnan Kolonel. Setelah memperkenalkan penulis dengan teman temannya, Pendi minta ijin meninggalkan teman temannya dan menarik tangan penulis menjauh dari rombongannya. Kami duduk di bangku beton yang menghadap ke arah laut lepas. Pendi memulai kisahnya sejak meninggalkan tugas sebagai ajudan Ventje. Inilah pengakuannya setelah menyimpan kisah itu selama puluhan tahun.
Pada suatu hari Pendi mengawal Ventje dalam perjalanan dari Medan ke Kebun Sungai Liput. Dia tahu muatan yang dibawa dari Medan yaitu tiga karung uang kontan. Di perjalanan, setelah lewat perbatasan antara Sumatra Utara dan Aceh, di tempat sepi ( masa itu lalu lintas di jalan negara Sumatra Utara - Aceh masih sepi ), Pendi mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya ke arah Ventje sambil merintahkan agar mobil menepi dan berhenti. Dia menyuruh Ventje ke luar mobil dan dia mengambil alih mobil berikut barangnya. Ventje bersikap tenang dan menolak permintaannya. Pendi mengancam untuk menembak, jika Ventje tetap menolak mematuhi perintahnya. Ventje keluar dan tetap menguasai kunci mobil sambil berkata : " Pendi, kau kira saya takut dengan ancamanmu?. Kau boleh pilih bagian manapun dari tubuhku untuk kau tembak. Kita lihat apa yang bakal terjadi. Saya tidak tahu motifmu, apakah kau mau jadi perampok, atau kau sekadar mau mengujiku?. Apapun motifmu, lakukan apa yang kau mau lakukan, aku sudah siap ". Pendi berkata " Maaf Tuan, aku tidak bermaksud membunuh atau menyakiti Tuan, aku hanya ingin melumpuhkan Tuan. Aku akan menembak kaki Tuan. Maafkan aku Tuan ". Setelah itu Pendi beraksi, menembakkan pistolnya ke kaki kanan Ventje. Pistol itu menyalak dan memuntahkan pelurunya. Pendi 7terkesima tidak percaya pada penglihatannya. Peluru itu tidak mampu melukai Ventje. Selanjutnya Pendi berdiri lemas bersimpuh di depan Ventje sambil menangis mohon ampun. Dengan lembut Ventje memapah Pendi duduk di mobil sambil berkata " Pendi, kejadian ini jangan kau ceritakan ke siapapun. Ini menjadi rahasia di antara kita. Kau tetap bertugas menjadi ajudanku dan bersikap biasa, seolah tidak terjadi apapun".
Pendi tidak mampu lagi bersikap wajar seperti biasa. Dia merasa sudah membuat dosa besar kepada tuannya yang tetap bersikap baik. Dia menderita secara batin dan ingin pergi jauh. Pada suatu hari dikemukakannya keinginannya mencari pengalaman di tempat lain. Venjte menawarkan peluang melanjutkan pendidikan untuk menjadi perwira. Pendi terkejut mendengar tawaran itu dan langsung menerimanya. Ventje segera mengontak para sahabatnya di militer seperti Jenderal M Jasin, Jenderal Nyak Adam Kamil dan Jenderal Teuku Hamzah. Tak lama kemudian Pendi sudah berada di Cimahi Jawa Barat. mengikuti pendidikan Calon Perwira. Pendi pensiun dari militer dengan pangkat Letnan Kolonel. Menjelang berpisah, Pendi berbisik kepada Penulis : Aku saksi mata, papimu orang yang kebal terhadap peluru, dia orang baik dan pemaaf. Tanpa jasa baiknya, di pundak Pendi tidak mungkin bertengger dua bunga melati. Aku dengar papimu mendapat pusaka langka dari Tuan Guru Habib Muda dari Seunagan. Pantas dia begitu percaya diri menghadapi pistolku. Aku menyesal sudah menyakiti hatinya.
Konfirmasi Dari Mami ( Epilog )
Setelah berada di Medan, penulis ceritakan pertemuan dengan Pendi. Mami membenarkan ucapan Pendi. Mami menarik tangan penulis masuk ke kamar, mengunci pintu dan mengambil sesuatu dari lemari.
"Inilah barang peninggalan papimu yang mami ambil dari pinggangnya ketika sudah menjadi mayat ". Benda itu dikenal sebagai " rantai babi ". Di sebelah rantai babi disandingkan dengan rotan sungsang. Benda ini dapat mengaburkan pandangan orang. Itulah sebabnya para dokter yang melakukan visum dan sopir tidak dapat melihat dan menemukan ke dua benda ini, karena mereka bukan ahli waris dan tidak berhak atas benda ini. Bentuk rantai babi seperti kain basah yang diperas dengan cara dipelintir. Ukurannya lebih kurang sebesar jari kelingking orang dewasa. Rotan sungsang mirip Rotan biasa, perbedaannya pada posisi ruas yang saling bertolak belakang, tidak searah. " Benda ini dihadiahkan oleh Tuan Gutu Syech Habib Muda dari Plengkung, Seunagan, dalam pesta adat pengangkatan papimu sebagai anak Beliau. Sekarang benda ini menjadi pusaka keluarga kita turun menurun ". Penulis pernah merasakan langsung keampuhan ke dua pusaka itu ketika harus berhadapan dengan puluhan preman yang mencari masalah. Kejadiannya sudah berlangsung 30 tahun lalu. Kepungan para preman itu pecah ketika melihat senjata tajamnya tak mampu melukai kulit penulis.

.jpeg)
.jpeg)

.png)
Comments
Post a Comment