BENTANG ALAM DAN BENTANG BUDAYA SEBAGAI FAKTOR PENYEBAB KETIMPANGAN PEMBANGUNAN ANTAR WILAYAH

       Ketimpangan pembangunan  antar wilayah adalah fenomena  yang  menarik  minat banyak  pakar dari berbagai disiplin keilmuan untuk dikaji.  Di sini dicoba menganalisis fenomena itu dengan pendekatan landscape dan lifescape.  Pendekatan landscape memusatkan perhatian pada aspek aspek ilmu kebumian seperti klimatologi/meteorologi,  geologi,  geomorfologi,  petrologi,  hidroligi,  vegetasi dan sebagainya.  Pendekatan lifescape memfokuskan perhatian pada faktor faktor demografi,  sosial,  budaya,  ekonomi,  psikologi dan sebagainya.  Pada kesempatan ini dipilih wilayah provinsi Sumatera  Utara sebagai objek kajian, dengan pertimbangan karena provinsi ini memiliki karakter fisiografis sangat kontras antara wilayah timur dengan wilayah barat.  Jumlah penduduk dan laju pembangunan di wilayah timur lebih tinggi dari wilayah barat. 
Dengan mempelajari berbagai citra satelit seperti Landsat,  Spot dan Ikonos dari beragam skala,  ditambah telaah berbagai jenis peta tematik,  seperti peta geologi,  peta geomorfologi,  peta topografi,  peta penggunaan lahan,  banyak informasi yang dapat disadap untuk dijadikan bahan analisis. 

Dari tampilan citra dan peta,  tampak posisi pulau Sumatera melintang garis khatulistiwa dengan arah barat laut - tenggara.  Di bagian tengah,  serong ke barat membentang pegunungan Bukit Barisan,  yang menjadi batas alam antara bagian barat dan timur Sumatera.  Dari peta topografi terlihat perbedaan nyata karakter ke dua wilayah itu. Bagian timur terbentuk lebih awal,  pada jaman tersier dan bagian barat pada jaman quarter dalam skala waktu geologi. Bagian timur merupakan daerah tua, pelapukan bantuannya  sudah mencapai tingkat lanjut dengan ciri ciri topografinya cenderung datar sampai bergelombang. Oleh karena pelapukan batuan sudah sampai tahap lanjut,  solum tanah jadi tebal, dan karena topografinya relatif datar, tingkat kemiringan ( gradien ) sungai landai. Sebagian besar daratan wilayah sebelah timur pegunungan Bukit Barisan merupakan tanah endapan aluvial. Ditambah faktor posisi pegunungan  Bukit Barisan  yang condong berat ke arah barat, maka lahan datarnya lebih lebar, sehingga sungai sungai yang mengalir di bagian timur Sumatera berukuran panjang dan lebar.  Akibatnya air sungai mengalir lambat, dasar sungai terdiri dari lapisan lunak,  berpasir dan berlumpur, memberi waktu cukup lama bagi tanah untuk menyerap dan menyimpan air.  Kondisi ini menyebabkan wilayah timur memiliki cadangan air tanah dalam jumlah besar.  Dengan demikian wilayah timur memiliki karakteristik solum tanah tebal, topografi landai, air tanah melimpah, kondisi geologi stabil, sehingga sangat menguntungkan jika diolah,  dikelola,  dimanfaatkan untuk pertanian/perkebunan,  industri,  pemukiman. Lebar lahan datar di bagian timur pegunungan Bukit Barisan berkisar antara 40 hingga 70 Km. Tidak mengherankan jika wilayah ini sudah didiami manusia sejak puluhan ribu tahun lalu. Pada masa kolonial,  para investor Eropa beramai ramai mendirikan perkebunan dan industri pengolahannya. 

Kondisi ini bertolak belakang dengan wilayah barat.  Wilayah ini terbentuk lebih kemudian,  berusia muda,  masih labil.  Ciri ciri wilayah muda antara lain,  topografinya miring/curam,  tanah tidak stabil,  sering terjadi longsor,  gempa,  pelapukan batuan masih sedikit,  sehingga solum  tanah tipis. Sebagian besar material pembentuk lapisan tanah di bagian barat pegunungan Bukit Barisan adalah batuan beku dan tuff. Posisi letak pegunungan  Bukit  Barisan  yang condong ke barat membuat bentangan tanahnya sempit,  kemiringan curam dan bergelombang.  Lahan datarnya sangat sempit berkisar antara 7 - 20 Km,  hanya di sekitar tepi pantai.  Akibatnya sungai sungai yang mengalir di wilayah barat berukuran pendek,  sempit,  gradien sungai besar,  dasar sungai terdiri dari lapisan batuan keras,  kerikil.  Kondisi ini menyebabkan aliran air kencang,  deras,  tidak memberi kesempatan pada tanah untuk menyimpan cadangan air tanah.  Kondisi ini membuat wilayah barat jadi berciri topografi miring/terjal dan tidak stabil,  solum tanah tipis,  sungai pendek,  sempit,  beraliran deras , cadangan air tanah sedikit.  Keadaan ini tidak menguntungkan jika dijadikan lahan pertanian/perkebunan dan pemukiman.  Jika wilayah barat ingin dikembangkan setara dengan wilayah timur,  investasi yang dibutuhkan beberapa kali lipat dari wilayah timur untuk proyek yang skala besarannya relatif sama.  Hal ini disebabkan karena karakter bentang alam di ke dua wilayah sangat berbeda. Untuk lebih jelas, lihat peta topografi Provinsi Sumatera Utara di bawah ini. Warna hijau pada peta menunjukkan  dataran rendah. 



              Sumber : Google


Dipandang dari aspek manusia,  dari sejak munculnya homo sapiens (manusia modern) di berbagai jaman dan di segala sudut muka bumi,  ada satu hal yang mempersamakan mereka.  Manusia selalu berusaha mendapatkan sesuatu secara optimal tetapi melalui  upaya yang  minimal. Sifat dasar manusia  inilah yang mendorong imigran pertama Sumatera pada 50. 000 tahun lalu  lebih memilih bermukim di wilayah timur Sumatera.  Pada jaman sejarah hingga kolonial  bahkan sampai sekarang, kecenderungan ini masih berlangsung.  Jumlah penduduk dan kepadatannya serta jaringan infrastruktur yang lebih baik, membuat laju pertumbuhan di ke dua wilayah sangat timpang.   Jika dianalogikan,  Sumatera ibarat sebuah kapal yang oleng ke kanan.  Jika dibiarkan secara alamiah,  Ketimpangan ini akan makin lebar. 

Dapat dikatakan wilayah timur diuntungkan oleh alam.  Keduanya sejak awal memulai pembangunan tidak berada pada titik start yang sama,  sehingga dibutuhkan perhatian, bantuan yang jauh lebih banyak  kepada wilayah barat.  Pasokan materi,  energi dan informasi yang jauh lebih besar ke wilayah barat,  belumlah cukup untuk memperkecil kesenjangan itu. 

Masih dibutuhkan lagi rekayasa sosial dan budaya untuk membuat simpul simpul baru yang dapat memecahkan kebuntuan akibat kendala alam yang jadi faktor pembatas. Salah satu simpul yang dapat dibuat adalah dengan merekrut pemuda terpilih,  yang memiliki jiwa pionir, memiliki semangat/daya juang,  lalu diberi rangsangan tertentu dan insentif menarik untuk ikut mengembangkan, meningkatkan  kapasitas bawa ( carrying capasity ) wilayah barat. Mungkin yang dapat direkrut tidak terlalu besar, tetapi dengan kualifikasinya yang di atas rata-rata, hal itu cukup berpengaruh untuk membuka simpul simpul  tersebut. Di sinilah letak penting peran ilmuwan sosial dan budaya,  seperti antropolog,  sosiolog; ekonom dan psikolog untuk mendesain berbagai program dengan pendekatan lifescape. 

Kesimpulan

Analisis landscape dapat menjelaskan faktor penyebab Ketimpangan pembangunan di bagian barat dan timur Sumatera khususnya provinsi Sumatera  Utara.  Jika pendekatan landscape dilengkapi dengan pendekatan lifescape, maka kita dapat memberi minimal sebagian  solusi untuk mengatasi
 masalah tersebut. Sudah waktunya para ahli ilmu kebumian bekerja sama dan bersinergi dengan ahli ilmu sosial agar dapat mencapai hasil optimal.  

Comments

Popular Posts