PASANG SURUT PELABUHAN PELABUHAN DI PANTAI BARAT SUMATERA
Jauh sebelum muncul dan berkembangnya
pelabuhan pelabuhan di pantai timur Sumatera dan pantai barat semenanjung
Malaysia yang menghadap ke perairan selat Malaka, pelabuhan pelabuhan di pantai barat Sumatera
telah berkembang maju. Pelabuhan Singkil,
Barus dan Natal sejak awal abad
Masehi telah dikenal sampai kawasan Timur Tengah. Barus dikenal sebagai penghasil kemenyan
dan kapur barus ( kamper) yang bermutu premium. Kemenyan dan kamper digunakan sebagai bahan pengharum ruangan di istana para
raja. Kemenyan dan kamper juga
akhirnya sampai juga ke Eropa melalui pedagang perantara dari Timur Tengah dan
Timur Dekat. Sekarang Barus, Natal, Sibolga dan Singkil adalah pelabuhan kecil
yang sepi dari aktivitas perdagangan. Peranannya diambil alih oleh
pelabuhan pelabuhan di pantai timur Sumatera dan pantai barat Malaysia
seperti Belawan, Dumai, Tanjung Balai, dan Penang, Langkawi, Malaka dan Singapura. Hal ini menimbulkan pertanyaan, faktor apakah yang menyebabkan bergesernya
peran pelabuhan dari pantai barat ke pantai Timur Sumatera ?.
Berdasarkan catatan sejarah, aktivitas pelayaran di pantai barat meningkat
ketika lalu lintas pelayaran di selat Malaka sepi. Sepinya selat Malaka bersamaan dengan suratnya
peranan kerajaan Sriwijaya sebagai negara maritim yang kuat. Ketika Sriwijaya di puncak kejayaan, selat Malaka jadi jalur pelayaran yang
ramai dan aman. Ketika peran Sriwijaya
surut , para bajak laut leluasa
beroperasi merampok kapal kapal dagang. Akibatnya banyak kapal menghindar lewat selat
Malaka, mereka lebih suka lewat pantai
barat Sumatera. Maka berkembanglah Natal
Barus dan Singkil menjadi pelabuhan yang ramai. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bangsa
bangsa Eropa ke Nusantara.
Kehadiran para bajak laut di selat
Malaka telah mendorong berkembangnya pelabuhan pelabuhan di pantai
barat Sumatera. Abad XVIII dan XIX
adalah masa pemapanan kekuasaan kolonial Eropa di Nusantara. Angkatan Laut Inggris dan Hindia Belanda
rajin beroperasi di selat Malaka, membuat para bajak laut terpaksa memindahkan
wilayah operasinya ke pantai barat Sumatera. Kondisi ini menyebabkan para pedagang kembali
melewati selat Malaka, meninggalkan
kawasan pantai barat Sumatera. Akibatnya
pelabuhan pelabuhan di sana meredup dan sepi, seperti yang terlihat sekarang. Setelah perang dunia II, di sekitar kawasan Selat Malaka terbentuk
negara negara nasional seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura. Ke tiga negara bekerja sama erat membasmi para
bajak laut, sehingga selat Malaka
benar benar aman untuk dilalui kapal kapal dagang. Pelabuhan pelabuhan di pantai Timur Sumatera
dan pantai barat Malaysia semakin pesat berkembang meninggalkan pelabuhan
di pantai barat Sumatera. Hadirnya
kekuasan kolonial Eropa dan terbentuknya negara negara Nasional yang kuat di
kawasan selat Malaka telah menenggelamkan pelabuhan pelabuhan di pantai
barat Sumatera.
Peluang Kebangkitan Pelabuhan Pelabuhan di Pantai Barat Sumatera
Masih adakah peluang itu?, bagaimana wujudnya ? dan kapan terjadinya?. Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan itu, harus dilihat perkembangan yang terjadi di
selat Malaka saat ini dan di masa depan. Berdasarkan pengalaman sejarah, bangkit dan tenggelamnya pelabuhan di pantai
barat Sumatera, bukan karena faktor
internal kawasan itu tetapi lebih disebabkan oleh faktor eksternal, terkait dengan kondisi di Selat Malaka. Oleh karena itu, kondisi objektif di selat Malaka hari ini
menjadi penting dan relevan untuk membuat prediksi tentang nasib pelabuhan di
pantai barat pada masa depan. Sekarang
selat Malaka adalah salah satu jalur lalu lintas pelayaran terpadat di dunia. Kondisi ini sudah sangat mendekati titik jenuh
dan jika trend ini terus berlanjut, akan
membahayakan keamanan kapal dan ekosistem pantai dan pesisir Sumatera, semenanjung Malaysia. Bahkan jika yang mengalami kecelakaan adalah
jenis kapal tanker raksasa, maka
luas genangan minyak yang tumpah ke laut dapat mencemari Samudera Hindia dan
Laut Cina Selatan.
Melihat kondisi demikian, maka akan dikeluarkan larangan bagi kapal kapal
tanker dan cargo berukuran di atas 100. 000 DWT untuk melewati selat
Malaka. Kapal kapal berukuran besar akan
melewati pantai barat Sumatera, pantai
selatan Jawa dan Bali, kemudian berbelok
ke utara melewati selat Lombok yang merupakan garis Wallace, terus ke
utara melewati selat Makassar kemudian masuk ke laut Cina Selatan, menuju kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Begitu juga sebaliknya dari kawasan Asia Timur
menuju Asia Selatan dan Timur Tengah dan Eropa. Inilah peluang yang dapat
dimanfaatkan oleh pelabuhan pelabuhan di pantai barat Sumatera. Mengingat kapal kapal yang lalu lalang di
kawasan itu berukuran besar, sudah tentu
kapasitas pelabuhan pelabuhan di sana hari ini tidak mungkin dapat memanfaatkan
peluang itu
Menjadi tugas pemerintah pusat dan
pemerintah daerah untuk memikirkan, merencanakan revitalisasi pelabuhan pelabuhan
di pantai barat Sumatera agar dapat berperan dalam perdagangan global di masa
depan. Pengembangan fasilitas pelabuhan
saja tidak cukup, jika tidak diikuti
dengan pengembangan komoditi dari hinterland yang diminati oleh pasar
internasional seperti kemenyan, kamper, kayu manis, pinang, kacang kacangan, kopi. Daerah hinterland yang dimaksud, tidak hanya di pulau Sumatera, tetapi juga mencakup pulau pulau di Samudera
Hindia seperti Simeulu, Nias, Kepulauan Mentawai dan Siberut.
Peluang itu akan berlalu begitu saja
jika Pemerintah dan masyarakat tidak siap. Peluang dikombinasikan dengan kesiapan itulah
yang disebut momentum. Jangan sampai
pelabuhan pelabuhan di pantai barat Sumatera kehilangan momentum untuk
bangkit kembali. Peluang hanya mau
menghampiri siapa yang mau memperhatikan kehadirannya.
.png)

Comments
Post a Comment