MEMBONGKAR MITOS PEMANASAN GLOBAL ( GLOBAL WARMING )

Prolog

Usia mitos sama tuanya dengan usia kesadaran diri manusia. Kesadaran diri jadi faktor pemicu dan pendorong lahirnya budaya. Jejak mitos tertua dapat ditelusuri dari artefak ( benda buatan manusia ). Artefak merekam sekaligus  menyimpan ide dan perilaku manusia. Dengan penelitian yang sistematis terhadap artefak, para peneliti dapat mengungkapkan ide dan perilaku pembuatnya. Setelah manusia menciptakan simbol simbol ( lambang, huruf, angka ), pengetahuan tentang mitos jadi lebih lengkap dan lebih mudah diungkapkan. Dari penelitian yang intensif, diketahui bahwa sepanjang usia  nya, hidup seorang manusia selalu dikelilingi dan dilingkupi oleh berbagai mitos. Pada masa lalu, mitos diciptakan untuk memenuhi hasrat ingin tahu manusia. Mitos menceritakan banyak aspek yang tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan manusia. Ketidak mampuan manusia mencari jawaban yang bersifat fisika, mendorong manusia mencari jawaban yang bersifat metafisika. Oleh karena itu sebagian besar mitos sulit dikonfirmasi atau diuji menurut norma, aturan, metode, dalil dalil logika dan ilmu ilmu alam. Banyaknya mitos yang melingkupi kehidupan, membuat daya pikir dan daya kritis manusia jadi tumpul. Mitos diterima secara taklid, tanpa ada keinginan untuk menguji kebenarannya. Mitos tidak hanya dimonopoli oleh kelompok masyarakat tradisional, marginal, atau masyarskat yang kurang terdidik secara keilmuan.
Masyarakat modern dan terdidik sekalipun masih sangat percaya akan kebenaran berbagai mitos. Sebagai contoh,  di jaman digital ini, ada milyaran manusia yang percaya bahwa manusia  pertama ( tertua ) adalah laki laki, dan dari lelaki dapat dihadirkan individu baru ( wanita ). Sementara itu seluruh fenomena di masa kini dan Hukum Universe, mengatakan sebaliknya. Hukum Universitas mengatakan apa saja yang terjadi pada masa lalu, pasti terjadi juga di masa kini dan masa depan. Sebaliknya, apa yang tidak pernah terjadi di masa kini, juga tidak terjadi di masa lalu dan di masa depan. Kalau sekarang hanya individu wanita yang dapat melahirkan individu baru, maka demikian juga halnya di masa lalu dan di masa depan. Mitos pada masa kini diciptakan bukan hanya sekadar untuk memenuhi hasrat ingin tahu, tetapi dilandasi oleh beragam motif dan kepentingan. Ada yang berlandaskan motif ekonomi, adapula yang bermotif politik, sosial, budaya, militer dan sebagainya. Mitos terbaru yang dipercaya oleh manusia modern adalah pemanasan global (  global warning ). Ada puluhan riset empirik yang dilakukan oleh puluhan pakar kelas dunia yang dipublikasikan di belasan jurnal ilmiah bereputasi tinggi yang membantah telah terjadi pemanasan global ( Crichton, 2004 ). Semua hasil riset itu tenggelam dilindas oleh  gencarnya kampanye yang dilakukan oleh pebisnis, politisi dan negarawan kelas dunia. Sebagian besar manusia percaya pada mitos, karena disampaikan oleh para pemuka berbagai bidang, pebisnis terkenal, pejabat politik, diplomat, pejabat birokrasi, ilmuwan. Pesan pesan mereka itu didukung oleh berbagai jenis media. Walaupun sebagian besar pesan itu berisi pepesan kosong, tetapi karena disampaikan terus menerus berulang ulang, akhirnya menjadi kebenaran. Josef Goebels, menteri propaganda  rejim Nazi Jerman pada Perang Dunia II, jika masih hidup pasti tertawa keras menyaksikan kebenaran teorema yang diciptakannya. Mengingat issue pemanasan global sangat penting, akan dibahas lebih mendalam di dalam tulisan ini. Tulisan ini berusaha mempertanyakan kebenaran pernyataan yang diucapkan dengan fasih oleh jutaan orang terdidik bahwa sekarang peradaban manusia sudah berada diambang kehancuran, karena dunia sedang dilanda pemanasan global. Temperatur bumi terus meningkat sejak seabad terakhir. Kenaikan temperatur bumi disebabkan karena meningkatnya emisi gas  gas rumah kaca di atmosfer bumi, terutama gas karbon, metan ( green house effect ). Kenaikan temperatur tersebut bersifat menyeluruh melanda semua titik di permukaan bumi. Akibatnya lapisan es di kutub utara dan kutub selatan mencair dan menyebabkan naiknya permukaan laut. Hal itu kemudian menyebabkan terjadinya perubahan drastis iklim, cuaca, pola arus laut. Berikutnya terjadi badai, topan, yang menyebabkan kegagalan panen, meluasnya wabah penyakit, kebakaran hutan yang akan semakin mengacaukan pola iklim dan cuaca. Perubahan itu menimbulkan efek berantai pada berbagai aspek kehidupan. Kesimpulannya, pemanasan global menimbulkan berbagai krisis multi dimensi dan saling mengunci. Tidak banyak orang yang mempertanyakan   kebenaran peryataan itu. Apakah fenomena itu baru pertama kali ini terjadi di bumi? Jika bukan pertama kali terjadi, faktor apa yang menyebabkannya dan bagaimana cara manusia  mengatasinya?. Pertanyaan seperti itu jarang dipikirkan oleh banyak orang. Para ilmuwan  dan cendekiawan terutama di dunia ke tiga, malas berpikir, merasa mapan dan nyaman dengan statusnya berikut atribut yang disandangnya termasuk uang  tunjangan yang diterima secara rutin. Akhirnya mereka percaya begitu saja apa yang diindoktrinasikan oleh para pakar negara maju. Kemampuan mereka benar benar payah. Jangankan meneliti, bahkan tulisan tulisan berdasarkan hasil riset empirik dari pakar yang berada di luar mainstream, dan telah dipublikasikan secara luas melalui jurnal jurnal bergengsi, tidak mampu ditelusuri.

Beberapa postulat



Sebelum melangkah lebih jauh, perlu dikemukakan secara eksplisit beberapa postulat yang menjadi landasan berpikir untuk membangun argumentasi. Pencantuman postulat ini sangat penting, sebagai persyaratan dalam mengembangkan model berpikir deduktif. Selain model berpikir deduktif juga dikenal model berpikir induktif. Kedua model berpikir ini lazim digunakan di kalangan akademisi. Dari tinjauan filsafat ilmu pengetahuan, model berpikir deduktif lebih kokoh, karena kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari pernyataan premis yang digunakan. Sementara Itu, kesimpulan dari penalaran induktif bersifat tidak pasti  ( boleh jadi, probabilitas secara statistik ). Di antara kelompok ilmu ilmu sosial dan humaniora, ilmu hukum paling konsisten dalam penerapan logika deduktif di dalam membangun argumentasi dan proses pengujian serta pembuktiannya. Adapun postulat postulat yang digunakan adalah : 
  1. Alam semesta senantiasa berubah. Konsekuensi logis dari postulat ini adalah terjadinya peningkatan jumlah variasi dari waktu ke waktu.
  2. Apa yang terjadi di masa lalu, pasti terjadi juga di masa kini,di masa depan dan begitupula sebaliknya. Konsekuensi logis dari postulat ini adalah selalu terjadi pengulangan peristiwa. Tidak ada peristiwa yang terjadi hanya satu kali.
  3. Alam adalah penyimpan jejak yang terbaik. Konsekuensi logis dari postulat ini adalah semua peristiwa yang pernah terjadi di alam ini dapat ditelusuri kembali bekas bekas / jejaknya di alam .


Pada uraian di bagian prolog, sudah dipaparkan secara singkat tentang pendapat para pakar yang percaya bahwa sekarang telah terjadi pemanasan global. Jika ditelaah secara  cermat, pandangan tersebut mengandung beberapa asumsi tersembunyi yang tidak dinyatakan secara eksplisit. Asumsi asumsi tersebut adalah  :
  1. Pemanasan global yang terjadi sekarang  merupakan fenomena yang pertama  kali terjadi di bumi.
  2. Bentuk dan sifat keseimbangan di alam semesta bersifat stasioner dan mulai terganggu sejak beberapa dekade terakhir.
  3. Manusia dengan teknologi yang dimilikinya menjadi aktor utama yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global.


Ketiga asumsi yang digunakan tanpa sadar, karena tidak dinyatakan secara tersurat oleh pendukung issue pemanasan global bertabrakan secara frontal, dengan postulat postulat yang penulis gunakan secara sadar, karena dinyatakan secara eksplisit. Untuk menilai secara fair dan adil untuk menentukan  dasar pikiran mana yang lebih handal, maka kita harus menguji, mengkonfirmasinya dengan fakta alam, sebagai wasit yang paling adil dan fair. Untuk mengetahui bagaimana  proses pembentukan  bumi, berikut proses perkembangannya sampai sekarang, termasuk proses terbentuknya dan perkembangan mahluk hidup yang jadi penghuni bumi, mutlak diperlukan ilmu ilmu kebumian. Ada fakta menarik sekalugus mengejutkan yang diketahui hanya segelintir orang. Mengapa hanya sedikit orang yang tahu?. Hal ini mungkin disebabkan karena tidak banyak orang yang punya minat, kepekaan dan terlatih dalam mengakses informasi keilmuan termuthakhir. Fakta yang dimaksud adalah  :
manusia adalah pendatang baru di bumi, baru hadir sejak 4 juta tahun lalu, tetapi di dalam jasadnya tersimpan catatan informasi riwayat proses perkembangan bumi sejak 400 juta tahun lalu. Tubuh manusia ibarat kitab ensiklopedi berjalan. Informasi itu hanya dapat dibaca oleh orang yang memiliki ilmu ilmu kebumian ( geologi,  geomorfologi, hidroklimat ), ilmu ilmu dasar ( fisika, kimia, biologi dan mikrobiologi ), berikut kemahiran penggunaan instrumentasi penelitian. Informasi termutakhir tentang proses pembentukan bumi yang tersimpan di dalam gen seluruh populasi manusia modern adalah peristiwa yang terjadi pada 74.000 tahun lalu ( letusan super teknovolcano gunung Toba ). Di bawah ini akan dipaparkan secara singkat informasi terkini dari bidang geologi tentang proses terbentuk dan perkembangan  bumi.

Konsep Skala Waktu Geologi

Skala Waktu geologi digunakan oleh para ahli geologi dan ilmuwan untuk menjelaskan waktu dan hubungan antar peristiwa yang terjadi sepanjang sejarah bumi. Tata penamaan dan skala waktu yang ditampilkan, berasal dari International Commission on Stratigraphy dan United States Geologycal Survey. Bukti bukti penanggalan radiometri menunjukkan bahwa bumi berumur sekitar 4,54 miliar tahun. Waktu geologi bumi disusun menjadi beberapa unit menurut peristiwa yang terjadi pada tiap periode. Masing masing jaman pada skala waktu biasanya ditandai dengan peristiwa besar geologi atau paleontologi, seperti kepunahan masal. Sebagai contoh, batas antara periode Kapur dengan Paleogen diidentifikasikan dan didefinisikan dengan peristiwa kepunahan dinosaurus dan berbagai spesies biota laut. Periode yang lebih tua, yang tidak memiliki peninggalan fosil yang dapat diandalkan perkiraan usianya, didefinisikan dengan perhitungan umur absolut. Dalam bahasa Inggris, berturut turut penamaan skala waktu geologi dari yang tertua dan terbesar adalah Eon, Era, Period, Epoch. Dalam bahasa Indonesia, Eon diterjemahkan menjadi Kurun, Era diterjemahkan menjadi Masa, Period diterjemahkan menjadi Periode atau Jaman, Epoch diterjemahkan menjadi Kala.
Masing masing pembabakan dibagi menjadi beberapa skala waktu yang lebih rinci. Di bawah ini disajikan tabel skala waktu geologi secara lengkap. 

(Sumber: Google)

Kepunahan masal pertama terjadi pada Periode Perm ( 290 -250 juta tahun lalu ). Kata Perm berasal dari nama propinsi tua di pegunungan Ural, Rusia. Di periode itu terjadi peningkatan jumlah reptil secara besar besaran. Di akhir periode ini terjadi kepunahan masal ( 95 % dari total kehidupan ). Hampir seluruh permukaan bumi ditutupi lapisan es, muka air laut menurun, iklim kering muncul, gurun pasir mulai muncul di bagian utara bumi. Pada Periode Triasic, Jurasic dan  Kapur (  250 - 65  juta tahun lalu ), dikenal sebagai  masa keemasan reptil besar seperti dinosaurus. Di periode ini juga pernah terjadi kepunahan masal yang disebabkan perubahan iklim drastis. Kepunahan dinosaurus segera diikuti dengan kemunculan mamalia. Pada Kala Paleosen hingga Kala Pleistosen dikenal sebagai masa kemasan mamalia besar. Manusia ( Homo Erectus ) muncul pada pertengahan kala pleistosen ( 2 juta tahun lalu ), dan manusia modern (  Homo Sapien ) muncul pada akhir Kala Pleistosen ( 200.000 tahun lalu ). Pada kala pleistosen terjadi beberapa kali pembentukan lapisan es ( glacial ) secara global dan diselingi dengan pencairan lapisan es ( interglacial ) secara global yang ditandai dengan surut dan naiknya permukaan laut. Muncul dan hilangnya lapisan es secara global disebabkan karena perubahan iklim secara global, baik oleh  pemanasan global, maupun oleh pendinginan global. Jadi, pemanasan global dan pendinginan global sudah terjadi beberapa kali. Setiap kali  terjadi perubahan iklim secara global, biasanya diikuti dengan kepunahan banyak mahluk hidup, tetapi segera diikuti dengan kemunculan banyak mahluk baru. Di periode kuarter mulai dari kala paleosen hingga  kala holosen ( masa sekarang ) sudah beberapa kali silih berganti terjadi pembentukan  lapisan es dan pencairan lapisan es secara global. Pencairan es secara global yang terakhir terjadi sejak 11.700 tahun lalu. Pada kala pleistosen akhir dan awal kala holosen terjadi kepunahan mamalia besar jenis mamouth. Di kala holosen, jenis mamalia besar yang masih tersisa adalah badak, singa, harimau, banteng dan gajah. Pada kala holosen,  pulau pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan terpisah dari daratan Asia Tenggara. Pulau Papua, Kepulauan Maluku terpisah dari benua Australia. Dari paparan di atas menjadi jelas bahwa pemanasan global bukan fenomena aneh yang baru pertama kali terjadi. Begitu pula dengan pendinginan global. Keduanya disebabkan karena perubahan iklim. Manusia bukan aktor utama penyebab munculnya ke dua fenomena itu. Kepunahan sebagian mahluk hidup selalu diikuti dengan kemunculan mahluk baru. Mahluk yang tidak tahan dengan kondisi yang berubah akan punah, digantikan oleh mahluk yang lebih sesuai dengan kondisi baru. Mungkin beberapa mamalia besar sekarang yang jumlahnya tinggal sedikit, sudah tidak sesuai dengan kondisi lingkungan masa kini. Alam sudah tidak familiar atau tidak welcome atau tidak care dengan mereka. Gerakan dan upaya pelestarian hewan langka
seperti gajah dan badak patut dipertanyakan kembali. Mungkin tindakan pelestarian itu jika dilihat dari sudut pandang lain, hanya ingin memuaskan hasrat manusia untuk mempertahankan eksistensi mereka. Boleh jadi tindakan itu sebenarnya hanya memperpanjang penderitaan mahluk langka itu. Begitu juga dengan keberhasilan para pakar rekayasa genetika menghadirkan kembali kambing Ibex yang telah punah sejak 90 tahun lalu. Kambing Ibex terakhir kali dilihat pada tahun 1930 di dataran tinggi Spanyol. Prestasi itu adalah puncak keberhasilan manusia modern di bidang ilmu biologi. Tahun 1996, seorang novelis besar Michael Crichton telah meramalkan akan kemampuan manusia membangkitkan lagi spesies yang telah punah. Pandangannya itu dituangkan dalam novelnya yang menjadi best seller, berjudul Jurasic Park . Novel itu telah  diangkat ke layar perak dengan judul yang sama. Enam belas tahun kemudian ( 2012 ) ramalan itu terwujud dengan keberhasilan menghidupkan kembali kambing Ibex. Sekarang  sudah lebih 24 spesies hewan yang telah punah, berhasil dihidupkan kembali. Banyak pakar mempertanyakan manfaat dari proyek seperti itu, terutama jika ditinjau dari sudut suksesi mahluk hidup di alam. Hal itu sama saja dengan pemaksaan kehendak manusia untuk membawa kembali mahluk yang sudah masuk kotak ke pentas kehidupan. Mahluk hidup termasuk manusia boleh hadir dan kemudian punah, tetapi alam jalan terus. Sebesar apapun perubahan alam yang terjadi, atau sebesar apapun  ledakan bom nuklir yang menimpa bumi, tidak akan mampu memusnahkan seluruh mahluk hidup, karena kehidupan selalu dapat menemukan jalannya untuk melanjutkan hidupnya. 

Beberapa Riset Yang Mematahkan Mitos Pemanasan Global
Di bawah ini dipaparkan beberap hasil riset ysng dilakukan oleh para pakar kelas dunia di bidang hidroklimat, antariksa, glaciologi / kriologi,  geologi, geomorfologi remote sensing, oceanologi di berbagai belahan bumi. Jadi hasil riset mereka telah pula dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah bereputasi di bidang bidang tersebut. Adapun hasil hasil riset itu antara lain : 
  1. Anderson, J B dan Andreas, J.T, 1999, " Hambatan radiokarbon pada penyusutan dan perkembangan lapisan es di Laut Weddell, Antartika ", Geology 27 : 179 - 183. Hasilnya : Volume es Antartika yang meleleh dewasa ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang terjadi selama periode interglacial terakhir.
  2. Comiso, J.C, 2000, " Variabilitas dan kecenderungan suhu permukaan Antartika berdasarkan hasil pengukuran in situ  dan data satelit ". Journal of Climate 13 : 1674 - 1696. Hasilnya : Data satelit dan stasiun darat menunjukkan penurunan suhu selama 20 tahun terakhir.
  3. Petit, J.R., Jouzel, J., Raynaud, D., Bakov, N.I., Barnola, J.M., Basile, I., Bender, M., Chappelaz, J., Davis, M., Delaygue, G., Delmotte, M., Kotlyakov, V.M., Legrand, M., Lipenkov, V. Y., Lorius, C., Pepin, L., Ritz, C., Salesman, E.,Stievenard, M., 1999, " Riwayat iklim dan atmosfer selama 420.000 tahun terakhir dari inti es di Vostok, Antartika " Nature 339 : 429 - 436. Hasilnya : Selama empat periode interglacial terakhir yang dimulai 420.000 tahun silam, suhu bumi lebih tinggi dari suhu yang sekarang.
  4.  Joughin, I., dan Tulaczyk, S, 2002, " Keseimbangan massa positif di sungai Es  Ross, Antartika Barat" , Science 295 : 476 - 480. Hasilnya : Pengukuran radar ke arah samping menunjukkan bahwa es di belahan barat Antartika semakin menebal sebesar 26,8 gigaton per tahun. Gejala ini merupakan kebalikan dari tren yang terjadi selama 6000 tahun terakhir.
  5.  Dora., P.T, Priscu, J.C.,  Lyons, W.B., Walsh., J.E.,  Mountain A., Mc. Knight, M.D., Moorhead, D.L.,  Virginia, R.A.,  Wall, D.H., Clow, G.D.,  Fritsen, C.H.,  Mc. Kay, C.P., Parsons, A.N., 2002, " Penurunan suhu di Antartika dan dampaknya terhadap ekosistem bumi ", Nature 415 : 517 - 520. Hasilnya : Sejak tahun 1986 hingga 2000 temperatur lembah lembah di pusat benua Antartika bertambah dingin 0,7 °C per dekade dan penurunan itu menimbulkan dampak ekosistem yang serius.
  6.  Thompson, D.W.J., dan Solomon., S., 2002, " Interpretasi perubahan iklim bumi belahan selatan " , Science 296 : 895 - 899. Hasilnya : Suhu semenanjung Antartika menghangat beberapa derajat, sedangkan bagian dalam benua ini justru semakin dingin. Bukit bukit es di sepanjang tepian semenanjung mengalami pengikisan, namun massa es laut semakin bertambah
  7.  Parkinson, C. L., 2002, " Beberapa kecenderungan durasi musim es di Laut Selatan , 1979 - 1999 " Annals of Glaciology 34, : 445 - 440. Hasilnya  : Sebagian besar kawasan Antartika mengalami musim es laut lebih panjang, rata rata 21 hari lebih lama dibandingkan dengan tahun 1979.
  8.  Vyas, N.K., Dash, M.K., Bahan dari, S.M., Share, N., Mitra, A., Pandey, P.C., 2003, " Tentang tren -  tren sekuler pada luasan laut es di kawasan Antartika berdasarkan hasil observasi satelit OCEANSAT - 1 MSMR " ,International Journal of Remote Sensing 24 : 2277 - 2287. Hasilnya : Tren peningkatan massa es laut semakin nyata.
  9.  Liu, J.  Carry, J.A., Martinson, D.G., 2004, " Interpretasi terhadap variabilitas es laut Antartika termuthakhir ", Geo physical  Research Letters 31 :1029 /2003 LGI 18732. Hasilnya : Massa es laut Antartika telah meningkat sejak tahun 1979.
Sementara itu kelompok pro issue pemanasan global hanya punya satu kasus yang selalu diulang ulang dalam berbagai forum seminar dan konferensi. Mereka menunjukkan berkurangnya bahkan nyaris lenyap, lapisan salju abadi di puncak gunung Kilimanjaro, di Tanzania. Gunjng Kilimanjaro merupakan gunung tertinggi di benua Afrika. Beberapa riset dilakukan di puncak gunung Kilimanjaro.  Hasilnya : Hilangnya lapisan salju abadi di puncak gunung Kilimanjaro, disebabkan karena meluasnya perubahan penggunaan lahan di kawasan itu, bukan disebabkan karena adanya pemanasan global. Berbagai riset serupa juga dilakukan di banyak tempat di berbagai penjuru bumi. Kesimpulan dari berbagai riset itu adalah :
Memang telah terjadi peningkatan temperatur di  banyak tempat di permukaan bumi karena  perubahan penggunaan lahan secara masiv dan intensif, tetapi juga terjadi penurunan temperatur di lebih banyak lagi tempat di permukaan bumi. Jika dikonversi antara tingkat kenaikan temperatur di beberapa tempat dengan penurunan temperatur di tempat lain, selisihnya masih lebih besar penurunan temperatur. Hal itu berarti, yang terjadi bukan pemanasan global, tetapi sekadar peningkatan temperatur di beberapa tempat di permukaan bumi.

Epilog

Gencarnya kampanye issue pemanasan global sudah mengarah pada upaya pembentukan pseudo science. Keadaan ini mengingatkan kita pada skandal memalukan yang mencoreng wibawa sains modern pada pertengahan abad XX. Ketika itu muncul disiplin ilmu baru yang disebut Eugenika. Eugenika merupakan ilmu yang percaya bahwa manusia dapat menghasilkan ras ras tertentu yang memiliki keunggulan dibanding ras ras lain. Pandangan ini ada kemiripan dengan ideologi fasis Nazi Jerman di jaman rejim Adolf Hitler. Beberapa universitas terkemuka di Eropa dan Amerika dengan antusias membuka departemen Eugenika, menerima mahasiswa, menyusun kurikulum. Bahkan ada yang menyelenggarakan pendidikan di bidang itu hingga jenjang doktoral dan sempat menghasilkan doktor. Bahkan yang lebih  sensasional, salah satu di antara doktor eugenika itu memenangkan hadiah Nobel yang bergengsi.



Kemudian terbukti bahwa eugenika hanya pseudo ilmu. Semua universitas yang sudah sempat menyelenggarakan pendidikan eugenika, segera menutupnya, membatalkan gelar doktor yang sudah terlanjur diberikan, mengembalikan penghargaan hadiah Nobel. Kasus eugenika merupakan lembaran hitam di dalam sejarah perkembangan sains modern. Jangan sampai komunitas ilmuwan mendapat aib untuk kedua kalinya. Mitos pemanasan global mendapat pasaran bagus di berbagai kalangan karena tidak banyak orang yang mau dan mampu berpikir kritis. Apa kiranya motif orang membuat mitos pemanasan global?. Penulis setuju dengan  Michael Crichton yang menduga kuat bahwa tujuan mitos pemanasan global adalah untuk mendorong manusia mengurangi emisi gas rumah kaca di atmosfer. Manusia diharapkan dapat berkreasi menciptakan bahan bahan yang ramah terhadap lingkungan. Memang sebagian target tujuannya tercapai. Beberapa bahan yang ramah lingkungan berhasil diciptakan. Mitos pemanasan  global adalah contoh sebuah upaya yang bertujuan baik tetapi di lakukan dengan cara yang tidak terpuji. Cara yang dilakukan adalah dengan menciptakan rasa takut di kalangan luas, semacam teror mental. Masyarakat ditakuti takuti, bukan diberi pengertian dan ditumbuhkan kesadarannya untuk memelihara bumi sebagai rumah tinggalnya, bukan sekadar tempat persinggahan sejenak. Hanya anak kecil yang pantas diperlakukan dengan pendekatan intimidasi dan iming iming. Orang dewasa dan waras tidak pantas diperlakukan dengan cara itu. Masih ada cara elegan dan terhormat untuk mendidik masyarakat. Akhirnya semua itu kembali kepada diri kita masing masing, apakah mau dan bersedia untuk terus diperlakukan sebagai kanak kanak, atau mau menjadi warga dunia yang beradab. Apapun pilihan anda, satu hal yang sudah pasti, penguasaan ilmu pengetahuan sejati akan membuat hidup anda jadi mudah, terhormat dan bermartabat.

Comments

Popular Posts