RESTRUKTURISASI DAN RESETTING HUNIAN AKIBAT PANDEMI COVID 19


Tulisan ini didedikasikan kepada Ibunda Prof. Dr. Inajati A. R,  dan Ayahanda Dr. Peter Hagul.  Kedua beliau adalah guru-guru terbaik yang mendidik penulis di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

Prolog

 

Untuk mempertahankan eksistensi kehidupannya, manusia memanfaatkan berbagai bentuk struktur ruang, baik bentukan alam, maupun buatan seperti ceruk di dinding bukit, gua ataupun pondok sederhana sampai pada bentuk hunian mewah seperti apartemen, mansion dan istana. Sejak jutaan tahun lalu manusia sudah memanfaatkan struktur ruang bentukan alam ( gua ) sebagai tempat hunian. Di dalam gua, manusia menjalankan aktivitasnya, baik yang bersifat profan maupun yang bersifat sakral, seperti ritual / prosesi religi. Aktivitas profan meliputi semua kegiatan domestik dan aktivitas sakral  ritual meliputi upacara / prosesi religi termasuk pemakaman. Berbagai aktivitas itu diketahui berkat kegiatan ekskavasi / riset  arkeologi.

Rekaman jejak aktivitas manusia masa lalu juga tersimpan dalam bentuk visual berupa lukisan lukisan di dinding dan langit langit gua. Lukisan di gua gua ditemukan di berbagai seantero bumi, mulai dari Spanyol ( gua Altamira ), Perancis ( gua Lascaux dan gua Chauvert  )  hingga Kepulauan Indonesia, di Sulawesi Selatan ( Maros ), pulau Seram, Kepulauan Kei dan Papua. Usia lukisan lukisan itu bervariasi antara 45.000 - 15.000 tahun. Setelah melewati durasi waktu  tertentu manusia pindah dari satu gua ke gua lain. Periode manusia menggunakan gua sebagai hunian disebut periode berburu dan meramu.

Ketika manusia mulai mengembangkan budaya agrikultur, terjadi perubahan cara hidup dari berpindah pindah menjadi hidup menetap di pondok pondok sederhana. Makin lama, jumlah dan ukuran pondok bertambah banyak dan luas, kemudian terbentuk desa desa dan akhirnya menjelma menjadi kota. Kota kota pertama yang tercatat dalam sejarah antara lain di Israel /  Palestina ( Jerico ), Turki ( Çatalhöyük), Mesir ( Memphis, Thebe, Necken ), Irak ( Ur, Khorsabat, Nippur, Niniveh ) dan Asia Selatan ( Mohenjo Daro dan Harappa ).

Sejak terbentuknya peradaban agrikultur hingga peradaban teknologi digital, bentuk, kualitas bahan dan ukuran luas hunian menjadi indikator penting yang dapat digunakan untuk menentukan strata sosial ekonomi pemilik dan penghuninya, serta jumlah pajak yang harus dibayar. Di daerah pusat kota, ketersediaan lahan untuk mendirikan hunian sangat terbatas. Untuk mengatasi keterbatasan lahan, dikembangkan hunian bersifat vertikal, berupa apartemen / kondominium dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran luas. Di kawasan pinggiran kota berkembang beragam jenis kompleks perumahan real estate dengan beragam bentuk / tipe ukuran luas.

Oleh karena ketersediaan lahan makin lama makin terbatas, semantara pertumbuhan penduduk tetap tinggi, menyebabkan permintaan akan hunian baru makin besar. Untuk menyiasati kondisi ini, para pengembang / developer meminta para perancang  / arsitek untuk mendesain hunian  yang efisien dalam penggunaan lahan. Lahirah berbagai bentuk rancangan hunian yang sangat bersifat fungsional, minimalis dalam pemanfaatan lahan. Hunian berupa kompleks apartemen dan real estate yang dibangun pasca tahun 2000, umumnya berukuran lebih kecil dibanding periode sebelumnya.

 

 

 

 

Pergeseran Norma dari Keluarga Luas Ke Keluarga Inti

 

Sejak terbentuknya peradaban industri di perkotaan, terjadi pergeseran nilai nilai tradisional ke arah nilai nilai masyarakat modern. Salah satu nilai yang mengalami pergeseran adalah nilai keluarga luas. Pada awal paruh kedua abad XX, masih banyak fenomena keluarga luas di perkotaan di Indonesia. Masih banyak dijumpai di suatu rumah, penghuninya tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak anak kandungnya. Di rumah biasanya ada keponakan, saudara sepupu, orang tua dari salah satu atau ke dua pihak, paman / bibi, dan asisten rumah tangga. Jika dihitung total penghuninya dapat mencapai lebih dari sepuluh orang. Kondisi ini jelas menuntut ukuran rumah cukup luas. Anggota keluarga luas yang ikut menumpang umumnya datang ke kota untuk bersekolah atau bekerja. Gambaran ini berlaku untuk situasi normal, belum termasuk jika ada momen momen tertentu di keluarga tersebut. Misalnya jika ada hajatan ( pesta, kenduri, selamatan ), atau kemalangan, jumlah penghuni rumah dapat bertambah lebih banyak. Para sanak famili yang datang dari kota kota lain atau dari kampung asal, umumnya tinggal di rumah yang punya hajatan, bukan di hotel / penginapan.

Menjelang akhir abad XX, terjadi pergeseran norma karena tuntutan jaman. Biaya hidup di perkotaan yang semakin mahal, menyadarkan pihak keluarga inti dan keluarga luas, bahwa lebih nyaman bagi kedua pihak, untuk meninggalkan nilai keluarga luas, beralih ke nilai keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak kandung. Anggota keluarga luas lebih merasa nyaman tinggal terpisah di rumah sewa atau kamar kost. Dengan kondisi baru, ukuran rumah yang luas dirasakan memberatkan keuangan keluarga. Ukuran rumah yang luas menuntut biaya operasional dan biaya pemeliharaan yang tinggi. Dengan ukuran rumah lebih kecil, beberapa pos pengeluaran dapat dihemat seperti biaya listrik, air dan gaji asisten rumah tangga, serta biaya pemeliharaan rumah. Selain itu terjadi perubahan norma dan pandangan tentang nilai anak. Kampanye program Keluarga Berencana yang sangat masiv di masa rejim Suharto, telah berhasil mengubah mindset orang tentang anak. Pandangan " banyak anak, banyak rejeki ", mulai ditinggalkan. Rata -rata keluarga memiliki 2 atau 3 orang anak.

Penyebar luasan program pendidikan dan program wajib belajar juga berperan penting terhadap perubahan mindset orang tentang jender. Pandangan tentang kesetaraan jender telah membuka kesempatan seluas luasnya bagi anak perempuan untuk menempuh pendidikan setinggi tinginya. Hasilnya adalah munculnya generasi muda wanita yang berpendidikan tinggi dan memiliki kesempatan  untuk mengembangkan karir sebagai pegawai dan pimpinan di sektor formal baik di pemerintahan maupun di korporasi swasta. Bahkan tidak sedikit para wanita yang sukses sebagai wirausaha / entrepreneur.

Sepasang suami isteri yang masing masing memiliki karir, lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, sejak pagi hingga sore / malam. Sementara anak anak sejak pagi hingga siang berada di sekolah dan biasanya dilanjutkan lagi dengan berbagai aktivitas ekstra kurikuler seperti les privat, dan berbagai jenis kursus seperti kursus musik, bahasa asing, kegiatan olah raga dan sebagainya. Sepanjang hari anggota keluarga berada di luar rumah. Praktis kondisi rumah sepi, hanya asisten rumah tangga ( kalau ada ) yang rutin berada di rumah. Biasanya asisten rumah tangga tidak tinggal di rumah tersebut. Semua penghuni rumah ketika pulang ke rumah sudah dalam keadaan lelah. Seluruh aktivitas rutin dilakukan di luar rumah. Rumah benar benar sudah berfungsi sebagai tempat beristirahat. Bahkan aktivitas sosislita / pergaulan ( arisan dan sekadar kumpul kumpul sambil ngobrol ) sudah dilakukan  di luar rumah. Bertemu rekan / sahabat, saudara dilakukan di lobby hotel, restaurant, cafe.

Kondisi ini diamati oleh para perancang / arsitek dan desain interior. Para perancang itu mulai membuat desain rumah rumah yang benar benar bersifat fungsional, minimalis, sesuai dengan nilai nilai baru yang berkembang dan keterbatasan lahan di perkotaan. Mulai bermunculan komplek kompleks real estate yang berukuran minimal. Rumah rumah yang dibuat, benar benar berfungsi hanya sebagai tempat beristirahat, tidak memberi ruang untuk kegiatan sosialita, menerima tamu formal ataupun non formal, termasuk ruang untuk bekerja. Struktur dan setting ruang di dalam rumah benar benar mengalami perubahan.

 

Profil Hunian Real Estate Minimalis

 

Bentuk hunian di kompleks real estate minimalis biasanya tidak memiliki halaman di samping rumah, hanya menyisakan lahan di depan dan di belakang rumah dengan ukuran berkisar 30 - 40 meter persegi dan begitu juga dengan halaman belakang. Satu rumah dengan rumah lain hanya dibatasi oleh tembok pemisah. Rata rata rumah berukuran panjang 8 - 10 meter dan lebar 6 - 8 meter. Dari pintu depan langsung terlihat sisi dinding belakang. Untuk rumah satu lantai, hanya terdiri dari dua kamar tidur, dapur dan ruang makan menyatu dan satu kamar mandi. Untuk rumah yang terdiri dari dua lantai, biasanya terdapat 3 kamar tidur,  satu di lantai dasar dan dua di lantai 1 ,  satu kamar mandi di tiap lantai dan 1 ruang terbuka  multi purpose di lantai 1. Di bagian depan terdapat teras berukuran mini.

 Dengan ukuran seperti itu tidak tersisa ruang yang dapat digunakan untuk menyelenggarakan pertemuan keluarga luas, atau hajatan. Bahkan untuk menerima tamu, dirasa tidak leluasa. Halaman depan hanya dapat digunakan untuk taman kecil dan carport ( biasanya dilengkapi dengan kanopi ). Ukuran rumah tersebut masih cukup memadai untuk hunian, karena penghuninya baru hadir secara lengkap hanya pada malam hari ( hanya beberapa jam ), sebelum penghuninya beranjak tidur. Rumah baru dihuni secara penuh hanya pada akhir pekan dan hari besar. Kondisi rumah real estate minimalis dari aspek  ukuran luas, tidak berbeda jauh dengan apartemen dan kondominium.

 

Restrukturisasi dan Resetting Hunian

 

Pada awal tahun 2020, dunia dilanda Pandemi Covid 19. Salah satu keunikan virus corona adalah kecepatan penyebarannya, sehingga dalam waktu beberapa bulan nyaris tidak ada wilayah di planet bumi yang steril dari virus tersebut. Salah satu upaya  untuk memutus rantai penyebaran virus, setiap negara menerapkan protokol Covid 19. Salah satu ketentuan protokol tersebut mewajibkan penerapan social distance. Implikasi dari ketentuan itu adalah penerapan norma baru dalam beraktivitas. Berbagai institusi menerapkan ketentuan bekerja, belajar, belanja dari rumah.

Rumah yang selama beberapa dekade yang berfungsi sebagai tempat beristirahat, secara mendadak diubah menjadi tempat belajar dan bekerja. Proses belajar, bekerja dilakukan secara dalam jaringan ( online ) dengan menggunakan berbagai perangkat multi media berbasis teknologi digital seperti komputer, laptop, smartphone,   Ipad. Berbagai aplikasi seperti Google Cloud Meeting, Skype, Zoom digunakan untuk berbagai keperluan. Aktivitas rapat, meeting, diskusi dan seminar dilaksanakan secara online. Untuk melaksanakan aktivitas tersebut secara optimal, mutlak dibutuhkan suatu fasilitas ruang secara khusus. Sangat tidak nyaman melakukan semua aktivitas tersebut jika diganggu oleh berbagai suara berisik, orang yang lalu lalang melintas di ruangan yang sama. Pada kondisi demikian baru dirasakan akan kebutuhan ruang khusus untuk bekerja dan belajar. Selain itu sepanjang waktu setiap hari seluruh penghuni tinggal di rumah.

Rumah mulai terasa sesak, sumpek, jauh dari rasa nyaman. Persyaratan utama sebagai hunian yaitu kenyamanan ketenangan sudah tidak dapat dipenuhi oleh hunian berbentuk real estate minimalis dan apartemen / kondominium. Para penghuni rumah mulai dihinggapi rasa bosan, dan gelisah dengan kondisi demikian.

Dihadapkan dengan situasi demikian, orang mulai berpikir untuk memperluas bangunan rumah. Tidak semua orang dapat segera menyediakan dana untuk perluasan rumah. Bagi yang memiliki likuiditas, dapat segera melakukan restrukturisasi ruangan di rumah. Sementara orang yang tidak memiliki likuiditas mulai berpikir  untuk melakukan resetting ruang. Resetting ruang memiliki pilihan yang lebih terbatas dibanding restrukturisasi ruang, karena pada dasarnya tidak terjadi penambahan luas ruang. Pilihan melakukan  resetting, membutuhkan daya imajinasi dan kreativitas yang lebih besar dari restrukturisasi. 

Peristiwa pandemi Covid 19 diprediksi bakal berlangsung lama, dan akan disusul oleh gelombang berikutnya. Diperkirakan di masa depan, dunia akan lebih sering dilanda oleh berbagai pandemi baru yang sekarang belum dikenal. Pandemi Covid 19 akan merubah paradigma pelayanan medis. Orang tidak dapat lagi mengandalkan sepenuhnya jasa dokter, paramedis dan pelayanan rumah sakit. Jika semua orang bergantung pada dokter, paramedis dan rumah sakit, ketika datang gelombang pandemi yang disebabkan oleh berbagai jenis virus secara serentak, maka seluruh sistem pelayanan medis yang terbaik sekalipun akan runtuh.

Dengan berbagai kemajuan teknologi sistem informasi, setiap orang diharapkan dapat menolong dirinya sendiri jika menderita serangan pandemi, paling tidak di tahap awal masa inkubasi, sehingga dapat mencegah kondisi lebih parah. Setiap orang harus dapat berperan sebagai dokter dan paramedis untuk dirinya sendiri. Implikasi berikutnya adalah menjadikan tiap rumah menjadi rumah sakit pertama untuk tempat merawat penghuninya. Jika keadaan penderita terus memburuk, baru dibawa ke rumah sakit, sehingga beban kerja dokter, paramedis dan rumah sakit tidak melebihi kapasitas kemampuannya dalam melayani pasien. Agar dapat berfungsi sebagai rumah sakit pertama, kondisi rumah tinggal harus dapat membuat penghuninya merasa nyaman dan tenang menjalani terapi pemulihan. Kondisi itu tidak dapat dipenuhi oleh model hunian real estate yang minimalis.

 

Epilog

 

Pandemi Covid, ternyata sudah mempengaruhi banyak aspek kehidupan. Aspek aspek yang selalu dibahas oleh para pakar dan berbagai media selama ini terkesan monoton dan membosankan, seperti aspek medis, dan ekonomi. Hal ini menunjukkan miskinnya daya imajinasi dan kreativitas dari para pakar. Sementara itu banyak aspek lain seperti pengaruh pandemi terhadap berbagai tipe ekosistem, bentang alam dan biome, genetika, life style, teknik rekayasa rancang bangun / arsitektur, demografi / kependudukan, transportasi luput dari perbincangan. Percikan pikiran di dalam tulisan ini diharapkan dapat membuka kesadaran baru di kalangan developer dan arsitek untuk meninjau ulang konsep hunian yang mereka kembangkan selama masa pra pandemi.

Sudah waktunya memikirkan kembali tentang fungsi rumah, tidak hanya sekadar sebagai tempat beristirahat saja. Apapun bentuk hunian harus dapat memenuhi kebutuhan multi fungsi. Kehidupan dan peradaban manusia yang bersifat multi dimensional dan multi fungsi agar jangan direduksi menjadi hanya monofungsi dan monodimensional. Harus ada dialog interaktif antara developer dengan konsumen dalam membuat rancangan ideal yang sesuai dengan kebutuhan di era pasca pandemi Covid 19.

Kedua pihak harus menyadari bahwa rumah bukan sekadar tempat beristirahat saja. Rumah adalah benteng pertahanan pertama terhadap serangan wabah pandemi. Rumah juga berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir bagi pasien penderita penyakit yang berdasarkan ilmu kedokteran termaju, tidak punya harapan disembuhkan, sepanjang pasien tidak berada dalam kondisi koma. Pasien akan melewati hari hari terakhirnya dengan tenang dan damai di rumahnya sendiri didampingi oleh anggota keluarganya. Rumah adalah tempat seseorang memiliki tautan emosional dan memori berbagai momen penting di dalam hidupnya. Banyak drama kehidupan manusia berlangsung di rumah. Rumah adalah tempat seseorang dapat  mengembangkan imajinasi dan kreativitas, mengekspresikan emosinya dan mengeksplorasi dan memaksimalkan seluruh potensi energinya, sehingga dari rumah dapat dilahirkan karya karya masterpice.

Dalam hal ini manusia modern perlu belajar dari manusia prasejarah yang tinggal di gua gua. Dalam keterbatasan alat penerangan, peralatan melukis, tidak ada fasilitas hunian,  tetapi mereka dapat menghasilkan karya karya lukisan yang penuh daya imajinatif. Lukisan lukisan itu tidak kalah dari lukisan karya maestro pelukis modern. Karya lukisan di dinding gua dan langit langit gua, yang dibuat manusia prasejarah tidak mungkin dapat dihasilkan jika tidak ada kaitan emosional antara tempat hunian dengan penghuninya.

 

Dibawah ini ditampilkan beberapa lukisan terbaik yang terdapat di dinding dan langit-langit gua Lascaux, Perancis Selatan. Dari tampilannya, tampak jelas bahwa lukisan-lukisan itu dibuat dengan penuh totalitas, yaitu kombinasi dari imajinasi, kreativitas, spirit, energi, dan emosi.




(Sumber : Google)

Comments

Popular Posts