CLUSTER KEBUN KELAPA SAWIT DAN PETERNAKAN SAPI : SUATU PROYEK EKO EFISIENSI
Pengantar
Konsep eko efisiensi
mulai dikembangkan pada dasawarsa terakhir abad XX, bersamaan dengan konsep
produksi bersih ( cleaner production )
dan analisis daur hidup ( life cycle
assessment ). Ke tiga konsep ini berfungsi sebagai ujung tombak trisula di
dalam model pengelolaan lingkungan hidup berbasis paradigma paling mutakhir.
Konsep eko efisiensi sudah diterapkan pada berbagai jenis proyek, salah satunya
adalah proyek cluster kebun kelapa sawit dan peternakan sapi di Kabupaten
Pelalawan, Provinsi Riau. Data, informasi dan implementasi proyek didapatkan
dari seorang sahabat bernama Doddy Priyambodo yang berkarir di Badan Pengkajian
Penerapan Teknologi ( BPPT ).
Berdasarkan bahan tersebut dan diskusi dengan saudara Doddy, tulisan ini
dibuat. Pada kesempatan ini saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih
kepadanya karena telah bersedia memberikan data dan menjadi teman diskusi.
Dasar Pemikiran
Dasar pemikiran konsep
konsep pengelolaan lingkungan di masa lalu sangat berbeda dengan konsep
pengelolaan lingkungan pada masa kini. Perbedaan itu mencakup mulai dari
filosofi, metode pendekatan dan teknologi yang digunakan. Pada masa lalu, upaya
pengelolaan lingkungan dianggap sebagai faktor negatif di dalam proses produksi
dan struktur biaya produksi. Sebaliknya pada masa kini, pengelolaan lingkungan
dianggap sebagai faktor positif didalam proses produksi dan struktur biaya
produksi. Metode pendekatan pada masa lalu adalah end - off - pipe, fokus perhatian diarahkan pada upaya pengolahan
limbah, sebagai reaksi atas terbentuknya limbah. Pendekatan ini bersifat
reaktif, berupaya setelah limbah terbentuk. Teknologi yang dikembangkan adalah
membangun instalasi waste treatment plan yang berbiaya mahal. Metode pendekatan
pada masa kini adalah front - off -
process, fokus perhatian diarahkan sejak titik terdepan dari lintasan
proses produksi. Pendekatan ini bersifat proaktif, mencegah terbentuknya
limbah.
Metode metode yang
sering digunakan adalah reduction (
mengurangi bahan ), reuse (
guna ulang ), recycle ( daur ulang
), replenish ( isi ulang ), retrieve energy ( menarik kembali ), reclamatie
dan 'remediation . Teknologi yang digunakan bersifat terpadu, bersinergi dengan
proses produksi lain. Ko produk ( limbah ) yang dihasilkan oleh suatu proses
produksi A akan menjadi bahan baku bagi proses produksi B, dan limbah
pada proses produksi B, akan menjadi bahan baku proses produksi C, hingga
akhirnya limbah nya sudah tidak bersisa sama sekali. Lokasi ke tiga proyek
berdekatan, sehingga dapat menekan biaya angkutan. Dengan demikian proses
produksi menjadi nir limbah ( zero emission ), dan mendapat nilai tambah dari
upaya pengelolaan lingkungan, sehingga jadi faktor positif di dalam
struktur biaya produksi. Sebagai ilustrasi, sebuah perkebunan tebu,
menghasilkan barang batang tebu yang menjadi bahan baku bagi pabrik gula. Daun
tebu dan ampas tebu sebagai ko produk dijadikan bahan baku bagi pabrik pakan
ternak. Tetes tebu juga sebagai ko produk dari pabrik gula , dijadikan bahan
baku bagi pabrik methanol, ethanol, alkohol dan pabrik bumbu masak jenis MSG ( Mono Sodium Glutamat ).
Proyek cluster kebun
kelapa sawit dan peternakan sapi tergolong jenis proyek eko efisiensi. Konsep
eko efisiensi menganggap 2 atau lebih kegiatan yang punya kaitan atau tidak
punya kaitan fungsional secara langsung atau tidak langsung dapat
diselenggarakan pada space yang sama. Di area perkebunan, boleh saja
dikembangkan peternakan sapi.
Prinsip Dasar Eko Efisiensi
Prinsip dasar eko efisiensi adalah
:
1. Mencegah terbentuknya limbah.
2. Memperpanjang daur materi dan energi
untuk mengurangi ko produk.
3. Mempercepat laju aliran materi dan
energi untuk menghemat waktu.
4. Penggunaan ruang untuk multipurpose,
dapat menghemat penggunaan lahan.
5. Dapat diterapkan pada berbagai skala
usaha.
Penerapan Konsep Eko Efisiensi
Di sebuah hamparan
kebun kelapa sawit usia produktif, pelepah berikut daun kelapa sawit yang gugur
atau dipangkas, diletakkan di piringan. Tujuannya adalah untuk mengurangi
pemakaian pupuk organik. Proses dekomposisi pelepah dan daun agar dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik berjalan lambat, membutuhkan waktu berbulan
bulan. Aliran materi dan energi berjalan lambat. Di lahan kebun itu kemudian
dikembangkan peternakan sapi.
Bibit sapi didatangkan
dari pulau Bali. Sapi sapi itu dipelihara di kandang, sesekali dilepas di lahan
kebun. Sebagian besar bahan baku pembuatan makanan sapi adalah pelepah dan daun
kelapa sawit yang dicacah dengan menggunakan mesin pencacah yang dibuat
oleh BPPT. Pelepah dan daun yang telah lumat dan halus dicampur dengan bahan
bahan tertentu untuk meningkatkan kandungan nutrisi agar terpenuhi kebutuhan
kalori sapi. Dengan menjadikan pelepah dan daun kelapa sawit sebagai bahan
makanan sapi, berarti aliran materi dan energinya telah dipercepat dari
beberapa bulan jadi satu atau dua hari saja. Kotoran sapi ditampung di dalam
tong dari metal yang ditutup rapat atau di kolam dan ditutup rapat dengan terpal,
agar terbentuk gas metana ( CH4 ),
melalui proses anaerob.
Gas metana yang
dihasilkan, dialirkan melalui pipa ke rumah rumah. Gas metana itu dapat
digunakan untuk menyalakan kompor, lampu petromaks, menggerakkan generator
pembangkit listrik. Pada proyek percontohan di Pelalawan, pengadaan
peralatan kompor, rice cooker dibantu oleh PT Maspion. Sisa kotoran sapi dapat
digunakan sebagai pelet / pakan ikan yang dipelihara di kolam. Air seni sapi
ditampung di dalam tanki terbuat dari bahan fiberglass, dan setelah dicampur dengan bahan tertentu, jadi pupuk
organik cair. Setiap ekor sapi setiap hari menghasilkan air seni rata rata 6
liter. Harga tiap liter mencapai Rp.9000. Jika seorang petani atau peternak
memiliki 5 ekor sapi, dalam satu hari dapat menghasilkan Rp.250.000, hanya dari
air seni sapi. Jika setiap sapi dijual pada usia 3 tahun, maka dari setiap sapi
yang dimiliki sudah memberi penghasilan Rp.18.000.000 hanya dari air
seni.Perhitungan ini belum memasukkan nilai susu ysng dihasilkan. Dengan memasukkan nilai susu yang dihasilkan, jelas keuntungan yang diperoleh pasti lebih besar.
Dengan demikian petani / peternak dapat menjual sapi dengan harga murah agar harga daging sapi segar jadi murah.
Seandainya peternak menjual seekor sapi hanya Rp 5.000.000 maka harga daging di
tingkat pedagang eceran jadi sangat terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.
Jika model cluster kelapa sawit dan peternakan sapi diterapkan pada skala luas
di banyak perkebunan di sentra sentra penghasil kelapa sawit seperti Sumatera,
Kalimanta, Sulawesi , mungkin sudah sejak lama negeri ini mencapai swasembada
daging, sehingga dapat menghemat devisa. Modal yang dibutuhkan masyarakat untuk
menjalankan program ini dapat berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah
( APBN / APBD ) dan dana CSR ( Corporate
Social Responsibility ) dari perusahaan perusahan besar yang beroperasi di
Indonesia, terutama yang bergerak di bidang ekstraksi sumberdaya alam.
Keuntungan lain yang diperoleh selain yang dinikmati langsung oleh masyarakat,
negara dapat menghemat anggaran yang seharusnya diinvestasikan untuk membangun
jaringan listrik sampai ke pelosok desa oleh PLN. Begitu juga penghematan
anggaran investasi yang harus dikeluarkan oleh Pertamina dalam membangun
jaringan infrastruktur dan pemasaran sampai ke pelosok desa untuk memasok gas
sebagai bahan bakar yang sangat dibutuhkan. Anggaran yang berhasil dihemat
tersebut dapat dialihkan untuk membiayai berbagai proyek yang bersifat
strategis yang dapat menjamin kelangsungan hidup perusahaan.
Penutup
Proyek cluster kebun
kelapa sawit dan peternakan sapi ternyata memberikan manfaat yang sangat besar
bagi bangsa dan negara. Dengan pengembangan proyek berskala besar dapat
mencapai tujuan program Ketahanan,
Keamanan dan Kedaulatan di sektor pangan dan energi. Dengan proyek ini juga
dapat mencapai tujuan No 2 dan No 6 Program Asta Cita dari Presiden Prabowo Subianto. Ada satu pertanyaan
besar yang terus muncul di benak saya , tetapi belum berhasil mendapatkan
jawabannya. Saya sudah beberapa kali berkeliling di perkebunan perkebunan besar
menawarkan gagasan proyek cluster kebun kelapa sawit dan peternakan Sapi,
tetapi tidak mendapat respon positif, ditambah sikap skeptis dan apatis dari
masyarakat sekitar. Kenyataan itu menimbulkan satu pertanyaan Kenapa bangsa ini sulit sekali diajak
berpikir positif dan berbuat sesuatu yang sudah jelas perhitungannya dan sudah
ada daerah yang sukses menjalankannya. Mungkin karena berbagai keterbatasan sumberdya yang saya miliki, kurang intensif dalam melakukan kampanye dan sosialisasi di kalangan masyarakat.
.png)

Comments
Post a Comment