MASALAH KRONIS PEMBANGUNAN KOTA DI REPUBLIK

 Prolog

Kota didefinisikan sebagai suatu hamparan luas, datar, bergelombang, berbukit, yang dihuni penduduk dengan kepadatan tinggi, kerapatan bangunan tinggi, antar bagian / blok / cluster dihubungkan dengan jalan yang saling berpotongan membentuk siku siku, sudut lancip, lingkaran, memiliki jaringan saluran drainase. Suatu kota biasanya memiliki ruang terbuka hijau, fasilitas kesehatan, pendidikan, hiburan, pasar, olah raga, seni. 

Pada umumnya Kota besar terletak di tepi pantai atau dekat dengan pantai. Sebagian Kota besar terletak di dararan tinggi seperti La Paz ( Ibu kota Bolivia ), Bogota ( ibu kota Kolombia, Terheran ( Ibu kota Iran ), di tepi danau seperti Baku ( Ibu kota Azerbaijan ), Kampala ( Ibu kota Uganda ). 

Faktor faktor yang menyebabkan munculnya kota antara lain mobilitas /  migrasi penduduk, aktivitas perdagangan, keamanan. Kota kota tertua di dunia antara lain Jerico di Palestina ( 10.000 tahun lalu ) , disusul Catal Huyuk di Turki ( 9000 tahun lalu ), menyusul Mohenjo Daro dan Harappa  di Pakistan ,( 6000 tahun lalu ). Selanjutnya Ur. Nippur, Khorsabat, Babilonia, Niniveh, di Irak pada  ( 5000 ) tahun lalu, Memphis, Thebe, Necken di Mesir pada periode yang sama.

Ada banyak teori yang menjelaskan tentang asal mula terbentuknya kota. Tidak ada satupun teori dari sekian banyak teori yang dapat menerangkan proses terbentuknya seluruh kota kota. Terlalu banyak variasi, sehingga tidak ada teori tunggal yang dapat menjelaskan. Adapun teori  teori yang dimaksud adalah teori teori konsentrasi, yang dijukan oleh Ernest W Burgess,  Oriental Despotisme diajukan oleh Karl Wittfogel, teori Revolusi Neolitikum dari V Gordon Childe, teori Central Place  dari Walter Christaller, teori Sektoral dari Homer Hoyt, teori Inti Ganda dari Ullman dan Harris. Beberapa ahli yang terkenal dalam bidang studi perkotaan adalah Robert Adam, Gideon Sjoberg, Peter J M Nas dan Hadi Sabari Yunus. 

Dari kajian literatur yang  ditulis oleh para pakar studi perkotaan, penulis menemukan pola yang umum dalam pembangunan kota kota. Kota kota di negara negara maju melakukan pembangunan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang lebih baik dan hasilnya sesuai dengan rencana. Anehnya pembanguna kota kota di Republik justru menghasilkan penurunan kualitas lingkungan. Pertanyaannya : mengapa hal itu dapat terjadi? dan bagaimana hubungan antara pembangunan kota dengan kualitas lingkungan?.


Model Siatem Dinamis Sebagai Alat Analisis

Model sistem dinamis adalah cabang matematika terapan yang mempelajari  perilaku suatu sistem operasi yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu.  Model diartikan sebagai tiruan atau miniatur dari realita yang lebih sederhana dari keadaan sebenarnya.  Model merupakan abstraksi dari realita,   semakin sederhana suatu model,  semakin abstrak dan semakin jauh model dari realita.  Sebaliknya,  semakin rumit suatu model semakin dekat model itu dengan realita,  tetapi kalau sudah sedemikian rumit suatu model,  maka tidak dapat lagi disebut sebagai model.  Model yang baik adalah model yang  tidak terlalu sederhana dan tidak pula terlalu rumit,  jadi berada pada posisi moderat.  Ada tiga jenis model yang dikenal yaitu model statis ( model ikonik),  model statis komparative  ( model analog) model dinamis ( model simbolik) atau model matematis . Walaupun tulisan ini menggunakan model dinamis yang sarat dengan persamaan matematika,  tetapi uraian yang ditampilkan sudah ditransformasikan dalam bentuk verbal / narasi agar dapat dipahami oleh  para pembaca umum.  Peringatan yang disampaikan seorang editor buku yang sukses,  terus tertanam di dalam benak,  bahwa satu saja persamaan matematika dimunculkan , akan mengurangi  jumlah pembaca hingga 50 persen. Atas dasar pertimbangan itu,  uraian di dalam tulisan ini bebas dari hal itu. 




Model Sistem Dinamis

Model sistem dinamis dikembangkan pertama kali oleh Jay Wright Forrester,  seorang profesor matematika di MIT ( Massachusettes Institut of Technology) Boston,  USA. 
Prosedur melakukan analisis sistem dinamis yang sudah disederhanakan diuraikan di bawah ini :


  1. Mendefinisikan masalah,  tujuan dan menentukan batasan dunia nyata. 
  2. Menentukan variabel variabel dan mengelompokkannya berdasarkan sifat dan karakternya menjadi beberapa kelompok,  stock atau level,  flow atau rate,  causal loop atau umpan balik, baik yang bernilai positif ( growth),  maupun yang bernilai negatif ( goal  seeking). 
  3. Formulasi model
  4. Simulasi  Model
  5. Verifikasi,  revisi dan validasi  model


Penerapan Model Dinamis

Dari hasil identifikasi variabel variabel yang berinteraksi dan berkorelasi di dalam fenomena pembangunan kota, didapatkan hasil sebagai berikut :

1 Pembangunan kota sebagai stock atau level 
2 Laju pembangunan kota per tahun sebagai                 flow atau rate
3 Jumlah penduduk kota sebagai stock atau level 
4 Laju pertumbuhan penduduk sebagai flow atau       rate




Gambar 1 : Bagan Kerangka Pemikiran                        Pembangunan Kota Berdasarkan
Model Causal Loops Sistem Dinamis


Sumber  :  Wirtjes  ( 2025 )


       Ke empat variabel ini ditentukan  berdasarkan hasil simulasi dengan menggunakan software  sistem dinamis. Sebenarnya jumlah variabel yang dapat berpengaruh terhadap pembangunan kota lebih banyak,  karena karena memang seperti itulah realita di alam.  Harap diingat tujuan tulisan ini bukan mau menampilkan kerumitan realita,  tetapi merupakan kajian sebuah model yang diusahakan mendekati realita.  Jika kerumitan yang digambarkan sudah sama atau nyaris sama dengan realita,  maka penggambaran itu sudah tidak dapat disebut sebuah model.  Variabel variabel yang disebutkan di atas,  dianggap dapat mewakili dan mengakomodasi tujuan tulisan ini. 

Pembangunan kota akan menimbulkan umpan balik umpan balik  berupa peningkatan kebutuhan akan lahan, untuk pembangunan fasilitas infrastruktur. Kebutuhan akan lahan menimbulkan umpan balik negatif berupa berkurangnya ruang terbuka hijau.  Peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan pembangunan fisik kota, menimbulkan umpan balik negatif berupa meningkatnya pencemaran air, tanah dan udara. Peningkatan pencemaran pada tiga lingkungan ambien tersebut menyebabkan turunnya kualitas lingkungan. 

Berkurangnya ruang terbuka hijau menimbulkan umpan balik negatif berupa meningkatnya emisi gas rumah kaca di atmosfer, meningkatnya suhu udara, berkurangnya jumlah pohon sebagai rosot karbon ( kemampuan menyimpan / mengikat karbon ).  Munculnya tiga umpan balik tersebut telah menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan. 

Berkurangnya ruang terbuka hijau juga menimbulkan umpan balik negatif berupa berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air ( kemampuan infiltrasi ). Berkurangnya kemampuan infiltrasi tanah menimbulkan umpan balik negatif berupa meningkatnya volume dan debit air limpasan permukaan ( run off ). Meningkatnya run off menimbulkan umpan balik negatif berupa meningkatnya potensi, probabilitas dan kejadian aktual banjir. Banjir pasti menimbulkan kerugian materi dan jiwa manusia. Banjir juga menimbulkan umpan balik negatif berupa meningkatnya volume sampah organik, anorganik, bahan beracun berbahaya ( B3 ). Tumpukan sampah setelah lewat 2 minggu, akan menimbulkan wabah penyakit. Tumpukan sampah yang bertebaran di berbagai penjuru kota juga menimbulkan umpan balik negatif berupa menurunnya nilai estetika. Volume sampah yang meningkat, disertai wabah penyakit dan menurunnya nilai estetika pada giliran berikutnya menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan. 

Jika bagan di atas dicermati dengan teliti tampak jelas hubungan logis sebab akibat di antara fungsi fungsi variabel yang bersifat level, rate, causal loops yang menunjukkan umpan balik positif dan negatif. Perbedaan warna garis menunjukkan adanya perbedaan sumber penyebab, arah datangnya tekanan dari kelompok faktor terhadap titik muara dari semua tekanan itu yaitu TURUNNYA KUALITAS LINGKUNGAN.  Bagan di atas melahirkan dalil yang dapat diuji pada data empirik bahwa di Republik setiap pembangunan kota akan menurunkan kualitas lingkungan di sekitarnya.

 

Mencari Sebab Dasar dan Sebab Langsung

Setelah menelusuri jalan pikiran yang dibangun untuk menampilkan potret besar dari fenomena pembangunan kota di Republik, tiba pada upaya mencari Sebab Dasar yang menjadi pemicu timbulnya sebab langsung dari semua kekacauan itu. Sebab dasar ada pada problem manajemen pembangunan dan pengelolaan kota ( tata kelola yang buruk ) sejak dari perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, pemeliharaan, pemantauan, evaluasi, perbaikan berkesinambungan. Sebab dasar tidak pernah dituntaskan, akibatnya timbulnya sebab langsung, antara lain buruknya tata kelola proses rekrutmen para oersonil yang diberi tugas, kewenangan dan tanggung jawab pembangunan dan pengelolaan kota. Hasilnya adalah terpilihnya para pejabat yang tidak memiliki kompetensi untuk menjalankan tugas dan fungsinya. Akibat berikutnya adalah suatu kepastian / keniscayaan : Setiap aktivitas pembangunan di Republik pasti bakal menurunkan kualitas lingkungan ambien. 

Rendahnya kompetensi dan kurangnya penguasaan berbagai mazhab / paradigma dan teori keilmuan para pejabat, membuat mereka terjebak pada jalan buntu yang memberikan pilihan terbatas dan parahnya pilihan itu bersifat dikhotomi. Mereka dipaksa harus memilih satu di antara dua pilihan sulit : melaksanakan pembangunan ATAU melestarikan lingkungan. Pola pikir sesat ini tidak memberi ruang pilihan lain. Prjabat yang ingin dinilai banyak berbuat, tentu dengan gampang memilih melakukan pembangunan dengan risiko menurunkan kualitas lingkungan. Seandainya saja para pejabat Republik lebih cerdas,  akan membuat pilihan melaksanakan pembangunan DAN melestarikan lingkungan. Pemikiran kreatif selalu berada di antara dua kutub ekstrim. Sekarang sains modern sudah menyediakan beragam mekanisme  / instrumen pembangunan yang justru meningkatkan kualitas lingkungan, seperti CDM ( Clean Development Mechanisme ), perhitungan Ecologycal Foot Print, Carbon Foot Print. Virtual Water. Berbagai instrumen pembangunan yang tidak menurunkan kualitas lingkungan telah tersedia, seperti   Environmental Audit ( EA ), Cleaner Production ( CP ), Leadership Environment Engineering Design ( LEED ), Product Life Cycle Assessment ( PLCA ), Environmental Impact Assessment ( EIA ). Upaya pembangunan tidak harus dibenturkan dengan upaya pelestarian lingkungan, karena hanya orang yang tak punya pengetahuan yang berbuat demikian. 



Epilog

Banyak sekali kelakuan bangsa Republik yang bagi bangsa lain, merupakan anomali, tetapi di sini dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Apa yang dibuat oleh bangsa maju tidak dilakukan di sini dan sebaliknya apa yang dilakukan bangsa ini tidak tidak dilakukan bangsa lain. Bangsa Republik terkenal sulit melakukan transformasi budaya ( pikiran, berbicara, bersikap dan berperilaku ). Walaupun demikian sebenarnya tidak ada yang sulit kalau ada kemauan dan komitmen untuk berbuat yang terbaik. 









Comments

Popular Posts