RESTRUKTURISASI DAN RESETTING HUNIAN AKIBAT PANDEMI COVID 19
Prolog
Untuk
mempertahankan eksistensi kehidupannya, manusia memanfaatkan berbagai bentuk
struktur ruang, baik bentukan alam, maupun buatan seperti ceruk di dinding
bukit, gua ataupun pondok sederhana sampai pada bentuk hunian mewah seperti
apartemen, mansion dan istana. Sejak jutaan tahun lalu manusia sudah
memanfaatkan struktur ruang bentukan alam ( gua ) sebagai tempat hunian. Di
dalam gua, manusia menjalankan aktivitasnya, baik yang bersifat profan maupun
yang bersifat sakral, seperti ritual / prosesi religi. Aktivitas profan
meliputi semua kegiatan domestik dan aktivitas sakral ritual meliputi
upacara / prosesi religi termasuk pemakaman. Berbagai aktivitas itu diketahui
berkat kegiatan ekskavasi / riset arkeologi.
Rekaman
jejak aktivitas manusia masa lalu juga tersimpan dalam bentuk visual berupa
lukisan lukisan di dinding dan langit langit gua. Lukisan di gua gua ditemukan
di berbagai seantero bumi, mulai dari Spanyol ( gua Altamira ), Perancis ( gua
Lascaux dan gua Chauvert ) hingga Kepulauan Indonesia, di Sulawesi
Selatan ( Maros ), pulau Seram, Kepulauan Kei dan Papua. Usia lukisan lukisan
itu bervariasi antara 45.000 - 15.000 tahun. Setelah melewati durasi
waktu tertentu manusia pindah dari satu gua ke gua lain. Periode manusia
menggunakan gua sebagai hunian disebut periode berburu dan meramu.
Ketika
manusia mulai mengembangkan budaya agrikultur, terjadi perubahan cara hidup
dari berpindah pindah menjadi hidup menetap di pondok pondok sederhana. Makin
lama, jumlah dan ukuran pondok bertambah banyak dan luas, kemudian terbentuk
desa desa dan akhirnya menjelma menjadi kota. Kota kota pertama yang tercatat
dalam sejarah antara lain di Israel / Palestina ( Jerico ), Turki ( Çatalhöyük), Mesir ( Memphis, Thebe, Necken ),
Irak ( Ur, Khorsabat, Nippur, Niniveh ) dan Asia Selatan ( Mohenjo Daro dan
Harappa ).
Sejak
terbentuknya peradaban agrikultur hingga peradaban teknologi digital, bentuk,
kualitas bahan dan ukuran luas hunian menjadi indikator penting yang dapat
digunakan untuk menentukan strata sosial ekonomi pemilik dan penghuninya, serta jumlah pajak yang harus dibayar. Di
daerah pusat kota, ketersediaan lahan untuk mendirikan hunian sangat terbatas.
Untuk mengatasi keterbatasan lahan, dikembangkan hunian bersifat vertikal,
berupa apartemen / kondominium dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran luas.
Di kawasan pinggiran kota berkembang beragam jenis kompleks perumahan real
estate dengan beragam bentuk / tipe ukuran luas.
Oleh
karena ketersediaan lahan makin lama makin terbatas, semantara pertumbuhan
penduduk tetap tinggi, menyebabkan permintaan akan hunian baru makin besar.
Untuk menyiasati kondisi ini, para pengembang / developer meminta para
perancang / arsitek untuk mendesain hunian yang efisien dalam
penggunaan lahan. Lahirah berbagai bentuk rancangan hunian yang sangat bersifat
fungsional, minimalis dalam pemanfaatan lahan. Hunian berupa kompleks apartemen
dan real estate yang dibangun pasca tahun 2000, umumnya berukuran lebih kecil
dibanding periode sebelumnya.
Pergeseran Norma dari Keluarga Luas Ke
Keluarga Inti
Sejak
terbentuknya peradaban industri di perkotaan, terjadi pergeseran nilai nilai
tradisional ke arah nilai nilai masyarakat modern. Salah satu nilai yang
mengalami pergeseran adalah nilai keluarga luas. Pada awal paruh kedua abad XX,
masih banyak fenomena keluarga luas di perkotaan di Indonesia. Masih banyak
dijumpai di suatu rumah, penghuninya tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan
anak anak kandungnya. Di rumah biasanya ada keponakan, saudara sepupu, orang
tua dari salah satu atau ke dua pihak, paman / bibi, dan asisten rumah tangga.
Jika dihitung total penghuninya dapat mencapai lebih dari sepuluh orang. Kondisi ini jelas
menuntut ukuran rumah cukup luas. Anggota keluarga luas yang ikut menumpang
umumnya datang ke kota untuk bersekolah atau bekerja. Gambaran ini berlaku
untuk situasi normal, belum termasuk jika ada momen momen tertentu di keluarga
tersebut. Misalnya jika ada hajatan ( pesta, kenduri, selamatan ), atau
kemalangan, jumlah penghuni rumah dapat bertambah lebih banyak. Para sanak famili
yang datang dari kota kota lain atau dari kampung asal, umumnya tinggal di
rumah yang punya hajatan, bukan di hotel / penginapan.
Menjelang
akhir abad XX, terjadi pergeseran norma karena tuntutan jaman. Biaya hidup di
perkotaan yang semakin mahal, menyadarkan pihak keluarga inti dan keluarga
luas, bahwa lebih nyaman bagi kedua pihak, untuk meninggalkan nilai keluarga
luas, beralih ke nilai keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak
kandung. Anggota keluarga luas lebih merasa nyaman tinggal terpisah di rumah
sewa atau kamar kost. Dengan kondisi baru, ukuran rumah yang luas dirasakan
memberatkan keuangan keluarga. Ukuran rumah yang luas menuntut biaya
operasional dan biaya pemeliharaan yang tinggi. Dengan ukuran rumah lebih
kecil, beberapa pos pengeluaran dapat dihemat seperti biaya listrik, air dan
gaji asisten rumah tangga, serta biaya pemeliharaan rumah. Selain itu terjadi
perubahan norma dan pandangan tentang nilai anak. Kampanye program Keluarga
Berencana yang sangat masiv di masa rejim Suharto, telah berhasil mengubah
mindset orang tentang anak. Pandangan " banyak anak, banyak rejeki ",
mulai ditinggalkan. Rata -rata
keluarga memiliki 2 atau 3 orang anak.
Penyebar
luasan program pendidikan dan program wajib belajar juga berperan penting terhadap
perubahan mindset orang tentang jender. Pandangan tentang kesetaraan jender
telah membuka kesempatan seluas luasnya bagi anak perempuan untuk menempuh
pendidikan setinggi tinginya. Hasilnya adalah munculnya generasi muda wanita
yang berpendidikan tinggi dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan
karir sebagai pegawai dan pimpinan di sektor formal baik di pemerintahan maupun
di korporasi swasta. Bahkan tidak sedikit para wanita yang sukses sebagai
wirausaha / entrepreneur.
Sepasang
suami isteri yang masing masing memiliki karir, lebih banyak menghabiskan waktu
di luar rumah, sejak pagi hingga sore / malam. Sementara anak anak sejak pagi
hingga siang berada di sekolah dan biasanya dilanjutkan lagi dengan berbagai
aktivitas ekstra kurikuler seperti les privat, dan berbagai jenis kursus
seperti kursus musik, bahasa asing, kegiatan olah raga dan sebagainya.
Sepanjang hari anggota keluarga berada di luar rumah. Praktis kondisi rumah
sepi, hanya asisten rumah tangga ( kalau ada ) yang rutin berada di rumah. Biasanya
asisten rumah tangga tidak tinggal di rumah tersebut. Semua penghuni rumah
ketika pulang ke rumah sudah dalam keadaan lelah. Seluruh aktivitas rutin
dilakukan di luar rumah. Rumah benar benar sudah berfungsi sebagai tempat
beristirahat. Bahkan aktivitas sosislita / pergaulan ( arisan dan sekadar
kumpul kumpul sambil ngobrol ) sudah dilakukan di luar rumah. Bertemu
rekan / sahabat, saudara dilakukan di lobby hotel, restaurant, cafe.
Kondisi
ini diamati oleh para perancang / arsitek dan desain interior. Para perancang
itu mulai membuat desain rumah rumah yang benar benar bersifat fungsional,
minimalis, sesuai dengan nilai nilai baru yang berkembang dan keterbatasan
lahan di perkotaan. Mulai bermunculan komplek kompleks real estate yang
berukuran minimal. Rumah rumah yang dibuat, benar benar berfungsi hanya sebagai
tempat beristirahat, tidak memberi ruang untuk kegiatan sosialita, menerima
tamu formal ataupun non formal, termasuk ruang untuk bekerja. Struktur dan
setting ruang di dalam rumah benar benar mengalami perubahan.
Profil Hunian Real
Estate Minimalis
Bentuk
hunian di kompleks real estate minimalis biasanya tidak memiliki halaman di
samping rumah, hanya menyisakan lahan di depan dan di belakang rumah dengan
ukuran berkisar 30 - 40 meter persegi dan begitu juga dengan halaman belakang.
Satu rumah dengan rumah lain hanya dibatasi oleh tembok pemisah. Rata rata
rumah berukuran panjang 8 - 10 meter dan lebar 6 - 8 meter. Dari pintu depan
langsung terlihat sisi dinding belakang. Untuk rumah satu lantai, hanya terdiri
dari dua kamar tidur, dapur dan ruang makan menyatu dan satu kamar mandi. Untuk
rumah yang terdiri dari dua lantai, biasanya terdapat 3 kamar tidur, satu
di lantai dasar dan dua di lantai 1 , satu kamar mandi di tiap lantai dan
1 ruang terbuka multi purpose di lantai 1. Di bagian depan terdapat teras
berukuran mini.
Dengan ukuran seperti itu tidak tersisa ruang
yang dapat digunakan untuk menyelenggarakan pertemuan keluarga luas, atau
hajatan. Bahkan untuk menerima tamu, dirasa tidak leluasa. Halaman depan hanya
dapat digunakan untuk taman kecil dan carport ( biasanya dilengkapi dengan
kanopi ). Ukuran rumah tersebut masih cukup memadai untuk hunian, karena
penghuninya baru hadir secara lengkap hanya pada malam hari ( hanya beberapa jam
), sebelum penghuninya beranjak tidur. Rumah baru dihuni secara penuh hanya
pada akhir pekan dan hari besar. Kondisi rumah real estate minimalis dari
aspek ukuran luas, tidak berbeda jauh dengan apartemen dan kondominium.
Restrukturisasi dan Resetting Hunian
Pada
awal tahun 2020, dunia dilanda Pandemi Covid 19. Salah satu keunikan virus
corona adalah kecepatan penyebarannya, sehingga dalam waktu beberapa bulan
nyaris tidak ada wilayah di planet bumi yang steril dari virus tersebut. Salah
satu upaya untuk memutus rantai penyebaran virus, setiap negara
menerapkan protokol Covid 19. Salah satu ketentuan protokol tersebut mewajibkan
penerapan social distance. Implikasi
dari ketentuan itu adalah penerapan norma baru dalam beraktivitas. Berbagai
institusi menerapkan ketentuan bekerja, belajar, belanja dari rumah.
Rumah
yang selama beberapa dekade yang berfungsi sebagai tempat beristirahat, secara
mendadak diubah menjadi tempat belajar dan bekerja. Proses belajar, bekerja
dilakukan secara dalam jaringan ( online ) dengan menggunakan berbagai
perangkat multi media berbasis teknologi digital seperti komputer, laptop,
smartphone, Ipad. Berbagai aplikasi seperti Google Cloud Meeting,
Skype, Zoom digunakan untuk berbagai keperluan. Aktivitas rapat, meeting, diskusi
dan seminar dilaksanakan secara online. Untuk melaksanakan aktivitas tersebut
secara optimal, mutlak dibutuhkan suatu fasilitas ruang secara khusus. Sangat
tidak nyaman melakukan semua aktivitas tersebut jika diganggu oleh berbagai
suara berisik, orang yang lalu lalang melintas di ruangan yang sama. Pada
kondisi demikian baru dirasakan akan kebutuhan ruang khusus untuk bekerja dan
belajar. Selain itu sepanjang waktu setiap hari seluruh penghuni tinggal di
rumah.
Rumah
mulai terasa sesak, sumpek, jauh dari rasa nyaman. Persyaratan utama sebagai
hunian yaitu kenyamanan ketenangan
sudah tidak dapat dipenuhi oleh hunian berbentuk real estate minimalis dan
apartemen / kondominium. Para penghuni rumah mulai dihinggapi rasa bosan, dan gelisah dengan kondisi demikian.
Dihadapkan
dengan situasi demikian, orang mulai berpikir untuk memperluas bangunan rumah.
Tidak semua orang dapat segera menyediakan dana untuk perluasan rumah. Bagi
yang memiliki likuiditas, dapat segera melakukan restrukturisasi ruangan di
rumah. Sementara orang yang tidak memiliki likuiditas mulai berpikir
untuk melakukan resetting ruang. Resetting ruang memiliki pilihan yang lebih
terbatas dibanding restrukturisasi ruang, karena pada dasarnya tidak terjadi
penambahan luas ruang. Pilihan melakukan resetting, membutuhkan daya
imajinasi dan kreativitas yang lebih besar dari restrukturisasi.
Peristiwa
pandemi Covid 19 diprediksi bakal berlangsung lama, dan akan disusul oleh
gelombang berikutnya. Diperkirakan di masa depan, dunia akan lebih sering
dilanda oleh berbagai pandemi baru yang sekarang belum dikenal. Pandemi Covid
19 akan merubah paradigma pelayanan medis. Orang tidak dapat lagi mengandalkan
sepenuhnya jasa dokter, paramedis dan pelayanan rumah sakit. Jika semua orang
bergantung pada dokter, paramedis dan rumah sakit, ketika datang gelombang
pandemi yang disebabkan oleh berbagai jenis virus secara serentak, maka seluruh
sistem pelayanan medis yang terbaik sekalipun akan runtuh.
Dengan
berbagai kemajuan teknologi sistem informasi, setiap orang diharapkan dapat
menolong dirinya sendiri jika menderita serangan pandemi, paling tidak di tahap
awal masa inkubasi, sehingga dapat mencegah kondisi lebih parah. Setiap orang
harus dapat berperan sebagai dokter dan paramedis untuk dirinya sendiri.
Implikasi berikutnya adalah menjadikan tiap rumah menjadi rumah sakit pertama
untuk tempat merawat penghuninya. Jika keadaan penderita terus memburuk, baru
dibawa ke rumah sakit, sehingga beban kerja dokter, paramedis dan rumah sakit
tidak melebihi kapasitas kemampuannya dalam melayani pasien. Agar dapat
berfungsi sebagai rumah sakit pertama, kondisi rumah tinggal harus dapat
membuat penghuninya merasa nyaman dan tenang menjalani terapi pemulihan.
Kondisi itu tidak dapat dipenuhi oleh model hunian real estate yang minimalis.
Epilog
Pandemi
Covid, ternyata sudah mempengaruhi banyak aspek kehidupan. Aspek aspek yang
selalu dibahas oleh para pakar dan berbagai media selama ini terkesan monoton
dan membosankan, seperti aspek medis, dan ekonomi. Hal ini menunjukkan miskinnya
daya imajinasi dan kreativitas dari para pakar. Sementara itu banyak aspek lain
seperti pengaruh pandemi terhadap berbagai tipe ekosistem, bentang alam dan biome, genetika, life style, teknik
rekayasa rancang bangun / arsitektur, demografi / kependudukan, transportasi
luput dari perbincangan. Percikan pikiran di dalam tulisan ini diharapkan dapat
membuka kesadaran baru di kalangan developer dan arsitek untuk meninjau ulang
konsep hunian yang mereka kembangkan selama masa pra pandemi.
Sudah
waktunya memikirkan kembali tentang fungsi rumah, tidak hanya sekadar sebagai
tempat beristirahat saja. Apapun bentuk hunian harus dapat memenuhi kebutuhan
multi fungsi. Kehidupan dan peradaban manusia yang bersifat multi dimensional
dan multi fungsi agar jangan direduksi menjadi hanya monofungsi dan
monodimensional. Harus ada dialog interaktif antara developer dengan konsumen
dalam membuat rancangan ideal yang sesuai dengan kebutuhan di era pasca pandemi
Covid 19.
Kedua
pihak harus menyadari bahwa rumah bukan sekadar tempat beristirahat saja. Rumah
adalah benteng pertahanan pertama
terhadap serangan wabah pandemi. Rumah juga berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir bagi pasien
penderita penyakit yang berdasarkan ilmu kedokteran termaju, tidak punya
harapan disembuhkan, sepanjang pasien tidak berada dalam kondisi koma. Pasien
akan melewati hari hari terakhirnya dengan tenang dan damai di rumahnya sendiri
didampingi oleh anggota keluarganya. Rumah adalah tempat seseorang memiliki
tautan emosional dan memori berbagai momen penting di dalam hidupnya. Banyak
drama kehidupan manusia berlangsung di rumah. Rumah adalah tempat seseorang
dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas, mengekspresikan emosinya
dan mengeksplorasi dan memaksimalkan seluruh potensi energinya, sehingga dari
rumah dapat dilahirkan karya karya masterpice.
Dalam
hal ini manusia modern perlu belajar
dari manusia prasejarah yang tinggal di gua gua. Dalam keterbatasan alat
penerangan, peralatan melukis, tidak ada fasilitas hunian, tetapi mereka
dapat menghasilkan karya karya lukisan yang penuh daya imajinatif. Lukisan
lukisan itu tidak kalah dari lukisan karya maestro pelukis modern. Karya
lukisan di dinding gua dan langit langit gua, yang dibuat manusia prasejarah tidak
mungkin dapat dihasilkan jika tidak ada kaitan emosional antara tempat hunian
dengan penghuninya.
Dibawah ini
ditampilkan beberapa lukisan terbaik yang terdapat di dinding dan langit-langit
gua Lascaux, Perancis Selatan. Dari tampilannya, tampak jelas bahwa
lukisan-lukisan itu dibuat dengan penuh totalitas, yaitu kombinasi dari
imajinasi, kreativitas, spirit, energi, dan emosi.
(Sumber : Google)




.png)
Comments
Post a Comment