SISI GELAP GERAKAN EMANSIPASI WANITA, KESETARAAN GENDER, FEMINIMISME


        Tidak ada seorangpun yang meragukan peran penting wanita di dalam sejarah peradaban manusia.Saat ini nyaris semua orang memandang wanita adalah:

  1. Sosok penting di dalam institusi keluarga, komunitas, bangsa/negara. Wanita adalah pembina penerus generasi dan peradaban.
  2. Sosok yang wajib dibela, dilindungi jika dia mengalami ancaman, penindasan/kekerasan fisik.

Begitu pentingnya wanita, sehingga banyak peradaban melahirkan tokoh tokoh mistis, mitologi dan legenda berwujud wanita. Sebagai misal  sebutlah: 


  1. Puteri Betung, lahir dari rumpun bambu dan menjadi cikal bakal raja raja di kerajaan Samudera Pasai. 
  2. Tomanurung, sosok wanita yang turun dari langit dan menjadi pendiri dinasti para penguasa di Toraja. 
  3. Puteri Tanjung Buih, muncul dari buih air laut dan melahirkan penguasa di kerajaan Banjar.
  4. Nyai Loro Kidul,tokoh mistis yang menjadi isteri para raja di kerajaan  Mataram. 

Di mancanegara, banyak temuan artefak arkeologi yang menggambarkan betapa tinggi nya kedudukan dan peran wanita di masyarakat. Patung dewi ibu ( mother godes ), berusia 40.000 tahun lalu di Jerman dan berbagai patung perwujudan dewi Venus dari jaman Yunani Klassik, jadi bukti empirik tidak terbantahkan.
Masih banyak contoh lain yang di sini  tidak dapat disebut satu per satu.

            Abad XX dikenal sebagai abad emansipasi wanita dan kesetaraan gender. Di berbagai negara gerakan ini berkembang pesat,sampai  berbagai universitas mengembangkan pusat studi gender. 
Di sini penulis akan memaparkan beberapa fakta tentang wanita yang diperoleh melalui penelitian arkeologi yang dalam  prosesnya menggunakan metode ilmiah yang ketat. Oleh karena sumbernya adalah data otentik berupa artefak, ecofak, feature yang didapat melalui ekskavasi cermat, dapatkah dianggap cukup valid. Dari hasil kajian temuan arkeologis peninggalan dari masa lalu, terungkap fakta yang mengejutkan : wanita adalah pemicu/pendorong dan kontributor utama terbentuknya institusi keluarga  inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak anak.

              Kisah ini bermula sejak beberapa  ratus  ribu  tahun  hingga dua belas  ribu tahun lalu. Periode  ini dalam  sejarah  peradaban  manusia  disebut juga era berburu, mengumpulkan/meramu makanan. Manusia hidup dengan pola nomaden, memanfaatkan gua gua sebagai Base camp. Manusia hidup dari aktivitas  berburu hewan liar yang dilakukan  oleh pria dewasa, wanita dan anak anak mengumpulkan umbi umbian, buah buahan di sekitar base  camp. Para pria pergi berburu dalam radius berpuluh Km dari base camp mengikuti gerak hewan  buruan. Mereka meninggalkan base camp selama beberapa hari.

Mereka hidup berkelompok kelompok dengan komposisi  jenis kelamin tidak tetap dan tidak sebanding. Ada kelompok yang komposisinya 20 pria, 25 wanita dan ada juga sebaliknya, dan ada pula yang perbandingannya 15 pria dan 20 wanita. Rata rata total berkisar antara 30 sampai 50 individu dalam satu kelompok.

Setelah berhasil dalam perburuan, kaum pria pulang ke base  camp, dimana para wanita anak anak sudah menanti. Mereka membagi hasil hewan buruan ( sumber protein ), umbi umbian  ( sumber karbohidrat ) dan dimakan bersama. Menjelag habis stok protein, para lelaki pergi berburu lagi.

Di setiap kelompok, populasi anak anak sedikit, karena anak anak kurang mobil jika dibawa berpindah pindah base camp. Hal ini terlihat dari sedikitnya temuan kerangka anak anak. Dari uraian di atas dapat diketahui ciri ciri penting masyarakat pada masa itu:

  1. Manusia hidup berkelompok, berkisar antara 30 hingga 50 orang, dengan komposisi jenis kelamin  yang  tidak tetap. Mereka sering berpindah base camp.
  2. Intensitas interaksi  antara pria dan wanita relatif jarang, mereka bertemu hanya ketika berbagi makanan di base camp.
  3. Pria dan wanita bekerja  ditempat terpisah, sudah ada pembagian kerja, tetapi  tidak memiliki kaitan fungsional secara langsung.
  4. Populasi anak anak sedikit

Keadaan ini  sangat tidak kondusif untuk terciptanya keluarga inti.

Situasi ini berjalan langgeng selama ratusan ribu tahun. Para wanita punya banyak waktu  senggang di base camp. Mereka mulai melakukan  observasi cermat terhadap  alam  sekitar. Mereka melihat tanaman  liar yang  tumbuh di dekat aliran air atau genangan air tumbuh lebih subur. Mereka mencoba bereksperimen mengalirkan air ke areal tertentu, ternyata tumbuhan di situ tumbuh lebih subur. Mereka mencoba mencungkil cungkil tanah di sekeliling tanaman, membuatnya lebih gembur dan hasilnya tanaman tumbuh lebih subur. Inilah  rekayasa alam pertama kali oleh manusia, tempatnya di kawasan Timur Tengah. Dimulailah era domestifikasi  tanaman liar dan lahirlah petani pertama. 

Pada saat bersamaan, para wanita juga memperhatikan  hewan hewan liar di sekitar base camp. Mereka mencoba memberikan biji bijian, umbi umbian dan buah buahan pada sekelompok hewan dan hewan itu mendekat. Lama kelamaan, beberapa hewan liar mulai jinak, sering berada di dekat base camp. Lahirlah peternak pertama dan dimulainya era domestivikasi hewan.

Kaum pria ketika pulang dari berburu menyaksikan semua hasil kerja para wanita dan mulai menunjukkan ketertarikan. Ketika kaum wanita mulai mengeluh, merasakan keterbatasan kekuatan  fisiknya untuk memperluas areal  pengolahan tanahnya, meminta bantuan para lelaki untuk mengerjakannya. Aktivitas berburu mulai dikurangi, mulai fokus mengembangkan budidaya tanaman dan hewan. Mereka mulai mampu hidup menetap dalam jangka waktu lama dan mampu menghasilkan bahan pangan (  karbohidrat  dan protein ) dalam jumlah besar dan sudah mampu menopang kebutuhan  hidup menetap. Mereka menganggap, berkumpul  dalam jumlah besar tidak efisien dan mulai membentuk kelompok kelompok yang  lebih  kecil. 

Mereka  membentuk kelompok  dengan komposisi  jenis  kelamin  yang  tetap dan berimbang, misalnya 7 pria dan 7 wanita atau  10 pria dan 10 wanita. Populasi  anak anak mulai meningkat jumlahnya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya  temuan kerangka  anak anak. Indikasi lainnya adalah adanya perluasan luas lantai gubuk / pondok, yang menunjukkan adanya penambahan jumlah penghuni. Dalam masyarakat  yang  hidup  menetap, nilai anak meningkat, karena dapat dijadikan  tenaga  kerja  tambahan  di ladang.

Ciri ciri penting  masyarakat  pertanian  adalah:
  1. Mulai mengembangkan pola hidup menetap.
  2. Pria dan wanita bekerja di tempat  yang  sama sepanjang tahun dan pekerjaannya memiliki kaitan langsung secara fungsional.  Pembukaan lahan dilakukan oleh para lelaki, benih ditaburkan oleh wanita dan panen dilakukan bersama. 
  3. Intensitas interaksi antara pria dan wanita cukup tinggi, mereka  tinggal bersama sepanjang tahun. Komposisi jenis kelamin sudah tetap dan berimbang. 
  4. Nilai anak  meningkat

Kondisi ini sudah matang untuk terbentuknya keluarga inti. Wanita adalah pemicu ,pendorong dan kontributor utama terbentuknya keluarga inti.

      Lahirlah institusi keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak anak. Bentuk keluarga  ini kemudian dimapankan oleh norma, adat dan terakhir dilegitimasikan oleh agama yang datang kemudian. Keadaan  ini mapan selama ribuan tahun

Kemudian kita lanjutkan  pengembaraan ini sampai akhir abad pertengahan, akhir abad 14 dan 15. Masa itu dikenal sebagai  era Renaisance. Pada  jaman renaisance, muncul fenomena orang mulai berfikir bebas, lepas dari doktrin  agama. Kegiatan berfikir model jaman Yunani Klassik mulai marak dan meninggalkan ajaran agama yang bersifat  dogmatis yang menjadi ciri abad pertengahan. Banyak orang menekuni karya karya filsafat Yunani  Klasik, seperti Socrates, Plato, Aristotels, Thales dan Demokritos. Mereka juga mempelajari karya karya filosof Islam, seperti Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al Farabi. 

Akibatnya ilmu berkembang pesat dan selanjutnya  mendorong perkembangan  teknologi. Kemudian lahirlah revolusi industri di Inggris, disusul oleh Jerman dan Perancis. Revolusi industri menghasilkan penumpukan modal ( kapital ) di tangan beberapa orang saja. Lahirlah paham Kapitalisme. Kapitalisme melahirkan paham Liberalisme. Pada akhir abad XIX dan awal abad  XX dianggap era puncak kejayaan paham liberalisme.

Liberalisme  melahirkan paham emansipasi wanita, kesetaraan gender, feminimisme. Para wanita terutama kelompok aktivis yang gencar melancarkan kampanye kesetaraan hak yang sama dengan pria, termasuk hak untuk bekerja / berkarir di luar rumah. Akhirnya pada abad  XX, tuntutan para wanita dikabulkan dan masyarakat mulai menerima kalau wanita boleh bekerja di luar rumah.
Selanjutnya  apa yang terjadi ?. Hampir tidak ada pasangan suami isteri yang bekerja di tempat, kantor, organisasi yang sama. Mereka bekerja di tempat terpisah dan baru berkumpul di rumah ketika sudah malam. Ketika sampai di rumah energi para wanita sudah terkuras, sudah tidak fit lagi menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga, melayani suami,  anak anak dan mengurus rumah. Para wanita karir mulai dihinggapi rasa jenuh dan bosan. Kehancuran keluarga tinggal menunggu waktu. Ikatan perkawinan mulai dirasa sebagai kekangan yang menghambat kebebasan, dan anak sebagai beban. Jumlah kelahiran dan jumlah populasi anak menurun. Nilai anak merosot, karena anak tidak mungkin dapat bekerja di sektor formal. Angka perceraian melonjak drastis. Para wanita yang belum menikah, berfikir ulang  untuk meneruskan rencananya. Mereka akhirnya memilih hidup sendiri  atau hidup bersama dengan pasangannya tanpa ikatan perkawinan yang sah. Mereka lebih memilih tinggal di kompleks apartemen, flat, kondominium dan compaund yang komposisi jenis kelamin nya tidak tetap dan tidak berimbang.

Jika dicermati, kondisi masyarakat di negara maju dan di kota kota besar negara berkembang, polanya mirip dengan kehidupan di jaman purba, yaitu :
1. Bekerja di tempat terpisah dan pekerjaannya tidak berkaitan langsung  secara fungsional. 
2. Intensitas interaksi jarang.
3. Jumlah populasi anak anak kecil dan nilai anak  rendah.
4. Komposisi jenis  kelamin dalam satu kelompok tidak tetap dan tidak berimbang. Kondisi ini mirip dengan suasana masyarakat pada jaman perburuan dan meramu makanan. 

Kesimpulan dari uraian di atas adalah :

Gerakan emansipasi wanita, kesetaraan gender, feminisme telah menggoyahkan fondasi dan sendi institusi  keluarga inti. Wanita adalah pemicu dan pendorong terbentuknya institusi keluarga inti, tetapi sekaligus juga jadi pemicu dan pendorong hancurnya institusi keluarga inti. 

Penutup

Gerakan emansipasi wanita dan kesetaraan gender muncul sebagai reaksi atas dominasi lelaki atas wanita. Tidak dinyana, ternyata efek gerakan itu telah mengembalikan manusia ke lintasan pola kehidupan di jaman berburu dan meramu makanan yang telah hilang dari memori kolektif sebagian besar masyarakat masa kini. Tulisan ini tidak berpretensi menilai apakah norma keluarga inti lebih baik dari norma masa purba. Bentuk keluarga inti tercipta dari kombinasi banyak variabel yang berinteraksi dalam jalinan relasi yang rumit. Demikian pula fenomena kembalinya manusia ke lintasan masa lalu, juga akibat dari jalinan interaksi yang rumit. Manusia tidak memiliki kebebasan mutlak dalam memilih suatu keputusan.  Unsur determinisme dan acak sangat mewarnai keputusan yang diambilnya. Jika dalam memilih suatu keputusanpun, manusia tidak memiliki otoritas penuh, konon pula mengendalikan proses dan akibat / dampak dari keputusannya. Dari sudut pandang tersebut,  harusnya manusia nenyadari bahwa dirinya bukan mahluk VVIP di alam. Dirinya tidak lebih dari sebuah sekrup / baut dari mesin raksasa alam semesta.

Comments

Popular Posts