GEOPARK KALDERA TOBA BERPOTENSI JADI PENJARA VIRTUAL MASYARAKAT TOBA



Tulisan ini dimulai dengan  menampilkan rumusan postulat postulat sebagai berikut  :
1.  Di alam tidak ada yang tidak berubah.
2.  Kenampakan profil bentang alam yang disaksikan hari ini berbeda dengan kondisi di  masa lalu.
3.  Setiap perubahan pada profil bentang alam,  jejaknya terekam   dan tersimpan pada formasi batuan.
4.   Wujud kenampakan profil bentang alam hari ini merupakan kunci untuk membuka pintu menuju masa lalu.
Postulat di bawah diturunkan dari postulat di atasnya dengan logika deduksi.  Disadari atau tidak,  sebagian besar orang ketika membicarakan Geopark Kaldera Toba ( GKT ),  menggunakan postulat postulat di atas sebagai landasan berpikirnya.  

Riwayat Penelitian di Kawasan Danau Toba

Penelitian di kawasan Danau Toba dimulai pada akhir dekade  30 an di abad XX,  oleh Geolog Belanda yang termasyhur di dunia Reinout Willem van Bemmelen.  Hasil penelitiannya diterbitkan menjadi buku monumental yang jadi rujukan sampai hari ini.  Buku The Geology of Indonesia volume I A,  I B,  dan II,  menjadi " kitab suci" bagi semua perusahaan pertambangan yang beroperasi di Indonesia.  Jumlah halaman ke tiga buku itu lebih dari 1000 halaman,  jilid I B khusus berisi 41 plate gambar dan peta.  Bagian hasil riset tentang Danau Toba terdapat pada jilid I,  yang diberi sub judul Geologi Umum.  Van Bemmelen adalah orang pertama yang merumuskan teori pembentukan Danau Toba,  yaitu hasil letusan mega tektovulcano gunung api Toba di kawasan yang disebut sebagai Tumor Batak.  

Profil bentang alam Kawasan Toba sekarang terbentuk dari 3 kali letusan dalam rentang waktu 800. 000 tahun.  Letusan pertama menghasilkan pembentukan Kaldera Porsea pada 800. 000 tahun lalu.  Letusan ini memuntahkan 500 Km kubik material debu piroklastik ( debu halus ) bersusunan andesit hingga riolit,  menghasilkan endapan ignimbrite yang dikenal sebagai Tuff Toba Tua ( Old Toba Tuff )
Letusan kedua pada 400. 000 tahun lalu,  menghasilkan pembentukan Kaldera Haranggaol.  Letusan ini menghamburkan 60 Km kubik debu piroklastik,  terdiri dari material andesit hingga riolit,  menghasilkan endapan ignimbrite yang dikenal sebagai Tuff Toba Menengah ( Middle Toba Tuff ).  
Letusan ke tiga terjadi pada 74. 000 tahun lalu adalah suatu letusan super vulcano  menghasilkan kaldera besar,  menggabungkan dua kaldera terdahulu,  yang sekarang dikenal sebagai Kaldera Toba.  Letusan ini memuntahkan  material piroklastik sebesar 2. 800 Km kubik.  Sebaran debu vulkanik gunung Toba mencapai wilayah Kutub Utara.  Durasi letusan berlangsung selama 2 minggu tanpa jeda.  Atmosfer bumi dipenuhi debu vulkanik,  menghalangi cahaya matahari ke bumi selama 6 tahun,  sehingga bumi gelap gulita.  Ini adalah peristiwa catastrophic terbesar di bumi dalam waktu 4 juta tahun terakhir.  Proses fotosintesis berhenti total selama 6 tahun.  Sebagian besar mahluk hidup mengalami kepunahan,  bahkan manusia nyaris punah,  hanya tersisa lebih kurang 2. 000 - 3. 000 orang di kantung savana di perbatasan Kenya dan Tanzania.  Semua manusia di bumi sekarang yang berjumlah 7 milyar berasal dari populasi yang selamat dari mega bencana letusan Gunung Toba.  Hal ini dibuktikan dengan kesamaan kode genetik (genom) semua manusia yang mendiami setiap sudut permukaan bumi,  yang berarti berasal dari keturunan yang sama.  Jadi peristiwa letusan Gunung Toba terekam di dalam gen setiap manusia sekarang.  Tidak salah jika dikatakan peristiwa letusan Gunung Toba telah berpengaruh terhadap arah lintasan jalur evolusi fisik manusia,  mempengaruhi arah perkembangan kebudayaan.  Sungguh suatu peristiwa monumental,  langka dan beruntunglah kita,  karena tapak lokasi peristiwa itu terjadi,  tidak sampai 200 Km dari posisi rumah kita.  Letusan ke tiga meniggalkan jejak berupa material vulkanik bersusun Dasitan hingga Riolit yang dikenal sebagai Tuff Toba Termuda (Youngest Toba Tuff ).  Pada 33. 000 tahun lalu,  terjadi pengangkatan daratan Samosir dari dasar danau,  dan proses itu masih berlangsung hingga sekarang.  Dinding bukit di sekeliling Danau Toba ,  formasi batuan yang tersingkap,  endapan debu vulkanik,  fosil fosil kayu,  daun,  moluska menjadi " sumber berita,  responden,  saksi " bagi para geolog yang melakukan penelitian di Kawasan Toba.

Teori van Bemmelen diperhalus dan dipertajam oleh peneliti  berikutnya yaitu :
  • Th Verstappen,  ahli geologi,  geomorphologi dan Remote Sensing dari ITC dan Tweente University ,  Holland pada tahun 1961.
  • Yokoyama dan Hehanusa melakukan penelitian pada tahun 1981,  dilanjutkan oleh Nishimura pada tahun 1984.
  • Pada tahun 1986 Knight melakukan penelitian.
  • Sejak tahun 1991 hingga sekarang tanpa terputus,  Craig A Chesner dan Bill Rose dari Michigan Technology  University melakukan penelitian monumental yang menghasilkan teori  Toba Catastrophe
  • Tahun 1998 Stanley H Ambrose dari University of Illinois at Urban – Champaign melakukan  penelitian di sekeliling Danau Toba.
  • Stephen Oppenheimer dari Inggris pada  tahun 2003 melakukan penelitian genetika dan berkontribusi mempertajam teori Toba Catasthrope dari Chesner dan Rose.
  • Peneliti yang berikutnya adalah yang termuthakir, Fauzi dari Badan Meteorologi Klimatologi Geo fisika ( BMKG ).


Profil Geopark Kaldera Toba ( GKT )

Melihat banyaknya sebaran geosite dan luasnya area GKT,  meliputi 7 kabupaten yaitu Kabupaten kabupaten Samosir,  Tapanuli Utara,  Simalungun,  Humbang Hasundutan,  Dairi,  Toba Samosir dan Karo,  maka pengelolaannya dikelompokkan jadi 4 geoarea.  Penentuan lokasi 4 geoarea didasarkan pada urutan kejadian dan proses geologi nya,  yaitu : 

  1.  Geoarea Kaldera Porsea meliputi kumpulan geosite di bagian timur Danau Toba,  mencakup  kabupaten Simalungun sampai Porsea di Kabupaten Toba Samosir.
  2. Geoarea Kaldera Haranggaol di sebelah utara,  meliputi kumpulan geosite di Kabupaten kabupaten Simalungun,  Karo dan Dairi.
  3. Geoarea Kaldera Sibandang di bagian Selatan dan Barat Danau Toba,  meliputi geosite di Kabupaten kabupaten Toba Samosir,  Humbang Hasundutan .
  4.  Geoarea Samosir,  berada di bagian tengah Danau Toba,  meliputi geosite di Kabupaten Samosir.  

GKT memiliki 16 geosite utama yaitu  :
1.  Geosite Tongging,  Kabupaten  Karo.
2.  Geosite Silahi Sabungan,  Kabupaten  Dairi.
3.  Geosite Haranggaol,  Kabupaten  Simalungun.
4.  Geosite  Batu Gantung,  Sibaganding,  Kabupaten  Simalungun.
5.  Geosite  Taman Eden,  Kabupaten Toba Samosir.
6.  Geosite Balige/Batu Basiha,  Kabupaten Toba Samosir.
7.  Geosite Air Terjun Binanga Lom / Situmurun,  Kabupaten  Toba Samosir.
8.  Geosite  Hutaginjang,  Kabupaten Tapanuli Utara.
9.  Geosite Muara - Sibandang,  Kabupaten  Tapanuli Utara.
10.  Geosite Sipinsur Kabupaten  Humbang Hasundutan.
11.  Geosite Bakara - Tipang,  Kabupaten Humbang Hasundutan.
12.  Geosite Tele, Efrata, Kabupaten  Samosir.  
13.  Geosite Pusuk Buhit,  Kabupaten  Samosir.  
14.  Geosite Endapan Danau Sidihoni - Hutatinggi,  kabupaten  Samosir.  
15. Geosite Simanindo, Batu Jiwa.
16.  Geosite Ambarita - Tuktuk -  Tomok Kabupaten  Samosir.  


GKT Sebagai Penjara Virtual

Berdasarkan pengamatan,  wawancara dengan para pejabat dan masyarakat di Kawasan Toba,  banyak aspek dari kehadiran GKT perlu diperjelas,  diluruskan sebelum GKT memperoleh Status Geopark UNESCO.  Mayoritas para stakeholder GKT agaknya belum paham benar akan arti,  makna Konsep Geopark.  Jika hal ini tidak segera diluruskan,  dikhawatirkan GKT akan kehilangan arti,  ruh,  manfaat bagi masyarakat yang justru ingin disejahterakan dengan status tersebut.  Bahkan lebih ekstrim lagi,  GKT akan menjadi penjara virtual bagi masyarakat.

Para petinggi UNESCO pun akan terperangah jika hal itu yang terjadi.  Kondisi itu terjadi karena miskinnya penguasaan ilmu ilmu kebumian,  pengetahuan tentang konsep geopark.  Kondisi ini melanda nyaris di semua kalangan,  mulai   dari pejabat pemerintah,  akademisi,  pengusaha dan masyarakat umum.   Kawasan geopark diartikan sebagai area steril,  tidak boleh terusik sekecil apapun.  Penebangan sebuah pohon dan pengambilan satu bongkah batu kali di sungai,  dianggap pelanggaran hukum,  yang dapat dipidana.  Semua yang tampak pada hari ini dianggap sama seperti masa lalu,  harus dijaga keaslian,  keutuhannya.  Tingkat usikan sekecil apapun di bentang alam GKT dianggap dapat menggagalkan upaya meraih status Geopark UNESCO.  Mereka sepertinya tanpa sadar menerapkan premis pompei secara serampangan tanpa pertimbangan sama sekali,  sehingga tampak konyol.  Premis pompei mengatakan kenampakan yang pertama dilihat adalah seting terakhir dari waktu atau episode sebelumnya. Premis ini juga yang digunakan oleh para ahli kriminologi dan kepolisian dalam olah TKP ( Tempat Kejadian Perkara ) yang diberi batas garis pita kuning.  Dalam hal ini terdapat kesalahan dalam memaknai  konsep pelestarian,  geopark.  Sudah jelas alam senantiasa berubah,  tidak dapat dilestarikan bentuknya,  hanya dapat diperpanjang masa kemampuan,  dan fungsinya.  Akhir bulan Januari 2018,  dilakukan observasi di Sungai Binanga Siguluan,  Samosir dan wawancara dengan penduduk desa Simbolon,  Kecamatan Palipi ,  Kabupaten  Samosir.  Wawancara dilakukan di tepi sungai,  sambil mengutip batu batu kali untuk dijual ke para Kontraktor proyek pembangunan.  Menurut mereka ,  aktivitas itu dilakukan sembunyi sembunyi,  seperti bermain petak umpet dengan aparat Satpol PP Pemerintah Kabupaten  Samosir  dan aparat kepolisian.  Tindakan mengambil batu kali dianggap pelanggaran.  Sementara itu sekitar 3 Km ke arah hulu sungai,  ada aktivitas penambangan batu oleh sebuah perusahaan konstruksi di perbukitan tidak jauh dari tepi sungai.  Kenyataan ini sangat ironis dan dirasakan sebagai kepahitan oleh warga desa.  Tindakan perusahaan tidak salah dan tindakan warga desa juga lebih tidak salah.

Seharusnya pejabat pemerintah termasuk kalangan lain mengerti apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan di GKT.  Apa yang dilakukan penduduk sama sekali tidak salah berdasarkan konsep konsep ilmu geologi.  Sebagai contoh dikemukakan sebuah konsep di dalam ilmu geologi yang dikenal sebagai taphonomi.  Konsep ini menjelaskan berbagai proses transportasi dan transformasi material di alam dan pada tingkat tertentu telah meruntuhkan premis pompei.  Berdasarkan bentuk dan ukuran batu kali di sungai,  posisi yang dilihat hari ini bukanlah posisi asalnya.  Batu itu sudah mengalami proses transportasi dan transformasi yang disebabkan oleh alam ( natural transformation ) dan manusia (cultural transformation).  Satu hal lagi patut dipertimbangkan bahwa Kawasan GKT termasuk kawasan yang secara geologi tergolong dinamis,  karena ada aktivitas lempeng tektonik,  berada di jalur sesar (fault,  graben ) besar Sumatera yang memanjang dari Provinsi Lampung sampai Provinsi Aceh,   dan adanya gunung api yang masih aktif yaitu Gunung Toba itu sendiri,  di samping Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak.

Indikasi keaktifan Gunung Toba adalah geopoint Aek rangat  di Samosir.  Di wilayah seperti itu selalu terjadi muntahan  material dari perut gunung,  berupa batu,  kerikil,  pasir dan debu.  Material itu bersifat terbaharukan ( renewable ).  Jika hari ini diambil batu kali  sebanyak 100 ton,  maka beberapa bulan kemudian akan muncul kembali sebanyak itu pula bahkan dapat lebih,  tergantung intensitas aktivitas gunung.  Yang perlu dilakukan adalah menghitung laju munculnya material baru yang disesuaikan dengan laju pemanenan material.  Diupayakan laju pemanenan tidak melampaui laju pasokan,  agar pengelolaannya berkelanjutan.  Metode,  teknik dan formula matematis untuk menghitung sudah tersedia.  Di sinilah peranan para Pakar diharapkan untuk berkontribusi dalam pembangunan.  Yang tidak boleh dilakukan oleh siapapun,  adalah  melakukan semua tindakan yang dapat merusak singkapan formasi batuan bernilai tinggi untuk diwariskan  kepada  generasi masa depan.  Ini juga menjadi tugas para pakar untuk mengidentifikasi dan mendeliniasi geosite dan geopoint di GKT.  Geosite dan geopoint bersifat stationer dan non renewable ,  oleh karena itu wajib dilindungi dan dipelihara.  Kemudian dilakukan sosialisasi kepada warga masyarakat dan wisatawan.

Pengalaman pahit yang terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser ( KEL ),  jangan sampai terulang di GKT.  Masyarakat Aceh sekarang  nyaris tidak boleh berbuat apapun di kawasan hutan hujan tropis seluas 2 juta Ha. ,  karena sudah dipenjara oleh status Taman Nasional,  Warisan Dunia,  Paru Paru Dunia. Sebuah status kebanggaan semu,  rakyat Aceh tidak mendapat manfaat ekonomi secara signifikan sesuai dengan status yang disandangnya.  Seharusnya masyarakat internasional memberikan kompensasi yang besar akibat disterilkannya kawasan itu yang luasnya mencapai hampir 50% dari luas total wilayahnya.  Seekor satwa langka mati di KEL,  segera para Menteri  Luar Negeri negara negara Eropa bersidang di markasnya di Brussels,  Belgia,  merumuskan Nota Protes Keras kepada Pemerintah Indonesia.  " Kemewahan " seperti itu tidak akan didapatkan di daerah lain.  Motifnya jelas bukan untuk melindungi satwa langka,  tapi deposit mineral kelas premium,  agar tidak dijamah oleh orang yang tidak mereka inginkan,  termasuk bangsa Indonesia  sendiri.

Penutup
GKT didesain dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyaarakat yang tinggal di kawasan itu.  Jangan sampai terjadi GKT justru menjadi penjara virtual bagi masyarakat,  membatasi ruang gerak,  menutup peluang mereka untuk menikmati sumberdaya alam.  UNESCO justru memberikan porsi / bobot penilaian lebih besar pada aspek sosial, ekonomi dan budaya,  dibanding bentang alamnya sendiri.  Masing masing pihak agar bertindak proporsional,  jangan berlebihan,   karena segala hal yang berlebihan pasti meninggalkan ekses buruk yang berkepanjangan

Comments

Popular Posts