RE-PUBLIK ATAU RE-ELIT ?
Prolog
Sekarang ini ada hampir 200 negara berdaulat yang diakui PBB. Negara diartikan sebagai institusi yang memiliki wilayah dengan batas yang jelas, organisasi pemerintahan yang teratur, memiliki rakyat, mendapatkan pengakuan dari masyarakat internasional. Sebagian besar negara negara di dunia memiliki bentuk negara Republik. Sebenarnya kata Republik memiliki 2 kata yaitu Re yang berarti kembali, dan publik yang berarti rakyat pada umumnya, sehingga dapat dimaknai kembali atau dikembalikan ke rakyat. Ada sesuatu yang dikembalikan ke rakyat, dan yang dikembalikan itu diartikan sebagai sesuatu yang bermakna penting. Sesuatu yang penting itu diasumsikan sebagai kekuasaan / kewenangan. Arti kata itu secara tersirat / implisit mengandung arti bahwa sebelum menjadi republik, kekuasaan berada di tangan segelintir orang, yang disebut sebagai elit.
Pada satu atau dua abad lalu, mayoritas negara di dunia menganut bentuk negara kerajaan, hanya segelintir yang berbentuk republik. Sekarang posisinya jadi terbalik. Berakhirnya Perang Dunia II ( 1945 ), menjadi momentum bermunculannya negara negara baru yang berhasil membebaskan dirinya dari belenggu penjajahan yang memilih bentuk negara republik. Selain itu banyak pula negara yang mengubah bentuknya dari negara kerajaan menjadi republik seperti Ethiopia, Afganistan, Iran, Mesir. Ada negara yang jika dilihat dari tampilan luar berbentuk republik, tetapi jika diamati lebih cermat, negara tersebut lebih bersifat dan berkelakuan layaknya negara kerajaan.
Fakta Alam Sebagai Causa Prima
Tema dasar alam semesta adalah perubahan, tidak ada yang tidak berubah. Perubahan mendorong terciptanya variasi. Jumlah variasi berbanding lurus dengan waktu. Semakin lama jumlah variasi semakin banyak. Variasi menimbulkan kompleksitas. Ketika variasi masih kecil, semua variabel masih dapat diidentifikasi, bahkan dapat dihitung nilai besaran tiap variabel. Setelah variasi makin besar, jumlah variabel sulit diidentifikasi seluruhnya, dan nilai tiap variabel mustahil dapat dihitung secara akurat. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian. Dalam situasi serba tidak pasti, timbul kecemasan, kegelisahan, kegalauan. Situasi ini mendorong orang mulai menimbun stock dan akibatnya terjadi kelangkaan. Dalam situasi itu terjadi kompetisi memperebutkan sumbernya. Pihak yang kuat dan punya nyali mendapatkan porsi jauh lebih banyak. Sebagian lagi mendapatkan sedikit, bahkan ada yang tidak mendapatkan bagian sama sekali. Tahap selanjutnya terjadi konflik. Konflik tidak dapat dihilangkan karena inheren di dalam perubahan dan perubahan itu bersifat keniscayaan di alam. Konflik hanya dapat dikelola, agar efek destruktifnya dapat diminimalisir.
Masyarakat Berburu dan Meramu
Dalam masyarakat berburu dan meramu, sistem dan peralatan produksi masih sederhana serta hasilnya masih berada di level subsisten. Perbandingan hasil produksi dan konsumsi perkapita rata rata 1 : 1 atau 1 : 1,2. Dengan tingkat produksi seperti itu, tidak banyak saving yang dapat disimpan, di samping belum dikenal teknik pengawetan / penyimpanan bahan makanan. Pembagian hasil produksi relatif merata. Satu atau dua orang yang berperan sebagai primus interparus ( pemuka ) masyarakat, karena memiliki keterampilan di atas rata rata, mendapat bagian sedikit lebih banyak dari yang lain. Selisih itu tidak besar, karena saving yang tersedia juga tidak besar. Selisih bagian yang lebih dari yang lain, digunakan untuk menyantuni pihak yang lemah sambil menanamkan pengaruh sebagai ketua kelompok. Seandainya seorang primus interparus mengambil bagian terlalu besar, dia segera diabaikan oleh anggota kelompoknya. Sebagian besar primus interparus masih dapat berpikir rasional, mampu membuat batasan tegas antara kebutuhan dengan keinginan, sehingga dapat menjaga keutuhan dan ketertiban di kelompoknya. Di dalam masyarakat berburu dan meramu, prinsip egaliter lebih menonjol dijalankan. Status tinggi di masyarakat diperoleh berkat bakat dan kerja keras seseorang dan tidak dapat diwariskan kepada anaknya. Struktur masyarakatnya berbentuk batang, atau selongsong silinder, bukan piramida. Hal ini ditafsirkan bahwa nyaris tidak ada perbedaan kewenangan secara signifikan antara satu orang dengan orang lain.
Masyarakat Pertanian
Manusia mulai mengutak atik alam melalui aktivitas eksperimen domestifikasi hewan dan tumbuhan pada 12000 - 10.000 tahun lalu di kawasan Timur Tengah. Eksperimen itu berhasil, dan dimulai era baru, masyarakat pertanian. Dengan sistem produksi dan peralatan baru, sekelompok orang dalam jumlah puluhan orang dapat memproduksi makanan dalam jumlah besar, cukup untuk menghidupi ratusan atau ribuan orang. Satu kelompok yang terdiri dari misalkan 100 orang dapat memproduksi makanan yang dapat menghidupi kelompok itu sepanjang tahun dengan surplus besar. Dengan surplus besar, banyak orang dapat dibebaskan dari keharusan memproduksi makanan. Kelompok yang sudah bebas dari kewajiban memproduksi makanan, dapat berkonsentrasi pada aktivitas lain, memperdalam kemahiran bertukang, berlatih olah fisik untuk mempergunakan senjata dan kemiliteran, pengetahuan keagamaan, prosesi ritual upacara keagamaan, perdagangan, ketabiban.
Terjadi diversifikasi profesi, dan keahlian. Orang orang yang memiliki keahlian khusus mendapat tempat terhormat di masyarakat. Para elit di bidang kemiliteran mulai menghimpun pengaruh dan memberi perintah perintah yang harus ditaati oleh warga masyarakat. Kemudian terbentuk pusat pusat pemukiman yang disebut kota. Untuk menjamin berlangsungnya tata pemerintahan, mulai diciptakan sistem status, simbol simbol status, yang dapat diwariskan kepada anak keturunannya. Para penguasa militer membangun persekutuan dengan para elit bidang lain, seperti elit ekonomi, elit birokrasi / politik, elit agama, elit pengetahuan. Para elit bahu membahu mempertahankan status istimewa mereka di masyarakat. Posisi para elit semakin diperkuat dengan diciptakannya sistem tulisan. Perintah perintah disampaikan secara efektif dan efisien sampai pelosok wilayahnya. Aliran energi. Materi dan informasi berjalan lebih lancar.
Orang orang yang memiliki ketrampilan menulis dan membaca mendapat posisi penting di pemerintahan. Para pengusa mendapat legitimasi kekuasaannya dari para elit agama. Para elit agama dan elit militer mendapat sokongan materi dari elit ekonomi dan sebagai imbalannya mereka mendapat perlindungan dari elit penguasa militer dan politik. Dengan demikian terbentuk persekongkolan / persekutuan abadi di antara para elit. Untuk mendapatkan lebih banyak sumberdaya, para elit penguasa memberlakukan sistem perpajakan. Dengan demikian lengkap sudah mekanisme pengumpulan sumbernya di tangan beberapa orang saja. Para elit menciptakan dalih, bahwa sumbernya itu digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pada tahap ini tidak dapat dibedakan antara harta institusi negara dengan harta pribadi. Para penguasa juga tidak dapat menarik batas tegas antara kebutuhan dengan keinginan. Semua berada di area abu abu. Atas nama pemenuhan kebutuhan masyarakat luas, dihimpun sebanyak mungkin sumberdaya untuk memenuhi keinginan penguasa.
Pada masa berburu dan meramu, kalau ada pemuka berkelakuan seperti pengusa di masyarakat pertanian, pasti mendapat perlawanan keras dari warganya. Hal itu tidak terjadi pada masyarakat pertanian. Hal ini tidak terlepas dari peran para elit agama. Mereka menghembuskan ajaran agar masyarakat awam menerima ketimpangan penguasaan sumbernya, sebagai bakti kepada Dewa, dan demi mendapat balasan berlipat ganda di kehidupan setelah mati. Dalam konteks ini para elit penguasa berhutang budi kepada para elit agama. Dari pemaparan sejarah peradaban itu, pada masyarakat berburu. penguasaan sumbernya berada di tangan publik. Pada masyarakat pertanian terjadi pengalihan hak penguasaan sumberdaya dari Publik ke Elit.
Masyarakat Industri
Bentuk negara kerajaan berlangsung selama ribuan tahun. Bangsa Yunani tercatat sebagai bangsa pertama yang menggantikan bentuk negara kerajaan menjadi negara republik, berdiri negara Republik Athena dan Republik Sparta. Kemudian bentuk negara republik ditiru oleh bangsa Romawi dengan mendirikan Republik Roma yang berlangsung selama 5 abad ( abad 5 SM - awal tarik Masehi ). Setelah itu Roma kembali kepada bentuk negara kerajaan. Bentuk negara republik baru populer lagi sejak pecahnya revolusi Perancis pada abad XVIII. Revolusi Perancis menyebabkan dihapusnya kerajaan dan diekeskusinya raja Louis XVI beserta permaisuri Marie Antoinette di pisau Guillotine. Semboyan revolusi Perancis yang terkenal adalah liberte ( kebebasan), egalitere ( kesetaraan ), fraternite ( persaudaraan ). Republik Perancis berusia singkat, karena pada awal abad XIX, kembali ke bentuk kerajaan dengan naiknya Kaisar Napoleon Bonaparte ke tampuk kekuasaan absolut. Walaupun demikian, revolusi Perancis mengilhami banyak bangsa untuk mendirikan negara republik. Puncaknya pada abad XX, masa keemasan masyarakat industri, susul menyusul bermunculan negara republik, hingga mencapai jumlah mayoritas di PBB. Dengan terbentuknya banyak negara republik, tampak seolah oleh telah terjadi pengalihan kekuasaan dari segelintir elit penguasa kepada masyarakat luas ( publik ), pergeseran kekuasaan dari elit ke publik ( Re - publik ). Pengertian dari kata re-publik bermakna tersurat / eksplisit adanya pengalihan / pengembalian kekuasaan dari elit kepada publik.
Dari Re - publik ke Re - elit
Di masa kini banyak negara terutama negara negara sedang berkembang di Asia dan Afrika. Dilihat dari tampilan wujud luar, negara negara tersebut berbentuk republik, bahkan nama negaranya disandingkan dengan kata republik. Setelah dilakukan pengamatan cermat, ternyata negara itu dikendalikan oleh segelintir elit, yang sering disebut dengan label oligarki. Sebagai contoh, selama puluhan tahun negara Filipina dikendalikan oleh beberapa keluarga dinasti, antara lain, keluarga keluarga Aquino, Macapagal, Marcos. India dikendalikan oleh dinasti Nehru, Pakistan oleh keluarga Butho, Korea Utara oleh keluarga Kim Il sung, Suriah oleh keluarga Assad. Sementara itu banyak negara republik, tetapi beraroma kerajaan. Kepala negara yang disebut presiden, tetapi diperlakukan dan hidup seperti para raja. Menetap di istana, dilayani oleh puluhan pelayan / pegawai, pengiring, pengawasan ketat. Seluruh gerak geriknya dibiayai oleh negara. Banyak negara menjalankan politik dinasti di berbagai lembaga eksekutif, legislatif. Di banyak negara republik sedang berlangsung proses pergeseran kekuasaan dari re - publik menuju re - elit. Republik Indonesia tidak terbebas dari fenomena tersebut. Indikasinya dapat dilihat dari berubah ubahnya kebijakan ekspor batubara, CPO ( Crude Palm Oil ), dalam hitungan hari, terkatung katungnya rencana pembangunan kilang minyak bumi. Hal ini menunjukkan presiden sebagai pejabat negara tertinggi tidak terbebas dari intervensi para elit. Pertanyaan mendasar yang dapat diajukan : Mengapa kekuasaan bergeser kembali ke kelompok elit ?. Untuk menjawab pertanyaan itu, mau tidak mau kita harus melihat ke masa lalu. Jawaban itu ada "di kitab alam semesta".
Enam Variabel Sebagai Penyebab
Dari kajian sumber sumber sejarah, arkeologi dan antropologi, diketahui bahwa perubahan cara hidup dari berburu dan meramu, ke cara hidup menetap yang ditopang oleh sistem pertanian telah memicu kenaikan jumlah dan kepadatan penduduk. Ketika manusia hidup dalam kelompok kelompok kecil, semua individu saling kenal, mudah melakukan pengawasan atas perilaku tiap anggota masyarakat. Ketika jumlah penduduk meningkat pesat, diperlukan sistem pengaturan yang lebih kompleks. Sistem pengelolaan yang lebih rumit membutuhkan energi, materi dan informasi lebih banyak untuk menjalankannya. Diperlukan suatu birokrasi yang memiliki struktur berjenjang. Sistem ranking membutuhkan sesuatu sebagai penanda , atribut, simbol tertentu yang kemudian dibakukan. Lahirlah sistem strata sosial yang ditempati oleh para elit. Semakin banyak penduduk yang dikelola, dibutuhkan sistem yang lebih rumit. Sistem birokrasi berjenjang akhirnya menghasilkan bentuk piramida, makin ke atas makin mengerucut. Bentuk piramida ini menghasilkan ketimpangan dalam penghasilan. Ketimpangan adalah konsekuensi logis dari sistem birokrasi bertingkat. Sistem birokrasi seperti itu diperlukan untuk mengelola suatu sistem masyarakat kompleks. Sementara kompleksitas masyarakat tercipta karena jumlah penduduk meningkat pesat. Jumlah penduduk meningkat karena cara hidup menetap yang berbasis pada sistem pertanian. Demikian rentetan hubungan sebab - akibat di antara variabel variabel sistem produksi pangan, pola hidup menetap, jumlah penduduk, birokrasi berjenjang, sistem sosial / strata sosial, ketimpangan pendapatan dan interaksi semua faktor faktor tersebut melahirkan segelintir kelompok elit.
Epilog
Lahir dan berkembangnya kelompok elit adalah hasil desain evolusi peradaban manusia. Para leluhur manusia yang merintis pertama kali eksperimen domestifikasi tumbuhan dan hewan disadari ataupun tidak disadari telah memilih lintasan jalur evolusinya yang berujung pada terbentuknya segelintir elit yang mengendalikan dan menentukan nasib sebagian besar orang. Kita hidup di masa kini tidak perlu menyesali kondisi yang sudah tercipta, karena kehidupan tidak pernah berjalan mundur.
Dari enam variabel yang telah dipaparkan di atas, tiga variabel masih dapat diubah untuk meminimalisir dampak buruk dari kehadiran dan sepak terjang para elit. Variabel variabel yang dimaksud adalah jumlah penduduk, di atasi dengan penerapan teknologi transhumanisme, sistem birokrasi rumit dan berjenjang diatasi dengan penerapan teknologi digital, ketimpangan pendapatan diatasi dengan penerapan sistem perpajakan yang efektif dan efisien. Cara cara di atas telah diterapkan dengan sangat berhasil oleh negara negara Skandinavia seperti Denmark, Swedia, Norwegia dan Finlandia. Apakah Indonesia mau dan mampu mengikuti jalan yang ditempuh oleh negara negara Skandinavia?. Jawabannya terpulang pada bangsa Indonesia sendiri.
.png)
Comments
Post a Comment