DARI KUTAI KEMBALI KE KUTAI : SUATU KAJIAN HISTORIS DAN SIMBOLOGI



Pengantar

Setelah menimbulkan polemik yang riuh rendah soal rencana pemindahan ibu kota, akhirnya hari senin tanggal 26 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan lokasi bakal ibu kota yang baru. Lokasi yang dipilih adalah kabupaten Penajam Paser Utara dan kabupaten Kutai Kartanegara. Penetapan lokasi ibu kota baru itu menimbulkan pertanyaan menarik. Apa latar belakang pemikiran pemilihan lokasi itu?. Apakah pemilihan lokasi kabupaten Kutai Kartanegara terjadi secara kebetulan atau melalui kajian mendalam. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan hal itu terjadi bukan karena kebetulan.Kutai adalah kerajaan tertua di Bumi Nusantara, yang sudah berdiri  mapan sejak abad IV Masehi.

Sejarah Singkat Kerajaan Kutai

Ilmu arkeologi dan ilmu sejarah dibangun berdasarkan fakta dan data otentik yang dapat diperiksa oleh siapa saja. Data otentik tertua yang dapat dihubungkan dengan keberadaan Kerajaan Kutai berupa prasasti yang ditulis pada tiang batu yang disebut yupa. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Palawa. Berdasarkan penelitian para ahli filologi dan epigrafi, gaya / style tulisan yang digunakan, populer pada abad IV Masehi. Pada tahun 1879 ada laporan temuan 4 buah yupa tanpa dilengkapi dengan informasi lokasi akurat tempat temuan itu. Yupa itu diteliti oleh ahli filologi dan epigrafi  terkenal bernama Hendrik Kern, yang menjadi Profesor di Universitas Leiden. Selain Kern, Yupa itu diteliti oleh para ahli epigrafi terkenal lainnya seperti Johannes Laurent  Andreas Brandes, Jean Philippe Vogel, Nicholas Johannes Krom, Johannes Gijsbertus de Casparis, dan pakar epigrafi pertama  bangsa Indonesia Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka. Dari para pakar tersebut kita mendapat informasi akurat tentang keberadaan Kerajaan Kutai sebagai negara tertua di Nusantara. Pada tahun 1940 an ditemukan 3 buah yupa yang mirip dengan 4 buah yupa yang sudah ditemukan sebelumnya. Agaknya 3 yupa tersebut merupakan satu kesatuan dengan 4 yupa sebelumnya. Seorang arkeolog asal India ber nama Chabbra, pernah meneliti ke tiga yupa tersebut. Ke tiga yupa dimaksud ditemukan di Muara Kaman, di bukit Brubus, kawasan Benua Lawas, dekat pertemuan dua sungai, yaitu sungai Mahakam dengan salah satu anak sungainya yang bernama sungai Kendang Rantau. Berdasarkan kesamaan bentuk yupa, kesamaan bahasa, gaya tulisan dan konteks isinya, 4 buah yupa yang ditemukan pertama kali juga berasal dari lokasi yang sama dengan 3 yupa yang ditemukan kemudian.
Ke tujuh yupa menceritakan seorang raja besar bernama Mulawarman. Sang raja menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada kelompok Brahmana sebagai persembahan kepada Dewa Wisnu. Raja digambarkan sebagai orang yang suka berderma,  gagah perkasa. Ayah Mulawarman  bernama  Asyawarman, yang dianggap sebagai orang lokal yang sudah mendapat pengaruh dan memeluk agama Hindu. Asyawarman dianggap sebagai wamsakerta yang artinya pendiri dinasti. Ayah Asyawarman bernama Kudungga atau Kundungga. Dilihat dari namanya,  Kudungga, adalah penduduk setempat yang belum mendapat pengaruh agama Hindu. Di dalam yupa disebutkan kata Waprakeswara, yang oleh sebagian besar pakar ditafsirkan sebagai nama tempat berdirinya bangunan suci, atau pusat pemerintahan. NJ Krom membaca kata Waprakeswara sebagai Baprakeswara, dan setuju bahwa itu adalah nama bangunan  suci tempat diselenggarakan upacara kurban. Poerbatjaraka setelah melakukan kajian mendalam punya pendapat berbeda. Menurutnya, Waprakeswara bukan nama tempat, melainkan nama tokoh yang dipuja sebagai perwujudan Dewa Siwa. Tokoh yang dimaksud adalah Agastya. Agastya digambarkan sebagai pria tua berjanggut, berperut buncit dan memegang kendi arak. Pendapatnya itu ditulis di dalam disertasinya yang berjudul Agastya In den Archipel, diajukan di Universitas Leiden tahun 1926, di bawah bimbingan Krom, dipertahankan dengan judicium Cum laude. C A Mess di dalam disertasinya yang berjudul Kroniek van Koetai pada tahun 1935 menjelaskan bahwa nama Kutai  berasal dari kata Koti, yang artinya 'ujung'. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Kutai berasal dari kosakata bahasa Cina Kho artinya kerajaan dan  Thay, yang berarti besar. Naskah Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca, pada tahun 1365, menyebut Kutai sebagai Tun Yung Kute ( Tunjung Kutai ). Pada abad XVII ada dua kerajaan bernama Kutai yaitu Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara. Kata kartanegara berasal dari bahasa Sansekerta , kerta berarti peraturan / pedoman, dan negara. Akhirnya Kerajaan Kutai Martadipura dikalahkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang bertahan  hingga abad  XX, di bawah pimpinan Sultan Aji Muhammad Parikesit, berpusat di Tenggarong. Istana Kesultanan Kutai sekarang dijadikan museum dan dinamakan Museum Mulawarman.

Kutai Sebagai Pusat Peradaban Sungai

Beberapa pakar mengemukakan pendapatnya bahwa peradaban besar selalu dimulai dari lembah lembah sungai sungai besar. Peradaban itulah yang melahirkan kota kota. Lembah sungai Indus di negara Pakistan sekarang melahirkan kota kota Mohenjodaro dan Harappa. Lembah sungai Eufrat dan Tigris di Mesopotamia, Irak sekarang, memunculkan kota kota Ur, Khorsabat, Nippur, Babilonia, Niniveh. Lembah sungai Nil, melahirkan kota kota Luxor, Thebe, Memphis. Begitu juga dengan lembah lembah sungai Yang Tse Kiang dan sungai Huang Ho. Seorang Antropolog dan Arkeolog terkenal bernama Robert Mc. Cormick Adam, mengembangkan teori tentang munculnya kota. Menurut Adam, kota kota tumbuh berkembang karena faktor peperangan dan perdagangan. Kebutuhan akan rasa aman, mendorong penduduk berkumpul terkonsentrasi di tempat tempat tertentu. Lalu Lintas perdagangan membentuk jalur jalur perdagangan. Untuk kelancaran kegiatan perdagangan, orang membangun kota kota agar dapat memenuhi kebutuhan  logistik para pedagang.
Seorang sarjana terkenal  lainnya bernama Karl August Wittfogel, mengembangkan hydraulic hypothesis, yang di uraikan secara mendalam di dalam bukunya yang yang berjudul Oriental Despotisme ( Kerajaan Lalim Timur ). Wittfogel berpendapat bahwa untuk aktivitas pertanian menetap dibutuhkan bendungan dan  jaringan irigasi teknis. Untuk dapat melakukan pekerjaan besar itu dibutuhkan dukungan organisasi kuat yang dapat mengorganisir personil dan logistik dalam jumlah besar. Organisasi itu harus berlandaskan pada kekuasaan terpusat. Negara dan kota lahir karena adanya kebutuhan penyelenggaran sistem pertanian dengan dukungan irigasi teknis. Kutai sebagai salah satu titik simpul pengembangan peradaban, juga  berada di tepi sungai besar, sungai Mahakam. Terbukti bahwa Kutai sudah  memiliki sistem pemerintahan yang teratur, dengan struktur birokrasi. Sistem sosial yang berlangsung di Kutai berdasarkan agama Hindu. Lapis teratas ditempati golongan Brahmana, diikuti oleh lapisan elit militer dan sipil yang berada di sekitar raja. Berikutnya lapisan pedagang dan pengusaha dan selanjutnya golongan terbesar, yaitu masyarakat biasa. Sistem kenegaraan berbentuk kerajaan bertahan hingga pertengahan abad XX. Berdasarkan fakta dan data otentik, tidak diragukan lagi bahwa negara pertama di Nusantara adalah Kutai. Apakah ada faktor historis yang mempengaruhi pengambilan keputusan untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kutai?. Hanya Presiden Joko Widodo yang dapat menjawabnya. Yang  jelas keputusan memilih Kutai sebagai lokasi ibu kota baru adalah fenomena yang sesuai dengan judul tulisan ini.



Ibu Kota Baru : Kota Pancasila Atau Kota Illuminatus ?.

Dalam keterangan resmi pemerintah, jelas disebutkan bahwa desain ibu kota baru berkarakter Indonesia dengan simbol simbol Pancasila yang kental. Bentuk dasar layout tata kota berbentuk perisai seperti yang dikalungkan di dada burung garuda. Perisai itu memuat gambar gambar simbol sila sila dari pancasila. Di dalam perisai itu ada gambar bidang bersegi lima ( pentagonal ) dan di dalam segi lima itu terdapat bidang berbentuk bintang bersudut lima ( pentagram ) . Di tengah bidang berbentuk bintang, terdapat monumen pancasila yang menjulang tinggi.  Kesimpulan penjelasan resmi pemerintah bahwa ibu kota baru adalah sebuah kota yang sarat dengan simbol simbol pancasila. Sebenarnya penjelasan pemerintah itu hanyalah sebuah tafsiran. Pihak lain pun sama peluangnya untuk membuat tafsiran berdasarkan acuan pengetahuan yang dimilikinya. Jika diamati dengan cermat gambar desain yang diajukan pemerintah, bentuk perisai yang dimaksud tidak terlihat atau tidak terlihat jelas ( lihat tampilan gambar di bawah ini ).
\
Gambar 1. Desain Ibu Kota baru


Justru gambar yang paling jelas terlihat mencolok adalah bentuk segi lima ( pentagonal ), mirip desain gedung pusat Departemen Pertahanan  Amerika serikat yang dikenal sebagai Gedung Pentagon. Simbol pentagon  jelas merupakan simbol Illuminatus, suatu organisasi persaudaraan kuno. Organisasi itu memiliki hubungan yang erat dengan kelompok.persaudaraan kuno lainnya seperti Free Mason, berasal dari Skotlandia dan berjaya di Amerika Serikat,  Frijmetselarij Denker berasal dan berkembang di Negeri Belanda.
Di dalam bidang segi lima itu terdapat simbol bintang. Simbol bintang juga merupakan simbol tua yang banyak digunakan oleh berbagai bangsa. Penggunaan simbol tertentu bukan monopoli suatu kelompok. Banyak simbol mengalami pergeseran arti dan makna, dalam aspek ruang dan waktu. Sebagai contoh simbol bintang bersudut lima di masa lalu melambangkan kecantikan, kebajikan dan kebijaksanaan. Sekarang simbol yang sama bermakna kekuatan, kekuasaan. Di badan perangkat perang ( pesawat tempur, tank, panser ), dilukiskan gambar bintang. Bahkan simbol bintang disematkan di pundak para jenderal. Gambar Swastika pada masa lalu berarti perputaran roda dunia dan roda kehidupan. Oleh partai Nazi Jerman, arti dan makna simbol swastika dirubah menjadi sesuatu yang menakutkan dan menyeramkan, sehingga simbol itu kini dibenci oleh mayoritas orang. Tepat di tengah bidang berbentuk bintang terdapat monumen pancasila berwujud sebuah tiang beton yang menjulang tinggi. Monumen itu mirip dengan tugu  Monas di Jakarta. Sebenarnya Monas meniru bentuk dasar dari lingga  ( alat kelamin pria ) dan yoni ( alat kelamin wanita ). Lingga dan yoni adalah perwujudan dewa Siwa dan Dewi Durga di dalam agama Hindu .Tiang beton adalah simbol lingga , cawan adalah simbol yoni. Persatuan lingga ( penis ) dengan yoni  ( vagina ) akan menghasilkan individu baru ( bayi ) atau kehidupan baru atau kesuburan, kemakmuran. Bentuk dasar tugu Monas juga dapat dianggap sama dengan obelisk( tugu batu atau beton ), di dalam kebudayaan Mesir Kuno. Di dunia, terdapat paling sedikit sepuluh  kota yang memiliki tugu obelisk yaitu : 

1. Istanbul, Turki, Walled Obelisk ,
2. Roma, Lateran Obelisk,
3. Luxor, Mesir, Luxor Obelisk
4. Paris, Perancis, Cleopatraa €s Needle
5. Kairo, Mesir, Temple of Re - Atum Obelisk
6. Washington DC, Amerika Serikat, National Monument,
7.Buenos Aries, Argentina, Obelisco de Buenos Aries,
8. Kota Vatican, Vatican Obelisk,
9.Sriranggapatia, India, Obelisk of Sriranggapatia,
10. Axum, Ethiopia, Obelisk of Axum
11. Jakarta, Indonesia, Monumen Nasional.

Bentuk obelisk sebenarnya meniru bentuk menhir ( tugu batu ), yang berasal dari masa prasejarah. Yupa  yang terdapat di Kutai juga dapat dianggap sebagai menhir ataupun obelisk dalam ukuran mini. Tiga ornamen utama di ibu kota baru yaitu pentagonal, bintang, tugu beton adalah bukti nyata keberadaan simbol simbol Illuminatus. Pembaca boleh saja menentang tafsiran dari penulis,  sepanjang dapat membangun argumentasi tandingan dengan didukung oleh fakta empirik . Di bawah ini ditampilkan beberapa  foto untuk mendukung argumentasi di atas.

Gambar 2. Menhir pada masa pra sejarah

Gambar 3. Yupa di Kutai

Gambar 4. Lingga - yoni

 Gambar 5. Monas

Gambar 6. Tugu Proklamasi


Gambar 7. Obelisk



Comments

Popular Posts