MANUSIA Vs. NYAMUK
Ada satu ironi dalam sepanjang sejarah peradaban
manusia. Manusia merasa dirinya mahluk paling kuat, paling berkuasa,
paling mulia, semua serba paling di alam semesta ini. Merasa dirinya paling
pantas memimpin dan mengatur segala hal. Kenyataannya tidak demikian. Manusia
rapuh dan rentan dalam menjalani hidupnya. Ketika temperatur bumi naik atau
turun 8°C saja, sudah cukup memporak porandakan seluruh peradabannya yang
sudah dibangun selama ribuan tahun.
Kekeringan dan banjir akan menghancurkan
sebagian besar infrastruktur dan suprastruktur yang dibangunnya. Stock pangan,
energi dan obat obatan langsung drop tidak terkendali. Wabah penyakit meluas
dan korban berguguran seperti daun kering diterpa angin keras. Itu adalah salah satu skenario yang buruk, bukan yang
terburuk, yang dapat menggusur manusia dari muka bumi. Dalam perjalanan
evolusi manusia, dia telah berinteraksi dengan banyak mahluk, salah satunya
dengan nyamuk. Nyamuk adalah mahluk kecil, lemah, sering dianggap sepele. Dalam
pandangan manusia, nyamuk adalah sosok musuh yang harus dibasmi dari muka bumi.
Jika saya ajukan pertanyaan : Dalam
pertempuran manusia melawan nyamuk selama ribuan tahun, dimana dan kapan
manusia pernah memenangkannya?.Berbagai senjata ampuh untuk melawan nyamuk
diciptakan, berbagai taktik dan strategi dikembangkan, berbagai bentuk kampanye
meluas, masiv, sistematis, terstruktur dilancarkan, slogan, jargon, semboyan
dilontarkan. Apa hasilnya?......Nihil, nihil dan tetap nihil. Dalam sepanjang
sejarahnya, tidak satupun pertempuran
pernah dimenangkan manusia. Di mana letak salahnya???.
Menurut penulis, kegagalan manusia melawan
nyamuk, karena manusia terlalu arogan
dan suka anggap sepele semua hal. Tidak mau mempelajari dirinya sendiri dan
sosok yang menjadi lawannya. Indikasi kebenaran pernyataan di atas terlihat
jelas pada teks yang dibuat sebagai slogan kampanye melawan nyamuk. Di
semua spanduk dan baliho terpampang kata kata bombastis seperti kata "berantas nyamuk", tetapi tidak
kata "kendalikan populasi
nyamuk". Apakah nyamuk memang dapat dan perlu diberantas?. Di balik
kata "berantas", terselip, tersirat kesombongan dan arogansi manusia.
Nyamuk adalah salah satu vektor penyakit ( mahluk antara ), misalnya nyamuk
adalah penyebar penyakit malaria dan demam berdarah. Dia menjadi masalah
ketika jumlah populasinya melonjak drastis, sehingga kepadatannya sangat
tinggi, jarak satu nyamuk dengan nyamuk lain sangat dekat / rapat dan mudah
menjangkau mangsa. Di lain pihak keberadaan nyamuk dibutuhkan oleh mahluk lain
sebagai sumber makanan. Jika nyamuk dimusnahkan, pasti akan memusnahkan mahluk
lain yang bergantung pada nyamuk, seperti cicak. Musnahnya cicak juga akan
memusnahkan mahluk lain lagi, begitu seterusnya dan pada akhirnya juga akan
memusnahkan manusia. Begitulah hukum alam bekerja ( piramida mata rantai makanan
). Sepanjang kepadatan populasi nyamuk terkendali, dan keseimbangan
ekisistem terjaga, tidak ada masalah bagi manusia. Jalinan interaksi di antara
mahluk hidup di ekosistem alam yang rumit, membuatnya seolah olah jadi abstrak dan sulit dipahami oleh orang yang
tidak terdidik, tidak terbiasa berpikir abstrak dan konseptual.
Kegagalan memahami interaksi berbagai
mahluk di alam melahirkan tindakan reaktif, instan, berlebihan, yang
justru menimbulkan masalah baru yang lebih rumit. Manusia menggunakan berbagai
jenis pestisida, insektisida, bahkan sudah sampai tingkat yang tidak
rasional. Akibatnya justru melahirkan sosok nyamuk atau mahluk lain yang lebih
memusingkan. Bahan bahan beracun berbahaya yang digunakan melampaui takaran
justru menimbulkan masalah baru berupa pencemaran udara, air dan tanah.
Pencemaran itu telah menimbulkan kontaminasi pada bahan makanan dan minuman
yang dikonsumsi oleh manusia. Ibaratnya senjata
makan tuan, itulah yang terjadi akibat kebodohan dan kedunguan manusia.
Yang lebih merisaukan, bahan bahan beracun yang digunakan secara sembrono oleh
manusia itu tergolong bahan bahan yang tidak dapat diuraikan oleh alam dan
sifatnya akumulatif. Berbagai penyakit yang diderita oleh manusia berupa
rusaknya jaringan dan organ tubuh serta jaringan saraf adalah harga yang harus
dibayar akibat kebodohannya. Menurut pendapat saya, semua masalah ini bersumber
dari kegagalan manusia memahami dirinya,
eksistensi dirinya di alam, relasi antara dirinya dengan mahluk lain. Kegagalan
itu telah menjerumuskan manusia ke dalam kubangan perang berkepanjangan melawan
mahluk lain ( nyamuk ) selama ribuan tahun di setiap sudut muka bumi, dan
ironisnya, tidak satupun pernah dimenangkannya
.png)

Comments
Post a Comment